Hari baru dimulai.
Gara memarkirkan sepeda motornya di parkiran depan khusus karyawan.
Baru saja membuka helm Gara sudah melihat Kalani yang keluar dari mobilnya yang terparkir khusus di tempat parkir jajaran petinggi perusahaan.
Gara mengikuti Kalani masuk ke gedung kantor. Kalani menunggu di depan lift khusus untuk petinggi perusahaan, sedangkan Gara menunggu di depan lift kayawan.
Kalani menoleh ke Gara, Gara dan beberapa karyawan menundukan kepala untuk memberi hormat ke Kalani.
DING!
Lift khusus untuk petinggi perusahaan terbuka, Kalani masuk lalu pintu lift kembali tertutup. Gara hanya bisa memandang Kalani, walau sebenarnya hatinya tidak ingin melewatkan Kalani begitu saja.
DING!
Gara dan beberapa karyawan masuk ke dalam lift.
Hari ini Gara bersiap untuk melakukan misi kelima.
Ditengah-tengah mengerjakan tugas kantor, Gara mengintai Navera, dia mencari celah untuk menjalankan misi, tapi ternyata tidak semudah yang dia pikirkan. Tidak sembarang orang bisa masuk ruangan Navera apalagi memegang laptop miliknya.
Gara masih belum menemukan alasan yang tepat untuk bisa masuk ke ruangan Navera tanpa di curigai oleh siapapun.
‘Hah.. ternyata ke kamar mandi saja pintu ruangannya di kunci. Heumm.. sepertinya misi ini tidak bisa dijalankan hari. Aku harus membuat strategi terlebih dahulu.’
Hari ini Gara gagal menjalankan misi, dia belum ada strategi untuk bisa masuk ke ruangan Navera.
...----------------...
Gara berbaring di kasur kamar kostnya, sudah jam sebelas malam tapi matanya masih belum bisa diajak tidur.
“Mister, aku rasa Kalani menyembunyikan sesuatu. Saat aku sodorkan foto Juna dan Rhea, Kalani sama sekali tidak syok, dia lebih terlihat seperti marah dan dendam.” Gara mengajak Mr. Golden Spoon berkomunikasi tapi tidak ada respon.
Tiga puluh menit berlalu, masih tidak ada respon, tidak ada notifikasi muncul dari aplikasi Golen Spoon.
“Mister! Tidur ya? Sudah dapat obat yang manjur untuk insomnia ya?” Gara masih mencoba berkomunikasi dengan Mr. Golden Spoon.
TRIIIING!
Bunyi notifikasi dari aplikasi Golden Spoon membuat Gara cepat-cepat bangkit dari kasur untuk mengambil smarthphone flip yang tergeletak di meja belajarnya.
‘Pesan dari Mr. Golden Spoon : Sudah malam, sebaiknya kau coba untuk tidur!’
Gara tersenyum, dia mulai suka menjahili Mr. Golden Spoon. “Hah.. baca buku aja deh biar ngantuk.” Gara membaca buku hingga akhirnya ketiduran.
...----------------...
“Pagi yang cerah, semoga hari ini aku berhasil menjalankan misi. Semangat Gara!” Gara menyemangati dirinya sendiri sebelum berangkat kerja.
Jika jalanan tidak macet butuh waktu tiga puluh menit dari kost Gara hingga ke kantor.
“Pagi Yo!” Sapa Gara ke Yoana yang sudah dulu sampai di kantor.
“Pagi kak.” Sapa balik Yoana yang sedang nonton drama korea.
Gara melirik ke ruangan Navera yang masih terkunci. ‘Oke pas banget bu Navera belum datang.’ Batin Gara.
Pukul 07:52 Navera masuk ke ruangan.
“Pagi semua.” Sapa Navera.
Gara buru-buru berdiri lalu mendekat ke Navera yang sedang membuka pintu ruangannya.
“Saya bantu bu, kayaknya kerepotan.” Gara berniat membantu membawa laptop Navera, tapi..
“Gara tahu aja kalau susah buka kunci, nih.” Navera memberikan kunci ruangannya, sedangkan laptopnya di dekap di depan dada.
“Iya bu.” Gara membuka pintu ruangan Navera.
“Thanks Gara!” Navera masuk ke ruangannya
Tetot! Percobaan pertama gagal!
Gara kembali duduk ke kursinya.
“Cie.. yang baik-baikin ibu manajer biar dilulusin jadi karyawan tetap ya kak? Hehe..” Bisik Yoana ke Gara.
Gara hanya membalas dengan senyuman kaku dan aneh.
Pukul 10:30
“Permisi mau kirim kopi pesanan atas nama Kanigara.” Seorang kurir makanan online membuyarkan konsentrasi seluruh karyawan di devisi akunting dan keuangan.
“Iya pak, makasih ya.” Gara cepat-cepat menerina kopi sejumlah seluruh karyawan devisinya. Gara membagikan kopi ke seluruh rekan satu devisinya, lalu yang terakhir Navera.
Tok.. tok..
Gara mengetuk pintu, Navera memberi isyarat untuk masuk. “Bu ini ada kopi.” Gara meletakan kopi di meja Navera.
“Wahh.. traktiran gaji pertama ya?”
“Hehe.. iya bu.” Gara melirih ke laptop Navera yang tertutup, dia tidak bisa terang-terangan menempelkan alat sadap dalam keadaan seperti ini.
“Makasih ya Gara, yaudah kalau begitu kamu lanjut kerja lagi ya, saya mau ada meeting online.” Navera mengusir Gara secara halus.
“Baik bu.” Gara keluar ruangan Navera.
Tetot! Percobaan kedua gagal lagi.
“Hahh..” Gara menghembuskan nafas kesal, dia lalu keluar ruangan untuk menuju ke rooftop untuk mencari udara segar, agar dapat ide untuk melakukan misinya.
Saat sampai di depan pintu rooftop sekertaris Kalani sedang berjaga.
“Maaf dilarang ada yang menuju rooftop, ada ibu Kalani.” Kata sekertaris wanita itu.
“Saya tunggu disini kalau begitu.” Gara memperhatikan Kalani dari jauh, hanya terlihat punggung dan rambut panjang Kalani yang terikat, dan juga kepulan asap rokok.
‘Kal.. rokok enggak baik buat badan kamu.’ Gara membatin seolah berbicara langsung pada Kalani.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya Gara memilih kembali ke ruangannya, sedangkan Kalani masih menikmati kesendiriannya di rooftop.
Gara melirik ke ruangan Navera yang terkunci, roller blind di turunkan hingga Gara tidak bisa melihat ke dalam ruangan. “Sepertinya baru meeting penting.” Gumam Gara sambil menuju ke kursinya.
Hari kedua gagal! Sampai jam pulang kantor tiba Gara masih belum punya kesempatan untuk melakukan misinya.
“Gimana nih kalau begini terus bisa makan waktu lama buat lakuin misi ini.” Gumam Gara seraya menuju ke parkiran motor.
...----------------...
Sudah empat hari berturut-turut Gara gagal mendapat kesempatan untuk melakukan misinya, semalam Mr. Golden Spoon memgirim pesan agar meminta Gara lebih agresif.
Setelah semalaman berpikir akhirnya Gara menemukan sebuah ide.
Pagi ini Gara membawa sandwich untuk dibagikan ke seluruh rekan satu devisinya termasuk Navera. Gara memberikan obat pencahar bubuk tanpa rasa yang dia beli di apotek, untuk ditaburkan di sandwich yang akan diberikan ke Navera.
Sebenarnya Gara merasa ide ini sedikit keterlaluan mengingat hari ini ada meeting para manajer dengan petinggi perusahaan, tapi entah mengapa hanya ide ini yang menurutnya bisa dipakai untuk membuat Navera lengah.
Pukul 08:50 Navera meninggalkan ruangannya, dia membawa tas, laptop dan sandwich yang diberikan Gara.
‘Masih belum di makan ternyata, pantas saja belum ada efeknya.’ Batin Gara.
Gara melakukan pekerjaan seperti biasa, lalu saat jam makan siang Gara menunggu Navera di depan lift. Gara berpura-pura main ponsel sambil memakan sandwich agar tidak terlihat aneh.
Pukul 12:15 Navera keluar dari lift.
“Garaaaaaa.” Navera memanggil Gara dengan nada yang tidak biasa.
“Iya bu, ada apa?” Gara menghampiri Gara.
“Minta tolong bawakan ini dulu, saya mau ke kamar mandi.” Navera memberikan tas dan laptopnya ke Gara lalu berlari menuju kamar mandi.
Gara masuk ke ruang kerja lalu cepat-cepat Gara menempelkan alat sadap data di belakang laptop Navera. Alat sadap data itu berbentuk chip kecil berukuran dua mili meter yang dilapisi isolasi hitam pekat agar tersamarkan.
Gara hanya membutuhkan waktu tiga menit untuk melakukan misinya, lalu dia duduk di kursinya berpura-pura tenang sambil menunggu Navera.
“Maaf ya Gara.” Navera masuk ke ruangan.
“Enggak apa-apa bu, ibu baik-baik aja?” Gara berpura-pura tidak tahu padahal itu adalah ulahnya.
“Hehe.. enggak apa-apa kok, makasih ya Gara.” Navera malu, dia mengambil tas dan laptopnya dari Gara lalu masuk ke ruangannya.
TRIIIING!
Suara notifikasi dari Golden Spoon.
‘SELAMAT! MISI KELIMA SUKSES! REWARD SEBESAR Rp 50.000.000,- SUDAH MASUK KE AKUNMU!’
"Yes! Akhirnya berhasil juga" Gara nerasa bangga dengan dirinya sendiri yang akhirnya bisa berhasil melakukan misi dengan tingkat resiko yang tinggi.
Bersambung...
Plissss.. Tinggalkan jejak ya buat semangatin writernim, makasih🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Didik Setyawan
jnji dgn kalani kok gk da y,eror...
2023-02-02
0
zoya
mantap, mencret2 dach tu meneger
2022-11-14
0
Eros Hariyadi
jejak Like...😄💪👍👍
2022-10-13
0