Ch 7: Bawahan pertama

Yayan pun juga telah melihat kilauan berwarna perak dari salah satu tangan orang yang mengeroyoknya.

“Yayan!“

Vina berlalu begitu saja di hadapannya, merusak jalur tusukan, memblokir serangan yang harusnya diterima oleh Yayan.

Syattt ….

“Vina?“ panik Yayan.

Kebetulan warga sekitar mulai berdatangan ke arah mereka, para pengeroyok itu pun seketika melarikan diri. Beberapa warga juga berupaya mengejarnya dan memotret plat nomor kendaraannya.

Yayan tidak memedulikan soal mereka, dia terfokus pada bahu kanan Vina yang tergores pisau. Wanita itu menahan tangisnya, mencengkeram bahunya sendiri untuk mengurangi rasa sakit yang diterima.

Yayan dibantu warga lainnya membawa Vina ke rumah sakit. Goresan pisau yang diterimanya lumayan dalam, ia sudah sangat kuat untuk membuat dirinya tetap sadar, normalnya seseorang akan sangat ketakutan dan berujung pingsan. Ya, khusus perempuan.

Seorang warga meminjamkan mobilnya untuk mengantar Yayan dan Vina ke rumah sakit, sedangkan ada seseorang yang akan mengendarai motor Yayan.

Sepanjang perjalanan Yayan terus merasa bersalah dan marah. Siapa pun yang berusaha mengusik hidupnya itu sudah kelewatan dan ngelunjak. Itu tidak boleh dibiarkan.

'Aku akan membalasmu, Yani!'

.

.

.

.

“Benar-benar dia?“ Yayan mengepalkan tangannya kuat-kuat, amarahnya kini menggebu-gebu. Membayangkan bahwa dirinya membalas perbuatan yang telah dilakukan padanya dan juga Vina.

Yayan kini sedang berada di rumah sakit. Rencana kencan dengan Vina gagal, malah tercipta tragedi. Dia tak akan heran bila Vina tidak ingin berhubungan lagi dengannya.

Lalu, dokter keluar dari ruangan yang sedari ditunggu oleh Yayan. Tak berselang lama, Vina juga ikut keluar. Wanita itu kondisinya sedikit memperhatikan, bahu kanannya diperban, nampak merembeskan warna merah. Tangan kanan Vina juga mengalami nasib yang sama.

“Gimana, Dok, semuanya aman?“ tanya Yayan sedikit cemas.

“Tenang, semuanya terkendali. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Namun, Vina selama beberapa hari bahkan seminggu lebih akan kesusahan menggunakan lengan kanannya,“ beritahu dokter itu tersenyum kemudian berlalu pergi.

Yayan lantas menatap Vina, namun dia tak punya keberanian untuk bicara.

“Ini bukan salahmu. Ini musibah!“

Yayan sontak menggeleng. “Ini tak akan terjadi jika aku tak mengajakmu keluar.“

Yayan melihat parameter kesukaan milik Vina perlahan turun, kini berubah menjadi 50.

'Yah, wajar jika Vina tak mau berteman denganku lagi.'

Wanita itu diam saja seraya tatapannya masih terpaku pada Yayan. Ia kemudian melihat ke arah lain seraya menghela nafas.

“Meski kamu tidak mengajakku. Aku yang akan mengajakmu duluan,“ ucapnya dengan suara yang pelan, Yayan tak menyadarinya.

Setelah mengurus administrasi rumah sakit, Yayan mengantar Vina sampai ke rumahnya. Begitu sampai, orang tuanya telah menyambut lalu melakukan interogasi kecil-kecilan. Yah, sebagai orang tua mengetahui anaknya terluka pasti cemas.

Yayan memberikan alibi bahwa mereka terjatuh dari motor. Orang tuanya Vina sempat marah sebentar dan sedikit menyalahkan Yayan. Namun, sang anak sedikit melakukan pembelaan bahwa mereka diserempet oleh orang tak dikenal. Alasan itu cukup untuk meredakan amarahnya.

“Sekali lagi, maafkan saya sudah membuat anak Om dan Tante terluka.“

“Huh, sudahlah. Namanya musibah. Tapi, apa kau sungguh tak sempat melihat plat nomornya? Ini tak bisa dibiarkan, ini tindakan kriminal!?“ ucap ayahnya Vina. Dia jelas ingin mengusut kasus yang menimpa Putrinya.

“Maaf, saya tak mengingatnya," ucap Yayan berbohong, dia sebetulnya sudah menghafalkan nomor plat kendaraannya.

Yayan memiliki rencana lain, dia sedari awal tidak berencana menjebloskan mereka ke dalam penjara. pembalasan seperti itu rasanya kurang puas.

Setelah dari rumah Vina, Yayan tidak langsung kembali. Dia menuju ke sebuah taman yang berada dekat dengan kos-kosannya.

Yayan duduk di bangku taman sendirian, bermandikan lampu yang agak redup. Dia hanya bengong melihat kaula muda yang asyik bercengkrama satu sama lain, rata-rata berpasang-pasangan dan masih duduk di bangku sekolah.

Taman ini cukup ramai dengan pedagang kaki lima yang menjual aneka jajanan, oleh karena itu sering dijadikan tempat nongkrong.

“Sendirian?“ ucap seseorang yang mendekati Yayan. Pria yang lebih tua darinya, penjual nasi goreng.

'Hanya aku yang terlihat sendirian di sini. Tentu dia bertanya begitu!?' batinnya.

“Bisa dilihat sendiri.“

“Hoh.“ Si tukang nasi goreng duduk di sebelah Yayan. “Daganganku sudah habis, boleh, kan, ngaso di sini.“

“Ini tempat umum, tak ada yang bisa melarang,“ balas Yayan sedikit acuh.

“Kau tidak punya pacar?“

'Huh, mengalihkan perhatian!' batin Yayan.

“Punya, beberapa hari yang lalu. Tapi, sudah pergi!?“

“Oh, maaf. Aku sungguh tak bermaksud——”

“Pergi dari hatiku!“ sela Yayan, si tukang nasi goreng salah tangkap.

“Oh … kau berarti lagi galau?“

“I-iya.“

Yayan sudah tak tahan untuk mengeluarkan unek-uneknya.

“Aku sangat ingin membalas ****** itu! Kau tau … dia selama ini hanya menganggapku sebagai dompet, aku tak dianggap manusia. Apalagi, setelah dia mendapat pacar baru … dia berani-beraninya melakukan teror hanya karena aku memanggilnya pel4cur! Aku dipukuli preman, dikeroyok … ahh, dia sudah kelewatan!“ Yayan secara tak sadar curhat pada si penjual nasi goreng.

Itu hanya baru dugaan, tapi Yayan sudah terlanjur yakin. Karena tak ada kandidat lain, dia merasa tidak punya musuh.

“Oh, berat juga, ya?“ respon si penjual nasi goreng.

“Tentu saja berat! Cih, aku sedang memikirkan bagaimana cara untuk membalas mereka!?“

“Hmm, tapi menurutku … kumpulkan saja bukti lalu laporkan pada polisi!“ Ia memberi saran.

'Aku tak tertarik pada polisi. Aku ingin membalasnya dengan cara yang lain, lebih pedih!' batin Yayan, menatap si penjual nasi goreng.

“Kalau begitu, kau yang akan mencari buktinya. Mulai sekarang kau adalah intel.“

“Woi, tunggu, tunggu! Kau berpikir aku akan menerimanya——”

“Kau minta berapa?“ Yayan memamerkan kartu ATM-nya. Yah, meski isinya tidak mencapai 5 juta. “Tentu saja kau bekerja padaku!“

“Serius? Aku hanya tinggal mengawasi dan mencari bukti?“

'Yah, sebetulnya bukan itu sih. Huh, aku punya tujuan lain.' pikir Yayan.

“Yap, tapi sebelum itu. Bisa kau carikan seorang wanita untuk kuajak kencan! Aku butuh pemasukan!“

“Hah?“

“Nggak usah banyak tanya! Yang jelas, sumber keuanganku berawal dari mereka.“ Yayan tersenyum licik.

Terpopuler

Comments

Harman LokeST

Harman LokeST

next author

2023-09-24

0

Gatot Suharyono

Gatot Suharyono

udah letoy. . . . sok lagi !?

2023-08-31

0

George Lovink

George Lovink

MC taik taik...

2023-06-16

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Ch 1: Dua eksistensi
3 Ch 2: Pengembalian uang pertama
4 Ch 3: Pertemuan yang tidak disengaja
5 Ch 4: Status System
6 Ch 5: Keberuntungan yang rendah
7 Ch 6: Sudah kelewatan
8 Ch 7: Bawahan pertama
9 Ch 8: Wanita keturunan Jepang
10 Ch 8.5
11 Ch 9: Tidak bisa dibeli dengan uang
12 Ch 10: Hutang yang mencekik
13 Ch 11: Membalas budi
14 Ch 12: Pengakuan?
15 Ch 13: Malam yang panjang
16 Ch 14: Butuh keberuntungan
17 Ch 15: Kenalan lama
18 Ch 16: Membeli HP baru
19 Ch 17: Pengekos baru
20 Ch 18: Rencana kencan
21 Ch 19: Kencan yang gagal
22 Ch 20: Mengejar
23 Ch 21: Kegagalan
24 Ch 22: Penyelidikan
25 Ch 23: Tidak menerima beban!
26 Ch 24: Pengalaman pertama
27 Ch 25: Kau ingin beli sesuatu?
28 Ch 26: Kau mau juga?
29 Ch 27: Penghuni kos yang lain
30 Ch 28: Makan-makan
31 Ch 29: Pesanan
32 Ch 29.5
33 Ch 30: Salah langkah
34 Ch 31: Berhasil lolos
35 Ch 31.5
36 Ch 32: Lembur
37 Ch 33: Menjadi guru yang baik
38 Ch 34: Liburan
39 Ch 35: Liburan II
40 Ch 36: Deklarasi resmi
41 Ch 37: Tantangan
42 Ch 38: Duel
43 Ch 39: Tidak terlihat
44 Ch 40: Menang
45 Ch 41: Rumah untuk Mikha
46 Ch 42: Kedatangan sang ibu
47 Ch 43: Vina vs Mikha
48 Ch 44: Mencari bawahan
49 Ch 45: Isi Mistery Box
50 Ch 46: Pertemuan kedua
51 Ch 47: Sisi lain si rambut perak
52 Ch 48: Misi berhadiah besar
53 Ch 49: Anak yang malang
54 Ch 50: Membantu anak-anak pemulung
55 Ch 51: Mencoba menaklukkan si stalker
56 Ch 52: Jadikan aku yang pertama di hatimu!
57 Ch 52.5
58 Ch 53: Sebuah fakta, benang merah!
59 Ch 54: Bonus dari System
60 Ch 55: Dua kesadaran yang menyatu
61 Ch 55.5: Penjelasan dunia
62 Ch 56: Tiga calon pengantin wanita
63 Ch 57: Hari tenang
64 Ch 58: Pernikahan
65 Ch 59: Kalah start
66 Ch 60: Memang tidak mudah
67 Ch 61: Orang random yang tidak tahu apa-apa
68 Ch 62: Bug System
69 Ch 63: Terbebas
70 Ch 64: Shop System
71 Ch 65: Hari tenang II
72 Ch 66: Kau mengenalinya?
73 Ch 67: Dia istriku!
74 Ch 68: Membuat organisasi
75 Ch 69: Penjarahan
76 Ch 70: Hybrid
77 Ch 71: Permintaan tanpa kesadaran
78 Ch 72: Kau yang menyerang duluan!
79 Ch 73: NTR
80 Ch 74: Masih sesuai rencana
81 Ch 75: Semuanya terlalu mudah
82 Ch 76: Negara Rugia
83 Ch 77: Menambah istri?
84 Ch 78: Tantangan duel pedang
85 Ch 79: Tidak mempengaruhi apa pun!
86 Ch 80: Turnamen dimulai
87 Ch 81: Strategi yang berbeda-beda
88 Ch 82: Si paling menderita
89 Ch 83: Insiden di bis
90 Ch 84: Orang aneh!
91 Ch 85: Boneka!
92 Ch 86: Klub penggemar
93 Ch 87: Babak 32 besar
94 Ch 88: Bakat penggoda
95 Ch 89: Chaos
96 Ch 90: Buronan?
97 Ch 91: Tidak ada harapan
98 Ch 92: Hibernasi
Episodes

Updated 98 Episodes

1
Prolog
2
Ch 1: Dua eksistensi
3
Ch 2: Pengembalian uang pertama
4
Ch 3: Pertemuan yang tidak disengaja
5
Ch 4: Status System
6
Ch 5: Keberuntungan yang rendah
7
Ch 6: Sudah kelewatan
8
Ch 7: Bawahan pertama
9
Ch 8: Wanita keturunan Jepang
10
Ch 8.5
11
Ch 9: Tidak bisa dibeli dengan uang
12
Ch 10: Hutang yang mencekik
13
Ch 11: Membalas budi
14
Ch 12: Pengakuan?
15
Ch 13: Malam yang panjang
16
Ch 14: Butuh keberuntungan
17
Ch 15: Kenalan lama
18
Ch 16: Membeli HP baru
19
Ch 17: Pengekos baru
20
Ch 18: Rencana kencan
21
Ch 19: Kencan yang gagal
22
Ch 20: Mengejar
23
Ch 21: Kegagalan
24
Ch 22: Penyelidikan
25
Ch 23: Tidak menerima beban!
26
Ch 24: Pengalaman pertama
27
Ch 25: Kau ingin beli sesuatu?
28
Ch 26: Kau mau juga?
29
Ch 27: Penghuni kos yang lain
30
Ch 28: Makan-makan
31
Ch 29: Pesanan
32
Ch 29.5
33
Ch 30: Salah langkah
34
Ch 31: Berhasil lolos
35
Ch 31.5
36
Ch 32: Lembur
37
Ch 33: Menjadi guru yang baik
38
Ch 34: Liburan
39
Ch 35: Liburan II
40
Ch 36: Deklarasi resmi
41
Ch 37: Tantangan
42
Ch 38: Duel
43
Ch 39: Tidak terlihat
44
Ch 40: Menang
45
Ch 41: Rumah untuk Mikha
46
Ch 42: Kedatangan sang ibu
47
Ch 43: Vina vs Mikha
48
Ch 44: Mencari bawahan
49
Ch 45: Isi Mistery Box
50
Ch 46: Pertemuan kedua
51
Ch 47: Sisi lain si rambut perak
52
Ch 48: Misi berhadiah besar
53
Ch 49: Anak yang malang
54
Ch 50: Membantu anak-anak pemulung
55
Ch 51: Mencoba menaklukkan si stalker
56
Ch 52: Jadikan aku yang pertama di hatimu!
57
Ch 52.5
58
Ch 53: Sebuah fakta, benang merah!
59
Ch 54: Bonus dari System
60
Ch 55: Dua kesadaran yang menyatu
61
Ch 55.5: Penjelasan dunia
62
Ch 56: Tiga calon pengantin wanita
63
Ch 57: Hari tenang
64
Ch 58: Pernikahan
65
Ch 59: Kalah start
66
Ch 60: Memang tidak mudah
67
Ch 61: Orang random yang tidak tahu apa-apa
68
Ch 62: Bug System
69
Ch 63: Terbebas
70
Ch 64: Shop System
71
Ch 65: Hari tenang II
72
Ch 66: Kau mengenalinya?
73
Ch 67: Dia istriku!
74
Ch 68: Membuat organisasi
75
Ch 69: Penjarahan
76
Ch 70: Hybrid
77
Ch 71: Permintaan tanpa kesadaran
78
Ch 72: Kau yang menyerang duluan!
79
Ch 73: NTR
80
Ch 74: Masih sesuai rencana
81
Ch 75: Semuanya terlalu mudah
82
Ch 76: Negara Rugia
83
Ch 77: Menambah istri?
84
Ch 78: Tantangan duel pedang
85
Ch 79: Tidak mempengaruhi apa pun!
86
Ch 80: Turnamen dimulai
87
Ch 81: Strategi yang berbeda-beda
88
Ch 82: Si paling menderita
89
Ch 83: Insiden di bis
90
Ch 84: Orang aneh!
91
Ch 85: Boneka!
92
Ch 86: Klub penggemar
93
Ch 87: Babak 32 besar
94
Ch 88: Bakat penggoda
95
Ch 89: Chaos
96
Ch 90: Buronan?
97
Ch 91: Tidak ada harapan
98
Ch 92: Hibernasi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!