Bab 19 : Misi ketujuh!

"Zat adiktif? Papa Kalani?" Gara menggantung perkataannya.

"Jangan salah paham dulu, beliau bukan seperti yang kamu pikir. Sekitar tiga tahun sebelum meninggal, papa saya sempat mengirim email berisi satu folder rahasia mengenai Nextroz. Waktu itu saya sama sekali tidak memperdulikan email tersebut, karena saya terlalu sibuk dengan perusahaan. Folder itu baru saya buka setelah papa meninggal. Ternyata Nextroz sudah lama dibuat oleh papa dan ayah Juna, founder Mienesia, bapak Putra Manoreh. Mereka mendaftarkan Nextroz ke pemerintah untuk dijual sebagai obat gangguan kecemasan. Tapi setelah diuji coba ternyata Nextroz memiliki efek candu yang dasyat, maka dari itu papa dan bapak Putra Manoreh menghentikan pembuatan Nextroz." 

"Lalu kenapa sekarang bisa Juna mengekspor Nextroz?" Gara masih mencerna informasi-informasi dari Mahadewa.

"Itu yang masih jadi pertanyaan."

"Mister menurut saya Kalani ada hubungannya dengan Nextroz."

"Saya juga berpikir seperti itu, kemungkinan Kalani tahu soal Nextroz, lalu Juna mengancamnya." Mahadewa merasa senang dengan pemikiran Gara yang bisa selaras dengannya.

"Juna mengancam Kalani dengan cara memisahkan Kalani dengan anaknya. Mungkin Juna juga mengancam Kalani untuk tidak berhubungan lagi dengan Mister."

"Bingo!" Mahadewa menjentikan jarinya, dia benar-benar puas dengan kemampuan otak Gara yang dapat mengimbangi otaknya.

"Hashh.. Dasar Juna breng…… hahh!!" Gara hamoir keceplosan mengumpat.

"Keluarin aja semua kata kotor, sumpah serapah buat Juna, dia lantas dapat umpatan itu."

"Emm.. pertanyaan selanjutnya, kenapa mister milih saya menjadi si penjalan misi ini?" Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya bagi Gara.

"Emm.. Saya membaca semua buku diary milik Kalani. Dari belasan buku diary milik Kalani hanya ada satu nama yang tersebut 'Kanigara'. Menurut saya kamu orang yang sangat pas, memenuhi semua syarat untuk menjalankan misi ini."

"Syarat??"

"Iya, kamu pandai, pekerja keras, memiliki rasa penasaran yang tinggi dan butuh uang."

'Hemm.. tetap aja ya orang kaya sukanya memandang rendah orang miskin.' Batin Gara.

Gara tidak bereaksi apapun, dia sedikit kesal dengan kata-kata Mahadewa tapi itu benar adanya.

"Masih ada yang mau ditanyakan lagi Gara?" 

"Lalu apa rencana mister selanjutnya?" Tanya Gara.

"Oke, ini misi ke tujuh untuk mu. Sadap ponsel Kalani dengan cara yang sama seperti kamu menyadap ponsel Rhea." 

"Hemm.. rewardnya?" Gara tentu tidak lupa mengenai hal satu ini.

"Motor yang kamu pakai akan resmi jadi milikmu." 

"Tapi gimana caranya saya menyadap ponsel Kalani Mister?" 

Mahadewa mengangkat kedua bahunya sambil memasang wajah dengan ekspresi 'entahlah'.

"Heumm.. oke, saya bakal cari cara untuk itu."

"Dua hari lagi Mienesia bakal mengadakan bakti sosial di panti jompo. Juna tidak akan datang karena dia pergi ke luar negeri, kalau kamu mau mencoba saat itu boleh juga. Tapi kamu harus berhati-hati, Kalani sudah mencurigai mu." Mahadewa memberi info ke Gara.

"Oke Mister, saya akan pikirkan bagiamana caranya. Sekarang saya pamit dulu." Gara berniat pamit.

"Gara.. tolong jangan lakukan hal-hal diluar perintah saya, oke?" Mahadewa kembali memperingati Gara yang menurutnya mulai sedikit membangkang.

"Hehe.. Iya Mister." Gara akhirnya pulang dari Golden Spoon Tower.

...----------------...

Untuk misi kali ini Gara merencanakan sebuah ide lumayan ekstrim. Gara menyewa dua orang untuk mencopet tas Kalani, lalu satu orang lagi akan menyelamatkan tas itu, disela-sela itulah Gara akan melakukan penyadapan dapat ponsel Kalani.

"Hahhh.. sumpah deh! Deg-degan banget buat jalanin misi kali ini." Gara sedang bersiap menuju lokasi acara bakti sosial PT. Mienesia.

Acara bakti sosial akan dimulai pukul sembilan pagi, Gara sudah bersiap di sekitar panti jompo tempat diselenggarakannya bakti sosial sejak pukul tujuh pagi.

Gara menunggu di sela-sela kebun bunga, dia memgawasi tempat bakti sosial dengan teropong.

"Hahh.. mister, kalau percobaan kali ini gagal bisa bahaya. Kalau banyak orang-orang yang mengejar pencopet jadi-jadian yang aku sewa bisa gawat. Hahh.. kenapa pas hari H aku malah jadi hilang nyali gini sih. Huft.." Gara menggumam sendiri.

Pukul sembilan kurang sepuluh menit mobil mini couper merah milik Kalani masuk ke area panti jompo, dua orang pencopet abal-abal yang Gara suruh mulai beraksi.

Kalani turun dari mobil, dua orang pencopet suruhan Gara beraksi. Mereka memakai motor trail, satu orang mencegat Kalani satu orang lagi merebut tas Kalani.

BERHASIL!

"Tolong! Copet! Copet!" Kalani berteriak. 

Karyawan PT. Mienesia dan beberapa orang staff panti mencoba mengejar, ada yang berlari ada yang menggunakan motor pula.

"Haduh.. ada yang ngejar pake motor, please berhasil please!!" Gara yang mengintai dari kejauhan menggunakan teropong semakin merasa gugup.

Hanya butuh tujuh menit kedua pencopet bayaran Gara datang. "Ini bang tasnya." Seorang memberikan tas Kalani ke Gara.

"Oke, makasih. Kalian pergi sekarang." Kedua pencopet abal-abal itu pergi. Gara memulai aksinya menyadap ponsel Kalani.

Butuh waktu lima menit untuk menyadap ponsel Kalani. 

"Oke selesai." Gara cepat-cepat memasukan ponsel Kalani ke dalam tasnya.

"Tolong ya. Makasih." Gara memberikan tas Kalani ke seseorang yang dia bayar untuk berpura-pura menemukan tas Kalani.

Di lokasi acara bakti sosial.

Orang-orang ramai mengkhawatirkan tas Kalani. Sang empunya tas terlihat sangat cemas.

"Permisi bu, apa ini tas ibu?" Lelaki yang Gara suruh mengembalikan tas menyodorkan tas ke Kalani. Lelaki itu sengaja tidak mencopot helm dan kacanya, itu perintah dari Gara.

"Oh.. iya, makasih mas." Kalani mengecek isi tasnya.

"Gimana bu? Ada yang hilang?" Tanya sekertaris Kalani.

"Iya bu, dicek semua dulu." Kata seorang karyawan PT. Mienesia.

"Lengkap, semua ada. Maksih ya mas, ini ada sedikit buat mas." Kalani menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan.

"Enggak bu makasih, permisi." Lelaki bayaran Gara langsung pergi dengan motornya.

"Hah.. untung masih ada orang baik yang nolong saya. Udah kalian bilang sama orang-orang yang masih ngejar, suruh balik aja kesini. Tasnya udah ketemu, isinya utuh, kita mulai aja acara bakti sosialnya." Jelas Kalani ke semua orang dihadapannya.

"Baik bu." 

"Maaf semua udah buat khawatir dan acaranya jadi molor." Dengan rendah hati Kalani meminta maaf ke semua orang yang hadir.

Di jauh sana, Gara masih mengintai.

"Hah.. maaf ya Kal, bikin kamu khawatir. Ini demi kebaikan kamu kok." Gara merasa kasihan sudah membuat Kalani khawatir.

TRIIIING!

Bunyi notif dari aplikasi Golden Spoon.

‘SELAMAT! MISI KETUJUH BERHASIL! MOTOR MV AGUSTA BRUTALE 800 RESMI JADI MILIK MU!'

"Yes! Yes! Yes! Yuhuuuuuu.. kamu resmi jadi milikku sayang." Gara mencium jok motornya.

TRIING!

'Pesan dari Mr. Golden Spoon : Gara! Ternyata ponsel Kalani sudah disadap oleh seseorang! Konektifitas penyadapan tidak sempurna, saya belum bisa mengakses email dan pesan-pesan yang ada di ponsel Kalani. Mungkin ini ulah Juna.'

"Dasar penjahat! Mister semangat, anda pasti bisa! Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?" Tanya Gara.

'Pesan dari Mr. Golden Spoon : Tidak ada, kamu hanya perlu berhati-hati, agar Rhea, Kalani dan Juna tidak curiga.'

"Oke mister, saya akan menginap di hotel beberapa hari untuk memghindari Rhea."

'Pesan dari Mr. Golden Spoon : Ide bagus! Treat yourself!'

Gara pergi dari tempat itu menuju salah satu hotel untuk menginap.

Bersambung..

Terpopuler

Comments

zoya

zoya

adu taktik

2022-11-14

0

Arjuna Nyasar

Arjuna Nyasar

hajar...!!!
penjahat nya sama dengan nama gw 🤣🤣🤣

2022-10-04

2

Utagusta

Utagusta

lagi thooor lagi😆

2022-09-19

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!