Tok.. tok.. tok..
Suara gaduh seseorang mengetuk pintu membuat Gara terbangun. Gara melirik ke jam dindingnya, masih jam dua pagi?? Siapa yang bertamu jam segini?
Gara membuka pintu, dua orang berbadan besar menerobos masuk ke kost nya lalu mengunci pintu.
“Kamu Kanigara kan?” Tanya salah satunya ke Gara sambil melotot.
“Iya, anda siapa ya? Kenapa jam segini mencari saya? Dan menerobos masuk ke kost saya?”
“Kamu kakaknya Windy kan?” Lelaki itu memperlihatkan foto Windy di ponselnya.
“Iya, tapi..” Belum selesai Gara bicara seseorang lagi memotong pembicaraan.
“Dia kabur dan enggak bayar hutang ke perusahaan kita, dua hari lalu dia kirim pesan alamat kostsini, dan bilang kamu bakal bayar hutangnya.” Lelaki itu menuding tepat di depan wajah Gara.
‘Windy sialan! Mau dia apa sih sebenarnya?’ Dalam hati Gara.
“Tapi kami bukan saudara kandung, kami sama-sama anak panti dan saya..”
“Kita enggak mau tahu soal sejarah kalian, bodo amat! Yang kita mau kamu lunasi hutang Windy sebesar lima juta dan bunganya empat juta, jadi total sembilan juta.” Lelaki itu mencekeram kerah baju Gara.
“Tapi saya enggak ada uang.” Jawab Gara.
“Kita enggak mau tahu bodoh!!” Gara di dorong hingga tersungkur di dekat motornya.
“Kita balik lagi dua hari buat ambil uang kita.” Seseorang membuka pintu.
“Jangan berani kabur! Atau kamu enggak bakal selamat!” Seseorang lagi sempat mengancam Gara sebelum akhirnya pergi.
Gara menutup pintu kostnya rapat, dia kembali ke kasur sambil berteriak-teriak dan mengumpat Windy sesuka hati. Gara mulai stress, kejadian tidak enak bertubi-tubi menimpanya karena Windy.
...----------------...
Dua hari berlalu.
Gara melewati dua hari ini dengan rasa khawatir, dia sekuat tenaga kejar setoran, hasilnya lumayan banyak namum masih belum bisa mencapai sembilan juta jika ditambah dengan saldo di rekeningnya. Gara sempat berniat menceritakan kejadian penagihan hutang Windy ke Satya, tapi dia tidak berpikir pasti nantinya Satya akan memberi uang untuk melunasi hutang Windy itu, Gara tidak ingin memberatkan Satya.
Gara juga sempat mencari Windy di kost, tapi ternyata sejak kejadian pengeroyokan Gara beberapa hari kemarin Windy tidak muncul di kost. Windy juga tidak bisa dihubungi, nomornya mati, Gara benar-benar hamir gila.
Gara masih berputar-putar dengan motornya, dia tidak ingin pulang ke kost, dia takut akan diburu oleh reintenir penagih hutang Windy. Gara juga tidak berani ke panti, dia takut reintenir akan mengganggu panti.
00:31 WIB
Akhirnya Gara pulang ke kost. Dia menuntun motor dari gang hingga ke depan kostnya, perlahan Gara membuka pintu kost, tapi…..
“Baru pulang lo??” Seseorang menepuk pundak Gara.
Gara belum sempat membuka pintu kost, dia segera berlari menuju jalan besar, sekuat tenaga Gara berlari menghindar orang-orang itu.
Tapi kedua reintenir itu tidak mau kalah, mereka berlari mengejar Gara.
“Sst..” Suara misterius terdengar dari sebuah bangunan kosong. Gara yang sempat melewati suara itu akhirnya kembali, dia masuk ke bangunan kosong itu, tanpa rasa takut soal suara miaterius itu.
BUG!!
Seseorang menghantam kepala bagian belakang Gara, lalu seketika Gara tidak sadarkan diri.
...----------------...
Gara mulai sadar, kepalanya terasa pusing, dan dia merasa badannya dingin. Gara tersadar karena suara alarm dari sebuah smartphone lipat mungil berwarna putih. Gara meraih ponsel yang tergeletak di sebelahnya, Gara masih berbaring dilantai yang kotor, badannya masih belum terlalu kiat untuk duduk.
Saat membuka flip ponsel putih itu sebuah kertas terjatuh di wajah Gara. Sayup-sayup Gara melihat tulisan tangan bertulis..
Nama akun : Kanigara
Password : 20100520
Gara tidak mempedulikan kertas itu, dia segera mematikan alarm dari ponsel itu.
“Agggrhh…” Gara mencoba duduk. Dia melihat sekeliling, bangunan kosong itu kumuh dan terlihat seram.
Gara merogoh saku celananya mencari ponsel, ternyata masih jam empat pagi. Gara merogoh saku celana yang sebelah karena merasa ada yang mengganjal.
Ada sebuah amplop, Gara bingung, dia merasa itu bukan miliknya, tapi tetap ia buka. Ada secarik kertas dan uang seratus ribu sepuluh lembar. “Uang?” Gara segera membuka kertas yang terlipat itu.
‘Kanigara..
Segera login ke aplikasi ‘Golden Spoon’ yang ada di ponsel putih disebelahmu,
Dengan akun dan password yang sudah aku selipkan di ponsel itu.
Aku sudah melunasi hutangmu, dan uang satu juta itu untuk pengobatanmu.
Maaf menghantammu terlalu keras.
Selamat menjalankan misi, hwaiting!
Mr. Golden Spoon’
“Apa-apaan nih?” Gara masih bingung, tapi dia menuruti perintah dari surat itu, dia log in ke aplikasi di ponsel flip putih itu.
‘Selamat datang di aplikasi Golden Spoon KANIGARA!’
‘Saya Mr. Golden Spoon secara pribadi mengundangmu untuk melakukan misi dan memenangkan reward berupa uang yang akan masuk ke akun ini dan kamu bisa menariknya ke rekening bank atau e-wallet mu.’
‘Ponsel ini hanya bisa dipakai untuk membuka aplikasi Golden Spoon. Kamu tidak boleh menceritakan mengenai Golden Spoon ke siapapun, saat hal itu kamu lakukan maka kamu akan dinilai melanggar peraturan.’
‘Jika kamu melakukan pelanggaran peraturan sebanyak tiga kali, maka ponsel ini akan secara otomatis meledak.’
‘Peraturan ada di menu, baca baik-baik agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kamu inginkan.’
‘Selamat menjalan kan misi, hwaiting!’
‘Mr. Golden Spoon’
“Becandaan apa sih ini?” Gara masih tidak mengerti, namun rasa penasaran mulai datang.
‘MISI PERTAMA TELAH DATANG’
‘AYO LAKUKAN MISI INI DAN DAPATKAN REWARD SEBESAR’
‘Rp 10.000.000,-‘
LAKUKAN MISI SEKARANG?
Gara melotot melihat notifikasi yang tiba-tiba muncul.
“Hahh.. bodo amat! Aku harus pulang dulu buat melihat keadaan.” Gara segera pergi dari bngunan kosong menuju ke kostnya. Dia juga tidak lupa membawa ponsel flip putih dan amplop.
Keadaan tenang, motor milik Gara juga masih ada. Gara kaget melihat kunci kost yang masih berada di pintu, ternyata karena terburu-buru dia lupa menarik kunci kostnya.
Gara segera masuk ke kost, masih rapih, Gara mengecek lemarinya, rak buku dan lainnya, semua masih sesuai letaknya.
“Aneh, motor dan bahkan kost yang bisa saja mereka obrak-abrik karena kuncinya lupa aku cabut semua selamat. Jangan-jangan isi surat ini benar? Orang yang memukul kepala dan yang memanggil ‘sst..’ saat itu benar melunasi hutang ke reintenir yang mengejarku semalam.”
Gara merogoh saku celananya, mengambil smartphone flip putih. Rasa penasaran makin bertambah, tapi rasa khawatir juga muncul. Kejadian naas yang menimpanya berkali-kali membuatnya berpikir dia sedang tidak beruntung.
“Gimana nih? Pencet enggak ya?” Gara masih ragu untuk menekan notif yang muncul di aplikasi Golden Spoon.
“Gimana kalau ternyata misi ini berujung kayak series Squid Game? Bisa mati aku. Atau kalau ternyata ini penipuan? Hahhhh..” Perasaan penasaran dan khawatir berkecamuk di hati Gara, otaknya bahkan serasa beku tidak bisa berpikir.
“Hahh.. bodo amat, anggap saja aku bertaruh dengan keberuntunganku, soal mati dan hidup urusan Tuhan.” Sambil memejamkan mata Gara menekan layar ponsel itu.
‘MISI KE SATU : MATA-MATAI SELAMA EMPAT HARI ANAK YANG BERNAMA MIKHA ANGELA DI TK PUTIH MELATI DI JALAN BAMBU KUNING NOMOR 89. PASTIKAN ANAK ITU PULANG DENGAN SELAMAT DAN BERTEMU ORANG TUANYA.’
Sebuah foto muncul.
“Ini pasti anak yang bernama Mikha Angela itu.” Gara tampak memperhatikan foto anak kecil berambut panjang mengombak berponi itu. “Cantik, pasti anak orang kaya.” Gara masih mengomentari foto itu.
“Heumm.. udahlah aku tidur dulu, mau pecah rasanya otakku.”
Kejadian-kejadian aneh yang menimpanya membuat seluruh sel yang ada di badannya terasa melunak, Gara segera tertidur setelah menempelkan kepala ke bantal. (Dasar Gara *****!😝)
...----------------...
Pagi ini Gara memilih untuk membolos kerja pagi demi memenuhi rasa penasarannya dengan misi yang muncul di aplikasi. Tepat pukul setenngah tujuh pagi Gara sudah berada di TK Putih Melati. Gara mengamati satu persatu murid yang datang. “Hemm.. sekolah orang-orang kaya.” Semua murid yang datang di antar menggunakan mobil yang tidak jelek.
“Itu dia Mikha Angela.” Gara akhirnya melihat gadis kecil itu diantar seorang babysiter masuk ke gedung sekolah.
“Kira-kira aplikasi ini berdampak positif atau negatif ya buat orang lain? Kenapa misinya mengintai orang gini? Anak kecil pula, hah.. entahlah, aku coba saja dulu.” Gara yang sebenarnya masih tidak yakin dengan aplikasi Golden Spoon pada akhirnya menganggap sedang bertaruh keberuntungan.
Gara mengintai di pangkalan ojek di seberang sekolah TK Putih Melati, kebetulan di seberang sekolah banyak outlet-outlet makanan, jadi tempat itu dinilai sesuai untuk tempat mengintai. Gara juga bisa mengobrol dengan driver lainnya, jadi dia tidak merasa bosan.
Sekitar pukul setengah sebelas mobil-mobil penjemput murid TK Putih Melati mulai berdatangan, Gara juga bisa melihat mobil hyundai ionoq 5 berwarna silver yang tadi pagi mengantar Mikha sudah datang. Gara fokus mengamati keadaan sekolah elite itu.
Pukul sebelas siang murid-murid mulai keluar dari gedung sekolah, begitu juga Mikha, dia bergandengan dengan seorang anak perempuan sebelum akhirnya di jemput babysiternya.
Gara membuntuti mobil yang membawa Mikha hingga sampai ke rumah. Sebuah rumah bergaya klasik modern dengan tiang-tiang yang tinggi menjulang, dan jendela kaca dengan kaca akrilik warna-warni, halaman yang luas dengan rumput hijau yang rapih dan sebuah kolam air mancur ditengahnya, rumah itu seperti istana.
TRIIIING!
Suara notifikaasi dari ponsel flip putih membuyarkan fokus Gara yang sedang mengamati rumah Mikha.
‘Hari pertama berhasil!’
“Gila! Dari mana aplikasi ini tahu si anak itu udah sampai rumah? Hih.. ngeri juga nih aplikasi.” Gara memasukan ponsel itu lalu pergi dengan motornya, Gara berniat mengojek.
...----------------...
Sudah tiga hari berturut-turut Gara mengintai Mikha, semakin hari Gara semakin penasaran dengan hasil yang akan dia dapat setelah menyelesaikan misi dari aplikasi Golden Spoon, tapi dia juga tidak berharap lebih, dia juga masih tidak seratus persen percaya dengan aplikasi itu. Hari ini adalah hari jumat, hari terakhir Gara mengintai Mikha, seperti biasa Gara sampai di TK Melati Putih pukul setengah tujuh pagi.
Tidak ada yang spesial, Mikha masih diantar oleh babysiter yang sama, mobil yang sama pula, dan juga jam datangnya pun masih sama. Keadaan di TK Melati Putih pun juga masih sama saja, tapi ternyata ada yang berbeda.
Saat pulang sekolah tiba, Mikha di jemput oleh seorang laki-laki. Mikha naik ke mobil yang bukan biasanya dengan orang yang berbeda pula, Gara langsung mengikuti mobil itu.
“Kok belok ke kiri sih? Rumah anak itu kan harusnya belok ke kanan?” Gara segera menambah kecepatan untuk melampaui mobil yang ditumpangi Mikha. Tapi Gara gagal melakukannya, mobil itu melaju kencang, lalu berhenti di sebuah restoran.
Gara memperhatikan Mikha yang di gandeng lelaki yang menjemputnya tadi, dia bertemu seorang wanita. Mikha tampak tidak senang, wajahnya murung.
“Apa itu ibu anak kecil itu? Tapi kenapa wajahnya murung?” Gara masih mengawasi Mikha, dia duduk di meja yang berjarak agak jauh dari meja Mikha dan wanita itu.
Beberapa kali Mikha merengek minta pulang, tapi wanita yang bersamanya tidak menghiraukannya, dia beberapa kali membujuk Mikha untuk makan. Sedangkan lelaki yang menjemput Mikha tadi duduk di hadapan Mikha.
Gara merogoh smartphone flip putih, tidak ada tanda misi berhasil, ada yang aneh!
Mikha tiba-tiba berlari keluar, wanita dan lelaki yang bersamanya mengikutinya, Gara pun juga tidak mau ketinggalan.
“Mikha mau pulang, pokoknya Mikha mau ketemu mama.” Mikha mulai menangis, kedua orang itu tampak bingung untuk menenangkan Mikha.
“Mama kan ada disini sayang.” Wanita itu membelai rambut Mikha.
“Bukan! Aku enggak mau sama mama Celin! Aku maunya sama mama Kalani!” Mikha membentak wanita itu, dia semakin menangis.
‘Jangan-jangan mereka bukan orang tua anak ini ya?’ Batin Gara.
“Kita bawa pulang saja sayang, nanti Kalani bisa nemuin kita disini.” Ajak lelaki itu.
‘Kalani?’ Batin Gara.
“Oke.” Wanita itu mau menggendong Mikha tapi Mikha kembali kabur, Gara segera menangkap Mikha dan membawanya menggunakan motor.
“Om ini siapa? Mau bawa aku kemana? Lepasin!” Mikha merengek.
“Om temennya mama kamu, mama Kalani, om bakal bawa kamu balik ke sekolah.” Motor Gara melaju kencang menuju TK Melati Putih.
“Mama Kalani?” Tanya Mikha.
“Iya, kamu pegangan kencang ya Mikha!”
“Oke om.”
...----------------...
Sampai di TK Melati Putih, Gara dan Mikha langsung di sambut guru-guru yang tampak khawatir.
“Mikha kamu kemana nak? Mama kamu cariin.” Seorang guru memeluk Mikha.
“Mikha tadi dijemput papa Theo ketemu mama Celin.” Jawab Mikha.
“Mikha tunggu sebentar ya.” Guru itu mendekati Gara.
“Kamu siapa?” Tanyanya dengan nada judes.
“Emm.. saya..” Gara gelagapan menjawab, tiba-tiba mobil yang tadi membawa Mikha datang, Celin dan Theo keluar dari mobil menghampiri Mikha tapi dihalangi oleh semua guru.
“Apa-apaan ini? Kalian enggak bolehin saya ketemu anak kandung saya??” Teriak Celin ke semua guru yang melindungi Mikha.
Gara semakin bingung, dia mau kabur tapi rasanya tidak tepat, Gara memilih terdiam, dia berdiri di belakang guru Mikha yang menanyainya tadi.
“Maaf bu, tapi ibu Kalani sudah berpesan pada kami.” Guru yang tadi menanyai Gara maju untuk menjawab Celin, dia adalah kepala sekolah bernama Terry.
“Kalani? Ibu tahu kan dia itu mama tirinya Mikha! Saya ini ibu kandungnya!” Celin semakin marah, tiba-tiba sebuah mobil mini couper berwarna merah datang, seorang wanita keluar lalu berlari ke arah Mikha.
“Kalani??” Gara terkejut melihat satu-satunya mantan kekasihnya yang lama tidak bertemu muncul disaat keadaan aneh seperti ini .
“Mama.....” Mikha memeluk Kalani.
“Tenang sayang, mama disini.” Kalani menenagkan Mikha.
“Kalani! Kamu ini apa-apaan sih melarang aku ketemu anak aku sendiri?!” Celin semakin marah.
“Kamu tanya saja sama Juna langsung.” Kata-kata Kalani membuat Celin terdiam.
“Aku bakal ambil Mikha dari kalian.”
“Kalau Juna mengijinkan aku langsung serahkan Mikha ke kamu.”
Celin menatap Kalani dengan tatapan penuh amarah, dia akhirnya pergi bersama sang suami, Theo.
Kalani memeluk Mikha erat, Gara memperhatikannya.
“Mama.. om itu teman mama ya?” Mikha menunjuk Gara. Kalani menengok kearah yang Mikha tunjuk.
“Kanigara??” Kalani terkejut melihat Gara.
Gara hanya tersenyum dan membatin ‘Mampus! Gimana aku harus jelasin ke Kalani soal aku bawa Mikha kesini?’
“Kanigara?” Kalani mendekat ke Gara.
“Halo Kal.” Sapa Gara canggung.
“Ibu kenal orang ini? Orang ini yang membawa Mikha kesini bu.” Terry menjelaskan kejadian tadi ke Kalani.
“Iya bu, dia teman saya.” Kalani masih bingung.
“Jadi gini Kal, aku tadi enggak sengaja lihat anak kamu di resto Stromellow, aku juga baru mau makan disana, tapi aku merasa ada yang aneh sama tiga orang di meja itu. Aku lihat anak itu nangis terus dan bilang Mikha mau ketemu mama Kalani, lalu anak itu lari keluar dan aku lihat dua orang tadi memaksa anak itu untuk diajak pergi. Karena aku merasa ada yang aneh aku lalu bawa anak itu balik kesini.” Gara menjelaskan panjang lebar dengan kata-kata yang tidak tertara, dia menutupi fakta bahwa dia sedang mengintai Mikha.
“Dari mana kamu tahu Mikha sekolah disini?” Tanya Kalani.
“Emm.. dari baju seragamnya Kal.” Untung saja Gara masih bisa berpikir rasional.
“Hah.. makasih banyak ya Gara, kamu udah bawa Mikha ke aku, oh.. sebentar.” Kalani mengecek ponselnya, dia membaca pesan.
“Gara ini kartu nama aku, aku enggak bisa lama-lama, ada urusan. Kamu hubungi aku ya? Aku harus balas kebaikan kamu hari ini.”
“Enggak usah Kal, tapi aku bakal hubungi kamu kalau aku butuh bantuan.”
“Oke, aku pergi dulu ya.” Kalani berpamitan dengan guru-guru Mikha lalu mengajak Mikha pergi dengan mobilnya.
“Mentari Kalani, general manager, PT. Mienesia Jaya Merdeka? Wah.. dia sekarang jadi bu general manager Mienesia yang terkenal itu? Mie instannya rakyat negara ini? Gila.” Gara merasa senang dengan capaian mantan kekasihnya.
TRIIIING!
Sebuah notifikasi dari ponsel flip putih, Gara cepat-cepat merogoh sakunya untuk melihat aplikasi Golden Spoon.
‘SELAMAT! MISI PERTAMA SUKSES! REWARD Rp 10.000.000,- SUDAH MASUK KE AKUNMU!
TUNGGU MISI BERIKUTNYA!’
Gara segera melihat ke menu reward, benar! Reward yang sebelumnya 0 menjadi sepulih juta, Gara segera mentransfer reward ke rekeningnya, dia segera membuka m-banking dan berhasil, ada uang masuk sepuluh juta. Gara segera pergi dari TK Putih Melati, dia mencari ATM terdekat. Gara mengambil semua uang yang ada di rekeningnya, dia takut uang itu lenyap secara misterius.
“Wah.. gila aplikasi ini.” Gara senyum-senyum melihat uang yang baru saja dia ambil dari ATM. Gara langsung menuju minimarket, dia membeli makanan, minuman, beras, gula dan lain-lain untuk dia berikan ke panti asuhan.
*Bersambung..
Jangan lupa tinggalin jejak yaaah..
Makasih🥰*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Didik Setyawan
yg bodoh it yg pinjami windy pa si gara y,,,low hutang kyk gitu d'bolehkn,aq mau pinjam yg bnyk.nti tk suruh nagih sm jendral,pst seru dech crtax wkwkwk,,
2023-02-02
0
DEWA KEGELAPAN
pesen satu Appl nya
2022-11-27
0
Alghifarrie
sepulih > Sepuluh
2022-10-15
0