Pagi hari seperti biasa, Yayan telah bersiap pergi ke kantornya.
[Misi dikonfirmasi]
[Ke kantor dengan jalan kaki]
[Reward : 1 poin kekuatan, 1 poin kesehatan]
"Hmm ... Misi berjalan kaki lagi. Apakah ini misi yang sama seperti kemarin?"
[Benar, host. Anda akan selalu diingatkan untuk mengerjakan misi yang belum diselesaikan. hadiahnya juga akan bertambah]
"Begitu ya. Yah, tapi aku tak berniat mengerjakannya untuk sekarang. Aku akan telat jika berjalan kaki."
[Hak host untuk menjalankan misi atau tidak]
Yayan selanjutnya berangkat dengan motor kesayangannya, telah menjadi saksi perjalanan cintanya dengan Yani yang berujung tragis.
Keadaan ibukota pada pagi hari tidak bisa terpisahkan dari image macet. Yayan kali ini harus melalui beberapa jalur tikus agar tidak terjebak dalam kemacetan.
Setengah jam perjalanan, Yayan akhirnya sampai tepat waktu.
[Ada seseorang wanita yang mendekati Anda, jarak 50 meter]
System menampilkan panel antar muka seperti maps. Yayan dengan disimbolkan titik berwarna biru, sedangkan yang diidenfikasi sebagai wanita disimbolkan dengan titik berwarna merah.
Ada belasan bulatan merah di dekat Yayan. Salah satunya sedang mendekat ke arahnya, semakin lama semakin cepat.
"Hoh, seseorang yang baru masuk kerja, anak baru, kah?" gumam yayan.
Namun, setelah dipikir-pikir, anggapan Yayan keliru. Tidak mungkin juniornya adalah seseorang wanita dengan mobil mewah keluaran terbaru. Sementara itu, ada mobil-mobil lain yang menguntit di belakang.
'Hei, system. Kenapa GPS wanita baru aktif sekarang?'
[Ada beberapa alasan, Host]
'Apa itu?'
[System sebetulnya secara otomatis mendeteksi wanita yang kemungkinan adalah tipe Anda]
'Oh, ternyata kau lebih memprioritaskan hal itu, ya? Hmmm ... Tapi, kau sepertinya salah. Aku jelas-jelas tak menyukai dirinya.'
[Baik, Host]
Yayan lalu masuk ke dalam gedung kantor, mengacuhkan seorang wanita yang kemungkinan punya status tinggi itu.
Jika Yayan masuk ke dalam, maka sebaliknya, para pegawai lain berhamburan keluar. Dia tak sengaja bertemu dengan Vina di sana.
"Vina, kau hari ini berangkat? Apa tak sebaiknya izin saja. Lukamu itu ...."
"Tidak apa-apa. Aku ini pegawai yang profesional dan kompeten. Badai sekalipun akan kuterjang, jadi luka kecil seperti ini hanya bagaikan kerikil di pinggir jalan," ucap Vina penuh dengan intonasi dan penghayatan. Jika begitu, Vina bisa dipastikan sudah baik-baik saja.
Namun, Yayan masih merasa bersalah.
"Maaf. Untuk yang kemarin, Vin."
"Yah, tidak apa-aapa. Itu bukan salahmu." Vina tersenyum, begitu juga dengan Yayan.
Dia kemudian celingukan melihat seisi lobi lantai satu.
"Woi, sepi banget! Apa pengaruh wanita di depan itu sangat besar? Siapa dia?" tanya Yayan keheranan.
"Hei, hei. Kau sungguh tak tahu? Kudet amat?!" cibir Vina.
"jika dia memang terkenal, aku harusnya sudah tau. Tapi, kenyataannya …." ucap Yayan mengangkat bahunya.
"Hoh, dasar! Dia itu anak tirinya Pak Kafi!"
"What? Sejak kapan Pak Kafi menikah? Dengan janda siapa dia menikah?"
Vina mencubit pipi Yayan karena gemas. “Jangan keras-keras, itu tidak sopan!? Selain itu …. aku sungguh mempertanyakan daya ingatmu itu."
Yayan berusaha membongkar ingatannya. Butuh beberapa saat untuk menemukan ingatan yang cocok.
"Oke, oke, aku baru jngat. Pak Kafi ternyata menikah dengan seorang wanita keturunan Jepang yang katanya adalah seorang politisi terkenal.“ Yayan menjabarkan apa yang diketahuinya.
"Huh, baru ingat. Kau belum jadi kakek-kakek kan?"
"Tentu saja bukan. Tapi, kenapa semua orang begitu antusias pada anak tiri Pak Kafi?“
Vina menghela nafas dengan malas, ia begitu jengkel dengan sifat lemotnya Yayan. Wanita itu menunjuk wajahnya yang memasang tampang tidak bersemangat.
Yayan akhirnya pun mengerti. “Oh, hmm … ya, cantik, sih.“
“Kau juga mengakuinya, 'kan?“
“Aku sudah mengakuinya dari dulu. Kau memang cantik, kok——”
Plak ….
Vina menampar punggung Yayan dengan tangan kirinya, sebelah kanan sedang terluka. “Bukan itu maksudku!“ geramnya.
“Huh, ya, ya … aku cuma bercanda. Anak tirinya Pak Kafi memang cantik, tapi aku tidak akan menjadi penjilat pada orang dengan tampang sempurna atau kuasa besar,” jawab Yayan.
“Eh? Maksudmu?“ respon Vina dengan bingung.
“Lupakan, tidak usah dipikirkan!“
Si anak dari bos perusahaan lalu masuk ke dalam gedung kantor, dibuntuti oleh rombongan pawainya. Wanita itu mengangguk pada Yayan dan Vina. Mereka sebagai karyawan lantas balas menyapanya.
“Selamat pagi, Nona Nazuna!“ ucap Vina, Yayan hanya membuka mulutnya. Dia tidak tahu nama anak dari bos besarnya sendiri.
Sejujurnya memasang senyum palsu itu melelahkan. Namun, jika tidak cari muka pada orang berkuasa, mereka tidak mungkin bisa mengais susuap nasi.
“Hei, kenapa Nona Nazuna ke sini? Ada sesuatu?“ tanya Vina pada salah seorang karyawan laki-laki.
“Hmm … mungkin untuk melihat-lihat. Dia, kan yang pasti akan menjalankan perusahaan setelah Pak Kafi pensiun. Itu alasannya menikah dengan seorang janda.“ Ia berucap semakin pelan diakhir dan celingukan memerhatikan sekitar.
“Oh, begitu, ya?“
Setelahnya, semua orang bekerja seperti biasa. Tidak ada kejadian yang menarik sampai istirahat makan siang.
.
.
.
.
Waktu makan siang tiba, semua orang rehat dari pekerjaannya kecuali bagi orang-orang yang nanggung untuk menyelesaikan tugasnya. Yayan termasuk orang-orang yang nanggung, dia kini masih berkutat di depan komputer, sementara yang lainnya sudah pergi untuk makan siang.
Meskipun begitu, Yayan nampak santai dalam mengerjakannya, tidak ada kesan buru-buru.
Sampai setelah beberapa menit bening dan hanya ada bunyi ketukan keyboard, terdengar suara langkah dari sepatu dengan hak tinggi mendekat ke ruangan Yayan.
[Nazuna sedang menuju ke arah Host. Jarak 8 meter]
'Hmm ... kenapa wanita itu ke sini?' bingung Yayan, dia tidak mau ambil pusing. Memilih bersikap cuek. Yayan berpikir bahwa wanita itu hanya ingin melihat-lihat.
Pintu dibuka, di sana ada anak dari bos perusahaan, Nazuna Rukawa. ia terkejut melihat keberadaan Yayan yang nampak di sebalik bilik kerjanya yang tidak lumayan tinggi, yang tidak peduli dengan keberadaan Nazuna.
"Aku a-apa menganggu?" ucap Nazuna dengan bahasa Indonesia yang sedikit berantakan.
"Tidak, Rukawa-san ... ada keperluan apa ke sini?" ucap Yayan menambahkan honorifik yang biasanya digunakan untuk seseorang yang baru dikenal, budaya di Jepang.
Yayan begini-begini adalah seorang yang gemar menonton anime. Dia tahu bahwa memanggil seseorang dengan nama depan cenderung kurang sopan bila belum terlalu akrab. Namun, Nazuna kini berada di Indonesia, jelas budayanya telah berbeda, wanita itu pun mengerti. Yayan sebetulnya tidak masalah memanggil wanita itu dengan nama depannya.
Nazuna mengeluarkan ponsel, menggunakan mesin translate. Ia masih dalam tahap di mana sudah mengerti apa yang diucapkan lawan bicara, namun susah untuk mengucapkannya sendiri.
"Aku di sini untuk istirahat, menghindari orang-orang." Nazuna membaca hasil terjemahan kalimat yang dia masukan.
Yayan cuma ber-oh, nampak tidak tertarik. Dia langsung mempersilahkan Nazuna untuk duduk di mana saja yang ia mau. Lagipula mereka kini hanya berduaan saja di ruangan.
Nazuna malah duduk di biliknya Vina, alhasil bersebelahan dengan Yayan.
"Atsui!" (panas)
Yayan mengerti yang diucapkan olehnya. Dia langsung melirik ke arah AC.
'Aku sengaja mematikan Ac-nya, sih. Hmm ... tapi, dia sepertinya belum terbiasa dengan iklim di negara ini,' batin Yayan diam-diam melirik ke arah Nazuna.
"Unh ... Anata no namae?" (Namamu)
"Yayan."
Nazuna sadar bahwa Yayan bisa bahasa Jepang, jadi ia memilih menggunakan bahasa aslinya.
Nazuna semakin lama berada di ruangan itu tidak tahan dengan hawa panasnya. Yayan juga seakan tidak peduli untuk menghidupkan AC, remote ada padanya.
Nazuna bahkan sampai melepas blazer dan tiga kancing bagian atas kemejanya, ia terus berikipas-kipas.
'Hmm ... pemandangan yang bagus. Mereka pasti iri aku bisa melihatnya. Oh, berwarna biru!' batin Yayan melirik ke arah Nazuna.
"Umm ... Yayan-san?" Nazuna tiba-tiba mendekat ke arah Yayan. Ia kini telah melepaskan semua kancing kemejanya.
'Dia baru sadar! Pasti ingin bertanya tentang AC!'
Kemudian datang seseorang yang tidak terduga.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Huh?"
Ia adalah Yani yang hendak masuk, melihat ada Yayan dan Nazuna ... ia memutuskan untuk menutup pintunya kembali.
'Eh, eh ... gawat, apa yang dipikirkan wanita itu?'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Romi
author asu
2023-12-08
1
Harman LokeST
nice nice nice nice nice nice nice
2023-09-24
0
Gatot Suharyono
MC kok nolak misi terus !?
kapan jadi hebatnya . . . .!?
2023-08-31
0