Berbohong

TRING

Aku merogoh ponsel di kantong rokku dan membaca pesan dari nomor baru.

'Jam 8 malam harus sudah di apartemenku.'

"Siapa?"

Aku langsung menyimpan ponsel. "Teman yang bahas tugas, kak. Ayo kita ke rumah sakit."

Kami menuju parkiran, walau aku bingung ngapain ke parkiran motor. Ternyata kak Wicak bawa motor matic.

"Motor siapa, kak?"

"Motorku."

"Lho, kakak punya motor?" Tanyaku lagi.

"Iya. Cepat naik."

Aku naik dan langsung melingkarkan tangan di pinggangnya.

Plak!

Kak Wicak memukul pelan tanganku yang memeluknya.

"Munduran!"

Aku terkekeh dan tak mendengarkan ucapannya. Tanganku semakin mengerat di pinggangnya dan aku bisa melihat senyumnya dari spion motor.

Aneh, ya? Padahal kami sudah 7 tahun bersama, tapi perasaan kami seperti orang yang baru jatuh cinta dan kak Wicak yang dingin dan tak banyak cerita itu, selalu bisa menempatkan diri saat bersamaku.

Kak Wicak memutar Spion depan mengarah padaku. Lalu dia tersenyum melihatku dari spion itu.

Motorpun berjalan keluar gedung Mall.

"Kak, kenapa selama ini naik taksi online? Kemarin-kemarin gak dibawa motornya?" Tanyaku dengan suara yang agak kencang.

"Kasian kamu, panas soalnya."

Aku tersenyum dan merapatkan pipiku di punggungnya. Ah, nyaman. Selama ini aku hanya bisa memeluk saja dan kak Wicak yang mencium keningku. Itupun jarang sekali. Untuk yang lain, kami tidak pernah melakukannya. Cium bibir saja tidak pernah, apalagi yang lain.

Lagi, aku kepikiran soal diriku yang sudah tidak perawan. Apa dia masih mau bersamaku? Apa dia mau menerimaku jika dia tahu? Huff.. aku terpaksa harus mencari alasan untuk keluar nanti malam.

"Kak, aku udah dapat kerjaan." Ucapku dengan ragu. Aku takut dia tahu kebohonganku.

"Kerja? Dimana?" Tanyanya sesekali melirik ke belakang melalui spion.

"Di.. sebuah kafe. Aku kerja part time kayak kakak."

"Kafe mana?"

Aku diam cukup lama, sebab aku tidak tahu daerah sini.

"Aku gak tau nama jalannya. Tapi gak jauh kok. Nanti malam aku mulai kerja." Jawabku bohong.

Kak Wicak tidak menjawab. Pandangannya fokus ke depan jalan sampai kami tiba di rumah sakit.

Aku menyandarkan lagi pipiku di punggungnya, tempat ternyamanku. Bagaimana pun aku berharap punggung inilah yang berjuang menafkahiku. Lalu jika ia tahu kalau aku sudah menjual diriku, apakah dia masih mau menerimaku?

Aku takut menerima kenyataan jika kak Wicak memilih pergi karena kecewa padaku. Tetapi aku pula harus menerima konsekuensi atas apa yang kulakukan. Mungkin pemikiranku sangat pendek, tapi kulakukan semua supaya nenek tetap berada disampingku.

Aku sangat berharap kak Wicak mau menerimaku karena aku melakukannya karena keterpaksaan. Bukan karena aku menyukainya. Maafkan aku, kak. Lagi-lagi, aku menangis sambil mempererat pelukanku. Aku bisa merasakan kak Wicak menoleh sekilas ke arahku.

*

"Kamu kenapa pindahin nenek ke ruang VIP?" Tanyanya saat kami berjalan di lorong rumah sakit.

Iya, aku lupa soal itu. Bagaimana caraku menjelaskannya?

"Sayang biayanya. Kan, seharusnya bisa meringankan kamu."

"Itu harganya beda sedikit kok, kak. Rumah sakit kasih keringanan karena nenek udah tua dan butuh kamar yang nyaman." Jawabku mengarang dan kak Wicak mengangguk saja.

Sampai di kamar, nenek sudah terjaga dan tengah menonton televisi.

"Syahdu, udah pulang kuliah?" Tanya nenek saat aku mencium punggung telapak tangannya.

"Udah, nek. Nenek gimana? Apa masih ada yang sakit?" Tanyaku serius.

"Enggak, cuma nenek bosan. Mau pulang aja rasanya." Keluhnya.

"Gak bisa, nek. Kondisi nenek belum memungkinkan. Kemungkinan nenek akan lama di rumah sakit."

"Kok, gitu? Biayanya bagaimana? Itu uang untuk biaya kuliah kamu, bukan rumah sakit nenek."

"Nek, Syahdu bekerja dan aku juga bekerja. Nenek jangan mikirin apapun kecuali kesehatan nenek, supaya nenek cepat keluar dari sini, ya?" Kak Wicak membantuku menjelaskan kepada nenek yang lagi-lagi mikirin biaya rumah sakit.

"Jadi kalian bekerja karena nenek? Aduh, sebenarnya nenek udah sembuh. Jalan juga bisa kok. Apa gak bisa minta dokter untuk izinkan nenek pulang besok? Apalagi ruangannya begini, lihat. Ada Tv, sofa, AC. Mahal kan, pasti?"

Aku bisa melihat dari ekor mataku, kak Wicak menatapku dengan serius.

"Nek, sebenarnya rumah sakit ini punya teman Syahdu. Jadi, waktu Syahdu cerita ada nenek di rumah sakit ini, dia langsung bilang kalau rumah sakit ini milik orang tuanya. Jadi, dia kasih keringanan sama kita."

"Yang benar? Hebat temanmu. Kapan-kapan bawa kemari, ya. Nenek mau kenalan dan ucapkan terima kasih langsung." Kata nenek yang mulai terlihat lebih tenang.

Aku menatap kak Wicak dengan kaku, bagaimana bisa aku berbohong seperti itu.

Setelah nenek makan dan minum obat, tak lama diapun tertidur. Kak Wicak menarik tanganku keluar ruangan.

"Pintar bohong sekarang!"

Aku menghela napas berat. Bagaimana ya, aku tidak ada cara untuk buat nenek tenang.

"Mau gimana lagi.." jawabku lesu.

"Kerja jam berapa? Biar aku antar."

"Eh, gak usah kak. Aku sendiri aja soalnya mau singgah ke rumah teman dulu. Mau pergi bareng." Elakku.

"Begitu? Ya sudah. Aku pulang, ya." Kak Wicak mengelus lembut rambutku dan melangkah menuruni tangga.

Aku harus menunggu beberapa menit sampai kira-kira kak Wicak keluar dari rumah sakit, baru aku menuju apartemen Arga.

Kulirik jam, masih ada satu jam. Akupun mandi di kamar nenek, bersiap untuk pekerjaan tak halalku.

...🍁...

Aku berjalan santai dengan masker dan topi di lorong menuju apartemen Arga. Lalu ponselku berdering. Pesan masuk dari Arga.

'722712 paswordnya.'

TRING! Pesan masuk lagi dari kak Wicak.

'Selamat bekerja, Syahduku. Love you.'

Aku membeku. Bagaimana mungkin kau menyemangatiku untuk pekerjaan seperti ini, kak. Aku berjalan lagi tanpa membalas pesan kak Wicak. Rasa sangat bersalah masih terus mengalir dalam diriku. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Aku menekan sandi dan langsung masuk. Apartemen Arga masih rapi, sepertinya dia tidak ada di dalam. Lalu, mengapa dia memintaku datang?

Aku tidak tahu harus apa, sebab aku juga sudah mandi dari rumah sakit. Aku langsung mengeluarkan buku yang baru kubeli tadi. Membaca novel romansa best seller yang sepertinya seru.

Baru membaca beberapa lembar, suara pintu terbuka membuatku menoleh ke belakang. Arga masuk dengan jeket hitam dan menyandang gitar di punggungnya.

Aku berdiri menyambutnya, tapi dia seperti tak melihatku. Dia meletakkan gitarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

Aku menaikkan bahu tanda tak peduli dan melanjutkan bacaanku sampai aku merasa kantuk menguasai mataku. Aku menyandarkan kepala hingga tak sadar ternyata aku ketiduran.

Aku terbangun saat mendengar suara ketikan di atas keyboard. Kulihat Arga duduk di seberangku. Banyak berkas yang berserak di atas meja, matanya menatap layar laptop dan terus mengetik sesuatu disana.

"Udah bangun?" Tanyanya tanpa menoleh padaku.

"Maaf, aku ketiduran." Ucapku sedikit takut.

"Sana." Matanya memerintahku menuju tempat tidur. Aku langsung mengerti.

Memang ini bukan yang pertama, tapi rasa gemetarku masih saja sama.

Aku lihat dia menutup laptop dan bergerak ke arah tempat tidur.

Saat aku berdiri karena bingung, dia malah langsung merebahkan tubuh, menarik selimut dan memiringkan tubuh.

Eh? Apa dia tidak menginginkannya? Aku senang, mungkin dia lelah dan memilih tidur. Walau aku bingung untuk apa dia memanggilku jika begitu?

"Tidur. Besok masuk pagi." Ucapnya.

Aku naik ke atas tempat tidurnya yang sangat empuk itu. Lalu merebahkan diri, menatap langit-langit yang putih.

Entah mengapa diriku terasa berbeda dari biasa. Aku tidak merasa lega dan bebas, kini seperti ada beban dan leherku terasa diikat.

Aku tidak bisa tidur. Kulihat Arga membelakangiku, apakah dia sudah tidur? Entahlah.

Aku bangkit menuju dapur. Rasanya kerongkonganku kering sekali. Apalagi satu tempat tidur bersama orang yang tidak aku kenal, rasanya nano-nano.

Lain cerita kalau itu kak Wicak. Apa yang terjadi ya, jika kak Wicak dan aku tidur bersama? Tanpa ku sadari aku tersenyum sambil memegang gelas yang sudah kosong kuteguk.

Aku mengambil ponsel, lalu mengirim pesan pada kak Wicak.

'Udah tidur?'

Cepat sekali, kak Wicak langsung meneleponku.

"Kakak belum tidur?" Tanyaku.

"Belum. Kamu udah selesai kerjanya ?"

"Lagi istirahat bentar. Apa aku ganggu?"

'Enggak. Aku lagi ngerjain tugas. Tapi agak jenuh, untunglah bisa ngobrol sebentar sama kamu.'

Aku tertawa mendengar ocehannya. "Aku memang peringan beban, ya? Sering-sering ketemu. Hehee." Aku sangat senang kak Wicak membutuhkanku. "Kak, aku sayang sama kakak." Ucapku tiba-tiba, karena aku memang merasa seperti itu.

"Aku juga sangat sayang padamu, Syahdu. Jaga diri, ya. Kalau gak keliatan seperti sekarang, aku khawatir sebenarnya."

"Haha, Apa sih, kak. Aku bukan anak-anak, tahu!"

Senyumku mendadak memudar saat dari belakang, ada tangan melintas dari bahuku meraih gelas di rak hadapanku. Aku dengan cepat menoleh ke belakang, ternyata Arga. Beberapa detik mata kami bertemu, sangat dekat.

Arga mengambil gelas, mengisi air lalu meneguknya.

"Kak, aku harus balik kerja. Nanti aku hubungi lagi." Ucapku dan langsung menyimpan ponsel.

"Kalau lagi sama gue, lo ga boleh ngubungin cowok lain." Tukasnya dan langsung pergi.

Aku diam sebentar, lalu mengikutinya berjalan menuju tempat tidur.

Terpopuler

Comments

may

may

Ya ampun😭

2023-12-06

0

Wirda Wati

Wirda Wati

lanjjuut

2023-10-25

0

ega

ega

nunggu up, ku baca dari awal lagi 😀😀

2023-04-08

2

lihat semua
Episodes
1 Syahduku
2 Kuliah Pertama
3 Menawarkan Kontrak
4 Ttd Kontrak!
5 Let's Start
6 Virgin
7 Tak saling kenal.
8 Perintah Kedua
9 Berbohong
10 Sarapan Bareng
11 Satu Kelompok
12 Persetan Rasa Malu!
13 Antara Malu dan Bodoh
14 Obrolan Grup
15 Fakta Baru
16 Semakin Menyesal
17 Perpembalutan
18 Anak Pemilik Rumah Sakit
19 Berbelanja Kebutuhan
20 Naik Kelas
21 Pesta Kelas Atas
22 Suara Syahdu
23 Main Solo
24 Naik dulu!
25 Berpapasan
26 Rooftop Apartemen
27 Aku pemenang?
28 Musim Semi di hati Syahdu
29 Weekend bersama Wicak
30 NightCafe
31 Patah Hati Pertama
32 Sadar
33 Meminta Maaf
34 Sadar Ditatap
35 Ketemu Oma
36 Ke Apartemen Arga
37 Curiga
38 Ketahuan Wicak
39 Kepercayaan pada Syahdu
40 Ikat Rambut
41 Perjalanan ke Pulau
42 You and Sunset!
43 Sorot Mata Syahdu
44 Efek Film Horor
45 Menahan Hasrat
46 Calon Tunangan Arga
47 Keputusan Syahdu
48 Happy Birthday, Syahdu.
49 Putus tanpa Alasan.
50 Rencana Kemah
51 Alasan putus
52 Pesta untuk Syahdu
53 Kebahagiaan Nenek
54 Tidak berniat Nikah.
55 Berbeda Prinsip
56 Perasaan diatas Cinta
57 Hadiah ulang Tahun
58 Packing
59 Gara-gara telefon
60 Obrolan Panjang
61 Belajar Masak
62 Nasi Bekal
63 Susu Stroberi
64 Salah Kirim
65 Makan malam
66 Tunangan Arga?
67 Hamil, kali.
68 Perkelahian Arga dan Awan
69 Prinsip Arga
70 Masalah yang tak terselesaikan
71 Penjelasan Arga
72 Berita Buruk
73 Desas-Desus Rumah Sakit
74 Kebohongan Yang Panjang
75 Kedatangan sang Mami
76 Curahan Hati Perempuan
77 Penghapusan Gosip
78 Membeli Testpack
79 Menebus Obat
80 Cek ke Dokter
81 Berencana Lari
82 Kegelisahan Arga
83 Soraya atau Syahdu?
84 Syahdu Pingsan
85 Sop untuk Syahdu
86 Kesembuhan Syahdu
87 Kehadiran Soraya
88 Undangan Makan Malam
89 Senyum Lebar Arga
90 Why don't you stay?
91 Pindah Kamar
92 Salah Paham Awan
93 Nyanyi dipanggung
94 Ketahuan Naya
95 Kasus Pemerkosaan
96 Dibalik Perlindungan Wicak
97 Menguak Rahasia Syahdu
98 Kata Pengantar Skripsi Wicak
99 Gosip yang Beredar
100 "Tetap Disini"
101 Ancaman Soraya
102 Bukan Cinta Biasa
103 Bolos Sama-sama
104 Lelaki disamping Syahdu
105 Melawan Balik
106 Menentukan Pertunangan
107 Penjelasan Riska
108 Pertunangan Bulan Depan
109 Ancaman sang Ayah
110 Arga hanya Akan Menikah dengan...
111 I am not a Slut!
112 Terhinakan oleh Status
113 Kepergian Suriani
114 Bunuh Diri
115 Berusaha Jujur pada Wicak
116 Perpisahan
117 Pengakuan dan Kejujuran Syahdu
118 Pamit Syahdu
119 Menerima Syahdu Kembali
120 Masa Kritis
121 Kondisi Terbaru Wicak
122 Kehilangan Kedua Kali
123 Satu-satunya Janji yang Ditepati Wicak
124 Harapan Baru
125 Engangement Invitation
126 Secercah Harapan
127 Saat ingin Memulai Hidup Baru...
128 5 Hari Lagi~
129 Trauma dan Luka Batin
130 Mimpi Nyata
131 Kenyataan Baru bagi Arga
132 Sisi Lain Arga
133 Malam Hangat untuk Pertama Kalinya
134 Happy Birthday, Arga.
135 Menunggu Syahdu Kembali
136 Kehidupan Baru Arga
137 Kehidupan Baru Syahdu
138 Tak Segampang Itu...
139 Tergalinya Masa Lalu
140 Munculnya Rasa Bersalah di Hati Syahdu
141 Kisah Yang Mungkin Akan Berakhir
142 Memantapkan Hati Untuk Kembali
143 Bertamu ke Makam Wicak
144 Reuni Kelas
145 Bertemu Setelah Sekian Lama
146 Memori yang Masih Melekat
147 Pelukan Rindu Yang Sangat Erat
148 Keputusan Akhir Karir
149 Marry Me, Syahdu.
150 Bertemu Adik Arga
151 Beban Terberat Syahdu
152 Gangguan Stres Pascatrauma
153 Lelaki Pilihan Wicak
154 Netflix and Chill
155 And Chill~
156 Melamar Syahdu
157 Melanjutkan Karir Arga
158 Syahdu Balik Ke Desa
159 Pembicaraan Terakhir dengan Arif
160 Hot News Paparazi
161 Membatalkan Semua Jadwal Demi Syahdu
162 Menuju Desa Bebatu
163 Drama Perjalanan Desa Bebatu
164 Mempersunting
165 Gosip Baru
166 Sanggahan Langsung
167 Meminta Restu Margareth
168 Ziarah
169 Konseling
170 Pertemuan dengan Julia
171 Ujian Pranikah (1)
172 Ujian Pranikah (2)
173 Ujian Pranikah (3)
174 Perubahan Sikap Syahdu
175 Menahan Keinginan Demi Arga
176 The End of The Long Story
177 ExtraBab - Kehamilan Syahdu Menjadi Berita Baik
178 ExtraBab - Cerita Masa Lalu
179 ExtraBab - Karena Rokok
180 ExtraBab - Potong Rambut
181 ExtraBab - Ngidam
182 ExtraBab - Arga Junior
183 ExtraBab - Perencanaan Panti
184 RelationSHIT!
185 ExtraBab - BIG HUG
186 What If - Arsya Besar
187 What If - Selesai Kontrak
188 What If - Syahdu Tidak Kabur
189 SEPUPUKU, CANDUKU
Episodes

Updated 189 Episodes

1
Syahduku
2
Kuliah Pertama
3
Menawarkan Kontrak
4
Ttd Kontrak!
5
Let's Start
6
Virgin
7
Tak saling kenal.
8
Perintah Kedua
9
Berbohong
10
Sarapan Bareng
11
Satu Kelompok
12
Persetan Rasa Malu!
13
Antara Malu dan Bodoh
14
Obrolan Grup
15
Fakta Baru
16
Semakin Menyesal
17
Perpembalutan
18
Anak Pemilik Rumah Sakit
19
Berbelanja Kebutuhan
20
Naik Kelas
21
Pesta Kelas Atas
22
Suara Syahdu
23
Main Solo
24
Naik dulu!
25
Berpapasan
26
Rooftop Apartemen
27
Aku pemenang?
28
Musim Semi di hati Syahdu
29
Weekend bersama Wicak
30
NightCafe
31
Patah Hati Pertama
32
Sadar
33
Meminta Maaf
34
Sadar Ditatap
35
Ketemu Oma
36
Ke Apartemen Arga
37
Curiga
38
Ketahuan Wicak
39
Kepercayaan pada Syahdu
40
Ikat Rambut
41
Perjalanan ke Pulau
42
You and Sunset!
43
Sorot Mata Syahdu
44
Efek Film Horor
45
Menahan Hasrat
46
Calon Tunangan Arga
47
Keputusan Syahdu
48
Happy Birthday, Syahdu.
49
Putus tanpa Alasan.
50
Rencana Kemah
51
Alasan putus
52
Pesta untuk Syahdu
53
Kebahagiaan Nenek
54
Tidak berniat Nikah.
55
Berbeda Prinsip
56
Perasaan diatas Cinta
57
Hadiah ulang Tahun
58
Packing
59
Gara-gara telefon
60
Obrolan Panjang
61
Belajar Masak
62
Nasi Bekal
63
Susu Stroberi
64
Salah Kirim
65
Makan malam
66
Tunangan Arga?
67
Hamil, kali.
68
Perkelahian Arga dan Awan
69
Prinsip Arga
70
Masalah yang tak terselesaikan
71
Penjelasan Arga
72
Berita Buruk
73
Desas-Desus Rumah Sakit
74
Kebohongan Yang Panjang
75
Kedatangan sang Mami
76
Curahan Hati Perempuan
77
Penghapusan Gosip
78
Membeli Testpack
79
Menebus Obat
80
Cek ke Dokter
81
Berencana Lari
82
Kegelisahan Arga
83
Soraya atau Syahdu?
84
Syahdu Pingsan
85
Sop untuk Syahdu
86
Kesembuhan Syahdu
87
Kehadiran Soraya
88
Undangan Makan Malam
89
Senyum Lebar Arga
90
Why don't you stay?
91
Pindah Kamar
92
Salah Paham Awan
93
Nyanyi dipanggung
94
Ketahuan Naya
95
Kasus Pemerkosaan
96
Dibalik Perlindungan Wicak
97
Menguak Rahasia Syahdu
98
Kata Pengantar Skripsi Wicak
99
Gosip yang Beredar
100
"Tetap Disini"
101
Ancaman Soraya
102
Bukan Cinta Biasa
103
Bolos Sama-sama
104
Lelaki disamping Syahdu
105
Melawan Balik
106
Menentukan Pertunangan
107
Penjelasan Riska
108
Pertunangan Bulan Depan
109
Ancaman sang Ayah
110
Arga hanya Akan Menikah dengan...
111
I am not a Slut!
112
Terhinakan oleh Status
113
Kepergian Suriani
114
Bunuh Diri
115
Berusaha Jujur pada Wicak
116
Perpisahan
117
Pengakuan dan Kejujuran Syahdu
118
Pamit Syahdu
119
Menerima Syahdu Kembali
120
Masa Kritis
121
Kondisi Terbaru Wicak
122
Kehilangan Kedua Kali
123
Satu-satunya Janji yang Ditepati Wicak
124
Harapan Baru
125
Engangement Invitation
126
Secercah Harapan
127
Saat ingin Memulai Hidup Baru...
128
5 Hari Lagi~
129
Trauma dan Luka Batin
130
Mimpi Nyata
131
Kenyataan Baru bagi Arga
132
Sisi Lain Arga
133
Malam Hangat untuk Pertama Kalinya
134
Happy Birthday, Arga.
135
Menunggu Syahdu Kembali
136
Kehidupan Baru Arga
137
Kehidupan Baru Syahdu
138
Tak Segampang Itu...
139
Tergalinya Masa Lalu
140
Munculnya Rasa Bersalah di Hati Syahdu
141
Kisah Yang Mungkin Akan Berakhir
142
Memantapkan Hati Untuk Kembali
143
Bertamu ke Makam Wicak
144
Reuni Kelas
145
Bertemu Setelah Sekian Lama
146
Memori yang Masih Melekat
147
Pelukan Rindu Yang Sangat Erat
148
Keputusan Akhir Karir
149
Marry Me, Syahdu.
150
Bertemu Adik Arga
151
Beban Terberat Syahdu
152
Gangguan Stres Pascatrauma
153
Lelaki Pilihan Wicak
154
Netflix and Chill
155
And Chill~
156
Melamar Syahdu
157
Melanjutkan Karir Arga
158
Syahdu Balik Ke Desa
159
Pembicaraan Terakhir dengan Arif
160
Hot News Paparazi
161
Membatalkan Semua Jadwal Demi Syahdu
162
Menuju Desa Bebatu
163
Drama Perjalanan Desa Bebatu
164
Mempersunting
165
Gosip Baru
166
Sanggahan Langsung
167
Meminta Restu Margareth
168
Ziarah
169
Konseling
170
Pertemuan dengan Julia
171
Ujian Pranikah (1)
172
Ujian Pranikah (2)
173
Ujian Pranikah (3)
174
Perubahan Sikap Syahdu
175
Menahan Keinginan Demi Arga
176
The End of The Long Story
177
ExtraBab - Kehamilan Syahdu Menjadi Berita Baik
178
ExtraBab - Cerita Masa Lalu
179
ExtraBab - Karena Rokok
180
ExtraBab - Potong Rambut
181
ExtraBab - Ngidam
182
ExtraBab - Arga Junior
183
ExtraBab - Perencanaan Panti
184
RelationSHIT!
185
ExtraBab - BIG HUG
186
What If - Arsya Besar
187
What If - Selesai Kontrak
188
What If - Syahdu Tidak Kabur
189
SEPUPUKU, CANDUKU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!