Aku terdiam seketika. Padahal aku hanya asal bicara waktu itu. Tak kusangka, ternyata Arga orangnya. Pantas saja setelah aku tanda tangan kontrak, kebutuhan nenekku di rumah sakit terbutuhi detik itu juga.
"Ma-maaf.." ucapku terbata juga sangat merasa bersalah.
Tapi Arga malah menatapiku. Sepertinya dia marah karena aku mengomelinya tadi. Akupun langsung tahu kesalahanku.
"Ikut." Arga tiba-tiba saja menarik tanganku.
"M-mau kemana. A-aku kan, lagi gak bisa.." aku menahan tanganku yang ditarik Arga menuju tempat tidur.
"Ck! Ikut."
Aku sedikit takut. Kalau aku sedang haid, lantas dia mau ngapain? Arga melewati tempat tidur dan belok ke kamar mandi.
"Lho, Ga. Ngapain?"
Arga tak menjawab, dia terus menarikku masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya tanpa memperdulikan aku yang bingung, untuk apa dia menyeretku ke kamar mandi? Otakku berhenti berpikir saat dia langsung membuka celananya. Aahhshit Arga!
~
Aku mencuci tangan di westafel kamar mandi, menatap kesal ke arah Arga dari pantulan cermin. Dia keluar sembari mengancingkan celanaya dengan wajah puas. Sialan dia, ada saja tingkahnya supaya aku tetap melakukan tugas.
Aku menatap menatap jijik ke tangan kananku. Hiiiy. Aku mencucinya lagi dan lagi. Geram, karena mau tak mau aku harus memuaskannya dengan tangan. Rasanya ingin nangis memegang benda seperti itu tadi.
Aku memandangi wajahku di kaca. Kenapa pada Arga aku merasa risih. Padahal aku juga melakukannya pada kak Wicak beberapa hari lalu walau tidak terpegang secara langsung.
"Cepaatt!" Teriak Arga dari luar.
Dia berdiri sambil memakai jam tangannya. "Temeni gue belanja kebutuhan. Bahan-bahan udah abis semua." Arga mengambil kunci mobil dan jeket yang malam itu pernah dia berikan padaku.
"Aku harus ikut, ya?" Tanyaku karena aku malas sekali. Apalagi bisa dilihat orang lain, kan?
Arga tak menyahut. Dia cuma diam memandangku dengan wajah malasnya.
"Ck. Iya." Dengan terpaksa aku memakai masker dan topi lalu keluar bersamanya. Tidak bawa tas, karena cuma membeli kebutuhan Arga aja, kan.
Semakin lama, Arga semakin sesuka hati. Tapi aku juga menurut saja. Enggan membantah karena tidak suka bertengkar.
Kalau diingat-ingat lagi, tadi nenek bilang dia selalu tersenyum dan terlihat tulus, kan? Aku menoleh pada Arga yang mengemudi sambil menatap lurus ke depan jalan. Wajahnya terlihat jutek padahal sedang diam. Dimana letak selalu tersenyum dan tulus itu? Aku penasaran juga.
"Ngapain lo liat-liat?" Ketus Arga sambil melirikku sekilas.
Aku enggan menjawab. Hanya membuang wajah ke jendela, melihati lampu-lampu jalan yang tak begitu terang, gedung-gedung besar yang menjulang membatasi pandanganku ke atas langit.
Dulu, pergi ke kota adalah impian. Meraih cita-cita dan bahagia disini. Tapi rasanya sekarang aku mengerti mengapa banyak orang kota malah pergi menenangkan pikiran ke desa. Ternyata, kota tak semenyenangkan yang dulu kupikirkan. Justru walau kampungku agak kejam, aku malah merindukannya sekarang.
"Haah.." desahku dan aku tahu, Arga tengah melihatiku.
...☆★☆...
...PoV Arga Alexander...
Kami sampai di swalayan besar. Aku mengambil troli besar dan mendorongnya.
Kulihat dia mengikutiku saja dari belakang. Terasa aneh, aku seperti punya ekor. Baru kali ini aku belanja bareng orang lain. Biasanya aku hanya sendirian.
"Ambil aja apa yang lo mau." Ucapku tanpa menoleh padanya. Dia langsung berjalan entah kemana, aku mengikutinya.
Kulihat dia menuju rak pembalut. Membaca kemasan produk secara bergantian.
Ck, beli begituan aja kenapa harus diteliti, sih. Padahal habis pake langsung buang. Apa bedanya.
Serasa aneh saat beberapa cewek yang lewat melihatku sambil tersenyum-senyum. Mungkin mereka merasa lucu karena aku berada di lorong perpembalutan, weh!
"Bisa cepetan, gak?!"
Dia mencebik lalu memasukkan beberapa ke dalam troli. Setelah itu, aku buru-buru pergi. Begitu saja aku malu, apalagi membelikannya langsung, seperti yang dilakukan pacarnya itu. Ckck!
Aku mulai mencari lagi, meletakkan bahan-bahan yang kuperlukan. Begitu juga dia, datang dengan membawa banyak makanan kemasan di tangannya dan langsung memasukkannya ke dalam troli.
What! Dia mau menyampah di apartemenku?
Aku begong melihatinya kesana kemari meletakkan cemilan-cemilan yang dia sukai.
"Aku sukanya susu coklat." Tukasnya tiba-tiba saat melihatku memegang susu stroberi.
"Bukan buat lo." Sanggahku dan dia mengangkat bahu pergi begitu saja. Tapi, aku tetap memasukkan beberapa susu coklat untuknya.
Aku memilih bahan makanan lain. Memasukkan ayam, daging, dan lainnya yang ingin kumasak.
"Udang?" Syahdu memegang sekotak udang segar.
"Nggak suka."
Dia langsung meletakkannya lagi.
"Kalau lo mau, ambil aja."
"Ngga usah, deh." Ucapnya sambil memperhatikan sekitar. "Kenapa gak suka udang? Enak, tau." Tukasnya.
"Alergi." Jawabku singkat sambil memilih sayuran. Diapun diam tak memberi jawaban lagi.
Aku mendorong troli sambil melihati barang-barang yang tersusun di rak gondola, lalu troli pun terhenti karena menambrak pelan tubuh Syahdu. Aku ingin menyemprotnya, menyuruhnya minggir tapi badannya kaku menghadap arah depan dengan wajah yang tak bisa ditebak.
Aku melihat ke arahnya menatap, ternyata disana ada cowoknya bersama cewek lain. Berdua pula.
"Minggir." Ucapku padanya dan dia tidak juga bergerak.
"Sana, labrak!" Kataku lagi dan dia melihatiku dengan kesal.
Dia mengeluarkan ponsel, menyembunyikan diri dibalik gondola tinggi sambil terus mengawasi cowoknya dari jauh.
Aku membiarkannya saja. Toh tidak ada pengaruhnya padaku, kan. Tapi ada ide untuk menjailinya.
Aku berjalan ke arah cowoknya yang tengah memilih barang bersama temannya, kudengar ponselnya berdering dan dia mengangkatnya.
"Iya, Syahdu?" Katanya dan aku melihat gadis itu dari tempatku berdiri berdekatan bersama kekasihnya.
Aku menahan tawa saat gadis itu melotot padaku sambil bibirnya mengoceh entah apa ke arahku. Nampaknya dia marah karena aku bersebelahan dengan pacarnya.
"Syahdu, ada apa?" Tanya pacarnya lagi.
Aku melihat Syahdu berbicara disana, tapi matanya terus menatapku. Mungkin dia takut aku membocorkan pada kekasihnya kalau dia juga ada disini bersamaku. Hahaha, aku tergelak dalam hati.
Aku berpura-pura memilih barang, lalu mendengar percakapan mereka.
"Aku menemani temanku, Syahdu. Ada di supermarket, bantuin beli barang buat kebutuhan kelompok. Udah makan?"
Aku cukup tenang, ternyata pacarnya tidak bohong dan perhatian padanya. Kulihat isi trolinya juga barang-barang seperti kertas, lakban, tali, dan lainnya.
"Iya, nanti kalau sampe rumah aku kabarin, ya. Love you."
Weh, geli. Dia gak malu mengatakan itu padahal aku di dekatnya, juga temannya yang tampak tak suka mendengar kalimat itu.
"Bucin banget lo." Tukas cewek itu.
"Haha, bukan bucin, perhatian dan sayang namanya." Sanggahnya.
"Lagian lo gak repot, apa, sama cewek yang begitu. Gue kasian aja sama lo."
"Repot apanya, dia gak maksa, Mel. Justru aku yang suka. Udalah, yok."
Aku melihat ke arah Syahdu yang masih diam menatapku.
"Ngapain sih, kesana!" Gerutunya saat aku mendekat.
"Ada yang mau gue ambillah!"
"Aku ke mobil duluan, ya." Ucapnya sambil melihat ke arah pacarnya. Lalu bergerak tanpa menunggu jawabanku.
Ya sudahlah, terserah padanya aja. Tak lama, akupun menuju kasir.
Pramuniaga itu tersenyum melihat isi troliku yang ada beberapa pembalut di dalamnya. Walau dia tidak berbicara apapun, tapi aku tahu dia pasti mengejekku. Ah, sial. Lain kali, aku yang akan menyuruhnya bayar ke kasir jika dia meletakkan benda seperti itu lagi di troliku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
may
Love you too mas Wi😘eh🤭
2023-12-06
0
Qorie Izraini
holang jaya mah biasa..
gengsi di fede in
2023-10-01
0
Umi Kalsum Siahaan
makin asyik banget ceritanya 🥰🥰🥰
2022-10-16
3