Loly terperangah, ia tak menyangka jika Jeff sampai sedetail itu mewaspadai sesuatu. Loly juga melihat kelincahan tangan Jeff di dalam memasang dan membongkar pistol dengan kecepatan yang luar biasa dengan masing-masing pistol di tangan kanan-kirinya sekaan pistol itu bagaikan mainan.
"Kau pasti sudah sering memainkan itu …!" dengus Loly.
"Memprmainkan apa?" tanya Jeff bingung ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh gadis di depannya.
"Pistol itu! Memang apa? Kamu mikirin apa sih? Aneh … memang umur kamu berapa? Aku sangat yakin jika umurmu sudah melebih kadaluarsa …," ejek Loly.
"Apa maksudmu dengan umur melebihi kadaluarsa? Memang aku sudah mendekati waktu kematian? Begitu?" sinis Jeff, ia merasa umurnya masih fit-fitnya.
"Um, umur kadaluarsa itu, adalah umur yang melewati batas menikah dan aku sangat yakin, kamu sudah berumur 50 tahun!" ejek Loly, ia sengaja mematahkan hati Jeff.
"Apa? Hahaha … baru aku tahu definisi untuk umur kadaluarsa seperti ekspektasi kamu," ujar Jeff, "sayangnya Manis … aku baru 30 tahun, aku rasa itu umur yang
sedang hot-hot-nya," goda Jeff.
Jeff menatap ke wajah Loly, ia ingin meralat ucapannya kepada anak di bawah umur tersebut.
"Sialan! Gadis ini membuat diriku seakan aku pedofil," umpatnya pelan.
"Apa kau bilang? Siapa yang pedofil dan siapa yang anak-anak?" ketus Loly.
"Wah, dasar anak-anak! Aku tidak menyangka jika kupingmu pun setajam kalelawar," sindir Jeff, ia merasa bahagia di tengah kacau kehidupannya.
Jeff merasakan masih bisa tersenyum dan tertawa bersama gadis jutek di depannya. Jeff bersyukur untuk itu, bersama dengan gadis yang tangguh melewati kekacauan di kehidupannya yang penuh tanda tanya.
"Jika gadis ini seperti wanita kebanyakan, aku pasti kacau menghadapi tangisan," lirih batin Jeff.
"Enak saja, kau bilang aku anak-anak!" balas Loly, ia selalu saja tersinggung akan hal itu.
"Dasar anak-anak, Wek!" ejek Jeff menjulurkan lidahnya.
"SEKALI LAGI KAU MENGATAKAN AKU ANAK-ANAK! Aku sobek-sobek lukamu!" ancam Loly, ia langsung mendekati Jeff, ia tak peduli jika Jeff memegang kedua pistol di tangannya.
"Hahahaha! Masa sih? Coba saja kalau berani! Dasar anak-anak!" ulang Jeff.
"Kau!" ketus Loly langsung berlari ke arah Jeff ingin memukulnya tetapi Jeff langsung menarik tangan Loly membuat Loly jatuh ke pelukan Jeff dan entah setan mana yang merasuki Jeff ia mencium bibir Loly.
"Ap-" Loly tak lagi mampu bicara karena bibir Jeff sudah berada di bibir dan mengaduk-aduk mulutnya dengan lidah liar Jeff.
Loly hanya mampu membesarkan bola matanya, ia bingung harus bagaimana ia mulai menyadari sesuatu.
"Bajingan, pria ini!" batin Loly berusaha untuk melawan, tetapi Jeff semakin mengeratkan pelukannya sementara kedua pistol masih berada di kedua tangan dan Loly berada di pangkuannya.
Buk!
Serasa sesuatu memukul di benak Jeff, ia mulai menyadari kegilaan yang sedang dilakukannya.
"Apa yang aku lakukan?" batin Jeff, "ya, ampun! Aku benar-benar pedofil," batinnya gusar, ia langsung menyudahi ciuman penuh gairahnya.
Keduanya saling pandang, "Bajingan Kau! Kau telah mencuri ciuman pertamaku!" umpat Loly kesal, ia berusaha untuk bangkit dengan wajah bersemu merah.
Loly merasa malu, ia merasa wajahnya memanas dan malu setengah mati, ia tak menyangka jika ciuman pertamanya harus diambil oleh pria yang lebih tua darinya sekian abad.
Jeff hanya mengawasi Loly ia ingin meminta maaf, namun hatinya yang lain melarangnya.
"Ngapain aku minta maaf? Aku akan menciumnya lagi nanti!" batin Jeff egois, "aku benar-benar gila!" umpat Jeff bagaikan gerutuan.
"Kau menang sudah gila!" ketus Loly menanggapi gerutuan Jeff.
Tok! Tik! Tok! Tik!
"Jodie!" seru Loly berlari ke pintu, Jeff langsung mengejar dan mencegah Loly untuk membuka pintu.
"Ada apa lagi?" tanya Loly tak mengerti.
"Bagaimana kamu yakin jika itu Jodie?" tanya Jeff, ia masih mencengkram erat pistolnya.
"Aku mengenali dari kode rahasia ketukannya. Tenanglah, aku sangat yakin itu dia." Loly langsung membalas ketukan dengan cara bunyi aneh.
Dan dari balik pintu Jodie membalas lagi dengan ketukan berbeda yang aneh, Loly tersenyum dan membuka pintu perlahan.
"Jodie …!" seru Loly.
Jodie langsung masuk dengan kantungan plastik kresek berwarna hitam.
"Aku merindukanmu, Jodie!" ucap Loly, ia langsung memeluk Jodie, melingkarkan kedua belah tangan di leher Jodie yang mengangkat Jodie seperti anak-anak.
Jeff memperhatikan semua itu, ia merasa begitu dekat dengan pria bernama Jodie, tapi ia sendiri pun tak mengenalinya. Hanya bayangan samar di kepalanya, Jeff merasa pusing dan berkunang-kunang kepalanya sakit setiap bayangan itu datang dan datang lagi semenjak ia kecil.
"Ah, gadis kecilku! Aku bersyukur kau selamat! Apa yang sedang terjadi?" tanyanya.
Bruk!
"Jeff!" teriak Loly melepaskan diri dari pelukan Jodie dan berlari memeriksa tubuh Jeff begitu juga dengan Jodie yang langsung mengambil sesuatu dari tas kerjanya.
"Apa yang terjadi, Jodie? Tadi duta baik-baik saja?" tanya Loly bingung.
"Aku tidak tahu! Mungkin dia terlalu lelah karena lukanya belum sembuh benar, sepertinya lukanya terus berdarah akhir-akhir ini, syukurlah tidak ada infeksi karena obat yang aku anjurkan sangat keras dan bagus!" blas Jodie.
Jodie dan Loly mengangkat tubuh Jeff dan membaringkan di sebuah meja, ia kembali memeriksa dan menyuntikkan sesuatu. Jodie memandang wajah Jeff.
Deg!
Jantungku bergemuruh bayangan masa lalunya semakin memanggilnya kembali untuk mengingat rasa sakit itu. Namun Jodie berusah untuk menepisnya, "Aku tidka yakin jika ini adalah dia …," batin Jodie, ia masih termangu menatap wajah Jeff.
"Jodie, jika dilihat-lihat wajahnya sekilas mirip dirimu," bisik Loly.
"Apa iya? Masa aku setampan itu?" kelakar Jodie, "makanlah! Aku membawa sesuatu di dalam plastik itu," balas Jodie, ia masih menatap wajah Jeff kembali.
"Miranda …," lirih batin Jodie, "apakah dia putra Miranda? Jika dia putra Miranda … mengapa dia bersama Jovink Nostra?" batin Jodie bertanya-tanya.
Jeff duduk dan memperhatikan Loly yang sudah bersila di lantai berdebu memakan burger dan meminum milk shake. Jodie tersenyum melihat Loly yang tak pernah berubah.
"Makanlah sepelan mungkin Loly, seharusnya kamu berlaku sebagai seorang lady bukan seperti anjing jalanan!" sindir Jodie, "aku menyesal tidak mengajarimu, tata Krama sebagai seorang wanita!" ketus Jodie, ia menarik napas dan ingin meneguk minumannya.
Namun, ia kembali melihat Jeff yang terbaring di meja adonan roti ia mengurungkan niatnya untuk meminum minuman putih berlabel alkohol tinggi.
"Tumben kau tidak minum!" sindir Loly, ia masih mengunyah makannya sepelan mungkin.
"Aku harus waras! Kau tahu, apa yang kau hadapi ini sangat mengerikan Loly, aku bersyukur kau bisa selamat. Aku yakin … dia menolongmu bukan?" ucap Jodie.
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku sudah tua! Kau pikir aku di luaran sana hanya berjalan tanpa tentu arah begitu? Ingatlah, semakin kau jauh berjalan-"
"Semakin kau lupa pulang!" denus Loly menyela ucapan Jodie.
"Dasar anak nakal! Aku selalu pulang-"
"Ya, jika aku membutuhkanmu dan aku bersyukur untuk itu. Jika tidak? Kau malah tidak pernah pulang. Dasar sialan!" umpat Loly.
"Hahaha, aku tidak mengerti, sejak kapan kau lincah menggunakan kata hinaan dan umpatan Loly? Ck, apakah aku salah di dalam membesarkanmu? Kasihan Nenekmu … jika tahu cucu kesayangannya hanya tahu mengumpat saja!" balas Jodie.
"Cih! Bukankah aku belajar darimu, Jodie!" balas Loly.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Younie
lanjut Thorrr......asyiknya up 2 x
2022-09-04
1