Ch 8: Wanita keturunan Jepang

Pagi hari seperti biasa, Yayan telah bersiap pergi ke kantornya.

[Misi dikonfirmasi]

[Ke kantor dengan jalan kaki]

[Reward : 1 poin kekuatan, 1 poin kesehatan]

"Hmm ... Misi berjalan kaki lagi. Apakah ini misi yang sama seperti kemarin?"

[Benar, host. Anda akan selalu diingatkan untuk mengerjakan misi yang belum diselesaikan. hadiahnya juga akan bertambah]

"Begitu ya. Yah, tapi aku tak berniat mengerjakannya untuk sekarang. Aku akan telat jika berjalan kaki."

[Hak host untuk menjalankan misi atau tidak]

Yayan selanjutnya berangkat dengan motor kesayangannya, telah menjadi saksi perjalanan cintanya dengan Yani yang berujung tragis.

Keadaan ibukota pada pagi hari tidak bisa terpisahkan dari image macet. Yayan kali ini harus melalui beberapa jalur tikus agar tidak terjebak dalam kemacetan.

Setengah jam perjalanan, Yayan akhirnya sampai tepat waktu.

[Ada seseorang wanita yang mendekati Anda, jarak 50 meter]

System menampilkan panel antar muka seperti maps. Yayan dengan disimbolkan titik berwarna biru, sedangkan yang diidenfikasi sebagai wanita disimbolkan dengan titik berwarna merah.

Ada belasan bulatan merah di dekat Yayan. Salah satunya sedang mendekat ke arahnya, semakin lama semakin cepat.

"Hoh, seseorang yang baru masuk kerja, anak baru, kah?" gumam yayan.

Namun, setelah dipikir-pikir, anggapan Yayan keliru. Tidak mungkin juniornya adalah seseorang wanita dengan mobil mewah keluaran terbaru. Sementara itu, ada mobil-mobil lain yang menguntit di belakang.

'Hei, system. Kenapa GPS wanita baru aktif sekarang?'

[Ada beberapa alasan, Host]

'Apa itu?'

[System sebetulnya secara otomatis mendeteksi wanita yang kemungkinan adalah tipe Anda]

'Oh, ternyata kau lebih memprioritaskan hal itu, ya? Hmmm ... Tapi, kau sepertinya salah. Aku jelas-jelas tak menyukai dirinya.'

[Baik, Host]

Yayan lalu masuk ke dalam gedung kantor, mengacuhkan seorang wanita yang kemungkinan punya status tinggi itu.

Jika Yayan masuk ke dalam, maka sebaliknya, para pegawai lain berhamburan keluar. Dia tak sengaja bertemu dengan Vina di sana.

"Vina, kau hari ini berangkat? Apa tak sebaiknya izin saja. Lukamu itu ...."

"Tidak apa-apa. Aku ini pegawai yang profesional dan kompeten. Badai sekalipun akan kuterjang, jadi luka kecil seperti ini hanya bagaikan kerikil di pinggir jalan," ucap Vina penuh dengan intonasi dan penghayatan. Jika begitu, Vina bisa dipastikan sudah baik-baik saja.

Namun, Yayan masih merasa bersalah.

"Maaf. Untuk yang kemarin, Vin."

"Yah, tidak apa-aapa. Itu bukan salahmu." Vina tersenyum, begitu juga dengan Yayan.

Dia kemudian celingukan melihat seisi lobi lantai satu.

"Woi, sepi banget! Apa pengaruh wanita di depan itu sangat besar? Siapa dia?" tanya Yayan keheranan.

"Hei, hei. Kau sungguh tak tahu? Kudet amat?!" cibir Vina.

"jika dia memang terkenal, aku harusnya sudah tau. Tapi, kenyataannya …." ucap Yayan mengangkat bahunya.

"Hoh, dasar! Dia itu anak tirinya Pak Kafi!"

"What? Sejak kapan Pak Kafi menikah? Dengan janda siapa dia menikah?"

Vina mencubit pipi Yayan karena gemas. “Jangan keras-keras, itu tidak sopan!? Selain itu …. aku sungguh mempertanyakan daya ingatmu itu."

Yayan berusaha membongkar ingatannya. Butuh beberapa saat untuk menemukan ingatan yang cocok.

"Oke, oke, aku baru jngat. Pak Kafi ternyata menikah dengan seorang wanita keturunan Jepang yang katanya adalah seorang politisi terkenal.“ Yayan menjabarkan apa yang diketahuinya.

"Huh, baru ingat. Kau belum jadi kakek-kakek kan?"

"Tentu saja bukan. Tapi, kenapa semua orang begitu antusias pada anak tiri Pak Kafi?“

Vina menghela nafas dengan malas, ia begitu jengkel dengan sifat lemotnya Yayan. Wanita itu menunjuk wajahnya yang memasang tampang tidak bersemangat.

Yayan akhirnya pun mengerti. “Oh, hmm … ya, cantik, sih.“

“Kau juga mengakuinya, 'kan?“

“Aku sudah mengakuinya dari dulu. Kau memang cantik, kok——”

Plak ….

Vina menampar punggung Yayan dengan tangan kirinya, sebelah kanan sedang terluka. “Bukan itu maksudku!“ geramnya.

“Huh, ya, ya … aku cuma bercanda. Anak tirinya Pak Kafi memang cantik, tapi aku tidak akan menjadi penjilat pada orang dengan tampang sempurna atau kuasa besar,” jawab Yayan.

“Eh? Maksudmu?“ respon Vina dengan bingung.

“Lupakan, tidak usah dipikirkan!“

Si anak dari bos perusahaan lalu masuk ke dalam gedung kantor, dibuntuti oleh rombongan pawainya. Wanita itu mengangguk pada Yayan dan Vina. Mereka sebagai karyawan lantas balas menyapanya.

“Selamat pagi, Nona Nazuna!“ ucap Vina, Yayan hanya membuka mulutnya. Dia tidak tahu nama anak dari bos besarnya sendiri.

Sejujurnya memasang senyum palsu itu melelahkan. Namun, jika tidak cari muka pada orang berkuasa, mereka tidak mungkin bisa mengais susuap nasi.

“Hei, kenapa Nona Nazuna ke sini? Ada sesuatu?“ tanya Vina pada salah seorang karyawan laki-laki.

“Hmm … mungkin untuk melihat-lihat. Dia, kan yang pasti akan menjalankan perusahaan setelah Pak Kafi pensiun. Itu alasannya menikah dengan seorang janda.“ Ia berucap semakin pelan diakhir dan celingukan memerhatikan sekitar.

“Oh, begitu, ya?“

Setelahnya, semua orang bekerja seperti biasa. Tidak ada kejadian yang menarik sampai istirahat makan siang.

.

.

.

.

Waktu makan siang tiba, semua orang rehat dari pekerjaannya kecuali bagi orang-orang yang nanggung untuk menyelesaikan tugasnya. Yayan termasuk orang-orang yang nanggung, dia kini masih berkutat di depan komputer, sementara yang lainnya sudah pergi untuk makan siang.

Meskipun begitu, Yayan nampak santai dalam mengerjakannya, tidak ada kesan buru-buru.

Sampai setelah beberapa menit bening dan hanya ada bunyi ketukan keyboard, terdengar suara langkah dari sepatu dengan hak tinggi mendekat ke ruangan Yayan.

[Nazuna sedang menuju ke arah Host. Jarak 8 meter]

'Hmm ... kenapa wanita itu ke sini?' bingung Yayan, dia tidak mau ambil pusing. Memilih bersikap cuek. Yayan berpikir bahwa wanita itu hanya ingin melihat-lihat.

Pintu dibuka, di sana ada anak dari bos perusahaan, Nazuna Rukawa. ia terkejut melihat keberadaan Yayan yang nampak di sebalik bilik kerjanya yang tidak lumayan tinggi, yang tidak peduli dengan keberadaan Nazuna.

"Aku a-apa menganggu?" ucap Nazuna dengan bahasa Indonesia yang sedikit berantakan.

"Tidak, Rukawa-san ... ada keperluan apa ke sini?" ucap Yayan menambahkan honorifik yang biasanya digunakan untuk seseorang yang baru dikenal, budaya di Jepang.

Yayan begini-begini adalah seorang yang gemar menonton anime. Dia tahu bahwa memanggil seseorang dengan nama depan cenderung kurang sopan bila belum terlalu akrab. Namun, Nazuna kini berada di Indonesia, jelas budayanya telah berbeda, wanita itu pun mengerti. Yayan sebetulnya tidak masalah memanggil wanita itu dengan nama depannya.

Nazuna mengeluarkan ponsel, menggunakan mesin translate. Ia masih dalam tahap di mana sudah mengerti apa yang diucapkan lawan bicara, namun susah untuk mengucapkannya sendiri.

"Aku di sini untuk istirahat, menghindari orang-orang." Nazuna membaca hasil terjemahan kalimat yang dia masukan.

Yayan cuma ber-oh, nampak tidak tertarik. Dia langsung mempersilahkan Nazuna untuk duduk di mana saja yang ia mau. Lagipula mereka kini hanya berduaan saja di ruangan.

Nazuna malah duduk di biliknya Vina, alhasil bersebelahan dengan Yayan.

"Atsui!" (panas)

Yayan mengerti yang diucapkan olehnya. Dia langsung melirik ke arah AC.

'Aku sengaja mematikan Ac-nya, sih. Hmm ... tapi, dia sepertinya belum terbiasa dengan iklim di negara ini,' batin Yayan diam-diam melirik ke arah Nazuna.

"Unh ... Anata no namae?" (Namamu)

"Yayan."

Nazuna sadar bahwa Yayan bisa bahasa Jepang, jadi ia memilih menggunakan bahasa aslinya.

Nazuna semakin lama berada di ruangan itu tidak tahan dengan hawa panasnya. Yayan juga seakan tidak peduli untuk menghidupkan AC, remote ada padanya.

Nazuna bahkan sampai melepas blazer dan tiga kancing bagian atas kemejanya, ia terus berikipas-kipas.

'Hmm ... pemandangan yang bagus. Mereka pasti iri aku bisa melihatnya. Oh, berwarna biru!' batin Yayan melirik ke arah Nazuna.

"Umm ... Yayan-san?" Nazuna tiba-tiba mendekat ke arah Yayan. Ia kini telah melepaskan semua kancing kemejanya.

'Dia baru sadar! Pasti ingin bertanya tentang AC!'

Kemudian datang seseorang yang tidak terduga.

"Apa yang kalian lakukan?"

"Huh?"

Ia adalah Yani yang hendak masuk, melihat ada Yayan dan Nazuna ... ia memutuskan untuk menutup pintunya kembali.

'Eh, eh ... gawat, apa yang dipikirkan wanita itu?'

Terpopuler

Comments

Romi

Romi

author asu

2023-12-08

1

Harman LokeST

Harman LokeST

nice nice nice nice nice nice nice

2023-09-24

0

Gatot Suharyono

Gatot Suharyono

MC kok nolak misi terus !?
kapan jadi hebatnya . . . .!?

2023-08-31

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Ch 1: Dua eksistensi
3 Ch 2: Pengembalian uang pertama
4 Ch 3: Pertemuan yang tidak disengaja
5 Ch 4: Status System
6 Ch 5: Keberuntungan yang rendah
7 Ch 6: Sudah kelewatan
8 Ch 7: Bawahan pertama
9 Ch 8: Wanita keturunan Jepang
10 Ch 8.5
11 Ch 9: Tidak bisa dibeli dengan uang
12 Ch 10: Hutang yang mencekik
13 Ch 11: Membalas budi
14 Ch 12: Pengakuan?
15 Ch 13: Malam yang panjang
16 Ch 14: Butuh keberuntungan
17 Ch 15: Kenalan lama
18 Ch 16: Membeli HP baru
19 Ch 17: Pengekos baru
20 Ch 18: Rencana kencan
21 Ch 19: Kencan yang gagal
22 Ch 20: Mengejar
23 Ch 21: Kegagalan
24 Ch 22: Penyelidikan
25 Ch 23: Tidak menerima beban!
26 Ch 24: Pengalaman pertama
27 Ch 25: Kau ingin beli sesuatu?
28 Ch 26: Kau mau juga?
29 Ch 27: Penghuni kos yang lain
30 Ch 28: Makan-makan
31 Ch 29: Pesanan
32 Ch 29.5
33 Ch 30: Salah langkah
34 Ch 31: Berhasil lolos
35 Ch 31.5
36 Ch 32: Lembur
37 Ch 33: Menjadi guru yang baik
38 Ch 34: Liburan
39 Ch 35: Liburan II
40 Ch 36: Deklarasi resmi
41 Ch 37: Tantangan
42 Ch 38: Duel
43 Ch 39: Tidak terlihat
44 Ch 40: Menang
45 Ch 41: Rumah untuk Mikha
46 Ch 42: Kedatangan sang ibu
47 Ch 43: Vina vs Mikha
48 Ch 44: Mencari bawahan
49 Ch 45: Isi Mistery Box
50 Ch 46: Pertemuan kedua
51 Ch 47: Sisi lain si rambut perak
52 Ch 48: Misi berhadiah besar
53 Ch 49: Anak yang malang
54 Ch 50: Membantu anak-anak pemulung
55 Ch 51: Mencoba menaklukkan si stalker
56 Ch 52: Jadikan aku yang pertama di hatimu!
57 Ch 52.5
58 Ch 53: Sebuah fakta, benang merah!
59 Ch 54: Bonus dari System
60 Ch 55: Dua kesadaran yang menyatu
61 Ch 55.5: Penjelasan dunia
62 Ch 56: Tiga calon pengantin wanita
63 Ch 57: Hari tenang
64 Ch 58: Pernikahan
65 Ch 59: Kalah start
66 Ch 60: Memang tidak mudah
67 Ch 61: Orang random yang tidak tahu apa-apa
68 Ch 62: Bug System
69 Ch 63: Terbebas
70 Ch 64: Shop System
71 Ch 65: Hari tenang II
72 Ch 66: Kau mengenalinya?
73 Ch 67: Dia istriku!
74 Ch 68: Membuat organisasi
75 Ch 69: Penjarahan
76 Ch 70: Hybrid
77 Ch 71: Permintaan tanpa kesadaran
78 Ch 72: Kau yang menyerang duluan!
79 Ch 73: NTR
80 Ch 74: Masih sesuai rencana
81 Ch 75: Semuanya terlalu mudah
82 Ch 76: Negara Rugia
83 Ch 77: Menambah istri?
84 Ch 78: Tantangan duel pedang
85 Ch 79: Tidak mempengaruhi apa pun!
86 Ch 80: Turnamen dimulai
87 Ch 81: Strategi yang berbeda-beda
88 Ch 82: Si paling menderita
89 Ch 83: Insiden di bis
90 Ch 84: Orang aneh!
91 Ch 85: Boneka!
92 Ch 86: Klub penggemar
93 Ch 87: Babak 32 besar
94 Ch 88: Bakat penggoda
95 Ch 89: Chaos
96 Ch 90: Buronan?
97 Ch 91: Tidak ada harapan
98 Ch 92: Hibernasi
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Prolog
2
Ch 1: Dua eksistensi
3
Ch 2: Pengembalian uang pertama
4
Ch 3: Pertemuan yang tidak disengaja
5
Ch 4: Status System
6
Ch 5: Keberuntungan yang rendah
7
Ch 6: Sudah kelewatan
8
Ch 7: Bawahan pertama
9
Ch 8: Wanita keturunan Jepang
10
Ch 8.5
11
Ch 9: Tidak bisa dibeli dengan uang
12
Ch 10: Hutang yang mencekik
13
Ch 11: Membalas budi
14
Ch 12: Pengakuan?
15
Ch 13: Malam yang panjang
16
Ch 14: Butuh keberuntungan
17
Ch 15: Kenalan lama
18
Ch 16: Membeli HP baru
19
Ch 17: Pengekos baru
20
Ch 18: Rencana kencan
21
Ch 19: Kencan yang gagal
22
Ch 20: Mengejar
23
Ch 21: Kegagalan
24
Ch 22: Penyelidikan
25
Ch 23: Tidak menerima beban!
26
Ch 24: Pengalaman pertama
27
Ch 25: Kau ingin beli sesuatu?
28
Ch 26: Kau mau juga?
29
Ch 27: Penghuni kos yang lain
30
Ch 28: Makan-makan
31
Ch 29: Pesanan
32
Ch 29.5
33
Ch 30: Salah langkah
34
Ch 31: Berhasil lolos
35
Ch 31.5
36
Ch 32: Lembur
37
Ch 33: Menjadi guru yang baik
38
Ch 34: Liburan
39
Ch 35: Liburan II
40
Ch 36: Deklarasi resmi
41
Ch 37: Tantangan
42
Ch 38: Duel
43
Ch 39: Tidak terlihat
44
Ch 40: Menang
45
Ch 41: Rumah untuk Mikha
46
Ch 42: Kedatangan sang ibu
47
Ch 43: Vina vs Mikha
48
Ch 44: Mencari bawahan
49
Ch 45: Isi Mistery Box
50
Ch 46: Pertemuan kedua
51
Ch 47: Sisi lain si rambut perak
52
Ch 48: Misi berhadiah besar
53
Ch 49: Anak yang malang
54
Ch 50: Membantu anak-anak pemulung
55
Ch 51: Mencoba menaklukkan si stalker
56
Ch 52: Jadikan aku yang pertama di hatimu!
57
Ch 52.5
58
Ch 53: Sebuah fakta, benang merah!
59
Ch 54: Bonus dari System
60
Ch 55: Dua kesadaran yang menyatu
61
Ch 55.5: Penjelasan dunia
62
Ch 56: Tiga calon pengantin wanita
63
Ch 57: Hari tenang
64
Ch 58: Pernikahan
65
Ch 59: Kalah start
66
Ch 60: Memang tidak mudah
67
Ch 61: Orang random yang tidak tahu apa-apa
68
Ch 62: Bug System
69
Ch 63: Terbebas
70
Ch 64: Shop System
71
Ch 65: Hari tenang II
72
Ch 66: Kau mengenalinya?
73
Ch 67: Dia istriku!
74
Ch 68: Membuat organisasi
75
Ch 69: Penjarahan
76
Ch 70: Hybrid
77
Ch 71: Permintaan tanpa kesadaran
78
Ch 72: Kau yang menyerang duluan!
79
Ch 73: NTR
80
Ch 74: Masih sesuai rencana
81
Ch 75: Semuanya terlalu mudah
82
Ch 76: Negara Rugia
83
Ch 77: Menambah istri?
84
Ch 78: Tantangan duel pedang
85
Ch 79: Tidak mempengaruhi apa pun!
86
Ch 80: Turnamen dimulai
87
Ch 81: Strategi yang berbeda-beda
88
Ch 82: Si paling menderita
89
Ch 83: Insiden di bis
90
Ch 84: Orang aneh!
91
Ch 85: Boneka!
92
Ch 86: Klub penggemar
93
Ch 87: Babak 32 besar
94
Ch 88: Bakat penggoda
95
Ch 89: Chaos
96
Ch 90: Buronan?
97
Ch 91: Tidak ada harapan
98
Ch 92: Hibernasi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!