"Kalau lagi sama gue, lo ga boleh ngubungin cowok lain." Tukasnya dan langsung pergi.
Aku diam sebentar, lalu mengikutinya berjalan menuju tempat tidur.
"Maaf, aku pikir udah tidur." Jawabku pelan. Aku sedikit takut pada Arga. Entah mengapa.
"Suara lo berisik." Ucapnya ketus. Membuatku sedikit jengkel padanya.
Arga naik ke atas tempat tidur dan duduk bersandar disana.
Dia menatapku yang masih berdiri dengan tatapan yang mengintimidasiku. Seperti aku ini lawannya. Padahal kalau dia tidak suka, dia tinggal memintaku mengganti uang yang sudah keluar saja, kan?
Aku membuang napas perlahan. Rasanya sungguh aneh. Lagi-lagi aku berpikir, kenapa bisa ada perempuan yang tergila-gila padanya, padahal dia sangat jutek seperti itu.
Baru mau naik ke atas tempat tidur, Arga mulai memerintah.
"Ganti baju lo."
Aah.. padahal aku sudah senang karena tidak akan melakukan apa-apa malam ini. Tapi ternyata.. Rasanya menyesal kenapa aku tidak langsung tidur saja tadi.
Aku dengan langkah gontai menuju walk in closet, mengganti pakaian yang menurutku hanya gulungan benang-benang saja. Aneh sekali, kenapa serba tidak tertutup seperti ini? Adapun berkain, tetapi sangat transparan.
Arga juga aneh. Kenapa harus pakai pakaian begini segala padahal ujung-ujungnya dibuka juga.
Aku memilih yang berwarna merah, tertutup dibagian bawahnya, walau di bagian atas sangat-sangat terbuka. Ya sudah, mau bagaimana lagi.
Saat melangkah keluar, aku mendengar Arga berbicara. Kulihat dia sudah duduk di kursi dengan tangan yang memegang ponsel di telinga. Dia tengah mengobrol sambil tangan lainnya mengetik-ngetik sesuatu di laptopnya.
"Iya, benar. Nanti akan saya bantu kirimkan secepatnya." Ucapnya dengan formal pada orang yang diteleponnya.
Aku masih berdiri di depan walk in closet, sampai kusadari Arga melihat ke arahku beberapa detik, lalu beralih lagi ke laptopnya sambil berbicara di telepon.
"Bagaimana kalau saya berikan contoh dulu. Susunan yang seperti ini sudah pernah disetujui sebelumnya." ucapnya sambil memutar-mutar jari di atas touchpad laptopnya.
Aku memilih menunggunya saja di atas tempat tidur sambil bermain ponsel, tanpa kuduga, ternyata aku malah ketiduran.
~
Aku terbangun saat mendengar suara dari dapur. Suara desiran sayur yang di tumis, harumnya juga menusuk di hidungku. Membuat perutku langsung terasa lapar.
Kulirik jam, ternyata sudah pukul setengah tujuh dan aku tidak melakukan tugasku karena tertidur. Melegakan, walau aku bingung kenapa dia tidak membangunkanku, ya?
Aku menyingkap selimut yang menutupi tubuhku. Entah kapan aku berselimut. Mungkin saja aku memakainya karena dinginnya kamar Arga ini, ditambah lagi pakaianku yang super seksi, tanpa sadar membuatku menarik selimut.
Aku bangkit, memakai jubah tidur untuk menutupi pakaianku yang sangat terbuka itu.
Kulihat Arga tengah memasak, dia mengikat rambutnya ke belakang, memakai kaos putih tipis. Kedua tangannya sibuk mengaduk dan memegang gagang frying pan. Lumayan juga dia, pikirku.
Dari pada itu, aku lebih memilih mandi dulu sebelum berangkat ke kampus pagi ini.
~
"Sarapan." Ucap Arga sambil menata piring di meja makan.
Aku yang sudah berpakaian lengkap, berjalan ke arah meja makan. Di atasnya, ada makanan yang terlihat sangat menyelerakan. Benarkah ini masakannya?
Arga menarik kursi dan duduk. Dia menatapku yang masih berdiri.
"Ambilin nasi."
Aku mengerutkan alis, maksudnya aku yang mengambilkan makanan untuknya? Memangnya yang seperti ini ada di kontrak?
"Cepet, gue mau ke kampus."
"Ah, iya." Aku langsung saja mengambilkan nasi Arga. Nampaknya diapun mengambil kesempatan, ya. Bisa-bisanya aku juga melayaninya seperti ini. Bukannya dia sendiri yang bilang, aku cuma melayaninya di atas tempat tidur? Tapi dari pada aku mengeluh dan dia malah marah, lebih baik aku layani sajalah.
"Kebanyakan."
Mendengar itu, aku mengurangi porsinya. Meletakkan ayam teriyaki dan salad di atasnya.
Aku meletakkan piring di depannya. Tanpa basa-basi, dia langsung menyantap sarapannya.
"Aku pergi duluan, ya."
Dia mengunyah sambil menatapku. Kutunggu jawabannya sampai dia menelan nasi di mulutnya.
"Sarapan." Ucapnya lagi padaku.
"Aku bisa sarapan diluar."
Dia terus menatap seperti kesal dengan jawabanku.
"Oke." Aku mengalah, duduk dan mengambil nasi untuk mengisi perutku.
Padahal aku ingin cepat-cepat pergi dan menghindari Arga. Bersama dirinya lama-lama membuatku tertekan. Lebih baik aku makan diluar dengan tenang. Begitu pikirku tadi, sampai aku memasukkan sendok ke mulut dan, oh ya ampun. Masakan Arga benar-benar enak.
Kalau saja Arga tidak sejutek itu, aku mungkin akan bertanya, bagaimana cara dia memasak ini? Padahal aku sering masak ayam teriyaki, tapi tak selezat ini.
Apa aku akan mendapatkan servis sarapan pagi setiap hari? Bukannya ini sedikit menaikkan mood-ku? Walau Arga menyebalkan, makanannya berkata lain. Hehehe.
Tanpa kusadari, aku menghabiskan makanan tanpa sisa, lalu menyuci piring bekas makanku dan Arga.
Kulihat dia berganti pakaian dengan santai. Membuka baju dan celananya di walk in closet yang terbuka lebar itu, tanpa rasa malu padaku yang jelas-jelas bisa melihat seluruh tubuhnya. Tapi, kenapa harus ditutupi juga. Toh, aku memang sudah melihatnya, kan?
Aku fokus pada pekerjaanku. Memasukkan makanan ke dalam kulkas supaya masih lebih enak saat dipanasi malam nanti.
Kami keluar bersama dari apartemen. Kuharap dia tidak mengajakku pergi ke kampus bersama karena aku bingung cara menolaknya.
Ponselku berdering, aku mengangkat telepon dari kak Wicak.
"Iya, kak?... Masuk pagi ini.. Apa? Jemput?... E-enggak. Aku..lagi di.." mataku berputar melirik ke atas, bingung menjawab apa saat kak Wicak menawarkan untuk pergi kuliah bersama karena diapun masuk pagi ini.
Tanpa berkata apa-apa pada Arga, aku lari saja meninggalkannya. Karena aku ingin menunggu kak Wicak di tempat yang jauh dari sini. Supaya dia tidak banyak bertanya, kenapa aku bisa berada di gedung elit ini.
Setelah berjalan cukup jauh, aku berhenti di depan sebuah kos-kosan yang akan aku klaim sebagai tempat tinggal temanku nantinya.
Tak lama, kak Wicak datang dengan motornya.
"Kenapa disini?" Tanya kak Wicak sembari menyerahkan helm padaku.
"Abis nginep di kos temen. Ayuk, jalan."
Kamipun bergerak bersama menuju kampus. Sepanjang perjalanan, kami tak banyak cerita, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Apalagi aku. Setiap melihat kak Wicak, pikiranku langsung tertuju pada perlakuanku padanya. Apakah aku masih pantas?? Pertanyaan itu terus muncul di otakku tanpa kuingin menjawabnya padahal aku sangat tahu dan sadar, kalau aku sangat tidak pantas. Tetapi aku juga tidak mau berpisah darinya. Tidak akan mau, tidak akan sanggup. Itu sebabnya, aku akan menyembunyikan ini serapi mungkin supaya kak Wicak dan aku bisa bersama sampai kami menikah nanti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Wirda Wati
penasaran dg wicak...apa dia juga lelaki yg baik
2023-10-25
2
Apri Kurniawan
blom menemukan sosok arga aslinya gimana.penasaran
2022-09-24
6
Umi Kalsum Siahaan
nikah sama Arga aja, seperti nya dia baik 😘😘
2022-09-24
2