Kuliah Pertama

Aku menikmati hari ini. Hari dimana kak Wicak sarapan bersamaku dan nenek di rumah.

Pagi-pagi sekali dia sudah datang dan mengatakan kalau dia belum sarapan dengan wajah memohon supaya aku memasakkannya nasi goreng yang dulu sering kubuat untuknya. Aku senang, dia suka masakanku.

Tadi juga, kami naik busway bersama. Duduk berdua dan dia terus menggenggam tanganku selama di dalam bus. Walau dia terlihat sangat cuek diluar, tetapi sebenarnya dia sangat peduli padaku. Orang kedua yang paling mengerti aku setelah nenek.

Tetapi genggaman tangan itu harus terlepas setelah ada seorang wanita hamil naik dan dia memberikan kursinya pada ibu itu. Baik sih, tapi aku kan, mau berdekatan terus dengannya. Walau bibirku mengerucut, dia hanya tersenyum tipis melihatku sambil berdiri di tempatnya.

Sesampainya disana, dia menyuruhku menunggu sebentar untuk mengambil formulir pendaftaran ulang setelah mendaftar online kemarin.

"Coba periksa dulu. Udah aku isi semuanya."

Kak Wicak menyerahkan beberapa lembar kertas. Aku membacanya dengan teliti. Semua diisi dengan benar.

Namaku, Syahdu Larasati. Tanggal lahir, 27 februari. Golongan darah, B. Aku membaca semuanya dan tersenyum lebar. He knows me well.

"Udah?"

Aku mengangguk pasti dan kak Wicak langsung membawanya ke ruang pendaftaran.

"Udah beres." Ucapnya sembari duduk dan mengeluarkan ponselnya.

"Kita kemana?" Senyumku mengembang, membayangkan jalan-jalan bersama kak Wicak di kota ini. Dia pasti tahu banyak tempat menarik.

"Mau kemana memangnya?" Tanyanya sambil terus fokus pada ponselnya.

"Kak, aku pingin jalan-jalan..."

"Wicaakkk!!"

Kami menoleh, dua orang perempuan cantik dan berpakaian modis melambaikan tangan pada kak Wicak dan kak Wicak tersenyum kecil pada mereka.

"Teman kakak?" Tanyaku penasaran. Dua gadis itu sangat cantik dan mereka berjalan ke arah kami.

"Iya."

"Cantik banget..." pujiku pada dua orang yang berjalan sambil tersenyum. "Kak, bilang aja aku bukan pacar kakak, ya."

"Kenapa?" Kening kak Wicak berkerut.

"Malu. Mereka cantik-cantik soalnya." Ucapku. Tapi jujur memang aku malu dan minder dekat mereka. Padahal di kampung, aku cukup modis karena beberapa temanku malah minta pertimbangan gaya baju padaku.

"Cak, ngapain? Kan, gak ada kelas." Tanya perempuan berbaju putih dan rok jeans pendek. Sangat cantik.

"Daftarin kuliah." Jawabnya singkat.

Kedua perempuan itu menatapku dari ujung kaki sampai kepala. Aku menunduk malu. Hari ini aku pakai celana jeans, kemeja coklat, dan kuncir kuda. Menurutku sudah bagus, tetapi kalau dilihat dari cara mereka memandangku, aku merasa jadi sangat kuno.

"Dari kampung, ya?" Tanya perempuan yang lain dan aku mengangguk sambil tersenyum.

"Kenalin, ini pacarku."

Aku sontak melihat kak Wicak sambil terbelalak. Sudah kubilang, jangan beritahu. Tetapi dia tak peduli dengan ucapanku.

"Ooh. Yang sering kau ceritakan itu? Masuk sini juga?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan.

Apa? Yang sering diceritakan? Kupingku naik, rasanya amat senang mendengar itu. Ternyata, kak Wicak mengakuiku dan sering menceritakan aku pada teman-temannya.

"Syahdu." Ucapku sambil menyambut tangan mereka.

"Imel dan ini Cintya." Sahut yang bernama Imel.

"Lo sibuk, ya?"

"Pake nanya lagi. Ya iyalah. Lo gak liat ada ceweknya?" Timpal Cintya.

"Ah, ya sudahlah. Kami duluan, ya!"

Dua perempuan itu langsung pergi sementara aku masih menatap ke arah mereka.

"Kenapa?" Tanya kak Wicak yang melihatku membisu menatap keduanya yang sudah berjalan jauh.

"Mereka cantik-cantik ya, kak. Kayaknya teman-teman kakak cantik semua. Apa gak ada yang tertarik selama disini?" Tanyaku penasaran dan kak Wicak malah menggeleng heran dengan pertanyaanku.

Kak Wicak tidak menjawab. Dia memang begitu, baginya celotehan tidak pentingku hanya akan membawa pertengkaran walau sebenarnya kami sangat jarang dan hampir tidak pernah bertengkar. Aku sangat mengerti kak Wicak yang dingin dan dia juga mengerti aku yang oon.

"Aku serius, kak. Apalagi sepertinya teman kakak itu tertarik pada kakak."

"Kalau memang aku niat cari pacar lagi, seharusnya dari dulu kita udah putus!" Ucapnya dengen tegas. "Aku kemari untuk belajar, bukan cari pacar. Aku udah gak mikir-mikir perempuan lain karena pikiranku udah full kamu semua." Kak Wicak berdiri. "Udah, ayo pulang."

Hatiku berbunga mendengar itu. Kak Wicak hampir tidak pernah berkata manis, tetapi sekalinya berbicara, jantungku seperti mau lepas dari tempatnya. Tapi serius, dia tidak tahu kalau ucapannya itu telah menusuk di jantungku.

Dia menarik tanganku yang sejak tadi tersenyum mendengar ucapannya. Tanpa ia sadari, kalimatnya tadi sangat membuatku bahagia.

"Kak, kita kemana?" Tanyaku yang mengikuti saja langkah kak Wicak sambil saling bergenggaman tangan.

"Nonton. Ada film bagus." Jawabnya dan aku semakin tersenyum. Untuk pertama kali akhirnya aku bisa menonton di bioskop.

...🍁...

Hari pertama kuliah. Aku hanya membawa buku binder kosong dan alat tulis. Selebihnya hanya liptint dan ponselku.

Aku sudah tahu ruangannya sebab kemarin kak Wicak sudah mengajakku berkeliling kampus. Hanya saja, aku belum punya teman sebab disini tidak ada ospek segala macam. Dan hari pertama, aku benar-benar seperti orang bodoh.

Lihatlah, beberapa orang yang masuk sudah menggandeng teman. Dan lagi-lagi aku merasa kucel sendiri karena teman-teman kelasku terlihat bergaya.

Aku duduk dengan santai sambil berpikir. Aku pindah ke kota dengan hidup baru dan berharap, semoga tidak ada satupun orang yang mengenalku di kampus ini.

Aku ingin menjadi pribadi yang baik tanpa ada gosip miring lagi mengenai diriku yang anak seorang pelacur.

Ah, sepertinya aku harus mengubah nama panggilan. Aku tidak ingin di panggil Syahdu disini. Bagaimana kalau Larasati? Aku tersenyum. Benar, aku harus mengubah nama panggilanku menjadi Larasati.

"Apa di bangku ini ada orang?"

Lamunanku buyar, seorang perempuan cantik berambut pendek sebahu datang ke bangkuku.

"Enggak. Kosong, kok." Sahutku.

"Ah, syukurlah. Aku gak terlalu suka di depan." Ucapnya lalu duduk. "Aku Adina." Dia mengulurkan tangan.

"Larasati." Jawabku sambil menyambut uluran tangannya.

Ah, teman pertamaku. Manisnya..

"Eh, tau gak, tadi di depan aku liat ada cowok ganteng. Semoga aja masuk kelas ini, ya."

Aku mendengar percakapan dua perempuan di bangku depanku, sepertinya ada laki-laki yang menarik perhatiannya. Padahal kalau di lihat sekeliling, laki-laki di kelas ini keren-keren, kok. Yang dikatakannya ganteng, itu yang bagaimana? Aku mulai penasaran.

Dan benar, aku melihat laki-laki yang masuk. Dia sukses membuat orang di dalam kelas menatap ke arahnya. Dia memang tampan. Kulitnya putih bersih, hidung mancung, bibir seksi dan rambutnya terlihat sangat lembut sampai aku menyentuh rambutku. Dia pakai sampo apa, ya?

Dia duduk di sebelah kananku dan tak terlihat ingin berkenalan. Akupun tidak peduli sebab aku bukan tipe orang yang ramah mengingat posisiku di kampung juga cukup memprihatinkan dengan keramahan yang dianggap cari perhatian laki-laki. Huh, lagi-lagi mengingat itu bikin aku kesal.

Hari ini belum memulai pembelajaran. Dosen yang masuk hanya menginginkan kami mengenalkan diri masing-masing dan menyuruh kami mencari beberapa materi untuk di bahas minggu depan.

Aku agak heran, ternyata kuliah seperti itu. Aku pikir akan dibagi buku-buku ternyata malah disuruh cari sendiri jenis buku yang ia berikan rinciannya pada mahasiswanya dan kami juga harus mencari tahu sendiri gambaran untuk materi minggu depan. Sungguh membagongkan, ini malah seperti belajar sendiri.

Setelah selesai, aku melirik jam. Ternyata masih jam 12 siang dan aku ingin ke satu toko buku untuk mencari yang dosen minta sekaligus jalan-jalan menghapal tempat di kota.

Aku menghubungi kak Wicak, tetapi dia tidak bisa menemaniku karena masih kuliah sampai sore.

Hah, baiklah. Aku akan pergi sendiri ke toko buku terdekat.

Sesampainya disana, aku mengeluh sepanjang toko sebab aku memang bukan penggemar buku-buku pelajaran seperti kak Wicak. Aku lebih suka buku masak-masak. Kalau saja ada kak Wicak, pasti semua sudah beres.

Setelah menelusuri rak demi rak, akhirnya aku menemukan satu buku yang di tulangnya terlihat nama penulis yang sama dengan yang dosen minta.

"Hah, itu dia bukunya."

Aku ingin meraih buku di rak atas. Sedikit lagi, tanganku hampir sampai.

Ah, sulit. Aku tidak bisa meraihnya. Lalu tiba-tiba sebuah tubuh tinggi di belakangku meraih buku yang ingin kuambil. Dia mengambilnya dan melihat buku itu sebentar.

"Ah, terima ka..." aku bengong, sebab dia malah pergi membawa buku itu.

Tunggu dulu. Mataku menyipit meyakinkan apa yang kulihat. Bukankah itu anak laki-laki yang duduk disebelahku tadi?

Terpopuler

Comments

may

may

Sepertinya laki laki ini yg akan merebut syahdu dari mas wicak🤔

2023-12-06

1

nurlela nasution

nurlela nasution

ini kok baca nya candu ❤️

2023-05-24

0

Reiva Momi

Reiva Momi

seru

2023-01-26

0

lihat semua
Episodes
1 Syahduku
2 Kuliah Pertama
3 Menawarkan Kontrak
4 Ttd Kontrak!
5 Let's Start
6 Virgin
7 Tak saling kenal.
8 Perintah Kedua
9 Berbohong
10 Sarapan Bareng
11 Satu Kelompok
12 Persetan Rasa Malu!
13 Antara Malu dan Bodoh
14 Obrolan Grup
15 Fakta Baru
16 Semakin Menyesal
17 Perpembalutan
18 Anak Pemilik Rumah Sakit
19 Berbelanja Kebutuhan
20 Naik Kelas
21 Pesta Kelas Atas
22 Suara Syahdu
23 Main Solo
24 Naik dulu!
25 Berpapasan
26 Rooftop Apartemen
27 Aku pemenang?
28 Musim Semi di hati Syahdu
29 Weekend bersama Wicak
30 NightCafe
31 Patah Hati Pertama
32 Sadar
33 Meminta Maaf
34 Sadar Ditatap
35 Ketemu Oma
36 Ke Apartemen Arga
37 Curiga
38 Ketahuan Wicak
39 Kepercayaan pada Syahdu
40 Ikat Rambut
41 Perjalanan ke Pulau
42 You and Sunset!
43 Sorot Mata Syahdu
44 Efek Film Horor
45 Menahan Hasrat
46 Calon Tunangan Arga
47 Keputusan Syahdu
48 Happy Birthday, Syahdu.
49 Putus tanpa Alasan.
50 Rencana Kemah
51 Alasan putus
52 Pesta untuk Syahdu
53 Kebahagiaan Nenek
54 Tidak berniat Nikah.
55 Berbeda Prinsip
56 Perasaan diatas Cinta
57 Hadiah ulang Tahun
58 Packing
59 Gara-gara telefon
60 Obrolan Panjang
61 Belajar Masak
62 Nasi Bekal
63 Susu Stroberi
64 Salah Kirim
65 Makan malam
66 Tunangan Arga?
67 Hamil, kali.
68 Perkelahian Arga dan Awan
69 Prinsip Arga
70 Masalah yang tak terselesaikan
71 Penjelasan Arga
72 Berita Buruk
73 Desas-Desus Rumah Sakit
74 Kebohongan Yang Panjang
75 Kedatangan sang Mami
76 Curahan Hati Perempuan
77 Penghapusan Gosip
78 Membeli Testpack
79 Menebus Obat
80 Cek ke Dokter
81 Berencana Lari
82 Kegelisahan Arga
83 Soraya atau Syahdu?
84 Syahdu Pingsan
85 Sop untuk Syahdu
86 Kesembuhan Syahdu
87 Kehadiran Soraya
88 Undangan Makan Malam
89 Senyum Lebar Arga
90 Why don't you stay?
91 Pindah Kamar
92 Salah Paham Awan
93 Nyanyi dipanggung
94 Ketahuan Naya
95 Kasus Pemerkosaan
96 Dibalik Perlindungan Wicak
97 Menguak Rahasia Syahdu
98 Kata Pengantar Skripsi Wicak
99 Gosip yang Beredar
100 "Tetap Disini"
101 Ancaman Soraya
102 Bukan Cinta Biasa
103 Bolos Sama-sama
104 Lelaki disamping Syahdu
105 Melawan Balik
106 Menentukan Pertunangan
107 Penjelasan Riska
108 Pertunangan Bulan Depan
109 Ancaman sang Ayah
110 Arga hanya Akan Menikah dengan...
111 I am not a Slut!
112 Terhinakan oleh Status
113 Kepergian Suriani
114 Bunuh Diri
115 Berusaha Jujur pada Wicak
116 Perpisahan
117 Pengakuan dan Kejujuran Syahdu
118 Pamit Syahdu
119 Menerima Syahdu Kembali
120 Masa Kritis
121 Kondisi Terbaru Wicak
122 Kehilangan Kedua Kali
123 Satu-satunya Janji yang Ditepati Wicak
124 Harapan Baru
125 Engangement Invitation
126 Secercah Harapan
127 Saat ingin Memulai Hidup Baru...
128 5 Hari Lagi~
129 Trauma dan Luka Batin
130 Mimpi Nyata
131 Kenyataan Baru bagi Arga
132 Sisi Lain Arga
133 Malam Hangat untuk Pertama Kalinya
134 Happy Birthday, Arga.
135 Menunggu Syahdu Kembali
136 Kehidupan Baru Arga
137 Kehidupan Baru Syahdu
138 Tak Segampang Itu...
139 Tergalinya Masa Lalu
140 Munculnya Rasa Bersalah di Hati Syahdu
141 Kisah Yang Mungkin Akan Berakhir
142 Memantapkan Hati Untuk Kembali
143 Bertamu ke Makam Wicak
144 Reuni Kelas
145 Bertemu Setelah Sekian Lama
146 Memori yang Masih Melekat
147 Pelukan Rindu Yang Sangat Erat
148 Keputusan Akhir Karir
149 Marry Me, Syahdu.
150 Bertemu Adik Arga
151 Beban Terberat Syahdu
152 Gangguan Stres Pascatrauma
153 Lelaki Pilihan Wicak
154 Netflix and Chill
155 And Chill~
156 Melamar Syahdu
157 Melanjutkan Karir Arga
158 Syahdu Balik Ke Desa
159 Pembicaraan Terakhir dengan Arif
160 Hot News Paparazi
161 Membatalkan Semua Jadwal Demi Syahdu
162 Menuju Desa Bebatu
163 Drama Perjalanan Desa Bebatu
164 Mempersunting
165 Gosip Baru
166 Sanggahan Langsung
167 Meminta Restu Margareth
168 Ziarah
169 Konseling
170 Pertemuan dengan Julia
171 Ujian Pranikah (1)
172 Ujian Pranikah (2)
173 Ujian Pranikah (3)
174 Perubahan Sikap Syahdu
175 Menahan Keinginan Demi Arga
176 The End of The Long Story
177 ExtraBab - Kehamilan Syahdu Menjadi Berita Baik
178 ExtraBab - Cerita Masa Lalu
179 ExtraBab - Karena Rokok
180 ExtraBab - Potong Rambut
181 ExtraBab - Ngidam
182 ExtraBab - Arga Junior
183 ExtraBab - Perencanaan Panti
184 RelationSHIT!
185 ExtraBab - BIG HUG
186 What If - Arsya Besar
187 What If - Selesai Kontrak
188 What If - Syahdu Tidak Kabur
189 SEPUPUKU, CANDUKU
Episodes

Updated 189 Episodes

1
Syahduku
2
Kuliah Pertama
3
Menawarkan Kontrak
4
Ttd Kontrak!
5
Let's Start
6
Virgin
7
Tak saling kenal.
8
Perintah Kedua
9
Berbohong
10
Sarapan Bareng
11
Satu Kelompok
12
Persetan Rasa Malu!
13
Antara Malu dan Bodoh
14
Obrolan Grup
15
Fakta Baru
16
Semakin Menyesal
17
Perpembalutan
18
Anak Pemilik Rumah Sakit
19
Berbelanja Kebutuhan
20
Naik Kelas
21
Pesta Kelas Atas
22
Suara Syahdu
23
Main Solo
24
Naik dulu!
25
Berpapasan
26
Rooftop Apartemen
27
Aku pemenang?
28
Musim Semi di hati Syahdu
29
Weekend bersama Wicak
30
NightCafe
31
Patah Hati Pertama
32
Sadar
33
Meminta Maaf
34
Sadar Ditatap
35
Ketemu Oma
36
Ke Apartemen Arga
37
Curiga
38
Ketahuan Wicak
39
Kepercayaan pada Syahdu
40
Ikat Rambut
41
Perjalanan ke Pulau
42
You and Sunset!
43
Sorot Mata Syahdu
44
Efek Film Horor
45
Menahan Hasrat
46
Calon Tunangan Arga
47
Keputusan Syahdu
48
Happy Birthday, Syahdu.
49
Putus tanpa Alasan.
50
Rencana Kemah
51
Alasan putus
52
Pesta untuk Syahdu
53
Kebahagiaan Nenek
54
Tidak berniat Nikah.
55
Berbeda Prinsip
56
Perasaan diatas Cinta
57
Hadiah ulang Tahun
58
Packing
59
Gara-gara telefon
60
Obrolan Panjang
61
Belajar Masak
62
Nasi Bekal
63
Susu Stroberi
64
Salah Kirim
65
Makan malam
66
Tunangan Arga?
67
Hamil, kali.
68
Perkelahian Arga dan Awan
69
Prinsip Arga
70
Masalah yang tak terselesaikan
71
Penjelasan Arga
72
Berita Buruk
73
Desas-Desus Rumah Sakit
74
Kebohongan Yang Panjang
75
Kedatangan sang Mami
76
Curahan Hati Perempuan
77
Penghapusan Gosip
78
Membeli Testpack
79
Menebus Obat
80
Cek ke Dokter
81
Berencana Lari
82
Kegelisahan Arga
83
Soraya atau Syahdu?
84
Syahdu Pingsan
85
Sop untuk Syahdu
86
Kesembuhan Syahdu
87
Kehadiran Soraya
88
Undangan Makan Malam
89
Senyum Lebar Arga
90
Why don't you stay?
91
Pindah Kamar
92
Salah Paham Awan
93
Nyanyi dipanggung
94
Ketahuan Naya
95
Kasus Pemerkosaan
96
Dibalik Perlindungan Wicak
97
Menguak Rahasia Syahdu
98
Kata Pengantar Skripsi Wicak
99
Gosip yang Beredar
100
"Tetap Disini"
101
Ancaman Soraya
102
Bukan Cinta Biasa
103
Bolos Sama-sama
104
Lelaki disamping Syahdu
105
Melawan Balik
106
Menentukan Pertunangan
107
Penjelasan Riska
108
Pertunangan Bulan Depan
109
Ancaman sang Ayah
110
Arga hanya Akan Menikah dengan...
111
I am not a Slut!
112
Terhinakan oleh Status
113
Kepergian Suriani
114
Bunuh Diri
115
Berusaha Jujur pada Wicak
116
Perpisahan
117
Pengakuan dan Kejujuran Syahdu
118
Pamit Syahdu
119
Menerima Syahdu Kembali
120
Masa Kritis
121
Kondisi Terbaru Wicak
122
Kehilangan Kedua Kali
123
Satu-satunya Janji yang Ditepati Wicak
124
Harapan Baru
125
Engangement Invitation
126
Secercah Harapan
127
Saat ingin Memulai Hidup Baru...
128
5 Hari Lagi~
129
Trauma dan Luka Batin
130
Mimpi Nyata
131
Kenyataan Baru bagi Arga
132
Sisi Lain Arga
133
Malam Hangat untuk Pertama Kalinya
134
Happy Birthday, Arga.
135
Menunggu Syahdu Kembali
136
Kehidupan Baru Arga
137
Kehidupan Baru Syahdu
138
Tak Segampang Itu...
139
Tergalinya Masa Lalu
140
Munculnya Rasa Bersalah di Hati Syahdu
141
Kisah Yang Mungkin Akan Berakhir
142
Memantapkan Hati Untuk Kembali
143
Bertamu ke Makam Wicak
144
Reuni Kelas
145
Bertemu Setelah Sekian Lama
146
Memori yang Masih Melekat
147
Pelukan Rindu Yang Sangat Erat
148
Keputusan Akhir Karir
149
Marry Me, Syahdu.
150
Bertemu Adik Arga
151
Beban Terberat Syahdu
152
Gangguan Stres Pascatrauma
153
Lelaki Pilihan Wicak
154
Netflix and Chill
155
And Chill~
156
Melamar Syahdu
157
Melanjutkan Karir Arga
158
Syahdu Balik Ke Desa
159
Pembicaraan Terakhir dengan Arif
160
Hot News Paparazi
161
Membatalkan Semua Jadwal Demi Syahdu
162
Menuju Desa Bebatu
163
Drama Perjalanan Desa Bebatu
164
Mempersunting
165
Gosip Baru
166
Sanggahan Langsung
167
Meminta Restu Margareth
168
Ziarah
169
Konseling
170
Pertemuan dengan Julia
171
Ujian Pranikah (1)
172
Ujian Pranikah (2)
173
Ujian Pranikah (3)
174
Perubahan Sikap Syahdu
175
Menahan Keinginan Demi Arga
176
The End of The Long Story
177
ExtraBab - Kehamilan Syahdu Menjadi Berita Baik
178
ExtraBab - Cerita Masa Lalu
179
ExtraBab - Karena Rokok
180
ExtraBab - Potong Rambut
181
ExtraBab - Ngidam
182
ExtraBab - Arga Junior
183
ExtraBab - Perencanaan Panti
184
RelationSHIT!
185
ExtraBab - BIG HUG
186
What If - Arsya Besar
187
What If - Selesai Kontrak
188
What If - Syahdu Tidak Kabur
189
SEPUPUKU, CANDUKU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!