Jeff langsung membawa Loly ke salah satu hotel kelas melati di bagian Utara Denver ia lebih memilih kelas melati yang akan menjauhkannya dari orang-orang yang akan mengenalinya.
Setelah cek in, Jeff membaringkan Loly di tempat tidur ia mulai mengganti bajunya yang baru dibeli dari toko pakaian di depan hotel dengan menyuruh salah satu roomboy.
Jeff kehilangan ponsel, sehingga ia tak bisa menghubungi Lorenzo dan Pedrosa, ia mencukur habis kumis dan brewoknya mengganti warna rambut coklat terangnya menjadi hitam legam sepekat malam.
"Jadi, Alexandre Dove melakukan trafficking dan perdagangan organ tubuh? Bajingan! Dia sudah cukup meresahkan dengan melegalkan penyelundupan senjata dan narkoba. Kini, ia malah melakukan hal itu lagi? Dasar bangsat!
"Aku akan membunuhnya kelak! Hm, tapi bagaimana dengan gadis ini? Jika aku meninggalkannya di sini, dia sudah tak memiliki rumah dan Alexander Dove pasti mencarinya begitu juga jika aku membawanya?" batin Jeff, ia masih bingung.
Selama ini, dia tak pernah pusing memikirkan nyawa dan kehidupannya. Namun, kini semenjak dia mengenal gadis tersebut ia semakin bingung harus bagaimana. Jeff hanya menatap gadis di depannya.
"Siapa nama gadis ini?" batinnya cemas,ia sama sekali tidak mengenal dan tahu namanya.
"Apakah sebaiknya aku melihat kartu tanda identitasnya? Apakah itu tidak melanggar privasinya begitu?" batin Jeff, ia mengangsurkan kantong es untuk meredakan lebam di wajah dan perut Loly yang memar akibat tendangan si pria.
"Benar-benar biadab! Rasanya membunuhnya saja tak cukup!" kutuk Jeff, ia mengingat semua perbuatan si pria yang membuatnya sedikit murka, ia tak menyangka jika pria itu telah berbuat kurang ajar kepada Loly.
Wajah Jeff mengeras, ia menyalakan televisi mencari informasi tmengenai masalah yang sedang terjadi di Denver.
"Apa? Perang antar geng? Yang benar saja! Apakah Alexander selama ini selalu mengalihkan segalanya dengan bentrokan antar geng? Bangsat!
"Pantas saja semakin banyak musuh yang melawan La Costra Nostra akibat cecunguk yang tak memiliki tanggung jawab," batin Jeff, ia mulai mengingat banyaknya geng baru yang mulai tumbuh di benua Amerika yang mulai berani untuk menentang kekuasaan La Costra Nostra.
Jeff termenung, suara gaduh mulai terjadi di jalan raya, kejar-kejaran antara mobil patroli polisi dan para geng yang mulai adu tembak.
Jeff tidak pernah membayangkan kehidupan keras kota Denver yang ganas, ia merasa jika Denver dan Texas tak serumit kenyataan.
"Ah, apakah ayah mengetahui semua ini?" batin Jeff mengingat Jovink Nostra pendiri dari sindikat La Costra Nostra ayah angkatnya sebagai Godfather di La Costra Nostra.
Jeff masih bingung dengan semua itu, ia baru saja diangkat untuk menggantikan Jovink Nostra hanya 2 tahun, tetapi segalanya semakin kacau. Selain itu, Jeff tidak mengerti harus bagaimana menghadapi segala sesuatunya.
Jeff juga tak ingin bersinggungan dengan Dean Nostra keponakan dari Jovink Nostra juga Dwinov Nostra putra Jovink Nostra sendiri. Jeff semakin bingung berada di tengah kekacauan, ia tak tega jika harus membunuh putra dan keponakan Jovink Nostra yang sudah membesarkannya.
Apalagi mereka bertiga dibesarkan dengan cara dan kasih sayang yang sama besar dari Jovink Nostra. Jeff masih termenung, ia tak mengerti harus bagaimana.
"Oh, aduh perutku …," lirih Loly, ia membuka mata dan memegang perutnya.
"Diamlah sebentar, aku sedang mengompresnya," ucap Jeff, ia masih memindahkan kantung es baru di perut dan kening Loly.
"Apa yang kau lakukan? Siapa Kau?" teriak Loly, ia tak mengenali Jeff yang berbeda.
Kini, Loly melihat pria tampan bertampang dingin dan tanpa dosa sedang seenaknya mengompres di perutnya yang terbuka dan pria tersebut tanpa merasa bersalah memindahkan kantong es di perutnya dan keningnya secara bergantian.
"Aku sedang mengompresnya," ulang Jeff, "apakah anak ini mulai tuli?" batin Jeff bingung.
"Aku bisa melakukannya …," ucap Loly merampas kantung es baru tersebut.
Loly mulai mengompres perutnya dan diam, ia memandang sekitar ruangan dan mengernyitkan mata juga mengingat semua kejadian.
"Hei, di mana ini? Dan kau belum menjawab pertanyaanku?" teriak Loly memandang Jeff.
"Aku tidak tahu, yang jelas di hotel. Aku Jeff. Besok kita terbang ke Meksiko," ujar Jeff.
"Apa?! Jeff?!" Loly mengerutkan kening, ia berusaha untuk mengingat tampang kejam dan sadis pria yang ditolongnya.
"Meksiko?! Kamu gila! Aku ingin pulang! Pergi saja sana sendiri," balas Loly, ia beringsut ingin turun dari tempat tidur.
Namun, tangan Jeff langsung menarik tangan Loly untuk istirahat lagi, "Jangan ke mana-mana, sabarlah dulu!" balas Jeff, ia tak ingin jika Loly pergi dan kembali ke rumahnya.
"Aku ingin pulang, Jeff!" lirih Loly dengan sedikit manja tanpa disadarinya.
Deg!
Jantung Jeff berdebar tak karuan, ucapkan dari nada suara Loly membuat desir aneh di jantung Jeff untuk pertama kalinya.
"Nama kamu siapa sih?" tanya Jeff, ia masih penasaran.
"Yee, cari saja sendiri! Berusaha kek!" tantang Loly.
"Hei, Bidadari Bermata Bening! Rumah Kamu sudah hancur meledak, aku minta maaf. Suatu saat nanti aku akan mengganti rumahmu," ujar Jeff Dimitri.
"Apa?! Ha-hancur!" pekik Loly, ia menatap wajah Jeff dengan tidak percaya.
Loly melihat cuplikan di televisi, kala Jeff hanya mampu menunjuk ledakan di TV. Loly tercekat, ia tak habis pikir, bayangan semua kenangan kembali terusik.
Air mata Loly berlinang, ia tak menyangka jika rumah warisan keluarganya harus hancur berkeping-keping hanya karena segelintir orang yang tak dikenalnya telah mengusik kehidupannya yang tenang.
Jeff merasa bersedih, "Maafkan aku! Aku … semua ini karena diriku," ucap Jeff, ia merasa bersalah telah mengusik kehidupan Loly.
"Si-siapa kau yang sebenarnya? Katakan!" teriak Loly, ingin rasanya Loly membunuh Jeff.
"Aku … aku adalah …," Jeff bingung harus mulai dari mana.
" Katakan, Bajingan! Mengapa kau harus memilih rumahku? Mengapa tidak rumah orang lain saja?" teriak Loly.
Plak! Plak!
Loly memukul wajah Jeff, ia merasa jika Jeff benar-benar telah merusak kebahagiaannya.
"Loly, aku minta maaf. Andaikan malam itu aku sadar dan tidak ingin dibunuh oleh orang yang ingin menjebakku, mungkin … aku tidak akan terdampar di depan rumahmu, aku kira rumahmu kosong dan tidak ada orangnya.
"Aku tidak melihat cahaya lampu di rumahmu, hingga aku pikir itu hanyalah rumah kosong saja! Percayalah, jika semua ini aman, aku akan mengganti rumahmu," bisik Jeff, ia membiarkan Loly memukulnya.
"Hiks, hiks, kau … jangan karena kau memiliki banyak uang seenak jidatnya saja ingin mengganti rumah itu. Apakah kau bisa mengganti semua kenangan dan foto yang ada di sana Jeff? Itu lebih berharga dari apa pun dan hanya itu yang aku miliki untuk mengenang kedua orang tua, kakek dan nenek juga Jodie.
"Kau sungguh keterlaluan! Sama biadabnya dengan mereka yang mencoba untuk memperkosaku! Kalian benar-benar bajingan! Apalah kalian tidak memahami arti dari sebuah kenangan? Jangan-jangan kalian memang terlahir dari batu dan tak memiliki sesuatu yang patut kalian kenang!" kutuk Loly tanpa perasaan.
Jeff terdiam, ia membenarkan semua ucapan Loly, ia hanyalah anak yang tak tahu siapa ayah dan ibu juga keluarganya. Dia hanyalah sebatang kara … hingga ia harus membunuh dan membunuh untuk bisa bertahan hidup di kerasnya dunia.
Jeff diam membiarkan Loly menumpahkan semua kekesalan dan penderitanya, "Sudahlah … aku harap sampai di sini saja! Aku ingin mencari jalanku dan carilah jalanmu!" ucap Loly.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
asmaul husnah
ayo semangat thorrrrr ceritanya mulai menarik
2024-05-23
0
syafridawati
sabar ya say
2022-09-02
0
Younie
mulai tanda tanya......lanjut Thor
2022-09-02
1