Aku keluar setelah berhasil menenangkan diri. Aku mencuci wajah dan memolesi bedak supaya tidak terlihat habis menangis. Kak Wicak sudah menunggu saat kubilang sedang di toilet. Kami akan ke rumah sakit bersama-sama.
Aku melihat kak Wicak tengah bersama teman-temannya. Dia terlihat sangat santai berbicara sesekali tertawa kecil.
Aku berdiam diri, memperhatikan kekasihku itu. Dia sedang berusaha keras meraih mimpinya. Kak Wicak masuk ke sini dengan beasiswa full sampai selesai. Jadi, uang kuliah yang diberikan Ibunya utuh dan ia tabung.
Dia pernah bilang, dia akan menikahiku dengan sangat layak. Bisa dibilang, uang tabungannya akan dia persembahkan untukku.
Bagiku, perkataan kak Wicak sangat menggetarkan jiwa. Aku sampai terus tersenyum seperti orang gila saat dia mengatakan itu.
Lalu sebagai balasan untuknya, aku berlatih menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Aku belajar masak, aku menjaga diriku supaya tetap bersih tak tersentuh. Hadiahnya adalah diriku yang terhormat ini. Diriku yang sebentar lagi akan rusak.
Tanpa terasa air mataku menetes lagi. Aku menunduk sambil menghapus air mata. Tak ku sangka, jalanku seperti ini sekarang.
"Syahdu.." tiba-tiba kak Wicak sudah berdiri di depanku. "Ada apa?"
Aku menggelengkan kepala. "Gak ada kak, cuma teringat nenek."
Kak Wicak mengelus rambut yang ku kepang ke belakang.
"Ayo, kita harus kesana, kan?"
Kak Wicak menggenggam tanganku. Aku mengikuti langkahnya di belakang, memperhatikan tubuh gagah itu dari belakang. Aku mencintai kak Wicak. Aku sangat mencintainya.
Aku melihat tangan yang menggenggam tanganku dengan erat. Tangan yang selalu ada untuk membantuku. Tangan yang selalu menghapus air mataku. Tangan yang tidak pernah merusakku.
Bagaimana bisa aku menyerahkan diriku sekarang pada orang lain. Bagaimana nantinya aku bisa mempersembahkan tubuhku yang kotor untuk laki-laki yang paling baik sepertimu, kak?
Mataku menangkap Arga yang berjalan di depan kak Wicak, di depan kami. Dia hanya lewat. Mata kami bertemu beberapa detik, lalu dia beralih ke depannya lagi. Dia melewatiku begitu saja, benar-benar seperti tidak ada apa-apa antara aku dan dia. Benar, seperti di dalam surat itu bahwa aku dan dia tidak ada hubungan apapun, tidak saling mengenal.
"Syahdu."
Aku menoleh pada lelaki di depanku. Dia sudah membukakan pintu taksi online yang dia pesankan tadi.
"Kak, sebentar ya, aku ada perlu. Sebentar aja."
Aku berlari kecil menuju ke arah Arga berjalan tadi. Aku melihatnya jalan ke arah toilet pria. Dengan cepat aku menghampirinya, menahan tangannya yang hampir masuk ke toilet.
"Sebentar, aku perlu bicara." Ucapku dengan napas terengah. Tatapan dinginnya membuatku sedikit gugup. Tapi aku harus mengatakannya.
"Apa?"
Aku menoleh kiri dan kanan, memastikan supaya tidak ada yang mendengar ucapanku.
"A-apa bisa aku batalkan aja? Aku akan balikin uangnya. Aku janji, aku akan balikin uangmu secepatnya." Ucapku dengan nada yang bergetar dan mata yang memohon padanya. Tetapi dia diam dan hanya menatapku tanpa ekspresi.
"Maaf, maafkan aku. Aku gak bermaksud menipumu aku cuma..."
"Dua puluh kali lipat."
"Apa?" Aku paham maksudnya. Aku bukan bertanya karena tidak dengar, hanya saja aku terkejut. Baru beberapa menit tetapi dia langsung menaikkan harganya.
"Denda yang tertera di kontrak. Balikin malam ini dua puluh kali lipat, atau lo datang ke apartemen gue."
Arga memberikan secarik kertas dari kantongnya. Dia langsung masuk ke dalam toilet.
Kertas itu berisikan alamat apartemennya. Aku meremukkan kertas itu di genggamanku, aku sudah kalah. Mana mungkin dia mau menarik kontrak itu, makanya dia meminta denda dua puluh kali lipat supaya aku menyerah.
"Syahdu, ada apa?"
Aku berjalan lunglai, menatap wajah yang dulu sering kuanggap masa depan tercerahku.
Kak Wicak, aku sangat bodoh dan tengah menyesali perbuatanku. Aku masuk ke dalam mobil dan kak Wicak disampingku.
Aku menangis, tak bisa menahan lagi air mata yang tumpah di pipi. Kak Wicak langsung mendekap tubuhku. Dia mengira aku menangisi nenek. Padahal aku tengah menangisi kebodohan yang sudah kulakukan beberapa menit yang lalu. Aku mengorbankan masa depanku, yang jika nenek tahu, dia juga pasti akan sangat kecewa kepadaku.
...🍁...
Aku memencet bel apartemen Arga. Dengan berat hati dan jiwa, akhirnya aku datang ke huniannya. Aku terpaksa menepati janji karena jika tidak, aku harus membayar denda dua puluh kali lipat itu.
Pintu terbuka, Arga berdiri di depanku dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Dia langsung masuk lagi tanpa basa-basi atau apapun itu. Sepertinya benar, aku hanya tinggal melayaninya saja di atas ranjang.
Baru melangkahkan kaki, tubuhku mulai bergetar saat melihat ranjang besar Arga, sesuatu yang sangat berharga harus kulepas di atas sana.
"Lo bisa mandi dulu. Terus ganti pakaian disitu."
Tangannya menunjuk ke salah satu bilik yang terdapat banyak lemari kaca.
"Pakaian lo udah ada disana. Pilih salah satu dan cepat kemari."
Arga duduk bersandar di tempat tidur sambil bermain ponsel. Aku menurutinya, membersihkan diri di kamar mandi. Aku berlama-lama di dalam, bercermin di kaca yang sangat lebar, memandangi diriku yang masih suci. Sudah tidak ada air mata sebab ia telah habis karena menangisi kebodohanku sendiri.
Setelah selesai, aku keluar dan mendapati Arga masih dengan ponselnya. Dia tidak melihat ke arahku. Tatapannya hanya pada ponselnya. Entah mengapa, mungkin dia sebenarnya tidak berselera padaku.
Aku masuk ke walk in closet, membuka lemari dan mataku terbelalak.
"I-ini be-beneran?" Banyak sekali baju seksi di dalamnya. Sepertinya sudah ia siapkan, atau ini sudah pernah dipakai perempuan yang ia sewa sebelumnya?
Aku mengambil salah satu yang menurutku agak bisa disebut sebagai pakaian. Berwarna hitam, bagian dada tertutup sebagian, namun bawahnya sangat transparan.
Aku mendapati baju seksi itu masih berlebel, artinya ini masih baru.
Aku memakainya perlahan, sambil memperhatikan tubuhku di cermin besar itu. Sungguh baju ini sangat seksi. Pakaian ini membuat bagian dadaku naik dan lekukan tubuh sangat sempurna.
Aku sedikit bangga dengan tubuhku yang bagus. Selama ini aku menyembunyikannya di pakaian yang agak longgar. Label anak pelacur membuatku tidak berani memakai baju yang pendek.
"Lama!"
Aku tersentak, suara Arga sangat keras sampai membuat ruangan bergema.
Aku keluar perlahan. Kedua tanganku berusaha menutup bagian sensitif yang bisa dilihat langsung karena pakaian gila yang aku pakai tidak benar-benar menutupinya.
Arga melihatiku dengan wajah biasa saja. Apa menurutnya aku tidak cantik? Atau badanku tidak bagus? Astaga, barusan aku mikir apa?
Aku berdiri satu meter di depannya yang masih berselonjor di atas tempat tidur.
"Duduk sini."
Dagu Arga mengarahkanku supaya duduk di tepi ranjang, sebelahnya.
Aku perlahan duduk, aku deg-degan. Aku juga bisa melihat jari-jari yang kupilin ikut bergetar.
Arga mencondongkan tubuhnya padaku, lalu membuka ikatan rambut di kepalaku. Dia menyibakkan rambut panjangku ke belakang.
Tangannya mengelus lembut dari kepala sampai ke ujung rambutku yang berada di pinggangku.
"Rambut lo bagus." Pujinya padaku, tetapi sayang itu tidak membuatku senang.
Dia berdiri di depanku, lalu membuka bajunya hingga memperlihatkan bagian perutnya yang tak berotot.
"Let's we start.." ucapnya dengan nada yang setengah berbisik dan itu membuatku semakin bergetar hebat.
Bersambung....
(Visual Arga Alexander)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
dementor
👍👍👍👍👍
2023-05-15
1
ega
😘😘😘
2023-04-17
2
Euis Yohana
syahdu yg mau itu kok aku yg deg deg an hadeuuuuh...🤭
2023-01-27
1