TRING
Aku merogoh ponsel di kantong rokku dan membaca pesan dari nomor baru.
'Jam 8 malam harus sudah di apartemenku.'
"Siapa?"
Aku langsung menyimpan ponsel. "Teman yang bahas tugas, kak. Ayo kita ke rumah sakit."
Kami menuju parkiran, walau aku bingung ngapain ke parkiran motor. Ternyata kak Wicak bawa motor matic.
"Motor siapa, kak?"
"Motorku."
"Lho, kakak punya motor?" Tanyaku lagi.
"Iya. Cepat naik."
Aku naik dan langsung melingkarkan tangan di pinggangnya.
Plak!
Kak Wicak memukul pelan tanganku yang memeluknya.
"Munduran!"
Aku terkekeh dan tak mendengarkan ucapannya. Tanganku semakin mengerat di pinggangnya dan aku bisa melihat senyumnya dari spion motor.
Aneh, ya? Padahal kami sudah 7 tahun bersama, tapi perasaan kami seperti orang yang baru jatuh cinta dan kak Wicak yang dingin dan tak banyak cerita itu, selalu bisa menempatkan diri saat bersamaku.
Kak Wicak memutar Spion depan mengarah padaku. Lalu dia tersenyum melihatku dari spion itu.
Motorpun berjalan keluar gedung Mall.
"Kak, kenapa selama ini naik taksi online? Kemarin-kemarin gak dibawa motornya?" Tanyaku dengan suara yang agak kencang.
"Kasian kamu, panas soalnya."
Aku tersenyum dan merapatkan pipiku di punggungnya. Ah, nyaman. Selama ini aku hanya bisa memeluk saja dan kak Wicak yang mencium keningku. Itupun jarang sekali. Untuk yang lain, kami tidak pernah melakukannya. Cium bibir saja tidak pernah, apalagi yang lain.
Lagi, aku kepikiran soal diriku yang sudah tidak perawan. Apa dia masih mau bersamaku? Apa dia mau menerimaku jika dia tahu? Huff.. aku terpaksa harus mencari alasan untuk keluar nanti malam.
"Kak, aku udah dapat kerjaan." Ucapku dengan ragu. Aku takut dia tahu kebohonganku.
"Kerja? Dimana?" Tanyanya sesekali melirik ke belakang melalui spion.
"Di.. sebuah kafe. Aku kerja part time kayak kakak."
"Kafe mana?"
Aku diam cukup lama, sebab aku tidak tahu daerah sini.
"Aku gak tau nama jalannya. Tapi gak jauh kok. Nanti malam aku mulai kerja." Jawabku bohong.
Kak Wicak tidak menjawab. Pandangannya fokus ke depan jalan sampai kami tiba di rumah sakit.
Aku menyandarkan lagi pipiku di punggungnya, tempat ternyamanku. Bagaimana pun aku berharap punggung inilah yang berjuang menafkahiku. Lalu jika ia tahu kalau aku sudah menjual diriku, apakah dia masih mau menerimaku?
Aku takut menerima kenyataan jika kak Wicak memilih pergi karena kecewa padaku. Tetapi aku pula harus menerima konsekuensi atas apa yang kulakukan. Mungkin pemikiranku sangat pendek, tapi kulakukan semua supaya nenek tetap berada disampingku.
Aku sangat berharap kak Wicak mau menerimaku karena aku melakukannya karena keterpaksaan. Bukan karena aku menyukainya. Maafkan aku, kak. Lagi-lagi, aku menangis sambil mempererat pelukanku. Aku bisa merasakan kak Wicak menoleh sekilas ke arahku.
*
"Kamu kenapa pindahin nenek ke ruang VIP?" Tanyanya saat kami berjalan di lorong rumah sakit.
Iya, aku lupa soal itu. Bagaimana caraku menjelaskannya?
"Sayang biayanya. Kan, seharusnya bisa meringankan kamu."
"Itu harganya beda sedikit kok, kak. Rumah sakit kasih keringanan karena nenek udah tua dan butuh kamar yang nyaman." Jawabku mengarang dan kak Wicak mengangguk saja.
Sampai di kamar, nenek sudah terjaga dan tengah menonton televisi.
"Syahdu, udah pulang kuliah?" Tanya nenek saat aku mencium punggung telapak tangannya.
"Udah, nek. Nenek gimana? Apa masih ada yang sakit?" Tanyaku serius.
"Enggak, cuma nenek bosan. Mau pulang aja rasanya." Keluhnya.
"Gak bisa, nek. Kondisi nenek belum memungkinkan. Kemungkinan nenek akan lama di rumah sakit."
"Kok, gitu? Biayanya bagaimana? Itu uang untuk biaya kuliah kamu, bukan rumah sakit nenek."
"Nek, Syahdu bekerja dan aku juga bekerja. Nenek jangan mikirin apapun kecuali kesehatan nenek, supaya nenek cepat keluar dari sini, ya?" Kak Wicak membantuku menjelaskan kepada nenek yang lagi-lagi mikirin biaya rumah sakit.
"Jadi kalian bekerja karena nenek? Aduh, sebenarnya nenek udah sembuh. Jalan juga bisa kok. Apa gak bisa minta dokter untuk izinkan nenek pulang besok? Apalagi ruangannya begini, lihat. Ada Tv, sofa, AC. Mahal kan, pasti?"
Aku bisa melihat dari ekor mataku, kak Wicak menatapku dengan serius.
"Nek, sebenarnya rumah sakit ini punya teman Syahdu. Jadi, waktu Syahdu cerita ada nenek di rumah sakit ini, dia langsung bilang kalau rumah sakit ini milik orang tuanya. Jadi, dia kasih keringanan sama kita."
"Yang benar? Hebat temanmu. Kapan-kapan bawa kemari, ya. Nenek mau kenalan dan ucapkan terima kasih langsung." Kata nenek yang mulai terlihat lebih tenang.
Aku menatap kak Wicak dengan kaku, bagaimana bisa aku berbohong seperti itu.
Setelah nenek makan dan minum obat, tak lama diapun tertidur. Kak Wicak menarik tanganku keluar ruangan.
"Pintar bohong sekarang!"
Aku menghela napas berat. Bagaimana ya, aku tidak ada cara untuk buat nenek tenang.
"Mau gimana lagi.." jawabku lesu.
"Kerja jam berapa? Biar aku antar."
"Eh, gak usah kak. Aku sendiri aja soalnya mau singgah ke rumah teman dulu. Mau pergi bareng." Elakku.
"Begitu? Ya sudah. Aku pulang, ya." Kak Wicak mengelus lembut rambutku dan melangkah menuruni tangga.
Aku harus menunggu beberapa menit sampai kira-kira kak Wicak keluar dari rumah sakit, baru aku menuju apartemen Arga.
Kulirik jam, masih ada satu jam. Akupun mandi di kamar nenek, bersiap untuk pekerjaan tak halalku.
...🍁...
Aku berjalan santai dengan masker dan topi di lorong menuju apartemen Arga. Lalu ponselku berdering. Pesan masuk dari Arga.
'722712 paswordnya.'
TRING! Pesan masuk lagi dari kak Wicak.
'Selamat bekerja, Syahduku. Love you.'
Aku membeku. Bagaimana mungkin kau menyemangatiku untuk pekerjaan seperti ini, kak. Aku berjalan lagi tanpa membalas pesan kak Wicak. Rasa sangat bersalah masih terus mengalir dalam diriku. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Aku menekan sandi dan langsung masuk. Apartemen Arga masih rapi, sepertinya dia tidak ada di dalam. Lalu, mengapa dia memintaku datang?
Aku tidak tahu harus apa, sebab aku juga sudah mandi dari rumah sakit. Aku langsung mengeluarkan buku yang baru kubeli tadi. Membaca novel romansa best seller yang sepertinya seru.
Baru membaca beberapa lembar, suara pintu terbuka membuatku menoleh ke belakang. Arga masuk dengan jeket hitam dan menyandang gitar di punggungnya.
Aku berdiri menyambutnya, tapi dia seperti tak melihatku. Dia meletakkan gitarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aku menaikkan bahu tanda tak peduli dan melanjutkan bacaanku sampai aku merasa kantuk menguasai mataku. Aku menyandarkan kepala hingga tak sadar ternyata aku ketiduran.
Aku terbangun saat mendengar suara ketikan di atas keyboard. Kulihat Arga duduk di seberangku. Banyak berkas yang berserak di atas meja, matanya menatap layar laptop dan terus mengetik sesuatu disana.
"Udah bangun?" Tanyanya tanpa menoleh padaku.
"Maaf, aku ketiduran." Ucapku sedikit takut.
"Sana." Matanya memerintahku menuju tempat tidur. Aku langsung mengerti.
Memang ini bukan yang pertama, tapi rasa gemetarku masih saja sama.
Aku lihat dia menutup laptop dan bergerak ke arah tempat tidur.
Saat aku berdiri karena bingung, dia malah langsung merebahkan tubuh, menarik selimut dan memiringkan tubuh.
Eh? Apa dia tidak menginginkannya? Aku senang, mungkin dia lelah dan memilih tidur. Walau aku bingung untuk apa dia memanggilku jika begitu?
"Tidur. Besok masuk pagi." Ucapnya.
Aku naik ke atas tempat tidurnya yang sangat empuk itu. Lalu merebahkan diri, menatap langit-langit yang putih.
Entah mengapa diriku terasa berbeda dari biasa. Aku tidak merasa lega dan bebas, kini seperti ada beban dan leherku terasa diikat.
Aku tidak bisa tidur. Kulihat Arga membelakangiku, apakah dia sudah tidur? Entahlah.
Aku bangkit menuju dapur. Rasanya kerongkonganku kering sekali. Apalagi satu tempat tidur bersama orang yang tidak aku kenal, rasanya nano-nano.
Lain cerita kalau itu kak Wicak. Apa yang terjadi ya, jika kak Wicak dan aku tidur bersama? Tanpa ku sadari aku tersenyum sambil memegang gelas yang sudah kosong kuteguk.
Aku mengambil ponsel, lalu mengirim pesan pada kak Wicak.
'Udah tidur?'
Cepat sekali, kak Wicak langsung meneleponku.
"Kakak belum tidur?" Tanyaku.
"Belum. Kamu udah selesai kerjanya ?"
"Lagi istirahat bentar. Apa aku ganggu?"
'Enggak. Aku lagi ngerjain tugas. Tapi agak jenuh, untunglah bisa ngobrol sebentar sama kamu.'
Aku tertawa mendengar ocehannya. "Aku memang peringan beban, ya? Sering-sering ketemu. Hehee." Aku sangat senang kak Wicak membutuhkanku. "Kak, aku sayang sama kakak." Ucapku tiba-tiba, karena aku memang merasa seperti itu.
"Aku juga sangat sayang padamu, Syahdu. Jaga diri, ya. Kalau gak keliatan seperti sekarang, aku khawatir sebenarnya."
"Haha, Apa sih, kak. Aku bukan anak-anak, tahu!"
Senyumku mendadak memudar saat dari belakang, ada tangan melintas dari bahuku meraih gelas di rak hadapanku. Aku dengan cepat menoleh ke belakang, ternyata Arga. Beberapa detik mata kami bertemu, sangat dekat.
Arga mengambil gelas, mengisi air lalu meneguknya.
"Kak, aku harus balik kerja. Nanti aku hubungi lagi." Ucapku dan langsung menyimpan ponsel.
"Kalau lagi sama gue, lo ga boleh ngubungin cowok lain." Tukasnya dan langsung pergi.
Aku diam sebentar, lalu mengikutinya berjalan menuju tempat tidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
may
Ya ampun😭
2023-12-06
0
Wirda Wati
lanjjuut
2023-10-25
0
ega
nunggu up, ku baca dari awal lagi 😀😀
2023-04-08
2