"Wan, itu..."
"Aku yang ngedobrak pintu. Dengan mata kepalaku sendiri. Bukan satu dua cewek korbannya, Du. Banyak! Aku heran, kenapa tu cowok selalu di puja-puja padahal kelakuannya busuk banget. Ga pantes dijadikan temen juga!"
Aku tak bisa berkata-kata. Jadi, aku perempuan ke berapa yang dia mainkan seperti itu? Tapi, lagi-lagi pikiranku tertuju pada nenek. Begitupun, Arga benar-benar memberikan pelayanan terbaik diluar ekspektasiku yang mengira dia hanya membantu pengobatan. Tak tahunya, nenek dipindahkan ke ruang VIP dan disewakan perawat khusus pula. Lalu, dia memberikanku saku bulanan.
"Dia tuh, akan cari kelemahan cewek dan memanfaatkannya. Pokoknya, dia bukan orang baik-baik. Sumpah, pengen banget nonjok mukanya! Udahlah. Aku malas bahas dia." Awan berdiri. "Ayo, bentar lagi kelas dimulai."
Aku berjalan bersama Awan. Semua perkataan awan tadi sebenadnya membuatku kepikiran. Arga memang mendengarkan keluhanku di atas atap rumah sakit, lalu memintaku menjadi pelayannya selama dua tahun dengan balasan yang menurutku setimpal. Apalagi biaya obat dan rumah sakit nenek sangat mahal.
"Aku disini udah hidup lumayan banget, Du. Dulu, kau tau kan aku gimana di kampung. Sampai sini, orang tuaku bekerja dan langsung naik ekonomi kita." Ceritanya dan aku mengangguk-angguk.
"..dan sekarang, aku punya mobil." Awan mengangkat sebuah kunci di jarinya.
"Aku senang akhirnya keinginanmu terwujud." Aku ingat dulu Awan pernah bilang, ingin punya mobil sendiri walau setelahnya dia tertawa dan bilang 'kayanya ga mungkin orang kumuh kaya kita punya mobil'.
"Nanti kita jalan-jalan, ya!"
Aku mengacungkan jempol. Kami masuk ke dalam kelas.
"Ras, sini!" Adina melambaikan tangan.
"Sebelah sini, Wan." Aku akan memperkenalkan Awan pada mereka.
"Teman-teman, ini temanku. Awan."
"Hai." Awan melambaikan tangannya pada mereka.
"Halo.." sapa yang lain.
Dosen masuk dan aku langsung duduk disebelah Adina sementara Awan duduk tak jauh dariku. Entah mengapa, Awan masih terus menatapku sampai kelas dimulai.
"Apa??!" Bisikku pada Awan yang sedikit risih karena dia terus menatap ke arahku.
Dia tak langsung menjawab. Melihat lagi ke arah depan tempat Arga duduk. "Ada hubungan apa lu sama dia??!" Bisik Awan dengan nada ketus.
Aku mengerutkan dahi. Apa dia tahu? Apa kelihatan? Astaga, dadaku mulai bergetar kencang. Matilah aku kalau Awan bisa membaca hubunganku dengan Awan. Apa dia perlu kusuap supaya mau menutupinya?
"Dia curi-curi pandang mulu ke arah lu!" sambung Awan lagi.
Hah, aku membuang napas yang sejak tadi kutahan. Aku deg-degan. Kukira dia tahu, ternyata..
"Gak ada." jawabku singkat lalu fokus lagi ke depan.
"Yakin?"
"Ck! Aku punya Wicakkk!" jawabku sambil melet ke arahnya dengan kesal.
...🍁...
Aku tidak fokus, dari tadi aku kepikiran soal ucapan Awan tentang Arga. Padahal aku melihat Arga cuek saja padanya, tidak seperti mengenal Awan. Tapi Awan juga tidak mungkin berbohong. Lalu, jika memang benar, apa hubungannya samaku? Mungkin saja Arga memang begitu dari dulu dan akulah sekarang yang menjadi mangsanya. Iya, kan? Anggap saja begitulah. Toh, tidak ada tanda-tanda perempuan pernah menginap di apartemennya. Baju-baju itu juga masih ada tag-nya.
"Hei, Ras. Ih, melamun." Alika mencolek tanganku dengan ujung pulpen.
"Oh, apa, ya?"
"Mikirin apa, sih? Fokus dong, lagi ngerjain tugas, nih." Kata Adina dan aku menghembuskan napas berat. Kulirik Arga yang juga tampak fokus pada laptopnya.
"Maaf. Sini, biar kubantu ketik." Aku mengambil laptop yang ada di depan Adina.
"Garis besar yang lo tulis bagus, Ras. Benar-benar lo baca ya, bukunya." Kata Alika.
"Beda emang, anak desa biasanya rajin-rajin banget. Beda dengan anak kota yang malas-malas." Kata Naya dan aku diam saja.
"Itu mah, elo aja, kali. Gue nggak." Sanggah Alika dan Naya hanya cengengesan.
"Yang tadi itu, temen lo satu kampung ya, Ras?" Tanya Naya. Aku diam sebentar, lalu mengangguk saat tahu bahwa yang ia bicarakan adalah Awan. Lagi pula aku tidak bisa berbohong soal itu.
"Lumayan anaknya." Lanjutnya lagi.
"Tapi gayanya tuh, kaya bukan anak desa, deh. Soalnya outfitnya juga branded semua." Sambung Alika.
"Kalau naksir, bilang aja." Ledek Adina.
"Gak dulu, deh." Kata Alika lagi. Sementara aku hanya mendengar saja, toh memang aku melihat gaya Awan yang sudah kekotaan.
"Laras juga nampak berbeda pake baju brand ZORA. Gue kira lo ga ngerti brand-brand gitu, Ras." Tukas Naya dan aku mengangkat alis, kenapa mereka bisa tahu merk baju yang kupake? Sekilas aku melirik pada Arga yang duduk di depanku. Dia juga tengah melihatku lalu menunduk lagi pada laptopnya.
"Lo kira anak desa tuh, orang primitif gitu, ya? Mereka juga ada internet, kali." Protes Ibra pada Naya dan Alika yang sejak tadi membahas anak desa.
"Heheehee, Ngga gitu.. karena Laras kan, kayak polos gitu looh." Naya memberi alasan.
"Gue baru nyadar, deh. Lo kalung baru ya, Ras." Alika membuka topik baru, masih menyangkut aku.
"Dari pacarnya. Mending gausa lo tanya." tukas Adina yang tersenyum melirikku.
"Enak banget punya Ayang. Dimanjain teruuss.." Ucap Alika sambil manyun.
"Udah selesai. Kirim kemana, ni?" Tanya Arga mengalihkan topik.
"Ke gue, Ga. Lo gimana, udah siap belom. Biar gue susun dan kirim ke Ibra." Adina menagih pada Naya yang masih senyam-senyum karena belum selesai juga.
Begitulah sampai kerja kelompok selesai. Ibra memilih pulang duluan, Naya dan Alika masih asyik disana menikmati live music yang baru dimulai. Arga juga masih dengan laptopnya.
Sementara aku dan Adina masih menyusun barang-barang.
"Ga, lo nyanyi, dong." Pinta Naya.
"Iya, Ga. Suara lo bagus banget. Pasti pengunjung disini banyak yang terhibur, deh." Sambung Alika.
Arga hanya diam memandang ke arah panggung kecil tak jauh dari tempat kami duduk.
"Ras, Din, kalian disini dulu, kan?" Tanya Alika.
"Ga bisa. Gue buru-buru. Lo gimana, Ras?" Tanya Adina balik.
"Aku harus ke rumah sakit."
"Ah, kalian susah banget diajak nongkrong." Keluh Naya. "Ga, lo mau kan?" Tanya Naya pada Arga.
"Ngga bisa, gue masih ada kerjaan lain." Jawabnya lalu menutup laptop.
"Yaah.." tampak Alika dan Naya murung karena tak ada yang mau bergabung dengan mereka.
Aku dan Adina pun pamit dan keluar dari kafe. Kulihat Arga masih disana, entah ngapain.
"Kita pisah disini, ya. Arahnya beda soalnya." Adina melambaikan tangan lalu meninggalkanku sendiri.
Aku mulai berjalan ke depan jalan untuk mencari taksi. Aku belum tahu tujuanku, sampai aku mendapatkan pesan dari Arga.
'Tunggu di depan.'
'Aku udah jalan.' Balasku bohong.
Membaca pesan Arga membuatku berpikir soal kontrak. Sepertinya Arga lupa kalau aku hanya diperintahkan melayaninya di atas ranjang saja. Tapi beberapa kali dia memerintahkanku untuk hal lain. Walau aku menurutinya saja karena sedikit takut pada Arga, juga tidak mau ribut dan ribet membantahnya.
Aku berjalan mencari angin. Entah kemana, yang jelas saat ini rasanya ingin sendiri. Di kota, yang kupikir bisa membuatku tenang dari kebisingan orang-orang yang terus mengangguku. Ternyata tidak. Kehidupanku malah semakin buruk setelah bertemu Arga. Kenapa? Kenapa aku terasa semakin menyesal?
Perkataan Awan ada benarnya. Jika ingin hidup tenang, maka jauhin Arga. Tapi udah telat dan satu-satunya yang bisa nolong nenek memang cuma Arga.
Lagipun, menyesal tiada guna. Sudah terlanjur dijalani.
TIN!
Aku tersentak, suara klakson mobil membuatku geram. Tetapi sorot lampunya menetap disana. Artinya dia tengah diam di belakang.
Aku menoleh. Arga menatapku sambil memegang kemudi.
TIN!
Aku tersentak lagi. Sialan, wajahnya tenang di dalam mobil, tetapi mampu membuatku terus ingin memakinya.
Dengan malas aku membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Tanpa basa-basi, dia langsung menjalankan mobilnya. Padahal aku masih ingin mencari angin, menyegarkan pikiranku yang belakangan masih sulit menerima kehidupan baruku.
"Gue ada acara penting minggu depan. Jadi lo harus temenin gue."
Aku diam, menatap keluar jendela.
"Lo denger, gak?"
"Iya.." jawabku singkat. Malas, itu yang sebenarnya ingin kubilang. Tapi rasanya aku ga ada daya buat ngelawan.
Tiba-tiba aku terpikir untuk lepas saja dari ikatan Arga. Tapi, bagaimana caranya? Aku tidak punya uang untuk membayar denda. Juga biaya rumah sakit nenek ke depannya. Kak Wicak, apa aku meminta bantuannya? Tapi, apa dia punya uang sebanyak itu? Pada akhirnya, aku memang tidak punya jalan lain.
Kami diam sampai apartemen. Dia memintaku mandi dan ganti baju. Aku menurut saja, melayaninya di ranjang. Kali ini, aku yang memang sedang dengan suasana hati yang kurang baik, tidak merasakan apa-apa saat berhubungan dengannya. Aku juga enggan menoleh, aku memiringkan wajah sampai dia selesai melakukannya.
"Lo sakit?" Tanya Arga saat dia membersihkan sisa cairan yang mengenai sprei.
Aku menggeleng dengan malas dan bangkit dari tempat tidur dengan selimut yang menempel di tubuhku.
"Kalau sakit, biar gue anter ke dokter."
"Enggak." Aku langsung ke kamar mandi, berganti piyama dan tidur.
Aku membelakangi tubuh Arga yang masih duduk di tepi tempat tidur dengan memangku laptop. Aku ingin tidur pulas, terus tertidur sampai dua tahun ke depan. Bisa tidak, waktu ini cepat berlalu. Kuharap saat aku bangun tidur, aku sudah ada di dua tahun ke depan, saat dimana kontrakku bersama Arga selesai, dan aku bisa hidup dengan tenang bersama nenek dan kak Wicak. Kuharap begitu.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
may
Aku juga mau, sekarang tidur ntar bangun udah "dua tahun kemudian" 🤣
2023-12-06
0
nurlela nasution
like
2023-05-28
0
ega
like
2023-04-18
1