...PoV Author...
Beberapa hari telah berlalu. Belakangan, Arga semakin sering minta Syahdu melayaninya. Bahkan kemarin Arga meminta Syahdu pulang cepat di siang hari hanya untuk melakukan itu. Padahal waktu senggang hanya satu jam sampai kelas berikutnya. Walau melelahkan, nyatanya Syahdu tidak bisa menolak keinginan tuannya itu.
Begitu juga tadi malam. Padahal Syahdu tengah belajar untuk presentasi mereka, tetapi Arga menyuruhnya melakukan ini itu dengan berbagai macam gaya yang membuat tubuhnya remuk. Walau setelahnya Arga juga ikut belajar disebelahnya. Syahdu terus menguap padahal baru pukul 9 malam karena dari siang tadi, Arga sudah minta dan terus diulang, sampai Syahdu tak punya tenaga lagi untuk belajar dan akhirnya ketiduran di atas sofa, Arga pun mengangkatnya ke tempat tidur.
"Hei, melamun terus perasaan." Dina duduk disebelah Syahdu. "Nih, makalahnya udah jadi. Udah belajar kan, lo."
Syahdu mengangguk lemas dan menerima makalah yang dia berikan.
"Yang lain mana, ya? Kita presentasi pertama, nih." Kata Adina sambil melihat jam di tangannya.
Tak lama, Alika, Naya, dan Arga datang bersamaan.
"Haai.." sapa Naya dengan senyum lebar, sementara Adina langsung menyerahkan makalah yang sudah di kopi-nya satu persatu untuk teman kelompoknya.
"Tumben datang bertiga." Kata Ibra yang baru datang juga.
"Iya, Arga yang jemput." Jawab Naya sambil tersenyum cerah.
Sementara Arga menatap Syahdu yang bertopang dagu sambil dengan malas membolik-balik makalah dengan satu tangannya.
"Lemes banget, Ras. Masih pagi, nih. Kaya abis ngerawat anak sepuluh lo." Ucap Alika pada Syahdu yang mendongak lalu tersenyum malas.
"Aduh, ini gimana? Harus banget ngomong pake bahasa inggris?" Celoteh Naya dan Adina dengan cepat mengangguk.
"Bagian lo kan, udah gue kasih. Lo pelajari, kan?" Tanya Adina lagi.
"Udah, sih. Tapi ga paham gue." Jawabnya sambil garuk-garuk kepala.
Miss Lora masuk, semua mahasiswa langsung duduk.
"Let's start, dear. Siapa kelompok pertama?"
Tangan Adina mengacung. Lalu mereka semua ke depan untuk mempresentasikan isi makalah mereka.
Arga sebagai peran utama, yang paling banyak ngomong dan menjelaskan, berhasil menarik perhatian teman-teman lainnya. Entah karena memang bahasa inggrisnya yang lancar dan terdengar menyenangkan, atau karena dia tampan, atau mungkin juga memang isi dari makalah tersampaikan dengan baik, entahlah. Yang jelas, dia sangat membantu.
Naya, terus menatap Arga sampai bibirnya terbuka. Rasa takjubnya kian menambah saat mendengar Arga berbicara.
"Keren banget." Gumamnya sambil tersenyum.
Syahdu yang mendengar itu langsung menoleh pada Naya yang tak henti menatap Arga. Dia tahu, Naya sangat menyukai lelaki itu. Rasanya ingin sekali Syahdu mengetuk jidat Naya dan bilang, 'Halo, Naya. Berhentilah mengagumi orang itu. Dia sama sekali tidak sekeren yang kau pikirkan!' Tapi dia tidak bisa melakukannya.
Arga membuka sesi tanya jawab dan mendapatkan 5 pertanyaan.
"Buset! Banyak banget." Tukas Ibra.
Adina dan Arga membantu menjawab pertanyaan dengan menuliskannya di atas kertas supaya teman-temannya bisa menjawab sambil membaca di kertas itu.
"Pertanyaan terakhir gue ga ngerti. Lo jawab ya, Nay." Kata Adina dan dia langsung berdiri untuk menjawab pertanyaan pertama.
Pertanyaan kedua, Alika yang menjawab. Lalu Ibra dan Arga hingga terakhir, Naya yang belum bekerja apa-apa menolak untuk menjawab pertanyaan terakhir.
"Duh, jangan gue, please. Gue tau kok jawabannya, tapi cara ngomongnya itu, loh."
"Ya lo harus maju, dong. Kan, bagian lo tadi udah digantiin Laras." Tukas Adina mulai kesal.
"Aduh, jadi gimana? Ga berani gue.." Naya mulai panik.
"Ibra, Lo aja gimana?" Kata Naya mengoper.
"Gue gatau jawabannya." Bisiknya ikut panik saat namanya disebut.
Syahdu menghembuskan napas kasar, lalu mengikat rambutnya asal, dan berdiri.
"The last question will be answered by me, Syahdu Larasti. The question was asked by..... and based on what experts found about...."
Syahdu menjawab tanpa membaca teks, dia mengeluarkan apa yang ia ketahui dan itu ditangkap Arga dengan senyum kecil. Dia melihat Syahdu yang berdiri di depannya dengan sedikit rasa bangga. Entah mengapa, ternyata teman tidurnya itu anak yang pintar dan bahasa inggrisnya juga bagus.
Helaan napas lega terdengar dari mulut Naya saat Arga menutup presentasi mereka dan miss Lora pun meninggalkan kelas.
"Makasih banget loh, Ras. Gue ga nyangka lo jago banget kaya gitu. Lancar banget bahasa inggris lo." Naya menggenggam tangan Syahdu.
Syahdu hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Tapi, lo gapapa, Ras? Muka lo pucat banget." Kata Naya lagi.
Syahdu mengusap wajahnya. "Engga, ga papa."
Merekapun bubar. Begitu juga dengan Syahdu yang keluar kelas menuju toilet, lalu disusul Arga.
"Lo mau pulang?"
Syahdu berhenti, dia melihat Arga berjalan mendekat. Pikirannya tak bisa ke hal lain selain Segs saat melihat Arga. Kedatangan lelaki itu juga pasti menginginkan itu, kan?
Syahdu menoleh kiri dan kanan untuk memastikan bahwa tak akan ada orang yang mendengar ucapannya ini.
"Aku udah ga punya tenaga lagi. Bisa gak, kasih aku waktu sebelum melakukannya." Kata Syahdu dengan nada yang memelas pada Arga.
Arga pula merasa bersalah. Dia melihat Syahdu memang memucat. Tapi dia sendiri pun tidak mengerti, kenapa gairahnya memuncak saat melihat Syahdu.
"Aduh.."
Syahdu menyilangkan kakinya lalu bersandar ke tembok di belakangnya.
"Kenapa?" Tanya Arga.
"Kayaknya aku haid." Ucap Syahdu pelan sementara Arga mengerutkan alis. "Bisa gak, ambilin tas aku."
"Emang kalo lo haid, ga bisa jalan?" Tanyanya heran dan Syahdu bingung cara menjelaskannya.
"Syahdu."
Ah, Syahdu merasa lega saat Wicak datang.
"Kenapa?" Tanyanya lalu menoleh pada Arga.
"Eemm.. biasa, kak." Jawab Syahdu dan Wicak tampak tersenyum kecil.
"Bentar, ya." Wicak mengelus rambut Syahdu dan langsung pergi lagi.
Tak lama, Adina, Naya, dan Alika datang.
"Ras, kenapa lo?" Tanya Alika yang melihat Syahdu bersandar sambil menyentuh perutnya.
"Kram perut." Jawabnya singkat dan ketiga cewek itu seketika mengerti.
"Gue ada, nih." Tukas Adina. Namun, Wicak segera datang.
"Ini, cepat ganti."
Semua melongo melihat Wicak memberikan sebungkus pembalut pada Syahdu secara terang-terangan. Syahdu langsung mengambilnya dengan cepat karena menyadari reaksi teman-temannya.
Wicak membuka jeketnya dan langsung melingkarkannya di pinggang Syahdu.
"Ayo." Wicak menggenggam tangan Syahdu menuju toilet wanita. Meninggalkan teman-temannya yang masih tercengang.
"Daebaak! Keren banget cowok Laras." Tukas Alika menggelengkan kepala tak percaya.
"Iya, kan? Ya ampun, mana ada cowok kaya gitu." Sambung Adina lagi.
"Ck, apa sih. Biasa aja, kali. Kalau cowok udah sayang, pasti melakukan apa aja demi ceweknya. Ya gak, Ga?"
Naya melihat Arga yang masih menatap ke arah Syahdu menghilang di persimpangan lorong.
"Engga juga. Bokap gue pernah disuruh nyokap beli gituan, dia nolak. Nyuruh pembantu yang beliin. Malu katanya." Jelas Alika lagi. "Makanya, gue salut banget sama pacar Laras. Iri gue."
"Level sayangnya pacar Laras udah di atas banget sampe ga malu beli gituan buat ceweknya. Semoga aja gue bisa nemu cowok kaya gitu." Tukas Adina.
Arga berbalik badan, dia memilih pergi daripada mendengarkan ocehan gadis-gadis itu tentang perpembalutan.
Dia tidak tahu kalau hal yang demikian itu dianggap sesuatu yang luar biasa oleh perempuan. Padahal kalau aja tadi Syahdu menyuruhnya, pasti dia juga menolak keras. Malulah. Malah dia terheran-heran saat kekasih Syahdu berani membelikannya.
Tapi seperti yang Dina dan Alika bilang, level perasaan laki-laki itu pasti udah diatas, makanya dia tidak punya rasa malu lagi membeli itu untuk Syahdu.
Arga sendiri bisa melihat itu. Cara lelaki itu memperlakukan Syahdu. Dia sudah sangat paham bahkan saat Syahdu belum mengatakannya.
Arga masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan AC. "Kenapa gerah, ya." Ucap Arga dan menjalankan mobil menuju apartemennya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
may
Mas arga cemburu nihye🤭
2023-12-06
0
Ihza
cemburu bil bos
2023-11-07
0
Maya Ellydarwina
syahdu nya harus tetap sama Wicak ya Thor 🙏
2023-10-26
0