Yayan pun juga telah melihat kilauan berwarna perak dari salah satu tangan orang yang mengeroyoknya.
“Yayan!“
Vina berlalu begitu saja di hadapannya, merusak jalur tusukan, memblokir serangan yang harusnya diterima oleh Yayan.
Syattt ….
“Vina?“ panik Yayan.
Kebetulan warga sekitar mulai berdatangan ke arah mereka, para pengeroyok itu pun seketika melarikan diri. Beberapa warga juga berupaya mengejarnya dan memotret plat nomor kendaraannya.
Yayan tidak memedulikan soal mereka, dia terfokus pada bahu kanan Vina yang tergores pisau. Wanita itu menahan tangisnya, mencengkeram bahunya sendiri untuk mengurangi rasa sakit yang diterima.
Yayan dibantu warga lainnya membawa Vina ke rumah sakit. Goresan pisau yang diterimanya lumayan dalam, ia sudah sangat kuat untuk membuat dirinya tetap sadar, normalnya seseorang akan sangat ketakutan dan berujung pingsan. Ya, khusus perempuan.
Seorang warga meminjamkan mobilnya untuk mengantar Yayan dan Vina ke rumah sakit, sedangkan ada seseorang yang akan mengendarai motor Yayan.
Sepanjang perjalanan Yayan terus merasa bersalah dan marah. Siapa pun yang berusaha mengusik hidupnya itu sudah kelewatan dan ngelunjak. Itu tidak boleh dibiarkan.
'Aku akan membalasmu, Yani!'
.
.
.
.
“Benar-benar dia?“ Yayan mengepalkan tangannya kuat-kuat, amarahnya kini menggebu-gebu. Membayangkan bahwa dirinya membalas perbuatan yang telah dilakukan padanya dan juga Vina.
Yayan kini sedang berada di rumah sakit. Rencana kencan dengan Vina gagal, malah tercipta tragedi. Dia tak akan heran bila Vina tidak ingin berhubungan lagi dengannya.
Lalu, dokter keluar dari ruangan yang sedari ditunggu oleh Yayan. Tak berselang lama, Vina juga ikut keluar. Wanita itu kondisinya sedikit memperhatikan, bahu kanannya diperban, nampak merembeskan warna merah. Tangan kanan Vina juga mengalami nasib yang sama.
“Gimana, Dok, semuanya aman?“ tanya Yayan sedikit cemas.
“Tenang, semuanya terkendali. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Namun, Vina selama beberapa hari bahkan seminggu lebih akan kesusahan menggunakan lengan kanannya,“ beritahu dokter itu tersenyum kemudian berlalu pergi.
Yayan lantas menatap Vina, namun dia tak punya keberanian untuk bicara.
“Ini bukan salahmu. Ini musibah!“
Yayan sontak menggeleng. “Ini tak akan terjadi jika aku tak mengajakmu keluar.“
Yayan melihat parameter kesukaan milik Vina perlahan turun, kini berubah menjadi 50.
'Yah, wajar jika Vina tak mau berteman denganku lagi.'
Wanita itu diam saja seraya tatapannya masih terpaku pada Yayan. Ia kemudian melihat ke arah lain seraya menghela nafas.
“Meski kamu tidak mengajakku. Aku yang akan mengajakmu duluan,“ ucapnya dengan suara yang pelan, Yayan tak menyadarinya.
Setelah mengurus administrasi rumah sakit, Yayan mengantar Vina sampai ke rumahnya. Begitu sampai, orang tuanya telah menyambut lalu melakukan interogasi kecil-kecilan. Yah, sebagai orang tua mengetahui anaknya terluka pasti cemas.
Yayan memberikan alibi bahwa mereka terjatuh dari motor. Orang tuanya Vina sempat marah sebentar dan sedikit menyalahkan Yayan. Namun, sang anak sedikit melakukan pembelaan bahwa mereka diserempet oleh orang tak dikenal. Alasan itu cukup untuk meredakan amarahnya.
“Sekali lagi, maafkan saya sudah membuat anak Om dan Tante terluka.“
“Huh, sudahlah. Namanya musibah. Tapi, apa kau sungguh tak sempat melihat plat nomornya? Ini tak bisa dibiarkan, ini tindakan kriminal!?“ ucap ayahnya Vina. Dia jelas ingin mengusut kasus yang menimpa Putrinya.
“Maaf, saya tak mengingatnya," ucap Yayan berbohong, dia sebetulnya sudah menghafalkan nomor plat kendaraannya.
Yayan memiliki rencana lain, dia sedari awal tidak berencana menjebloskan mereka ke dalam penjara. pembalasan seperti itu rasanya kurang puas.
Setelah dari rumah Vina, Yayan tidak langsung kembali. Dia menuju ke sebuah taman yang berada dekat dengan kos-kosannya.
Yayan duduk di bangku taman sendirian, bermandikan lampu yang agak redup. Dia hanya bengong melihat kaula muda yang asyik bercengkrama satu sama lain, rata-rata berpasang-pasangan dan masih duduk di bangku sekolah.
Taman ini cukup ramai dengan pedagang kaki lima yang menjual aneka jajanan, oleh karena itu sering dijadikan tempat nongkrong.
“Sendirian?“ ucap seseorang yang mendekati Yayan. Pria yang lebih tua darinya, penjual nasi goreng.
'Hanya aku yang terlihat sendirian di sini. Tentu dia bertanya begitu!?' batinnya.
“Bisa dilihat sendiri.“
“Hoh.“ Si tukang nasi goreng duduk di sebelah Yayan. “Daganganku sudah habis, boleh, kan, ngaso di sini.“
“Ini tempat umum, tak ada yang bisa melarang,“ balas Yayan sedikit acuh.
“Kau tidak punya pacar?“
'Huh, mengalihkan perhatian!' batin Yayan.
“Punya, beberapa hari yang lalu. Tapi, sudah pergi!?“
“Oh, maaf. Aku sungguh tak bermaksud——”
“Pergi dari hatiku!“ sela Yayan, si tukang nasi goreng salah tangkap.
“Oh … kau berarti lagi galau?“
“I-iya.“
Yayan sudah tak tahan untuk mengeluarkan unek-uneknya.
“Aku sangat ingin membalas ****** itu! Kau tau … dia selama ini hanya menganggapku sebagai dompet, aku tak dianggap manusia. Apalagi, setelah dia mendapat pacar baru … dia berani-beraninya melakukan teror hanya karena aku memanggilnya pel4cur! Aku dipukuli preman, dikeroyok … ahh, dia sudah kelewatan!“ Yayan secara tak sadar curhat pada si penjual nasi goreng.
Itu hanya baru dugaan, tapi Yayan sudah terlanjur yakin. Karena tak ada kandidat lain, dia merasa tidak punya musuh.
“Oh, berat juga, ya?“ respon si penjual nasi goreng.
“Tentu saja berat! Cih, aku sedang memikirkan bagaimana cara untuk membalas mereka!?“
“Hmm, tapi menurutku … kumpulkan saja bukti lalu laporkan pada polisi!“ Ia memberi saran.
'Aku tak tertarik pada polisi. Aku ingin membalasnya dengan cara yang lain, lebih pedih!' batin Yayan, menatap si penjual nasi goreng.
“Kalau begitu, kau yang akan mencari buktinya. Mulai sekarang kau adalah intel.“
“Woi, tunggu, tunggu! Kau berpikir aku akan menerimanya——”
“Kau minta berapa?“ Yayan memamerkan kartu ATM-nya. Yah, meski isinya tidak mencapai 5 juta. “Tentu saja kau bekerja padaku!“
“Serius? Aku hanya tinggal mengawasi dan mencari bukti?“
'Yah, sebetulnya bukan itu sih. Huh, aku punya tujuan lain.' pikir Yayan.
“Yap, tapi sebelum itu. Bisa kau carikan seorang wanita untuk kuajak kencan! Aku butuh pemasukan!“
“Hah?“
“Nggak usah banyak tanya! Yang jelas, sumber keuanganku berawal dari mereka.“ Yayan tersenyum licik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Harman LokeST
next author
2023-09-24
0
Gatot Suharyono
udah letoy. . . . sok lagi !?
2023-08-31
0
George Lovink
MC taik taik...
2023-06-16
0