...PoV Syahdu Larasati...
Aku menunggu kak Wicak membeli air mineral untukku. Setelah dari toilet tadi, kak Wicak mengambilkan tasku di kelas lalu pergi membeli minum.
Sejujurnya aku masih ingin menghindari kak Wicak setelah malam memalukan itu. Aku belum sanggup memperlihatkan wajahku dihadapannya. Rasanya ingin terus bersembunyi.
"Syahdu, minum ini." Kak Wicak duduk disebelahku dengan tenang sambil menatapku meneguk air dalam botol.
Rasanya canggung, bagiku. Tapi dia terlihat santai seperti tidak ada kejadian aneh diantara kami.
"Kak, maaf soal kemarin." Tuturku lagi. Terus terang aku tidak ingin dia salah paham padaku, walau memang waktu itu dia sudah bilang tidak apa-apa berkali-kali.
Kak Wicak tampak berpikir walau aku tahu, sebenarnya dia mengerti maksudku. "Kemarin yang mana, ya?" Tanyanya dengan raut usil dan aku langsung membuang wajah. Padahal aku udah memberanikan diri untuk meminta maaf lagi, tapi kali ini dia terlihat menyebalkan karena aku semakin malu.
"Hahaha. Iya, gak papa. Aku juga udah lupa."
Mana mungkin lupa, aku tahu dia bilang begitu supaya aku tenang.
"Syahdu, terus terang, aku sebenarnya memang memberanikan diri untuk menciummu. Tapi aku masih sabar untuk yang lain." Ucapnya sambil menahan tawa.
"Kak!" Pekikku kesal karena dia menjailiku. Sementara aku benar-benar kesal dan menahan malu.
"Hahaha." Kak Wicak mengacak-acak rambutku.
"Aku pergi aja, deh!" Gerutuku kesal sambil berdiri. Dengan cepat kak Wicak menarik tanganku sampai aku terduduk lagi.
"Iya, iya. Ya udah, jangan dipikirin. Aku ngerti, kok. Diusia kita ini memang lagi hot-hotnya."
Aku mendelik tajam, lagi-lagi dia tertawa.
"Mau jalan-jalan?" Tanya kak Wicak tiba-tiba.
"Kemana?"
"Ke tempat yang jauh."
Aku menatap kak Wicak. Kok, ngajak pergi jauh?
"Aku cuma ingin berlibur bersama dirimu. Kita ga pernah pergi berkemah berdua, atau sekedar mengunjungi tempat baru, kan?"
"Kapan?"
Kak Wicak tampak berpikir. "Ada dua tanggal merah sekitar tiga minggu lagi. Bagaimana?"
"Kemana?"
"Khusus itu, aku rahasiakan."
Aku menaikkan kedua alisku.
"Yang pasti, tempatnya cocok untuk menyegarkan pikiran. Bagaimana?"
Aneh sekali, pikiranku langsung melayang menembus batas normal. Kenapa aku malah memikirkan hal jorok bersama kak Wicak. Jika kami menginap, apa kami akan satu kamar?? Ah, memikirkannya saja sudah membuat yang dibawahku berdenyut. Sial.
"Boleh." Jawabku sambil mengangguk cepat.
Semenjak bersama Arga, aku selalu tahu maksud hal-hal jorok nan negatif itu. Aku juga sering membayangkan wajah Arga sebagai kak Wicak saat tengah melakukan hubungan badan dengannya. Tentu saja hal itulah yang membuatku menikmatinya. Lalu nanti, apa kami juga akan melakukannya?
...🍁...
'Jam berapa lo dateng?' Arga mengirimiku pesan.
Aku: hah? Harus, ya? Kan, aku lagi haid.
Arga: Setiap malam tanpa absen.
"Gila, ya. Kasih aku istirahat, kek!" Pekikku kesal. Padahal aku sempat senang karena seminggu ini akan istirahat dari yang namanya Arga. Tapi ternyata tidak, dia tetap memintaku datang ke tempatnya. Memangnya kalau lagi haid, mau ngapain?
Aku membuang napas perlahan, lalu membuka pintu kamar nenek.
"Syahdu, darimana aja?" Tanya Nenek yang langsung tersenyum saat aku masuk.
"Dari kampus, nek. Kenapa?" Mataku menangkap bunga dan beberapa keranjang buah, juga ada sekantong plastik roti.
"Ini, tadi temanmu yang punya rumah sakit ini datang."
"Hah?" Aku melongo. Siapa? Apa nenek salah orang?
"Baik sekali anaknya. Nenek diberi banyak hadiah, lihat ini. Nenek gak pernah loh, dapat yang seperti ini." Nenek menunjuk macam buah-buahan di dalam keranjang sementara aku masih berpikir keras.
"Siapa, nek?"
Giliran nenek yang melongo, "kamu gimana, sih. Teman sendiri pake nanya namanya."
Oh iya juga, ya. Tapi aku benar-benar tidak tahu siapa yang datang. Karena aku kan, hanya bohong selama ini.
Aku duduk disamping nenek. "Baguslah kalau dia datang." Ucapku asal.
"Iya, ganteng dan baik anaknya."
Ganteng? Berarti laki-laki. Apa kak Wicak? Tidak, nenek kenal. Awan? Tidak mungkin, nenek juga kenal.
"Dia ada bilang apa, nek?" Aku mencoba bertanya supaya bisa mendapatkan petunjuk.
"Katanya, kamu anak yang baik dan pintar. Nenek senang dengarnya. Kayaknya dia juga suka sama kamu, Syahdu."
Aku menyengir. Siapa, ya? Kok dia sampai bilang aku pintar segala.
"Tapi dia mirip artis. Tammmpaann, rambutnya diikat kebelakang. Kulitnya itu loh, mulus dan bersih."
Tunggu, kenapa ciri-cirinya mirip Arga? Tapi, masa Arga?
"Dia memang kelihatan anak campuran. Kalau kamu nikah sama dia, pasti anak kalian ganteng dan cantik."
Nenek tersenyum-senyum sendiri. Padahal baru kemarin dia minta aku untuk baik-baik pada kak Wicak. Ketemu yang lebih ganteng, malah oleng.
"Dia suka senyum, terlihat tulus juga. Tapi senyumannya itu loh, Syahdu. Terlihat seperti anak baik-baik."
Suka senyum dan tulus, jelas bukan Arga. Aaah! Siapa, dong??
"Nenek kok jadi sayang sama anak itu. Padahal baru bertemu. "
Nenek terus mengoceh tentang lelaki misterius itu. Aneh sekali, sampai bilang sudah sayang segala gara-gara senyumannya. Siapa sih, sampe buat nenek kesem-sem gini?!
"Ya sudah, nenek istirahat aja. Syahdu mau kerja." Ucapku sambil membantu nenek merebahkan diri.
"Syahdu pergi dulu, nek." Aku menyalami nenek.
"Kirim salam sama Arga. Kapan-kapan suruh dia main kemari lagi.".
Duarr!
Aku menganga. Arga? Benar-benar Arga, nih? Ngapain dia sampai bertemu nenek??
"I-iya, nanti Syahdu sampaikan." Aku langsung keluar dan cepat-cepat menuju apartemen Arga.
Sesampainya disana, aku buru-buru mencari Arga, menagih penjelasan maksud dari kedatangannya hingga memperkenalkan diri sebagai pemilik rumah sakit.
Membuatku kesal saja. Kenapa dia harus menunjukkan wajahnya di depan nenek? Apa dia juga mau membongkar rahasiaku??
"Arga!" Aku mencari dia di tempat tidur tidak ada, kamar mandi tidak ada, dapur juga tidak ada.
Lalu aku mendengar suara lemari terbuka dari walk in closet.
"Arga, ngapain kau ke.. aakk." Aku langsung membalikkan tubuh saat melihat Arga yang hanya memakai celana dalemnya.
"Arga!" Aku membelakanginya.
"Apa."
"Ngapain kerumah sakit? Sampe ngenalin diri sebagai anak yang punya rumah sakit, lagi. Mau buat aku mati, ya?" Omelku pada Arga untuk pertama kali. Entah angin apa yang masuk dalam tubuhku sampai aku berani begitu.
Tak ada suara. Dia tak menjawab pertanyaanku. Mungkin saat ini dia sudah memakai bajunya dengan lengkap, akupun membalikkan badan lagi.
"Arga, jawab a..astaganaga!" Aku reflek mundur saat ternyata Arga berdiri tepat dibelakangku. Aku menutup mata dengan tangan, sesekali mengintip melihat wajahnya yang memandang aneh padaku.
"Iya, gue kesana. Kenapa emang?" Tanyanya berjalan sambil memakai kaosnya.
"Tapi Kenapa?"
Arga membalikkan badan. "Kenapa apa?"
"Kenapa sampai datangi nenek? Apa kau mau membongkar rahasiaku?"
"Siapa yang mau bongkar rahasia. Nenek lo yang nanya mulu sama para perawat tentang anak yang punya rumah sakit. Makanya, gue ditelpon kepala perawat soal nenek lo. Emang gue yang nanggung juga, kan? Para perawat juga pada tau."
Aku diam mendengarkan penjelasan Arga, tapi aku juga baru tahu satu hal.
"Jadi.. kau.."
"Iya. Gue anak yang punya rumah sakit."
Aku terdiam seketika. Padahal aku hanya asal bicara waktu itu. Tak kusangka, ternyata Arga orangnya. Pantas saja setelah aku tanda tangan kontrak, kebutuhan nenekku di rumah sakit terbutuhi detik itu juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Ihza
oklah lanjuttt...maraton ni bacanya penasaran Kya ap...lebih nekad biru ayo Arga ya😅😅😅
2023-11-08
0
Nenk Jelita
keren
hot super pokoknya
2023-06-04
0
nurlela nasution
lanjut ... cocok nya di buat film
2023-05-28
0