Bab 16 : FLASH BACK! BACK TO 2011!

...F L A S H B A C K!...

.......

.......

.......

Tahun 2011, SMA Nusa Bangsa Satu.

Di kelas 11 IPS-1.

Gara duduk di kursi paling belajak paling pojok menyandar tembok. Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Gara mengamati teman-teman sekelasnya yang sibuk berkenalan dan pamer sepatu, tas dan ponsel baru. 

“Uww.. Kalani juga ada di kelas ini ternyata.” Bisik seorang siswa yang duduk di kursi depan Gara ke temannya.

Gara melirik, memperhatikan sang wakil ketua osis yang baru, Kalani. Kalani adalah siswi yang terkenal diantara teman satu angkatan bahkan kakak kelas. Kalani siswi yang pintar, dia selalu masuk sepuluh besar ranking pararel satu angkatan. Bukan hanya pintar saja, Kalani terkenal karena parasnya yang cantik, namun dia terkenal cuek dan jutek, tapi itulah yang membuat daya tarik seorang Kalani bertambah di mata para siswa. 

Bukan hanya siswa-siswa saja yang tertarik dengan Kalani, siswi-siswi satu angkatan banyak yang ingin berteman dengannya, karena tahu bahwa Kalani adalah anak orang kaya dan dia juga tidak pelit masalah uang. Nilai seorang Kalani adalah 10/10, pintar, cantik dan kaya.

Kalani berjalan menuju kursi belakang, “Boleh duduk sini?” Tanya Kalani pada seorang siswa yang tadi berbisik.

“Kamu enggak mau duduk di depan aja Kal?” Tanya siswa itu.

“Enggak, aku enggak suka duduk di depan, tapi enggak mau juga duduk paling belakang.” Jawab Kalani.

“Oke deh, apa sih yang enggak buat Kalani.” Siswa itu lalu pindah ke kursi sebelah Gara, kursi di kelas ini berjarak satu sama lain, satu siswa satu meja.

Tatapan Kalani dan Gara saling bertemu, tapi wajah mereka sama-sama cuek, tidak ada yang saling menyapa atau saling berkenalan.

Jam pelajaran pertama adalah bahasa Indonesia, guru mata pelajaran ini adalah wali kelas mereka. Wali kelas meminta untuk membentuk pengurus kelas dan melapor setelah pulang sekolah.

“Oke, kita tunjuk sekarang aja ketua kelasnya. Gimana kalau Kalani aja? Dia kan wakil ketua osis baru nih?” Kata seorang siswa bernama Galdine, dia adalah salah satu pemain basket tim inti sekolah ini.

“Setuju.” Jawab seorang siswi bernama Tania, dia adalah anggota tim cheerleader sekolah ini.

“Iya, iya, setuju juga.” Jawab Henry, seorang anggota club band.

Siswa-siwi lain bersorak setuju.

‘Hem.. ternyata banyak anak-anak famous di kelas ini.’ Batin Gara, dia tidak tertatik dengan pemilihan pengurus kelas, Gara menempelkan pipi kanannya ke meja, wajahnya menatap tembok.

Tok.. tok..

Kalani mengetuk meja Gara. Gara mengangkat wajahnya “Kenapa?”

“Gimana menurut kamu?” Tanya Kalani.

“Aku ikut aja.” Gara kembali menempelkan pipinya ke meja, kembali seperti semula.

Tok.. tok.. 

Kalani mengetuk meja Gara lagi.

‘Hahh.. ngeselin banget sih nih cewek!’ Batin Gara.

“Apa?” Tanya Gara malas.

“Kalau dia mau jadi wakil ketua kelas aku mau jadi ketua kelas.” Kalani menunjuk Gara.

“Emm.. enggak masalah, Kanigara jusa siswa penting di kelas kita, dia kan ranking tiga pararel kemarin." Kata Galdine.

"Gimana?" Tanya Kalani ke Gara.

'Jadi aku juga siswa yang terhormat di kelas ini gara-gara aku masuk ranking tiga besar pararel, oke!' Kepercayaan diri Gara bangkit.

"Terserah aja, kalau yang lain enggak keberatan aku oke." Kata Gara.

"Oke kalau gitu resmi ya, ketua kelas kita yang terhormat ibu Kalani dan wakilnya yang terhormat bapak Kanigara, tepuk tangan!" Sorak tepuk tangan dipandu oleh Galdine.

Keesokan harinya.

Jam istirahat, Gara menghabiskan jam istirahat dengan membaca di perpustakaan. Selain karena uang sakunya hanya sedikit, dan dia lebih memilih untuk menabung, Gara memang hobi membaca.

Dug!

Gara mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang menaruh buku secara kasar di meja yang dia pakai untuk membaca.

Ternyata Kalani, dia menaruh sebuah buku lalu duduk dihadapan Gara.

"Enggak bosen memangnya belajar terus?" Tanya Kalani.

"Siapa yang belajar?" Gara kembali fokus ke buku yang dia baca.

Kalani menunjuk buku Gara dengan dagunya.

"Aku baru ngelakuin hobi aku, baca! Bukan belajar." Jawab Gara ketus, dia tidak tertarik dekat-dekat dengan orang yang levelnya sangat berbeda dengannya.

"Oh.." Kalani ikut-ikutan membaca.

Entah kenapa Gara tidak bisa fokus karena Kalani ada di hadapannya. Gara pindah ke kursi sebelah, tapi Kalani mengikutinya.

"Hahh.. ada masalah apa sih sama aku?" Tanya Gara.

"Enggak tuh.. aku cuman penasaran aja sama kamu." Jawab Kalani.

"Penasaran??"

"Iya aku penasaran sama seorang anak panti asuhan yang bisa jadi ranking tiga besar pararel di sekolah. Aku aja mati-matian les dan kursus tapi kemarin cuman ranking delapan parapel tuh." 

Gara tersenyum kecut mendengar kata-kata Kalani yang terdengar merendahkannya.

"Kalau gitu, kamu yang anak orang kaya dan terkenal seantero sekolahan jangan dekat-dekat sama aku, si anak panti asuhan." Gara berdiri lalu mengembalikan buku ke rak buku.

"Eh.. bukan gitu Gara maksud aku, aku enggak bermaksud ngejek atau merendahkan kamu." Kalani juga mengembalikan buku yang dia ambil lalu membuntut Gara yang sudah keluar perpustakaan.

"Gara maaf, aku enggak bermaksud kayak gitu, beneran!" Kalani mengejar Gara.

"Iya dimaafin." Gara masuk ke kamar mandi, Kalani berhenti mengejarnya.

"Huhh.. salah deh aku. Dasar Kalani!" Kalani mengetuk pelan kepalanya.

"Hai Kal, ngapain kamu berdiri di depan kamar mandi laki-laki?" Tanya Brian, dia adalah orang belum lama ditolak pernyataan cintanya oleh Kalani.

"Emm.. nunggu seseorang." Jawab Kalani.

"Cowok?" Tanya Brian.

Kalani hanya mengangguk.

"Itu dia!" Kalani menunjuk Gara yang baru saja keluar dari kamar mandi.

"Lama banget sih." Kalani menggandeng tangan Gara. "Yuk." 

Gara berusaha melepaskan tangannya tapi Kalani semakin erat menggandengnya. "Bye Brian." 

Kalani berjalan cepat menuju arah kelas.

"Apa-apaan sih ini?" Gara berbisik ke Kalani.

"Udah diam aja. Biar Brian enggak lagi dekat-dekat sama aku." Bisik Kalani.

Orang-orang yang mereka berdua lewati melihat ke arah mereka. "Bisa dilepas sekarang enggak? Anak-anak pada lihatin kita tuh." Gara sudah tidak melawan tangannya di gandeng.

Kalani menengol ke belakang, memastikan bahwa Brian sudah tidka terlihat, lalu melepaskan tangan Gara.

"Makasih Gara." Kalani lalu berlari menjauh dari Gara.

"Apa-apaan sih tuh anak." Gara tidak habis pikir dengan kelakuan absurd Kalani.

Jam pulang sekolah tiba.

Kalani mengumpulkan data siswa-siswi dari semua teman sekelasnya.

"Eh.. Eh.. Mau kabur kemana??" Kalani menahan Gara yang sudah siap memakai tas punggungnya.

"Pulanglah."

"Enak aja, bawa formulir data siswa ke ruang guru dulu dong. Kamu juga belum kumpulin."

Gara mengambil formulir data siswa dari dalam tasnya lalu ia berikan ke Kalani. "Yaudah buruan sini aku bawa ke ruang guru."

"Iya sebentar." Kalani mengambil tasnya lalu berjalan keluar kelas. "Ayo buruan." Kalani mengajak Gara.

"Aku sendiri aja enggak apa-apa." Gara hendak menarik formulir-formulir itu dari tangan Kalani, tapi Kalani menolak.

"Masih marah sama aku? Aku beneran enggak bermaksud apa-apa Gara."

"Hah.. Yaudah iya, iya bareng ke ruang guru." Gara berjalan mendahului Kalani, Kalani mengejar Gara.

"Habis pulang sekolah mau kemana Gara?"

"Pulang ke PANTI ASUHAN." Gara menekankan nada bicaranya.

"Biasa aja dong! Boleh ikut enggak?"

Gara berhenti lalu menatal Kalani, "Mau ngapain?"

"Enggak boleh ya?"

"Enggak usah, kita enggak sedekat itu buat saling datang ke tempat tinggal masing-masing."

"Jadi harus sedekat apa buat boleh main ke tempat tinggal kamu? Pacaran?"

Gara menghembuskan nafas, dia kehabisan kata-kata menghadapi Kalani.

"Udah buruan, aku banyak tugas yang harus dilakuin." Gara berjalan mendahului Kalani.

"Kalau gitu jadiin aku pacar kamu dong Gara!" Kalani berteriak.

Gara menoleh. "Buruan kumpulin formulir itu terus pulang." Gara tidak menggubris Kalani.

Kalani berlari menuji ruang guru, lalu mengumpulkan formulir itu di meja wali kelas mereka.

Kalani keluar dari ruang guru dan melihat Gara sudah berjalan menuju tenpat parkir.

"Suka deh sama laki-laki yang jual mahal kayak Gara." Gumam Kalani.

Terpopuler

Comments

Alghifarrie

Alghifarrie

Jusa > Juga

2022-10-15

0

Utagusta

Utagusta

Tok.. tok.. up thor up😆

2022-09-13

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!