Sesampainya di rumah Jeff yang fobia langsung memeriksa semua ruangan dan berharap tak ada musuh yang menyelinap di rumah mereka. Jeff mengelilingi semua rumah dan ruangan juga halaman.
Loly hanya menggelengkan kepala, "Dasar mafia! Hidupnya pasti tak pernah tenang!" umpat Loly.
Loly berjalan menuju ke kamarnya untuk membuka baju pengantin dan ia merasa kesulitan membuka resleting di punggungnya. Berulang kali Loly berusaha untuk membukanya tetapi selalu saja menemui kegagalan.
"Sialan! Ck, aduh, masa aku harus meminta tolong sih? Mana aku sudah kepingin mandi?" lirihnya, ia mencoba untuk berpikir dan berpikir lagi, sehingga ia mulai berpikir untuk meminta bantuan kepada Jeff.
"Jeff! Jeff!" panggil lembut Loly, ia masih mengulurkan tangan ke punggung.
"Ya, ada apa?" tanya Jeff sudah muncul di depan pintu kamar Loly dengan dua pistol di tangan.
"Tidak bisakah kau tidak menggunakan pistol?" umpat Loly, ia merasa seakan hidup mereka berada di sebuah tawanan perang.
"Maaf," lirih Jeff, ia langsung menyelipkan kedua pistol di balik punggungnya.
"Ada apa?" lirih Jeff, "tak mungkin Loly ingin tidur bersamaku? Dia pasti tidak pernah berpikir akan hal itu?" batin Jeff.
Otaknya yang omes sedikit traveling ke zona terlarang. Namun, secepat kilat ia berusaha untuk menepisnya. Ia masih menatap ke arah Loly yang begitu cantik, ia mengingat salah satu artis kebangsaan Meksiko yang seksi dan campuran orang Arab, yaitu : Salma Hayek.
"Ini … baju ini, sulit sekali dibuka! Aku tidak bisa membukanya,sepertinya resletingnya macet!" ujar Loly, ia membalikkan punggungnya.
Glek!
Jeff sedikit terguncang melihat punggung putih mulus istri mungilnya, otak dan pusaka sakti mulai bereaksi. Namun, ia masih mencoba untuk berpikir secara logika.
"Sialan! Mengapa Tuhan tidak memberi otak juga pada kepala yang di bawah sana sih?" batin Jeff, ia ingin meminta pada Tuhan untuk memberi pusaka saktinya otak juga, agar tidak langsung omes dan bertegangan tinggi hanya melihat punggung putih mulus tersebut.
"Jeff …," lirih Loly, ia membalikkan tubuh melihat ke belakang tubuhnya.
Loly melihat Jeff hanya mengulurkan kedua tangan ke arah punggungnya tapi tidak benar-benar menyentuh dan Jeff terbengong.
"Oh, ya … aku 'kan membukanya," bisik Jeff, suaranya mulai parau dan pikirannya pun kacau.
Bayangan dari seribu ulasan kamasutra mulai menggoda jiwa dan naluri kelelakiannya untuk menguji coba setiap adegan yang terlintas. Namun, ia menyadari Loly masih terlalu anak-anak.
"Jangan-jangan jika aku melakukan hal itu … Loly bisa kabur dan meminta tolong pada tetangga. Sialnya, jika dia pun akan menelepon Jodie," batin Jeff tersenyum dengan kehebohan istrinya.
Bayangan Jodie yang akan murka dan langsung meledakkan isi kepalanya semakin terbayang dengan jelas di balik wajah Arif dan bijaksana seorang Jodie tersimpan singa lapar yang mengerikan.
Perlahan Jeff membuka resleting gaun pengantin Loly, tetapi dia sengaja berlama-lama di punggung istrinya dan sengaja membelai punggung indah tersebut dengan jari tangannya yang lain.
"Oh …," lirih Loly terkesiap kala jari tangan Jeff menyentuh kulit punggungnya ia merasa sesuatu rasa berbeda menjalar di sana membuat jantung dan tubuhnya gemetar ia merasa musim salju telah tiba.
Loly gemetar kedinginan dan butuh kehangatan. Namun, ia secepatnya melongok ke luar jendela jika malam gelap penuh bintang di Goldblack begitu tenang dengan lolongan serigala, jangkrik, dan burung malam.
"Sialan! Apakah Jeff sengaja melakukan itu?" pikirnya kesal, "apakah dia lupa jika ini hanyalah Pernikahan sandiwara?" umpatnya kesal.
"Jeff, cepatlah! Aku sudah mengantuk! Kamu tidur di kamar Jodie!" ketus Loly dengan suara khasnya yang cempreng membelah sunyinya lereng Goldblack semakin ramai.
"Oh, sudah!" balas Jeff tersadar dari gejolak dan adegan dari kamasutra yang terlintas.
Brak!
Loly secepat kilat kabur memasuki kamarnya dan langsung menutup dan mengunci pintu. Di balik pintu ia merosot turun ke bawah memegang jantungnya yang hampir meloncat ke luar dan ia pun memeluk lututnya seakan kedinginan sedang melanda jiwa raganya.
"Ternyata Nostra yang muda ini mengerikan! Aku lebih nyaman dengan si Nostra yang bau tanah ( Jodie)!" umpat batinnya.
Perlahan Loly membuka baju dan menggantung baju pengantinnya memandangnya dengan takjub.
"Malang sekali … andaikan ini pernikahan yang sesungguhnya … aku pasti bahagia," benaknya, ia langsung masuk ke kamar mandi membersihkan diri memilih kaus oblong dan celana jeans belel selutut pakaian favoritnya.
Ia pun langsung merebahkan diri di kasurnya, pikirannya masih menerawang. Loly mengeluarkan setangkai mawar hitam warisan Jodie, ia menimangnya.
Loly menyimpan tiara pemberian keluarganya di sebuah brankas rahasia di kamarnya dan membungkus setangkai mawarnya agar tak seorang pun yang tahu. Ia membungkus sedemikian rupa seakan itu sebuah boneka memasukkannya ke dalam tas selempangnya.
"Aku harus bersiaga, aku tak pernah tahu dengan banyak hal yang akan terjadi," bisik batinnya, "sejak Jeff memasuki duniaku, segalanya semakin kacau!" batinnya galau.
Loly ingin bersiap-siap dengan segala kemungkinannya memasukkan pistol beserta amunisi, sangkur, dan pisau lempar yang diberikan Jodie saat ultahnya yang ke-17.
"Jodie yang aneh! Di mana-mana seorang ayah akan memberikan boneka, gaun, tiket konser ataupun baju maupun perhiasan di ulang tahun putrinya yang ke-17. Berbeda dengan Jodie malah memberiku selusin pisau lempar," batinnya geli.
Loly mengingat, jika setiap ulang tahunya Jodie selalu memberinya kado tapi bukan sebagai wanita melainkan seorang pria dan putri mafia. Loly melihat pistol hadiah ultah ke-20, sangkur ultah ke-18, dan samurai pada ultah ke-19.
Saat ia berusia 8 tahun hingga 16 tahun, Jodie memberinya pemukul bisbol dan bola, perlengkapan berlari, bersepeda, berkuda, taekwondo, bola kaki, mengajarinya balapan liar, dan banyak hal. Loly terbengong, ia menyadari satu hal.
"Apakah Jodie memang sengaja melakukan semua ini?" batinnya, ia mengingat saat berumur 8 hingga 12 tahun, Jodie selalu mencekokinya dengan banyak perkelahian dan perjalanan menemui teman-temannya.
Namun, saat usianya 13-17 tahun Jodie membawanya ke Swiss ke sebuah bank menandatangani selembar kertas dan banyak kertas lain dan diberi sesuatu di kotak brankas. Loly tidak tahu apa isinya dan semua orang menunduk dan memberi hormat kepadanya.
"Bajingan! Setangkai mawar itu adalah kunci … brankas di Swiss!" umpat Loly, ia baru menyadari banyak hal.
Jodie mengajarkan padanya cara menjahit luka dan menolong orang di jalanan Denver, Colorado, Texas, dan banyak tempat. Di mana para tunawisma dan orang-orang pinggiran yang berasal dari kelas bawah yang selalu menderita, di saat usianya 15-17 tahun.
Namun, sejak usianya memasuki 18 tahun, Jodie selalu pergi dan pulang sesuka hatinya dan membiarkan Loly sendirian di rumah keluarganya Campbell seorang diri.
Walaupun Jodie sering pulang hanya sekedar melihat apakah dia masih hidup atau sudah mati. Kini, Loly menyadari banyak hal. Jika Jodie memang mempersiapkannya untuk sesuatu hal yang tak pernah terpikirkan olehnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Younie
up Thorrr
2022-09-07
0
Younie
pernikahan unik ......lanjut Thor
2022-09-06
0