Bab 02 : Sudah jatuh tertimpa tangga

Pagi ini Gara berniat mengintai Windy lagi, namun sayang saat Gara datang ke kost Windy, dia tidak ada disana. Kata teman kostnya Windy tidak pulang semalam. Windy juga tidak mengangkat teleponnya.

“Hahh.. kemana dia?” Sampai tengah hari Gara masih belum mengojek, dia masih mengkhawatirkan Windy. Tiba-tiba sebuah pesan masuk, pesan dari Windy

[Aku tunggu di jln. Samudera dua bang, sekarang, ada yang perlu aku omongin.]

[Oke, aku kesitu sekarang, lima belas menit lagi aku sampai, tunggu!]

Gara segera menggeber motornya menuju tempat yang Windy maksud, tidak sulit bagi Gara mnemukan suatu daerah karena dia sudah hampir seluruh kota dia jelajahi selama menjadi driver ojek online.

Hanya perlu sebelas menit untuk sampa tempat yang di maksud.

[Aku di gang 1, paling pojok.]

Gara mengikuti petunjuk yang Windy kirimkan melalui pesan elektronik.

Gara sampai di gang yang Windy maksud, ternyata gang buntu, tidak ada Windy, hanya ada tiga orang  berbadan besar yang memakai kaos press body hingga terlihat otot-otot besarnya dan tato yang menghiasi lengan mereka. Perlahan mereka menghampiri Gara. Perasaan Gara mulai tidak enak, dia memutar balik motornya, tapi ternyata dua orang lelaki seram sudah menunggu diujung gang.

‘Sial! Aku dikepung!’ Batin Gara.

Tak lama kemudian lima orang itu menyeret Gara turun dari motornya lalu menyudutkannya di pojok gang, mereka menonjok Gara di seluruh tubuhnya, hingga Gara tersungkur tak berdaya.

Gara hampir pingsan, badannya terasa lemas, tulangnya seperti sudah terpresto. Sayup-sayup Gara melihat Windy digandeng lelaki yang semalam bertengkar dengannya di diskotek.

“Masih hidup lo?” Tanya lelaki itu sambil menarik rambut Gara hingga wajahnya terangkat.

“Win.. win.. dy?” Gara ingin memastikan benarkah itu Windy.

“Jangan berani-berani sebut nama cewek gue! Apalagi sampai lo deket-deket sama dia! Lo tu udah di tolak masih aja belaga sok jadi abang buat Windy, cuhh..” Lelaki itu meludah ke wajah Gara.

Windy tidak mengeluarkan suara, dia hanya melihat Gara dengan tatapan yang sulit di definisikan.

“Udah.. udah pergi gih, kerja bagus, nanti sisa payment gue transfer. Hati-hati di jalan.” Lelaki itu pergi bersama Windy, di ikuti kelima lelaki yang menghajar Gara.

“Ditolak? Hah..” Gara merasa geli dengan perkataan lelaki itu. “Hah..” Gara tidak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi hingga Windy membuat skenario seperti ini.

Sekuat tenaga Gara mencoba untuk bangun dan duduk bersandar pada tembok, dia mencoba mengumpulkan kekuatan untuk bersiap pulang dengan motornya.

Drrt.. drrt.. drrt..

Gara melihat ke samping kanan, ternyata ponselnya berdering. Gara merangkak untuk mengambil ponselnya yang terlempar saat dia dihajar tadi.

Ternyata dari Satya. “Hah.. kenapa dia telepon disaat enggak tepat gini sih?” Gara menggerutu sendiri.

“Iya Sat, ada apa?”

“Bang.. Riko masuk rumah sakit, waktu pulang sekolah dia keserempet angkot, tangannya patah. Sekarang baru di operasi, aku sama ibuk ada di rumah sakit harum kenanga.” Suara Satya terdengar sedikit lirih dari biasanya.

“Hahh..” Gara menghela nafas, kenapa harus terjadi disaat dia sedang dalam kesusahan pula?

“Sat, aku datang nanti malam atau besok ya. Aku belum bisa jelasin kenapa aku enggak bisa datang sekarang, tapi tetap kabari aku terus ya keadaan Riko gimana.”

“Abang baik-baik aja kan?” Satya bisa merasakan ada yang tidak beres pada Gara, karena biasanya jika terjadi sesuatu pada anak-anak panti Gara selalu langsung datang, apapun yang sedang dia lakukan akan ia tinggalkan, tapi kenapa kali ini tidak?

“Anggap saja begitu, kamu jaga ibuk ya.”

“Bang.. jangan bikin aku makin panik dong. Abang dimana sekarang?”

“Di rumah, kamu anak paling besar di panti, kamu harus bisa bersikap dewasa, jangan panik. Kalau kamu panik nanti ibuk bakal lebih panik lagi. Oiya.. kamu butuh uang? Atau sesuatu enggak? Nanti biar aku transfer atau aku kirim kalau kamu butuhnya barang.”

“Aku butuh abang.”

Gara meneteskan air mata mendengar jawaban dari Satya, sebenarnya dia juga ingin langsung ke rumah sakit, tapi dia takut Yashinta akan semakin khawatir jika melihat keadaaanya saat ini.

“Sat, aku janji bakal ke situ, aku mohon maklumi aku kali ini ya.”

Tidak ada jawaban dari Satya, lalu Gara memutus telepon. Gara menangis di pojok gang, pikirannya sangat kacau saat ini.

...----------------...

Setelah berhasil sampai di kost dengan selamat bersama motornya, Gara lalu mandi dan mengobati luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya. Gara melirik jam dindingnya, sudah jam delapan malam tapi masih belum ada kabar dari Satya, akhirnya Gara mengirim pesan ke Satya.

[Gimana keadaan Riko?]

Hingga hampir satu jam masih belum di balas oleh Satya. “Ahh.. aku mau beli makan dulu, seharian ak7 belum makan.” Gara keluar kost menuju warteg untuk membeli makan, badannya masih terasa linu, tapi dia tetap bersyukur karena masih hidup dan masih bisa berjalan normal.

Gara membeli sebungkus nasi putih dengan lauk telur balado dan sayur daun pepaya. Dia membawa pulang nasi bungkus ke kost lalu menyantapnya. Gara mencoba untuk tidur tapi tidak bisa, pikirannya masih belum bisa tenang.

Triiiing.

Sebuah pesan masuk.

[Alhamdulillah operasi Riko lancar bang. Abang kesini besok saja, malam ini aku dan ibuk yang akan menemani Riko di bangsal.]

“Alhamdulillah.” Gara bersyukur operasi Riko berjalan lancar.

[Oke aku ke rumah sakit besok pagi.]

Sudah tenang, Gara mengantuk sekarang, tak lama kemudian dia tertidur pulas.

...----------------...

Pagi hari Gara menepati janjinya, dia pergi ke rumah sakit. Setelah memikirkan berbagai macam skenario untuk menceritakan keadaannya, akhirnya Gara memilih skenario ini, “Aku enggakpapa kok ibuk, badannya udah agak enak sekarang, kemarin aku baru apes saja buk, jadi jatuh deh pas baru ngojek.” Gara bercerita ke Yashinta di rumah sakit.

“Udah sekarang kamu pulang saja, istirahat sana! Riko biar ibuk saja yang jaga, Satya juga berangkat kerja sana. Riko tinggal pemulihan aja kok, dia anak yang kuat.” Yashinta mengusir secara halus Gara, dia merasa semakin sedih melihat kedua anak angkatnya sakit

Satya memberi sinyal ke Gara untuk menuruti kemauan Yashinta. “Oke buk, tapi kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku ya buk.” Gara sebenarnya masih ingin menemani Yashinta di rumah sakit.

“Iya, udah sana kalian keluar. Kalian berisik, nanti Riko jadi kebangun, kasihan dia masih merasa kesakitan di bekas operasinya.”

Satya menarik tangan Gara, “Iya buk, aku pamit ya, berangkat kerja dulu. Nanti waktu jam istirahat aku kesini buk.” Satya menciun tangan Yashinta

“Enggak usah, nanti anak-anak sehabis pulang sekolah katanya mau jenguk Riko, kamu kesini setelah pulang kerja saja.”

“Oke deh buk kalau gitu.” Jawab Satya.

“Aku juga pulang dulu ya buk, jangan lupa kabari aku kalau ada sesuatu.” Gara juga mencium tangan Yashinta. Yashinta hanya mengangguk.

Satya segera menarik tangan Gara menuntunnya agar segera keluar dari bangsal untuk menjauh.

“Bang, cerita sebenernya ada apa? Enggak mungkin abang jatuh bisa sampai babak belur kayak gini!” Satya tidak percaya skenario yang Gara buat untuk Yashinta, tapi memang Gara tidak ingin membohongi Satya.

“Aku memang enggak jatuh Sat, aku cerita kayak gitu biar ibuk enggak makin kacau pikirannya. Oke aku cerita sekarang, jadi kemarin itu..”

Gara bercerita ke Satya sambil berjalan hingga smapai di parkiran rumah sakit.

“Dasar orang gila ya si Windy!! Enggak bisa kayak gini bang, kita harus lapor polisi, ini namanya tindak kriminal bang!!” Satya marah mendengar cerita Gara.

“Enggak usah, aku baik-baik aja kok, tinggal penyembuhannya aja. Besok juga udah pulih, jangan khawatir ya Sat.” Gara tersenyum.

“Tapi bang..”

“Eh.. tapi makasih lho Sat udah khawatirin aku.” Gara menepuk-nepuk lengan Satya “Udah sana berangkat kerja, pegawai BUMN yang dibayar sama negara mana boleh telat dan malas-malasan begini.

“Eits.. abang salah, pegawai BUMN dibayar sama perusahaan, justru perusahaan yang kasih pemasukan buat negara. Jadi derajat pegawai BUMN itu..”

“Udah ah malas aku dengernya, dasar sombong, mentang-mentang pegawai BUMN.” Gara meledek Satya tiap kali Satya membanggakan diri sebagai pegawai BUMN.

“Abang hati-hati ya, bisa aja Windy bakal melakukan hal yang sama lagi ke abang. Kalqu ada sesuatu jangan bohong ke aku ya bang, kita kan udah janji buat crrita apapun satu sama lain.” Satya dan Gara telah saling mengenal selama empat belas tahun, mereka punya latar belakang yang mirip maka dari itu mereka bisa saling berbagi satu sama lain, layaknya saudara kandung.

“Iya bawel! Sana berangkat kerja.”

Satya dan Gara berpisah untuk mencari motor masing-masih untuk segera pergi ke tempat tujuan masing-masing.

...----------------...

Tidak menuruti kata Yashinta, Gara memilih untuk bekerja, dia ingin mengumpulkan uang untuk membantu biaya rumah sakit Riko.

Setelah seharian ngojek Gara mampir makan di angkringan sebelum pulang ke rumah untuk mandi lalu ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit Gara bertemu dengan Satya yang setia menemani Riko yang sednag tertidur di ranjang pasien.

“Gimana keadaan Riko?” Tanya Gara ke Satya.

“Udah baikan bang, makan tetep doyan dan ya kalau bekas operasi sih masih kerasa sakit bang katanya. Tapi tadi dokter bilang besok siang udah boleh pulang.” Satya menjelaskan ke Gara.

“Syukurlah. Biaya rumah sakit habis berapa Sat?”

“Tadi aku di kasih tahu ibuk, katanya sekitar delapan juta bang. Ibuk minta tolong ke aku sama kamu bang. Ibuk udah telepon bang?”

“Belum, aku transfer aja ke kamu ya Sat, besok kamu bisa urusin kan?” Tanya Gara.

“Bisa bang.”

“Aku mau kejar setoran Sat soalnya, aku kan bukan pegawai yang terima gaji tetap kayak kamu, hehehe..”

“Abang butuh uang? Kalau abang baru butuh uang biar aku aja nanti bang yang kasih empat juta ke ibuk.”

“Enggak Sat, aku ada kok, nih kalau enggak percaya.” Gara memperlihatkan saldo tabungannya sebesar Rp 6.110.300,- dari m-banking di ponselnya.

“Mau aku tunjukin juga bang saldo aku?” Kata Satya dengan nada bercanda.

“Enggak usah, nanti aku iri, haha..”

Mereka berdua bercanda dan bercerita sepanjang malan mengenai kehidupan mereka.

...----------------...

Pagi buta Gara pulang ke kost setelah bertemu Yashinta. Gara mandi lalu pergi bekerja jam enam pagi, dia langsung dapat pelanggan pertama dari kost.

“Yes udah langsung dapat, alhamdulillah.” Gara merasa senang niatnya untuk kejar setoran berawal baik.

Gara adalah lelaki yang bertanggung jawab, dia menjadi salah satu tulang punggung di panti saat ini. Pemasukan dana ke panti bersumber dari alumni panti yang sudah bekerja dan hidup mandiri, ada juga dari hasil berjualan kue jajan pasar yang dibuat Yashinta dengan anak-anak panti, lalu tentunya ada sumbangan dari orang luar panti yang jumlahnya tentu saja tidak pasti tiap bulannya. Namun karena niat baik Yashinta tidak pernah kekurangan dana untuk menghidupi anak-anak panti secara layak.

Gara pulang ke kost pukul setengah sepuluh malam, hasil kejar setorannya berbuah manis, dia mendapatkan penghasilan bersih empat ratus ribuan.

“Ahhh.. kerja bagus Kanigara! Saatnya tidur buat kembaliin tenaga, besok kerja lagi.” Setelah mandi Gara langsung tidur.

*Bersambung..

Lanjut baca terus ya..

Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih😍*

Terpopuler

Comments

Utagusta

Utagusta

Bang Gara😍

2022-09-06

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!