Perintah Kedua

"Terima kasih, kalian luar biasa!"

Momo mengakhiri perform-nya dan semua orang bertepuk tangan.

"Yah, telat kita. Baru juga nyampe, udah selesai aja." Keluh Naya lalu merangkulku.

"Ayo, kita foto berempat!"

Mereka merapatkan tubuh dan berfoto ria. Rasanya lumayan, punya teman yang ceria seperti Adina, Alika, dan Naya. Apalagi mereka cantik-cantik dan bergaya. Aku terlihat gembel dibanding mereka.

Ponselku berdering, kak Wicak menelepon. Setelah memberitahu posisiku, dia bilang mau menjemput.

"Makan, yuk. Laper.." ucap Alika sambil memegang perutnya.

"Oke, kita makan dimana?" Tanya Adina.

"Ke toko buku aja dulu. Pak Bondo kan, nyuruh kita beli buku." Usulku sebab aku tidak ingin makan, apalagi makanan disini sudah pasti mahal. Harganya bisa 5 kali lipat nasi di warteg.

"Iya, ide bagus. Mumpung disini, yuk."

Ah, untunglah Adina setuju. Kami pun menuju satu toko buku. Kami berpencar, aku meminta Adina untuk membawakan buku pak Bondo juga karena aku ingin mencari buku lain untuk dibaca.

Setelah mendapat satu buku masakan dan novel romansa, aku menemui teman-teman yang berkumpul di salah satu rak.

"Udah?" Tanyaku dan mereka semua menoleh.

Arga, dia juga disana bersama Ibra.

"Eh, Ras, sini. Ini Ibra teman Smp gue. Katanya mau kenalan sama lo." Ucap Adina.

"Udah kok, tadi. Telat lu." Sahut Ibra.

"Gercep banget lo." Ejek Adina dan aku hanya tersenyum kecil. Kehadiran Arga membuatku tidak nyaman.

"Mau makan bareng, gak?" Tawar Naya pada Arga.

"Boleh, kami juga tadi gak sempat makan karena mau lihat konser Momo." Celetuk Ibra.

Ah benar, berarti yang kulihat tadi adalah Arga, batinku.

"Aku kesana dulu, ya. Ada yang mau kucari." Ucapku sambil melarikan diri dari Arga.

Aku membalas pesan kak Wicak, memberitahu dimana posisiku. Lalu setelah beberapa menit, aku keluar dan menuju kasir.

Dari belakang, ada tangan panjang yang melewati atas bahuku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang, dia Arga.

Aku dengan cepat membalikkan tubuh lagi.

"Bayar sekalian." Ucapnya sambil menyerahkan kartu Atm-nya. "pinnya satu sampai enam."

Aku ternganga sebab dia memberitahu nomor pinnya pada karyawan itu. Dia juga membayarkan buku-bukuku, namun aku tidak menolak apalagi berbicara dengannya, sungguh malas. Aku biarkan saja, toh memang wajar karena dia sudah mendapatkan kegadisanku.

Tapi aku seperti mengenal sesuatu. Harum yang barusan kuhirup, mirip sekali dengan harum jeket yang mendarat di kepalaku malam itu.

Aku langsung menoleh lagi namun Arga sudah tidak ada di belakangku. Aku tidak salah, parfum Arga mirip dengan bau harum yang ada di jeket itu.

Tunggu dulu. Aku menegang seketika. Apa waktu malam itu Arga ada di atas gedung rumah sakit? Mungkin itu sebabnya dia tahu masalahku dan menawarkan kontrak itu. Benarkah demikian?

"Mbak!"

Aku tersentak dan langsung menatap si kasir. Nampaknya dia sudah beberapa kali memanggilku.

"Ini bukunya, Mbak. Terima kasih, ya." Ucap si kasir sambil menyerahkan sekantong plastik buku.

Aku langsung mengambilnya dan hendak melangkah pergi.

"Mbak, kartunya.." si kasir menyerahkan kartu hitam milik Arga. Kulihat dia sudah bergabung dengan yang lain di depan toko.

Aku mengambilnya dan mendekat dengan teman-teman lainnya.

"Lama banget, Ras. Beli buku apa, sih?" Omel Alika.

Aku menyembunyikan kartu Arga di tasku. Nanti saja kukembalikan.

"Buku masak-masak tadi gue liat. Rajin banget, mau jadi istri idaman, ya." Ledek Naya dan aku hanya tersenyum kecut.

Mataku menatap laki-laki berkemeja kotak hitam yang sudah melihatku dari jauh.

"Ee, aku duluan, ya." Pamitku dengan ragu.

"Lho, kenapa? Belum juga makan. Buru-buru banget, sih?" Celoteh Adina.

"Oh, siapa tuh?" Mata Alika melihat kak Wicak yang mendekat.

"Aku udah dijemput. Maaf, ya. Lain kali kita pergi bareng. Oke?" Tukasku dan langsung berjalan ke arah kak Wicak yang sudah mendekat. Aku tidak mau kak Wicak tahu si Arga itu.

"Ras, pacarmu?" Tanya Naya dan aku mengangguk.

"Maaf, ya. Aku duluan." Aku melambaikan tangan pada teman-temanku. Lalu kak Wicak langsung menggenggam tanganku.

"Duh, iri banget. Laras kok bisa cepet banget dapat pacar? Mana keren banget lagi pacarnya." Samar-samar aku mendengar ucapan Alika. Akupun tersenyum menatap kak Wicak. Memang benar, pacarku ini keren banget.

"Mereka udah 7 tahun pacaran, tau." Sambung Adina yang sudah kuceritakan duluan soal itu.

"Kenapa senyum-senyum begitu?" Kak Wicak menatap aneh ke arahku.

"Enggak, aku seneng aja. Soalnya udah lama gak jalan-jalan sama kakak."

"Kita belum bisa jalan-jalan. Kan, nenek masih di rumah sakit."

"Kata nenek gak apa-apa, kok. Kan, aku harus belajar juga jalan-jalan supaya gak stres berkepanjangan. Soal nenek, nenek harus terus dirawat di rumah sakit, kak. Soalnya kondisinya lemah." Tukasku sambil berjalan bersama kak Wicak.

"Kita ngobrol sambil makan, ya."

"Makan dimana? Jangan disini. Mahal pasti."

Baru kubilang begitu, kak Wicak langsung menarik tanganku masuk ke salah satu resto yang terlihat mewah.

"Kak, kenapa kesini?" Bisikku pada kak Wicak.

"Mau makan, kan?" Jawabnya santai.

"Iya, tapi disini kan, mahal." Bisikku lagi.

"Aku yang bayar." Ucapnya lagi sambil membaca menu.

Memangnya kapan aku bayar sendiri? Selalunya juga kak Wicak. "Tapi kan, kak.."

Lirikan kak Wicak membuatku bungkam. Padahal cuma melihat ke arahku dengan wajah dingin begitu tapi entah kenapa aku langsung tidak berani mengoceh lagi.

Akupun terpaksa memesan makanan yang sama dengannya. Tidak berani melihat yang lain sebab harganya di atas 50ribu perporsi.

"Kamu tenang aja, ya. Jangan merasa terbebani terus. Aku yang mau bawa kamu kemari." Tukasnya dan aku hanya mengangguk saja.

"Kamu tadi dipanggil apa sama mereka? Ras?" Tanya kak Wicak sambil mengelap wajahnya dengan tisu.

Aku cengengesan malu. "Iya. Mereka panggil aku Larasati."

"Kamu malu dipanggil Syahdu?"

"Enggak!" Jawabku cepat. "Aku cuma mau orang-orang gak tau tentang aku. Soalnya kan, nama Syahdu itu jarang banget. Mungkin cuma aku."

"Aku malah suka namamu. Syukurlah kalau cuma kamu yang pakai nama itu." Ucap kak Wicak dengan senyumannya yang jarang ia tunjukkan itu.

"Khusus kakak, panggil aja Syahdu."

"Iyalah. Siapa juga yang mau manggil Larasati. Nama yang terlalu biasa." Ocehnya sambil mengaduk minuman yang baru diantar pramuniaga. Aku tersenyum senang. Bisa dibilang, mungkin hanya dia satu-satunya orang yang akan selalu menjagaku.

Makanan sudah terhidang, kami pun makan sambil mengobrol banyak hal sambil bercanda dan tertawa. Tak lupa aku mengabadikannya dalam ponselku, juga foto berdua dengannya walau dia sedikit mengomel saat kusuruh pindah duduk disebelahku.

"Kak, makasih banyak, ya." Ucapku sambil berjalan menggandeng tangannya.

"Iya. Ulang tahun nanti mau kado apa?" Tanyanya.

"Ulang tahun apaan. Masih lama."

"Kan, bulan depan. Biar aku siapin dari sekarang."

"Gak ah. Setiap hari juga kan, udah enak bisa ketemu terus sama kakak." Jawabku jujur.

"Serius gak kepingin apa-apa?" Tanya kak Wicak lagi.

"Iya, serius."

"Hm, ya sudah. Kalau ada yang diinginkan, bilang aja, ya?"

Aku mengangguk cepat.

"Tabung aja deh, kak. Sayang kalau harus beli yang gak penting." Ucapku memberi nasehat.

"Gak penting apanya! Kamu itu sangat penting buatku." Tukas kak Wicak dan aku menghentikan langkahku.

"Kalau masalah tabungan, kamu jangan mikirin itu. Itu urusanku. Yang penting aku bisa melamarmu setelah selesai kuliah ini." Sambungnya lagi dan sukses membuat air mataku menetes.

Lihatlah, betapa kak Wicak terus memikirkan aku, sedangkan aku sudah membuang kehormatanku dengan sangat buruk menjualnya untuk biaya rumah sakit nenek. Aku benar-benar menjadi perempuan yang tidak pantas untuk kak Wicak.

"Jangan nangis disini. Nanti dikira orang, aku apa-apain kamu." Ucapnya dengan lembut sambil mengusap air mataku.

"Iya, maaf, kak." Aku menunduk sambil menahan air mata yang terus keluar.

"Kamu itu ya, cengeng. Tapi aku sangat suka dengan hatimu yang lembut itu." Kak Wicak mengelus lembut kepalaku. Tanpa dia tahu bahwa aku menangisi kebodohanku.

TRING

Aku merogoh ponsel di kantong rokku dan membaca pesan dari nomor baru.

'Jam 8 malam harus sudah di apartemenku.'

Sudah jelas, itu dari Arga. Perintah kedua sudah ia layangkan.

(Visual Wicak)

**Jangan lupa beri Rating pada Novel ini, ya😉

Terpopuler

Comments

Gea aura

Gea aura

Best pokok e

2024-04-24

0

may

may

Mas wicak😔maafkan syahdu yaa, semoga rasa kecewamu masih bisa terobati dengan rasa cintamu ke syahdu

2023-12-06

0

Wirda Wati

Wirda Wati

ngga tega dg wicak

2023-10-25

0

lihat semua
Episodes
1 Syahduku
2 Kuliah Pertama
3 Menawarkan Kontrak
4 Ttd Kontrak!
5 Let's Start
6 Virgin
7 Tak saling kenal.
8 Perintah Kedua
9 Berbohong
10 Sarapan Bareng
11 Satu Kelompok
12 Persetan Rasa Malu!
13 Antara Malu dan Bodoh
14 Obrolan Grup
15 Fakta Baru
16 Semakin Menyesal
17 Perpembalutan
18 Anak Pemilik Rumah Sakit
19 Berbelanja Kebutuhan
20 Naik Kelas
21 Pesta Kelas Atas
22 Suara Syahdu
23 Main Solo
24 Naik dulu!
25 Berpapasan
26 Rooftop Apartemen
27 Aku pemenang?
28 Musim Semi di hati Syahdu
29 Weekend bersama Wicak
30 NightCafe
31 Patah Hati Pertama
32 Sadar
33 Meminta Maaf
34 Sadar Ditatap
35 Ketemu Oma
36 Ke Apartemen Arga
37 Curiga
38 Ketahuan Wicak
39 Kepercayaan pada Syahdu
40 Ikat Rambut
41 Perjalanan ke Pulau
42 You and Sunset!
43 Sorot Mata Syahdu
44 Efek Film Horor
45 Menahan Hasrat
46 Calon Tunangan Arga
47 Keputusan Syahdu
48 Happy Birthday, Syahdu.
49 Putus tanpa Alasan.
50 Rencana Kemah
51 Alasan putus
52 Pesta untuk Syahdu
53 Kebahagiaan Nenek
54 Tidak berniat Nikah.
55 Berbeda Prinsip
56 Perasaan diatas Cinta
57 Hadiah ulang Tahun
58 Packing
59 Gara-gara telefon
60 Obrolan Panjang
61 Belajar Masak
62 Nasi Bekal
63 Susu Stroberi
64 Salah Kirim
65 Makan malam
66 Tunangan Arga?
67 Hamil, kali.
68 Perkelahian Arga dan Awan
69 Prinsip Arga
70 Masalah yang tak terselesaikan
71 Penjelasan Arga
72 Berita Buruk
73 Desas-Desus Rumah Sakit
74 Kebohongan Yang Panjang
75 Kedatangan sang Mami
76 Curahan Hati Perempuan
77 Penghapusan Gosip
78 Membeli Testpack
79 Menebus Obat
80 Cek ke Dokter
81 Berencana Lari
82 Kegelisahan Arga
83 Soraya atau Syahdu?
84 Syahdu Pingsan
85 Sop untuk Syahdu
86 Kesembuhan Syahdu
87 Kehadiran Soraya
88 Undangan Makan Malam
89 Senyum Lebar Arga
90 Why don't you stay?
91 Pindah Kamar
92 Salah Paham Awan
93 Nyanyi dipanggung
94 Ketahuan Naya
95 Kasus Pemerkosaan
96 Dibalik Perlindungan Wicak
97 Menguak Rahasia Syahdu
98 Kata Pengantar Skripsi Wicak
99 Gosip yang Beredar
100 "Tetap Disini"
101 Ancaman Soraya
102 Bukan Cinta Biasa
103 Bolos Sama-sama
104 Lelaki disamping Syahdu
105 Melawan Balik
106 Menentukan Pertunangan
107 Penjelasan Riska
108 Pertunangan Bulan Depan
109 Ancaman sang Ayah
110 Arga hanya Akan Menikah dengan...
111 I am not a Slut!
112 Terhinakan oleh Status
113 Kepergian Suriani
114 Bunuh Diri
115 Berusaha Jujur pada Wicak
116 Perpisahan
117 Pengakuan dan Kejujuran Syahdu
118 Pamit Syahdu
119 Menerima Syahdu Kembali
120 Masa Kritis
121 Kondisi Terbaru Wicak
122 Kehilangan Kedua Kali
123 Satu-satunya Janji yang Ditepati Wicak
124 Harapan Baru
125 Engangement Invitation
126 Secercah Harapan
127 Saat ingin Memulai Hidup Baru...
128 5 Hari Lagi~
129 Trauma dan Luka Batin
130 Mimpi Nyata
131 Kenyataan Baru bagi Arga
132 Sisi Lain Arga
133 Malam Hangat untuk Pertama Kalinya
134 Happy Birthday, Arga.
135 Menunggu Syahdu Kembali
136 Kehidupan Baru Arga
137 Kehidupan Baru Syahdu
138 Tak Segampang Itu...
139 Tergalinya Masa Lalu
140 Munculnya Rasa Bersalah di Hati Syahdu
141 Kisah Yang Mungkin Akan Berakhir
142 Memantapkan Hati Untuk Kembali
143 Bertamu ke Makam Wicak
144 Reuni Kelas
145 Bertemu Setelah Sekian Lama
146 Memori yang Masih Melekat
147 Pelukan Rindu Yang Sangat Erat
148 Keputusan Akhir Karir
149 Marry Me, Syahdu.
150 Bertemu Adik Arga
151 Beban Terberat Syahdu
152 Gangguan Stres Pascatrauma
153 Lelaki Pilihan Wicak
154 Netflix and Chill
155 And Chill~
156 Melamar Syahdu
157 Melanjutkan Karir Arga
158 Syahdu Balik Ke Desa
159 Pembicaraan Terakhir dengan Arif
160 Hot News Paparazi
161 Membatalkan Semua Jadwal Demi Syahdu
162 Menuju Desa Bebatu
163 Drama Perjalanan Desa Bebatu
164 Mempersunting
165 Gosip Baru
166 Sanggahan Langsung
167 Meminta Restu Margareth
168 Ziarah
169 Konseling
170 Pertemuan dengan Julia
171 Ujian Pranikah (1)
172 Ujian Pranikah (2)
173 Ujian Pranikah (3)
174 Perubahan Sikap Syahdu
175 Menahan Keinginan Demi Arga
176 The End of The Long Story
177 ExtraBab - Kehamilan Syahdu Menjadi Berita Baik
178 ExtraBab - Cerita Masa Lalu
179 ExtraBab - Karena Rokok
180 ExtraBab - Potong Rambut
181 ExtraBab - Ngidam
182 ExtraBab - Arga Junior
183 ExtraBab - Perencanaan Panti
184 RelationSHIT!
185 ExtraBab - BIG HUG
186 What If - Arsya Besar
187 What If - Selesai Kontrak
188 What If - Syahdu Tidak Kabur
189 SEPUPUKU, CANDUKU
Episodes

Updated 189 Episodes

1
Syahduku
2
Kuliah Pertama
3
Menawarkan Kontrak
4
Ttd Kontrak!
5
Let's Start
6
Virgin
7
Tak saling kenal.
8
Perintah Kedua
9
Berbohong
10
Sarapan Bareng
11
Satu Kelompok
12
Persetan Rasa Malu!
13
Antara Malu dan Bodoh
14
Obrolan Grup
15
Fakta Baru
16
Semakin Menyesal
17
Perpembalutan
18
Anak Pemilik Rumah Sakit
19
Berbelanja Kebutuhan
20
Naik Kelas
21
Pesta Kelas Atas
22
Suara Syahdu
23
Main Solo
24
Naik dulu!
25
Berpapasan
26
Rooftop Apartemen
27
Aku pemenang?
28
Musim Semi di hati Syahdu
29
Weekend bersama Wicak
30
NightCafe
31
Patah Hati Pertama
32
Sadar
33
Meminta Maaf
34
Sadar Ditatap
35
Ketemu Oma
36
Ke Apartemen Arga
37
Curiga
38
Ketahuan Wicak
39
Kepercayaan pada Syahdu
40
Ikat Rambut
41
Perjalanan ke Pulau
42
You and Sunset!
43
Sorot Mata Syahdu
44
Efek Film Horor
45
Menahan Hasrat
46
Calon Tunangan Arga
47
Keputusan Syahdu
48
Happy Birthday, Syahdu.
49
Putus tanpa Alasan.
50
Rencana Kemah
51
Alasan putus
52
Pesta untuk Syahdu
53
Kebahagiaan Nenek
54
Tidak berniat Nikah.
55
Berbeda Prinsip
56
Perasaan diatas Cinta
57
Hadiah ulang Tahun
58
Packing
59
Gara-gara telefon
60
Obrolan Panjang
61
Belajar Masak
62
Nasi Bekal
63
Susu Stroberi
64
Salah Kirim
65
Makan malam
66
Tunangan Arga?
67
Hamil, kali.
68
Perkelahian Arga dan Awan
69
Prinsip Arga
70
Masalah yang tak terselesaikan
71
Penjelasan Arga
72
Berita Buruk
73
Desas-Desus Rumah Sakit
74
Kebohongan Yang Panjang
75
Kedatangan sang Mami
76
Curahan Hati Perempuan
77
Penghapusan Gosip
78
Membeli Testpack
79
Menebus Obat
80
Cek ke Dokter
81
Berencana Lari
82
Kegelisahan Arga
83
Soraya atau Syahdu?
84
Syahdu Pingsan
85
Sop untuk Syahdu
86
Kesembuhan Syahdu
87
Kehadiran Soraya
88
Undangan Makan Malam
89
Senyum Lebar Arga
90
Why don't you stay?
91
Pindah Kamar
92
Salah Paham Awan
93
Nyanyi dipanggung
94
Ketahuan Naya
95
Kasus Pemerkosaan
96
Dibalik Perlindungan Wicak
97
Menguak Rahasia Syahdu
98
Kata Pengantar Skripsi Wicak
99
Gosip yang Beredar
100
"Tetap Disini"
101
Ancaman Soraya
102
Bukan Cinta Biasa
103
Bolos Sama-sama
104
Lelaki disamping Syahdu
105
Melawan Balik
106
Menentukan Pertunangan
107
Penjelasan Riska
108
Pertunangan Bulan Depan
109
Ancaman sang Ayah
110
Arga hanya Akan Menikah dengan...
111
I am not a Slut!
112
Terhinakan oleh Status
113
Kepergian Suriani
114
Bunuh Diri
115
Berusaha Jujur pada Wicak
116
Perpisahan
117
Pengakuan dan Kejujuran Syahdu
118
Pamit Syahdu
119
Menerima Syahdu Kembali
120
Masa Kritis
121
Kondisi Terbaru Wicak
122
Kehilangan Kedua Kali
123
Satu-satunya Janji yang Ditepati Wicak
124
Harapan Baru
125
Engangement Invitation
126
Secercah Harapan
127
Saat ingin Memulai Hidup Baru...
128
5 Hari Lagi~
129
Trauma dan Luka Batin
130
Mimpi Nyata
131
Kenyataan Baru bagi Arga
132
Sisi Lain Arga
133
Malam Hangat untuk Pertama Kalinya
134
Happy Birthday, Arga.
135
Menunggu Syahdu Kembali
136
Kehidupan Baru Arga
137
Kehidupan Baru Syahdu
138
Tak Segampang Itu...
139
Tergalinya Masa Lalu
140
Munculnya Rasa Bersalah di Hati Syahdu
141
Kisah Yang Mungkin Akan Berakhir
142
Memantapkan Hati Untuk Kembali
143
Bertamu ke Makam Wicak
144
Reuni Kelas
145
Bertemu Setelah Sekian Lama
146
Memori yang Masih Melekat
147
Pelukan Rindu Yang Sangat Erat
148
Keputusan Akhir Karir
149
Marry Me, Syahdu.
150
Bertemu Adik Arga
151
Beban Terberat Syahdu
152
Gangguan Stres Pascatrauma
153
Lelaki Pilihan Wicak
154
Netflix and Chill
155
And Chill~
156
Melamar Syahdu
157
Melanjutkan Karir Arga
158
Syahdu Balik Ke Desa
159
Pembicaraan Terakhir dengan Arif
160
Hot News Paparazi
161
Membatalkan Semua Jadwal Demi Syahdu
162
Menuju Desa Bebatu
163
Drama Perjalanan Desa Bebatu
164
Mempersunting
165
Gosip Baru
166
Sanggahan Langsung
167
Meminta Restu Margareth
168
Ziarah
169
Konseling
170
Pertemuan dengan Julia
171
Ujian Pranikah (1)
172
Ujian Pranikah (2)
173
Ujian Pranikah (3)
174
Perubahan Sikap Syahdu
175
Menahan Keinginan Demi Arga
176
The End of The Long Story
177
ExtraBab - Kehamilan Syahdu Menjadi Berita Baik
178
ExtraBab - Cerita Masa Lalu
179
ExtraBab - Karena Rokok
180
ExtraBab - Potong Rambut
181
ExtraBab - Ngidam
182
ExtraBab - Arga Junior
183
ExtraBab - Perencanaan Panti
184
RelationSHIT!
185
ExtraBab - BIG HUG
186
What If - Arsya Besar
187
What If - Selesai Kontrak
188
What If - Syahdu Tidak Kabur
189
SEPUPUKU, CANDUKU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!