"Ada apa?"
Kak Wicak duduk disebelahku, menemaniku berdiam diri di taman rumah sakit. Untuk masalah kali ini, aku berat untuk cerita ke kak Wicak.
"Enggak, cuma mikirin nenek aja." Jawabku. "Kak, apa aku behenti kuliah aja dan.."
"Enggak boleh. Nenek pasti kecewa. Jalani aja dulu, aku pasti bantuin kamu, Syahdu."
Aku diam. Aku juga tidak bilang pada kak Wicak soal biaya rumah sakit yang ratusan juta itu. Aku takut dia menghabiskan tabungannya untuk membantuku. Hah.. bagaimana, ya? Aku sangat bingung. Dari mana aku dapatkan sisanya? Lalu uang untuk kamar nenek juga perharinya 120 ribu. Rasanya aku mau nangis terus.
"Kak, menurut kakak, apa aku mirip ibuku?"
Spontan kak Wicak menengok ke arahku dengan alis berkerut. Dia tahu aku paling tidak suka dibanding-bandingkan dengan Ibuku. Tapi kali ini, setelah mendengar tawaran laki-laki itu, entah mengapa aku mulai memikirkannya.
"Kamu beda dengan Ibumu. Aku lebih tau gimana kamu." Jawab kak Wicak dengan tatapan penuh kasih sayang. Aku bisa merasakan itu walau wajahnya tampak datar.
"Kalau seandainya ibu masih ada dan dia berubah jadi perempuan baik-baik, apa dia masih bisa diterima? Apa masih ada laki-laki yang tulus nerima dia?"
"Pasti, setiap orang yang ingin berubah menjadi lebih baik, pasti diterima. Akan selalu ada laki-laki yang tulus menerimanya. Ada apa? Kenapa tiba-tiba nanya kaya gitu?" Tanya kak Wicak keheranan.
Aku pun tidak tahu, tiba-tiba aku ingat kata nenek. Dulu nenek dan Ibu yang miskin karena harus membayar hutang yang ditinggalkan kakekku beratusan juta, membuat Ibu mau tidak mau bekerja banting tulang. Namun siapa sangka, Ibu ternyata menjadi pelacur.
Walau hutang kakek dan biaya hidup tertutupi, tetap nenek selalu menangis jika Ibu pergi bekerja dengan pakaian sopan dan pulang bau alkohol.
Nenek juga bilang, Ibu tidak pernah menggoda para lelaki di kampung. Justru merekalah yang sering menggoda Ibu, karena Ibu cantik dan suaranya merdu. Dia juga kadang bernyanyi sebagai biduan di acara-acara pesta.
"Aku.. cuma nanya. Aku takut nenek pergi nyusul Ibu."
Kak Wicak menarik kepalaku bersandar di dadanya. Aku langsung meneteskan air mata. Jika aku menerima tawaran Arga Alexander, bagaimana dengan kak Wicak? Apakah dia masih mau menerimaku? Atau malah pergi meninggalkanku? Aku tidak bisa membayangkan itu. Aku sangat mencintai lelaki ini.
"Kamu masih ada aku, Syahdu. Aku akan selalu disampingmu. Aku akan terus ada untukmu. Jadi, jangan pernah merasa kesepian dan sendirian. Aku sayang banget sama kamu." Dia mengelus lembut kepalaku. Aku semakin menangis.
Bisa-bisanya aku berpikir untuk menjual diriku pada Arga, mengkhianati perasaan tulus kak Wicak padaku. Sungguh, aku akan menjadi perempuan yang paling jahat jika aku mengkhianati laki-laki ini. Aku tidak akan melakukan itu, aku akan mencari cara lain untuk mendapatkan uang lagi.
...🍁...
Aku berjalan lesu di lorong kampus. Mataku sungguh ingin tertutup karena tadi malam tidak tidur menjaga nenek yang kesakitan di area pinggangnya.
Dokter menyarankan untuk segera operasi pengangkatan sebelah ginjal nenek dan aku harus melunasi biayanya dengan segera. Aku merasa sedih sekali karena tidak punya siapapun untuk dimintai tolong selain kak Wicak.
Aku terhenti saat hidungku mencium aroma yang mirip dengan wangi yang ada di jeket pria asing malam itu. Aku mengendus dan mengikuti bau parfum yang nampaknya tak jauh dari tempatku berdiri.
Aku berjalan perlahan, baunya masih terasa di hidungku. Namun langkahku terhenti saat melihat lelaki itu berdiri di mesin minuman.
Arga, Dia mengambil satu kaleng yang jatuh di dalam rak mesin.
Aku jadi kepikiran dengan penawarannya. Bagaimana kalau aku meminjam uangnya dan bekerja saja menjadi pembantunya atau apalah selain teman tidur.
Aku menghampirinya yang tengah menenggak minuman langsung dari kaleng itu. Dia menyadari kehadiranku.
"A-aku.. bisa pinjam uangmu aja, nggak? Aku beneran bayar tapi dicicil. Aku janji pasti bayar dan nggak kabur. Atau aku bisa jadi pembantumu aja. Gimana?" Harapanku besar supaya lelaki itu menerima permintaanku. Tetapi wajahnya itu terlihat sangat tidak bisa ditebak.
Dia pergi saja tanpa memperdulikan ucapanku.
"Hei, tunggu. aku mohon banget, please, tolong aku. Aku perlu biaya rumah sakit nenekku. Aku harus lunasi hari ini juga. Kalau kamu nolongin aku, aku akan menjadi pembantumu selama yang kamu mau, aku janji." Aku berjalan cepat mengikuti langkahnya yang panjang. Lalu dia berhenti.
"Tawaran gue cuma sebagai teman tidur. Gak ada yang lain. Jangan samain diri lo dengan menjual diri karena cuma gue yang lo layani." Tukasnya dan langsung pergi meninggalkanku.
Aku menghela napas lemah. Apa benar itu berbeda dari menjual diri? Aku dengar Ibuku selalu berganti pelanggan, kalau tawaran ini justru hanya satu saja, Arga. Apa.. Aku terima saja? Cepat-cepat aku menggelengkan kepala. Dasar bodoh. Lagi-lagi aku memikirkan hal gila.
Seperti biasa, aku memilih bangku paling belakang. Lalu aku melihat Arga masuk ke dalam kelas. Dia duduk di bangku baris kedua dan bercengkrama dengan beberapa orang di depan. Sesekali dia tersenyum kecil saat mendengar ocehan orang di depannya. Hah.. apa mereka tahu bagaimana Arga sebenarnya?
Aku terus memikirkan tawaran Arga. Pikiranku berperang. Otakku menolak tetapi tidak ada cara lain. Lalu aku teringat pada ucapan kak Wicak bahwa akan ada laki-laki yang tulus menerima perempuan rusak yang mau memperbaiki dirinya. Apa kak Wicak adalah laki-laki yang tulus itu? Jika mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya, kurasa dia memang akan menerimaku jika aku mencoba memperbaiki diri lagi nantinya.
Ponselku bergetar dan aku langsung mengangkatnya. Ternyata dari suster yang merawat nenek. Dia bilang kalau nenek dalam kondisi drop dan harus segera dilakukan operasi. Aku memejamkan mata kuat-kuat, tidak ada cara lain.
"Lakukanlah operasi, aku setuju dan akan lunasin sore ini." Jawabku pada suster diseberang.
Setelah berkata begitu, aku justru ambruk di atas meja. Aku menghantuk-hantukkan kepalaku. Aku benar-benar buntu.
~
Tok..Tok..
Aku terbangun. Melihat kesana kemari, ternyata kelas sudah kosong. Apakah aku tertidur selama pembelajaran berlangsung?? Lalu aku melihat Arga berdiri di depanku.
Dia meletakkan sebuah amplop coklat di depanku.
"Tanda tangani kontrak itu. Kalo lo setuju, gue akan bantu seluruh biaya rumah sakitnya."
Aku menatap amplop itu cukup lama. Hatiku tidak bisa melakukannya, tetapi biaya rumah sakit tidak bisa kuatasi sendiri.
Dengan tangan bergetar aku membuka amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar kertas di dalamnya. Aku membacanya pelan-pelan.
Aku akan menjadi pelayan ranjangnya selama dua tahun. Harus menuruti apapun permintaannya selama di atas ranjang. Aku harus selalu ada setiap malam menemaninya. Tidak boleh hamil. Jika hamil maka harus digugurkan karena dia tidak ingin anak dari siapapun. Setelah dua tahun berlalu, maka berpisah dan anggap tidak pernah terjadi apapun diantara kami.
Aku menggigit bibir, bukankah ini sangat merugikan diriku?
Aku pun meremas ujung rokku dengan geram. Ibuku memang seorang wanita malam, tapi bukan berarti aku akan melakukan hal yang sama!
"Baca sampai selesai." Tukasnya lagi.
Aku membaca lagi keuntungannya. Dia akan mengurus semua yang berkaitan dengan biaya nenek selama sakit sebesar apapun itu. Aku boleh tinggal di tempatnya dan menggunakan seluruh fasilitas di dalamnya.
"Kita gak boleh berinteraksi diluar tempat tinggal, kita harus pura-pura gak kenal. Gue juga tahu lo punya pacar. Silakan aja berhubungan dengan pacar lo, gue gak akan mengatur untuk itu."
Aku diam mendengarkan, itu artinya aku masih bisa bersama kak Wicak.
"Lo cuma perlu datang saat gue butuh aja. Selebihnya, lo boleh kemana aja terserah lo. Cuma, lo gak boleh mangkir sekalipun. Lo harus udah di rumah sebelum gue sampe."
Aku menarik napas dalam-dalam. Sungguh, aku butuh uang tapi bukan begini yang kumau.
Ponselku bergetar. Kulirik nama yang tertera di layar, perawat.
Persetan! Aku tidak peduli, yang penting nenekku, keluargaku satu-satunya yang tersisa, bisa melanjutkan hidup bersamaku.
Aku membubuhkan sidik jari di kertas itu, lalu berdiri. "Tepati janjimu sekarang juga."
Ucapku dan langsung berlalu meninggalkannya sendiri di dalam kelas. Aku berlari kecil menuju toilet. Aku masuk ke dalam dan menangis disana.
Sungguh, aku tidak sangka apa yang orang-orang katakan tentang diriku ternyata benar. Kini aku menjual diriku, demi kesembuhan nenekku.
Ponselku bergetar lagi, aku mengangkat telepon dari perawat.
"Mbak, kita akan lakukan operasi nanti malam."
"Ha? Apa udah dibayar?"
"Sudah. Nenek juga sudah kami pindahkan ke ruangan VIP. Saya mengabarkan supaya mba gak salah kamar nanti."
Tubuhku kaku. Benarkah? Secepat itu dia melakukannya? Siapa Arga ini? Ah entahlah. Pokoknya nenek akan dioperasi dan sembuh.
Aku tersadar saat ingin membuka pintu toilet. Aku.. nanti malam, harus menyerahkan tubuhku pada lelaki itu.
Air mataku menetes lagi. Tidak apa, Syahdu.. tidak apa.. aku menenangkan diriku sendiri. Nyawa nenek lebih berharga dari sebuah kehormatan yang selama ini kujaga. Nenek lebih dari itu.
Tapi aku malah terjongkok, menangis sesegukan. Aku pasti akan terbiasa. Aku hanya syok. Dua tahun itu waktu yang cepat berlalu. Buktinya aku dan kak Wicak tidak terasa menjalin hubungan selama 7 tahun.
Ah.. kak Wicak. Maafkan aku, kak. Kehormatan yang kau bantu jaga, aku merusaknya sendiri. Padahal kau benar-benar menjaga diriku supaya orang-orang tidak menghinaku. Kau bahkan hanya mencium keningku. Kau tidak pernah macam-macam padaku, lalu apa yang kulakukan? Entahlah.. kak Wicak, maafkan aku.
TBC
(Visual Syahdu Larasati)
(Visual Arga Alexander)
(Visual Aditya Wicaksana)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
may
Oh mas wicak❤️
2023-12-06
0
Wirda Wati
visualnya kereeen.
apa TDK ada cara lain..
🤭🤭🤭
2023-10-25
0
Ruk Mini
imutzzz!....
2023-10-25
0