Pagi hari yang cerah, awan berwarna biru menghiasi langit putih yang bergumul indah. Suasana pagi ini membuat Gara semakin semangat untuk menjalani hari pertama menjadi karyawan PT. Mienesia Jaya Merdeka.
Gara datang pukul tujuh lebih tiga puluh menit, Gara menunggu di ruang HRD bersama empat orang karyawan baru untuk devisi yang berbeda. Setelah diberikan arahan oleh HRD, masing-masing karyawan di ajak ke ruangan devisi masing-masing.
Ruangan devisi akunting dan keuangan ada di lantai tujuh, Gara diantar oleh seorang HRD untuk masuk ke ruang kerjanya.
“Pagi semua, saya mau perkenalkan anggota baru buat devisi akunting dan keuangan yang namanya Gara.” HRD itu memperkenalkan Gara yang masih berdiri kaku di sebelahnya.
“Pagi semua, nama saya Kanigara Dipta. Umur saya dua puluh delapan tahun, single.” Semua orang tertawa mendengar perkenalan diri yang agak kolot style dari Gara. Gara menggaruk kepalanya, merasa salah tingkah dengan suasana baru ini.
“Halo Gara, saya Navera, manager di ruangan ini.” Navera, wanita single berumur tiga puluh delapan tahun dengan gaya berpakaian yang terlihat elegan.
“Iya bu, mohon bimbingannya.” Gara bersalaman dengan Navera.
“Kamu ikut sama Yoana ya Gara.” Navera menunjuk Yoana, seorang rekan Gara.
Gara duduk di kursi sebelah Yoana.
“Hai, aku Yoana kak. Aku panggil kak ya, soalnya aku lebih muda dua tahun dari kamu.” Yoana terlihat manis dengan rambut bop pendeknya yang diwarnai coklat dan baju dengan gaya simple.
“Iya Yoana.”
“Oiya.. udah dapat username sama password buat buka sistem kan?” Tanya Yoana sambil membawa sebuah buku dan beberapa nota.
“Kemarin udah dapat dari HRD.”
“Log in dulu aja. Ini buku panduan pekerjaan kita. Kita disini bertigas sebagai inputer transaksi. Aku sebagai inputer account payable, kamu inputer sebagai inputer account receivable. Ini ada beberapa invoice yang berkaitan dengan penerimaan perusahaan. Kamu pelajari dulu, kalau ada yang belum jelas tanya ke aku ya. Aku juga harus kerja soalnya, oke?” Jelas Yoana.
“Iya.” Gara mulai log in dan mempelajari tugas yang akan dia emban. Belajar hal baru seperti ini membuat Gara semakin bersemangat. Dengan kemampuan otaknya yang cerdas, Gara sudah paham alur dan sudah sempat praktek langsung input beberapa invoice saat jam kerja setelah makan siang.
“Wah.. kak Gara cepat banget adaptasinya, sebelumnya juga kerja jadi akunting ya kak?” Tanya Yoana sambil memuji kemampuan Gara.
Gara mengingat-ingat CV palsu yang dibuat Mr. Golden Spoon, di CV itu Gara memiliki pengalaman bekerja sebagai akunting selama empat tahun.
“Emm.. Iya, di PT. Halilintar Bakti.” Jawab Gara sedikit ragu.
“Oh.. gitu ya, perusahaan apa kak?”
“Perusahaan ekspor benang dan kain.” Gara sambil mengingat-ingat riwayat kerjanya dari CV palsu.
“Inputer juga kak?”
“Bukan, staff pajak.” Gara hanya menjawab singkat-singkat, dia takut salah bicara.
“Oh.. gitu. Oke deh kak, kita lanjut besok, pulang yuk, yang lain ufah pada pulang tuh.” Ajak Yoana.
“Iya, duluan aja, aku belum beres-beres, masih ada yang mau aku catat dulu, biar enggak lupa.”
“Oke deh kak, aku duluan ya. Semangat kak Gara.” Yoana meninggalkan Gara.
“Beruntung banget dapat partner baik, cantik pula.” Gara mencatat apa yang sore ini ia pelajati.
TRIIIING!
Gara buru-buru melihat aplikasi Golden Spoon.
‘MISI KEEMPAT TELAH DATANG’
‘AYO LAKUKAN MISI INI DAN DAPATKAN REWARD SEBESAR’
‘Rp 40.000.000,-‘
LAKUKAN MISI SEKARANG?
Tanpa ragu Gara segera menekan oke pada aplikasi Golden Spoon.
‘MISI KEEMPAT : DATANG KE GEDUNG KOSONG AMBIL ALAT SADAP DATA, TEMPELKAN ALAT ITU KE KOMPUTER KERJA MU DANINTAI ARJUNA, BERIKAN SAYA INFO PENTING TENTANG DIA.’
“Misi bahaya kayak gini cuman dapat empat puluh juta?” Gumam Gara.
TRIIING!
‘Pesan dari Mr. Golden Spoon : Oke, dua kali lipat?’
Gara tersenyum, “Oke, deal!”
Gara meninggalkan kantor menuju gedung kosong untuk mengambil alat sadap data yang berbentuk chip magnet berukuran dua centimeter.
Keesokan paginya Gara menempelkan alat sadap ke komputer kerjanya. Hari ini Gara memulai pekerjaannya, dengan otak cerdasnya Gara dengan mudah beradaptasi dengan pekerjaannya. Bahkan dia dipuji manajernya karena cepat tanggap pekerjaan. Teman-teman di kantor Gara juga sangat baik, Gara bisa dengan cepat beradaptasi dengan mereka.
Dua minggu berlalu Gara mulai menikmati pekerjaannya, sepulang dari kantor dia selalu pergi makan dengan teman-temannya, hingga pulang larut malam.
“Hah.. kenyang banget.” Gara membanting badannya di kasur.
TRIIING!
‘Pesan dari Mr. Golden Spoon : Kanigara! Tanpaknya kamu sudah keluar dari jalur! Karena menemukan tempat dan orang-orang yang membuat mu nyaman hingga melupakan misi utama mu. Sudah dua minggu tidak ada progres sama sekali!’
“Mengintai bos besar memangnya mudah? Jangan terburu-buru Mr. Golden Spoon. Saya akan selesaikan misi ini segera. Jangan khawatir.” Gara merasa kesal, selama dua minggu ini sebenarnya dia mencari ide dan celah untuk bisa mengintai Arjuna.
‘Pesan dari Mr. Golden Spoon : Waktunya satu minggu!’
“Oke.”
...----------------...
Hari ini adalah hari dimana Gara mengintai Arjuna. Hari ini tepat dengan diadakannya acara briefing umum, dimana Juna pasti akan muncul. Acara briefing umum di lakukan setelah jam pulang kantor di aula utama.
Gara dan semua karyawan berkumpul di aula, tak lama kemudia petinggi perusahaan datang. Gara akhirnya melihat secara langsung sosok Juna, dia terlihat berwibawa dengan setelah jas berwarna biru tua yang sangat cocok dipakai dibadannya yang tinggi dan ramping, Juna tampak seperti model.
Kalani juga terlihat menawan, dia mengenakan midi dress berwarna merah hati, dipadukan dengan dandanan yang simpel , dan rambut panjang hitamnya terurai, terlihat cantik.
“Dokter Rhea keliatan cantik ya?” Kata seorang teman kerja Gara.
“Iyalah, makanya Pak Juna mau sama dia, hihihi.” Jawab teman lainnya.
“Sst.. ngawur kamu, nanti mereka dengar lho.”
“Mana mungkin, kan mereka di atas sana.”
Beberapa kali Gara mendengar desas desus mengenai Juna yang berselingkuh dengan dokter Rhea. Dokter Mariska Rhea adalah dokter perusahaan Mienesia, dia juga menjalin kerja sama dengan PT. Mienesia mengekspor obat herbal. Kerja sama ini baru di lakukan satu tahun belakangan.
‘Apa benar suami Kalani selingkuh dengan dokter itu?’ Gara membatin sambil matanya terus mengamati Juna yang sedang ngobrol dengan Rhea, Kalani sejak tadi hanya diam. Memang jika dilihat Kalani dan Juna tidak tampak mengobrol dan terlihat tidak seperti layaknya pasangan suami istri.
Selesai acara Gara langsung mengikuti Juna, dia mengintai dari jarak yang agak jauh namum masih bisa menjangkau keberadaan Juna. Juna tampak mengobrol dengan beberapa petinggi perusahaan sedangkan Kalani sudah pergi dengan supir pribadinya. Rhea sempat berbisik kepada Juna lalu pergi menuju tempat parkir, sedangkan Juna pergi ke arah lobi.
Ternyata Juna pergi sendiri dengan mobilnya, Gara buru-buru mengambil motornya lalu mengintai mobil Juna. Sempat kehilangan jejak tapi akhirnya Gara bisa menemukan mobil BMW 218i Gran Coupe warna putih itu. Mobil Juna masuk ke baseman sebuah hotel bintang lima Mutiara Barat. Gara mengikuti, ternyata Juna masuk ke restoran hotel itu, disana sudah ada Rhea yang duduk manis menunggu. Rhea melambaikan tangan ke arah Juna.
‘Ternyata ketemuan disini.’ Gara duduk tidak jauh dari meja Juna dan Rhea. Keduanya tampak sedang memilih menu, tangan Juna merangkul mesra pundak Rhea.
“Permisi pak, ini menunya, silahkan.” Seorang waiters datang memberik buku menu ke Gara.
“Oh.. iya.” Gara melihat menu-menu dengan harga yang menurutnya tidak masuk akal untuk harga sebuah makanan hingga membuatnya menghela nafas. “Saya pesan sup ayam, nasi, dan lemon tea hangat.” Gara mau tidak mau harus memesan sesuatu supaya tidak terlihat aneh.
“Baik pak, mohon ditunggu.” Waiters wanita itu pergi meninggalkan Gara.
...----------------...
“Istri kamu enggak tanya kamu pergi kemana?” Tanya Rhea ke Juna.
“Enggak, dia udah enggak perduli kayaknya sama aku.” Jawab Juna sambil membelai pipi cubby Rhea.
“Heumm.. sayangnya walau udah kayak gitu kamu juga enggak bisa cerai dari dia. Kasian sayangku pasti tersiksa.” Rhea memeluk Juna.
“Untung ada kamu sayang.” Juna membalas pelukan Rhea.
Di tempat duduknya, Gara merasa sangat kesal melihat adegan romantis Juna dan Rhea yang menurutnya sangat menjijikan itu. Gara diam-diam memotret dengan ponselnya, tapi karena ponselnya jadul hasil fotonya tidak begitu bagus. “Hah.. dasar handphone jelek.” Keluh Gara.
TRIIING!
Notifikasi masuk dari aplikasi Golden Spoon.
‘Pesan dari Mr. Golden Spoon : Sistem kamera di smartphone ini sudah di aktifkan.’
“Nah.. gitu dong, smartphone canggih masa cuman bisa buat terima misi doang.” Gumam Gara.
‘Pesan dari Mr. Golden Spoon : Kamu kan bisa beli smartphone baru dari reward misi Kanigara!’
“Hiih.. Mr. Golden Spoon jangan berisik deh, nanti aku ketahuan.” Gara masih mencoba memotret Juna dan Rhea.
Seorang waiters datang membawa pesanan Gara. “Silahkan dinikmati.”
“Terimakasih.” Juna mulai menikmati makanannya.
"Sup kayak begini seharga belanjaan ibuk buat kasih makan anak-anak panti seharian, ckckck.. dasar orang kaya sukanya pada buang-buang uang." Gara mengguman sendiri sambil makan.
Juna dan Rhea selesai makan, mereka menuju kasir untuk membayar. Gara yang masih makan harus merelakan meninggalkan makanan mahal itu, dia juga ke kasih untuk membayar.
“Meja dua puluh delapan.” Mata Gara masih tertuju ke Juna dan Rhea.
“Seratus enam puluh lima ribu pak.” Kata kasir.
Glek.. Gara menelan ludah sambil memberi uang pas ke kasir. Kasir memberi Gara struk.
‘Benar-benar seharga uang belanja ibuk buat makan orang satu panti seharian nih.’ Batin Gara.
Gara mengintai Juna dan Rhea yang sedang berdiri di depan meja resepsionis. Setelah mendapat kunci kamar mereka berjalan menuju lift.
“Check in berdua??” Gara semakin kesal melihatnya.
*Bersambung..
Lanjut bacanya ya, jangan lupa tinggalkan jejak, makasih😍*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
zoya
jadi mata2 seru juga
2022-11-14
0
Eros Hariyadi
sistem kok cuman nugasin MC-nya mengamati perbuatan pelakor berselingkuh seehh..🤔🙄😫😫😫
2022-10-13
0