Mata kuliah pertama di pagi hari ini adalah bahasa inggris. Hanya beberapa mahasiswa saja yang tampak serius memperhatikan. Yang lain, mengkhayal.
Aku menyukai bahasa inggris. Dulu aku sering menonton film barat. Itulah kenapa aku tertarik mempelajarinya sampai-sampai setiap pelajaran bahasa inggris saat SMA dulu, tak sedikit yang menyantel duduk di dekatku.
Naya yang duduk didepanku saja sudah tertidur pulas, Alika menulis-nulis entah apa di bukunya. Adina, menopang dagu menatap ke depan walau aku tahu pikirannya melayang.
Lalu mataku tertuju pada Arga yang duduk tak jauh di depanku. Dia memperhatikan ke depan sambil memutar pulpen di jarinya.
"Untuk membahas setiap bab dalam diktat, Miss mau kalian buat grup berisi 5 sampai 6 orang, ya. Miss serahkan pada komting untuk penentuan bab setiap grupnya. Thanks for today, Class. See ya." Kata Miss Lora, Dosen yang menurutku stylish banget dan gak ngebosenin saat dia mengajar.
"See you, miss.." Serentak seluruh mahasiswa dan langsung cerah saat Miss Lora meninggalkan kelas.
Masing-masing sibuk mencari teman untuk membentuk grup yang diminta dosen tadi. Lagi-lagi mataku ke Arga, mejanya dikerumuni banyak orang untuk memintanya masuk ke dalam grup mereka. Kenapa sampai seperti itu, sih. Batinku.
"Kita satu grup nih, kan?" Kata Alika sambil memutar kursinya ke belakang.
"Berapa orang, ya? Kayanya kurang satu, deh." Tutur Adina.
"Kita-kita aja ga papa, kok." Jawabku santai.
"Ini presentasinya pake bahasa inggris full, gitu?" Tanya Alika dengan dahi berkerut dan aku mengangguk mengiyakan.
"Haah.." Alika menopang dagu melihat diktat di tangannya. "Mana bahasa Inggris gue ancur, lagi." ucapnya kemudian dan berhasil membuat Adina terkekeh.
"Eh, Arga bukannya keturunan Inggris, ya? Pasti jago banget, kan? Gue ajak, ya?"
Belum aku berpendapat, Naya sudah bergerak ke bangku Arga.
Ah, semoga aja Arga gak mau. Aku merasa berat kalau Arga ada disekitarku. Kenapa sih, orang-orang ini selalu memuja-muji Arga.
Aku tidak tahu apa yang Naya katakan sampai Ibra dan Arga datang ke tempat kami, dia malah mau bergabung satu grup denganku. Apa dia sengaja ingin menyiksaku?
"Waah, untung aja Arga mau. Soalnya bahasa inggris kita buruk-buruk banget, Ga." Ucap Alika yang membuatku melengos. Sial, kenapa dia pake acara mau segala, sih.
Kami duduk membentuk lingkaran, mulai mendiskusikan tugas masing-masing karena kami mendapat bab pertama yang akan maju minggu depan. So sad.
"Kenapa harus ada bahasa inggris segala, sih." Gerutu Naya tiba-tiba.
"Ngapain lo milih international business kalo ga mau ada bahasa inggrisnya?" Protes Alika.
"Ga tau, gue ngikut-ngikut aja soalnya." Keluh Naya lagi.
"Hahaha, emang bahasa inggris agak nyebelin. Lidah gue juga sering keselimpet!" Sahut Ibra ikut-ikutan dan aku hanya mencoba melihat topik apa yang akan dibawa minggu depan.
"Kalau lo gimana, Ga? Milih jurusan ini biar bisa berbisnis, ya?" Tanya Naya sambil bertopang dagu, melihat Arga yang sibuk dengan laptopnya.
"Terpaksa." Jawabnya singkat.
"Hahaha, sama banget kaya gueee.." Naya memukul pelan bahu Arga sambil terkekeh.
"Din, lo kan, pinter. Lo aja ya, yang ngerjain." Tukas Ibra lagi.
"Enak aja, lo!" Balas Adina dengan raut sebal.
"Aku akan cari buku yang diperlukan di perpustakaan nanti dan kita bisa diskusikan besok." Sahutku ingin cepat pergi.
"Gimana kalau nanti malam aja? Kita ngerjain di rumah Arga!" Usul Naya dan aku langsung melihat ke arah Arga yang tampak santai saja menatap ke layar laptopnya. Gila kalau dia mau! Aku juga bisa ikut mati, kan? Apalagi lemari gilanya itu penuh baju seksi.
"Bagaimana, Ga?" Tanya Ibra lagi.
"Ngga bisa, nanti malam gue harus main di Redsky." Jawabnya santai tanpa beralih dari laptopnya.
"Main apaan?" Tanya Adina.
"Musik. Gue ngisi disana."
"Astaga, serius? Kita boleh liat lo, gak?" Pinta Naya dan Arga mengangguk saja.
"Boleh, nih? Berarti ntar malem kita ketemuan, ya." Kata Alika.
"Boleh, deh. Dari pada suntuk juga di rumah aja." Sambung Adina. "Lo gimana, Ras?"
Kini semua mata tertuju padaku, tak terkecuali Arga yang melihatku sebentar, lalu menatap lagi ke laptopnya.
"A-aku.."
"Ayo, dong, Ras. Anggap aja untuk kita saling mengakrabkan diri." Bujuk Ibra.
"Maaf ya, kayanya aku ga bisa." Tolakku secara halus. Ngapain juga liat Arga yang menyebalkan itu.
"Lo udah janjian sama pacar lo, ya?" Tanya Naya.
"Enggak, aku harus jaga nenek di rumah sakit." Jawabku asal saja. Padahal kan, udah ada perawat khusus yang disewa Arga untuk jaga nenek.
"Astaga, nenek lo di rumah sakit, Ras? Sakit apa?" Tanya Adina.
"Biasa kok, sakit nenek-nenek."
"Hahahaha." Mereka malah tertawa dan itu membuatku bingung.
"Gimana, sih. Sakit nenek-nenek emang apaan?" Alika tertawa dan aku hanya tersenyum saja. Enggan bercerita banyak tentang diriku. Terus terang, aku ingin menutup diri.
"Ras, emang asal lo dari mana? Kalau lihat dari gaya lo bicara, pasti bukan dari sini, kan?" Tanya Alika lagi.
"Aku dari kampung."
"Oh, ya? Desa apa?" Tanya Naya dan aku berdiam, aku tidak ingin mengatakannya supaya apa yang menjadi background-ku di kampung, tidak mengalir ke kota Ini.
"Udah selesai, belum? Gue ada kerjaan." Potong Arga sembari menutup laptopnya.
Ah, aku lega. Kini mereka sudah bersiap untuk pergi karena kelas akan dimulai satu jam lagi. Nampaknya ini bisa kugunakan untuk mencari buku sebentar.
...🍁...
Aku mencari buku di perpustakaan. Tadi, Adina bilang dia mau ketemuan sama temannya. Jadi, aku sendiri yang akan cari buku untuk referensi makalah kami nanti.
Aku mengambil beberapa buku yang menurutku sangat berkaitan dengan pembahasan kami.
Setelah selesai, aku mencoba menuju rak novel. Sekalian pinjam, dong. Siapa tahu ada yang seru. Pikirku.
Aku melihat-lihat judul yang menurutku menarik. Dan, lagi-lagi ada tangan yang melintasi bahuku, mengambil sebuah buku yang berada di depanku. Tapi, entah mengapa aku tahu, itu adalah Arga dari harum parfum yang tercium di hidungku.
Aku menoleh, dan benar, Arga berdiri tepat dibelakangku.
Wajahnya mendekat ke telingaku. "Siang ini, jam 2." Ucapnya dan langsung pergi membawa satu buku di tangannya.
"Hah..?" aku mengeluarkan napas yang kutahan karena tadi wajahnya terlalu dekat padaku. Sial, Kenapa dia malah mengajak begituan di siang hari? kukira aku sudah lolos tadi malam. Tidak tahunya, malah diganti siang ini.
Sepertinya, Arga tidak mungkin membiarkanku bernapas lega setiap hari. Semenjak beberapa hari lalu, leherku seperti diikat oleh Arga, seolah aku memang harus terus mengikuti semua perintahnya, walau perintah itu sebenarnya tidak ada dalam kontrak yang telah dibuatnya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Wirda Wati
sabar
2023-10-25
0
S.Syahadah
cerita ny Bagus kak, aku baru mampir
2023-07-25
1
Intan Anggraeny
bagusss juga
2023-06-06
0