Kelas baru saja selesai siang ini. Kami berkumpul lagi untuk membahas dan membagi tugas masing-masing.
"Kapan kita bisa kerjain bareng?" Tanya Adina.
"Pokoknya jangan di waktu mepet, ya. Soalnya kan, gue yang bikin powepoint-nya." Kata Ibra.
"Iya, makanya, kapan?" Tanya Naya.
"Besok malam, bagaimana?" Tanyaku. "Jam 7 kita kumpul di kafe depan. Tamannya nyaman juga buat belajar bareng."
Mereka mengangguk setuju.
"Ras, Lo bisa gak, tandai hal yang penting di buku ini. Sisanya gue." Kata Dina dan aku mengangguk saja sambil menyimpan buku itu ke dalam tasku.
"Oke, clear, ya. Khusus buat Arga, gak usah ada kerjaan, tapi lo yang jadi jubir pas presentasi nanti." Kata Alika dan Arga yang duduk menyendiri di ujung kelas mengangguk saja.
"Ntar hasilnya gue kirim ke elo, Ga. Supaya lo belajar tuh, malemnya." Kata Ibra.
"Bener, tuh. Lo juga jangan lama-lama ngerjainnya." Sambung Naya pada Ibra.
"Lah, lo kirim ke semua, dong. Kita harus paham sama isi makalahnya. Masa Arga doang." Protes Adina dan aku mengangguk setuju.
"Hahaha, duh. Percuma juga, soalnya gue ga paham bahasa inggris." Tukas Naya sambil tertawa.
Yah, begitulah. Dalam setiap kelompok pasti ada aja yang berusaha lepas tangan dan mencari yang pintar untuk bersembunyi di balik badannya. Aku sudah paham karena dulu juga begitu saat SMA. Kerja kelompok seperti kerja sendiri.
"Gue duluan, ya. Ada kerjaan lain." Kata Ibra sembari berdiri. "Gue cabut, Ga."
Arga mengangkat jempolnya, duduk menyudut sambil menatap laptop dengan serius. Sampai sekarang aku ga tau tuh anak kerjanya apa, sih. Laptopan mulu.
"Ras, nanti malam gimana, lo ikut, ya." Adina memegang tanganku.
"Aku ga bisa, Din. Kalian aja, ya?"
"Yah, lo ga seru banget. Sebentar doang, kok."
"Iya. Lo kan, ga pernah ke Redsky. Ntar gue kenalin deh, sama temen-temen gue yang keren-keren disana." Bujuk Alika.
"Ntar gue bantu lo kenalan sama minuman enak. Yang buat mabok dikit, oke la ya.." sambung Naya sambil tertawa.
"Dia udah punya pacar, kale!" Sanggah Adina.
"Dih, ya gapapa, kali. Zaman sekarang mah, punya pacar dua tuh, biasa banget!" Kata Naya tak mau kalah.
"Eh, lo kan udah 7 tahun kan, ya, sama pacar lo. Udah ngapain aja, sih."
"Apaan sih, pertanyaan lo, Al." Gerutu Dina pada Alika.
"Enggak, gue nanya aja. Soalnya kan, dia tuh lama banget sampe 7 tahun. Heran gue. Gue aja ga pernah nyampe setahun. Bosen gak, sih?"
Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum malas.
"Udah sering *******, dong?" Sambung Naya.
Hah. Apa, tuh. Aku mengerutkan alis, tak paham apa maksud Naya.
"Lo ga tau *******, Ras? Hahaa." Naya dan Alika menertawakan aku.
"Ciuman, loh. Gimana, sih. Jangan-jangan lo ga pernah, ya?"
Aku menggelengkan kepala. Memang ga pernah, kan? Tapi, pembahasan macam apa ini??
"Hah? Serius? Lo ga pernah ciuman sama pacar lo? Bohong aja lu!" Tuduh Alika.
"Ya emang ga pernah. Emangnya pacaran harus begituan? Engga, kan?" Kataku agak kesal.
"Eh, sumpah deh. Lucu banget!" Alika malah tertawa-tawa.
"Ya bagus, dong. Artinya Laras emang hidupnya lurus-lurus aja." Bela Adina padaku.
"Iya, sih. Tapi kayak aneh gitu lo, zaman sekarang gak begituan. Udah 7 tahun lagi. Gue kira malah Laras udah jebol." Kata Naya blak-blakan dan lagi, aku tidak mengerti.
"Elo kali, yang udah jebol." Kata Adina dan mereka tertawa, sedangkan aku yang tidak paham maksud mereka hanya menggelengkan kepala.
"Lo ga paham ya, Ras? Maksud jebol tuh, udah gak perawan." Kata Alika dan masih terkekeh aja.
Aku langsung melihat ke arah Arga yang masih fokus pada laptopnya.
Aku memang belum ngapa-ngapain sama kak Wicak. Tapi udah ngapa-ngapain sama Arga. Sial.
"Apa pacar lo normal, Ras? Kayak ga percaya gue ada laki modelan begitu." Kata Naya lagi.
Sumpah, aku udah ga nyaman sama pembahasan Naya.
"Normal, kok. Gue malah iri sama Laras. Tatapan cowoknya itu, loh. Dalem banget kalau natap laras." Jelas Adina pada mereka, dan aku sudah sangat malas berkomentar.
"Kalau cowok yang sayang banget sama lo, pasti akan menjaga lo. Beda sama cowok yang cuma mau sama tubuh lo doang." Sambung Adina lagi dan berhasil membungkam dua orang itu.
Arga menutup laptopnya dan beranjak dari tempatnya.
"Udah selesai, Ga?" Tanya Naya mengalihkan pembicaraan.
"Hm. Gue duluan." Ucapnya dan langsung keluar dari kelas. Disusul Naya dan Alika yang langsung ikut keluar.
Aku langsung melirik jam. Ternyata udah jam 1 dan sebentar lagi aku harus ke apartemen Arga.
"Lo ga nyaman ya, sama pembicaraan tadi." Tanya Adina yang paham sama kondisiku.
"Iya. Aku ga nyangka mereka sampe kaya gitu nanyanya."
"Sebenarnya emang biasa banget kaya gitu disini. Beda sama di desa. Jadi, semoga kedepannya lo ga kaget lagi." Kata Adina.
Ah, beruntungnya punya teman yang pintar, cantik, dan sefrekuensi sama aku.
"Redsky itu tempat apa, Din?" Tanyaku sambil berjalan beriringan dengan Dina.
"Itu tuh, hotel. Tapi di dalamnya ada kayak kafe gitu loh, dan tempatnya berkelas banget. Di dalamnya juga orang-orang kaya. Trus ada live music juga kadang. Ada lantai dance juga. Rata-rata minumannya alkohol. Pokoknya mending emang lo gausah kesana, sih." Jelas Dina dan aku mengangguk saja. Tempat seperti itu emang ga cocok buatku.
"Tapi kalo lo penasaran, lo datang aja sama kita. Jangan sendiri. Soalnya lo kan, belum pernah." Kata Dina lagi.
"Enggak, ah. Aku mau ngerjain tugas buat besok."
"Astaga, iya ya. Gue lupa malah."
Aku dan Adina cekikikan bersama sambil berjalan pulang. Sampai aku dan Dina berpisah di ujung lorong kampus.
...🍁...
Sesampainya di apartemen Arga, aku melihat dia duduk sambil menatap laptop lagi. Aku langsung ke kamar untuk membersihkan diri tanpa diminta olehnya.
Aku memilih tak berganti pakaian. Aku sudah tanpa busana di dalam jubah mandiku dan langsung berdiri di depannya yang tengah menatap laptop.
Dia langsung mengangkat kepala melihatku yang berani menghadapinya.
"Bisa kita mulai? Aku ada janji sebentar lagi." Ucapku dengan nada yang agak bergetar.
Persetan dengan rasa malu. Udah terlanjur juga dan aku memang ingin segera keluar untuk bertemu kak Wicak.
Arga bengong sebentar, lalu menutup laptop dan langsung membuka bajunya. Menghampiriku yang sudah dag-dig-dug. Tanpa basa-basi dia membungkam mulutku dengan bibirnya. Aku menutup mata saat Arga menggigit bibirku. Sialan, dia bisa ciuman gak, sih!
Arga membuka jubah mandi dan mendorong tubuhku ke sofa panjang. Lalu membuka celananya dan mulai menggerayangiku.
Aku menegang dan mencengkram ujung sofa saat Arga mulai memasukkan inti tubuhnya ke pusat tubuhku. Masih terasa sedikit perih sampai aku merasakan kenikmatan di satu titik yang mengalir kesuluruh tubuh.
Oh, seperti ini rasanya berhubungan itu, terasa perih namun nikmat. Seperti yang temanku pernah katakan. Dia bilang saat malam pertama pernikahan, pada awalnya memang sakit tapi lama-kelamaan kau akan ketagihan. Begitu katanya dan memang benar. Tanpa kusadari, aku mendessah dan sekilas kulihat Arga tersenyum miring.
Lama berkutat, akhirnya Arga menyelesaikannya dengan keringat yang menetes di tubuhku.
Dia bersandar dengan napas yang terengah. Sementara aku langsung bangkit.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Aku harus pergi."
"Nanti malam kesini lagi." Tukasnya sambil memakai bajunya.
"Kan, udah?"
"Setiap malam harus tidur disini, mau gue kabarin atau enggak."
Aku melengos. "Iya." Jawabku pendek dan langsung ke kamar mandi untuk bersiap bertemu kekasihku sore ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Neffy Fy
visual arganya kurang cool ..
2023-12-01
1
nurlela nasution
lanjut keren
2023-05-28
0
Rini Rindu
bang Jeff meresahkan jiwa
2023-05-26
1