...PoV Arga Alexander...
Aku mengintip dari door vierwer saat suara bel terdengar dari dalam hunianku. Kulihat perempuan yang kubantu tadi siang tengah berdiri dengan wajah yang amat cemas. Membuatku tersenyum miring, kenapa dia malah bersikap seolah-olah tidak pernah melakukan apa-apa padahal sudah berpacaran selama 7 tahun dengan kekasihnya.
Aku membuka pintu dan menyuruhnya mandi, supaya aku bisa menikmati tubuhnya yang sudah bersih.
Kulihat dia menurut saja apa kataku. Heran juga, dia terlihat seperti gadis baik-baik.
Setelah kupikir-pikir, aku juga tidak tahu kenapa tergerak untuk melakukan ini padanya. Karena biasanya aku hanya memakai wanita yang biasa mengajakku untuk melakukan hubungan badan demi kesenangan saja.
Waktu pertama kali melihat dia, aku sedikit mengagumi wajah indahnya. Terlihat sangat cantik tanpa balutan make up. Tak seperti gadis-gadis yang sering kutemui yang selalu berdandan setiap ingin bertemu denganku.
Waktu itu, aku sempat memandang memandang wajahnya yang tengah tertawa bersama teman-temannya. Dia benar-benar cantik dan berseri. Ya, aku tidak bohong, dia cerah berseri. Aku seolah mendapatkan aura positif darinya.
Awalnya, akupun hanya sekedar mengagumi wajah indahnya. Tak berpikir untuk mendekati karena aku sendiri memang belum tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapapun.
Malam itu saat mengantar oma check-up, aku naik ke atas atap rumah sakit untuk merokok. Kulakukan itu karena oma akan marah jika kedapatan aku merokok.
Sedikit cerita, aku bersama dengan oma saat SMP, lalu SMA di London bersama orang tua. Lulus SMA aku kembali menemani oma, dan sekarang membantunya mengurus perusahaan termasuk rumah sakit yang saat itu kudatangi, adalah milik oma.
Orang tuaku stay di Inggris. Aku anak tunggal dan oma sangat menyayangiku, menginginkan aku untuk melanjutkan usahanya namun tidak secara cuma-cuma. Aku tetap harus kuliah bisnis sekaligus belajar mengatur usahanya.
Malam itu kudengar seseorang menangis dan berteriak, awalnya aku hanya melihati dari sudut lain. Aku tak ingin mengganggu dan hanya ingin menghabiskan rokokku saja. Lalu aku teringat wajah itu. Dia perempuan yang duduk disebelahku saat di kampus siang tadi.
Aku memperhatikannya, mendengarkan semua ocehannya ke atas langit dan mencoba memahami kondisinya yang memerlukan uang untuk kesembuhan neneknya. Kasihan, aku mengerti karena aku juga menyayangi oma.
Aku membuka jeket saat melihatnya terjongkok sambil menangis. Dia hanya memakai kaos tipis di malam yang banyak angin dan dingin.
Aku membentangkan jeketku di atas kepalanya supaya dia tidak melihat wajahku. "Pakai itu. Cuaca dingin." Tanpa basa-basi aku langsung turun tanpa tahu bagaimana responnya. Yang pasti, dia akan malu jika tahu ternyata aku mendengar keluhannya tadi.
Aku melihatnya masuk ke dalam sebuah rungan. Setelah itu, aku mengecek siapa yang dirawat di ruangan itu. Ternyata kondisi neneknya benar-benar sangat memprihatinkan. Akupun menyuruh orang untuk menyelidiki gadis itu dan sungguh, fakta bahwa dia anak seorang pelacur dan tengah menjalin hubungan selama 7 tahun membuatku menggelengkan kepala. Wajah polos tidak menjamin lurusnya hidup.
Syahdu, gadis itu akhirnya keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju walk in closet. Aku memandanginya dari belakang. Kakinya yang jenjang dan mulus membuatku sangat berselera.
"Lama!" Teriakku saat dia tidak juga muncul.
Dia keluar perlahan, terlihat malu dan ragu.
Aku menatap tubuhnya yang sempurna. Tidak kusangka, dia benar-benar sangat cantik. Dia yang selalu memakai pakaian longgar, ternyata menyimpan sesuatu yang indah di dalamnya.
"Duduk sini." Ucapku dan dia menuruti.
Aku memperhatikan setiap bentuk tubuhnya. Benar-benar bersih seperti dirawat dengan baik.
Kulepas ikat rambutnya yang panjang dan terurai di pinggangnya. Dengan lembut aku mengelusnya, sangat sempurna.
"Rambut lo bagus." Pujiku terus terang, namun dia hanya menunduk.
Aku berdiri dan langsung membuka baju. Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya.
"Let's we start.."
Baru ingin memulai, aku mengingat sesuatu.
"Sebentar, minum ini dulu."
Aku mengambil obat penghambat kehamilan dan menyuruhnya meminum itu.
"A-apa ini?"
"Pil KB. Cepat, aku tidak punya banyak waktu!" Tukasku dan dia segera meminumnya.
Aku mendorong tubuhnya perlahan hingga ia terbaring di atas tempat tidur. Aku menindihnya, memandang wajah yang terlihat begitu takut dan tegang.
Aku langsung memberinya sentuhan ringan di bibir, membuatnya merasakan kenyamanan. Dia tidak membalas dan cenderung diam seperti orang yang tidak pernah berciuman. Aku lalu Beralih ke bawah lehernya yang jenjang dan putih. Aku mendengarnya mengerang tertahan. Lucu sekali.
Aku membuka perlahan pakaian seksi yang ada di tubuhnya dan langsung melahap gundukan indah disana.
Aku memainkannya dengan lembut dan bisa merasakan gairah yang mulai memuncak pada dirinya.
Mendengar dessahan halus dari bibirnya membuat tubuhku ingin segera menaklukkannya.
Tanpa basa-basi lagi aku segera mengarahkan pusat tubuhku ke inti kenikmatan pada tubuhnya. Aku bisa merasakan dirinya yang menegang dan tangannya yang menggenggam kuat sprei putih itu.
Aku terheran dengan sikapnya yang seolah tidak pernah disentuh. Padahal aku yakin pacarnya sudah sangat puas menjadikannya pelacur pribadi selama bertahun-tahun. Tidak mungkin kan, dalam 7 tahun tidak melakukan apa-apa. Mustahil.
Aku memasukkan milikku dan mulai menerobosnya. Namun aku terhenti saat merasa ada dinding yang menghalangi di dalamnya. Aku menatap gadis yang kini dibawah kungkunganku. Dia memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Wajahnya menoleh ke kanan, tak mau menatapku.
Tapi aku sungguh terdiam sejenak dan merasakan hal yang berbeda. Ini sungguh diluar nalar. Dia... masih perawan?
Aku menghujamnya perlahan dan dia menahan rasa sakitnya, aku bisa melihat bulir air yang menetes melintasi pelipisnya, jatuh ke bantal yang terlihat sedikit basah.
'Sshit! Dia benar-benar belum tersentuh dan akulah orang pertama yang melakukannya.'
Entah bagaimana aku merasa bersalah. Tapi karena sudah terlanjur, aku melanjutkannya, melakukannya dengan perlahan karena aku tahu ini pasti menyakitkan baginya.
Aku mempersingkat aktifitas yang seharusnya membuatku puas tetapi kini justru merasa sangat bersalah. Apalagi dia menangis tanpa suara dan tidak mau melihat ke arahku.
"Malam ini lo tidur disini, gue akan keluar sebentar dan jangan kemana-mana!" Tukasku dan langsung bangkit. Tapi aku terkejut saat mendapati darah di sprei dan juga di inti tubuhku.
Aku segera memakai celana dan meraih rokok untuk segera keluar ruangan. Bisa kulihat dia masih terbaring miring dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia tengah menangis walau tanpa suara.
"Hah!!" Aku melepaskan napas yang terasa sesak sejak tadi setelah sampai di rooftop. Ku pandang langit malam yang sangat cerah. Dadaku bergemuruh entah karena apa. Padahal ini bukan pertama bagiku tapi sungguh, aku terlihat seperti lelaki brengsek yang memperkosa seorang gadis.
Aku menyesap rokok dalam-dalam, mencoba meredakan perasaan aneh yang kini menggerayang diriku.
Apa yang membuat aku merasa bersalah adalah penilaianku yang buruk terhadapnya. Ibunya yang seorang pelacur, juga hubungan dengan pacarnya yang selama bertahun-tahun itu meyakinkan diriku bahwa dia bukan perempuan yang menjaga kehormatannya. Tapi ternyata aku salah. Dia merelakan itu demi kesembuhan neneknya.
"Aarrghh! Sialan!!" Aku berteriak kesal dan menyesal. Tapi sudahlah, sudah terlanjur dan dia juga menyetujui itu, kan?
~
Aku tidak bisa kembali cepat. Aku menunggu dia tidur karena entah bagaimana rasanya tidak enak saja jika dia masih terjaga.
Sudah empat jam aku diluar dan akhirnya kuputuskan untuk masuk ke dalam apartemen.
Aku bernapas lega saat melihatnya tertidur. Ternyata dia sudah membersihkan bekas darahnya juga.
Akupun sudah mengantuk, lelah dari pikiran yang tidak henti memikirkannya.
Aku naik ke tempat tidur dan seketika membeku saat gadis itu bergerak dan berbalik menghadapku. Syukurlah, dia tertidur dalam.
Aku membaringkan tubuh menghadapnya. Aku bisa mendengarkan dengkuran halus dari bibirnya yang sedikit terbuka. Tadi aku mencium bibir itu tapi hanya sebatas supaya dia bergairah. Lalu setelah kuperhatikan, bibirnya sangat menggoda.
Wajah gadis itu benar-benar sangat lembut. Bagaimana dia bisa lahir dari rahim seorang pelacur?
Entahlah, yang jelas aku hanya membantunya saja. Lagipula aku tidak melarangnya berhubungan dengan pacarnya itu. Bukankah itu sudah cukup adil, jika dipikirkan lagi, yang kuberikan padanya mungkin saja bisa mencapai miliyaran, mengingat penyakit neneknya yang akan menghabiskan banyak dana. Menurutku, semua itu sudah sesuai.
Cara ngehargai Karya Author itu gampang banget kok. Like aja udah cukup banget. Soalnya di statistik pembaca itu jumlahnya mencapai 10rb pembaca perhari tapi yg ngelike hanya puluhan. Makasih banyak🙏
Jangan Lupa Subscribe yah💐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
may
Semangat berkarya author hebat❤️
2023-12-06
0
Wirda Wati
lanjuut
2023-10-25
0
Bunga Istiqomah
ok
2023-06-05
0