Pagi hari sebagai pengangguran dimulai, Gara bermalas-malasan, dia baru bangun tidur jam sembilan pagi.
"Arrgh.. bangun siang memang paling menyenangkan.” Gara cuci muka dan bersiap melakukan hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Gara memasuki sebuah tempat gym.
"Oke.. mari kita coba.” Gara menemui instruktur gym, mulai hari ini dia bertekat untuk berolahraga dengan giat, Gara bahkan nemikirkan akan ikut berbagai club olahraga untuk mengisi hari-harinya sebagai pengangguran.
“Arrrgh… gila!” Gara duduk dilantai setelah latihan cardio intens selama empat puluh menit.
“Haha.. memang begitu awalnya terasa berat banget tapi nanti seiiring berjalannya waktu kamu pasti bakal enjoy.” Kata instruktur gym Gara.
“Siap coach!” Gara masih mengatur nafas.
“Latihan hari ini sampai disini jangan lupa besok datang lagi ya.”
Gara hanya memberi tanda oke dengan tangannya, nafasnya masih ngos-ngosan.
Ponsel Gara berdering.
“Hah.. siapa sih pagi-pagi begini?” Gara meraih ponselnya yang tergeletak di lantai. “Stanlay?” Ternyata panggilan masuk dari Stanlay.
“Ehem.. ehem..” Gara mengatur suaranya sebelum mengangkat telepon dari Stanlay.
“Halo, baru apa? Aku Stanlay.” Suara feminimnya pun masih terdengar jelas walau hanya dari speaker ponsel.
“Iya, emm.. baru ngegym, gimana? Berubah pikiran? Hahh..” Gara masih tidak bisa menyembunyikan nafas ngos-ngosannya.
“Emm.. aku kesitu deh, dimana?”
“Di Startos Gym, dekat sih dari café mu.”
“Oke, lima menit lagi aku sampai.” Stanlay lalu memutus teleponnya.
“Hahh.. semoga berhasil.” Gara masih duduk dilantai, dia melihat sekeiling. “Wah.. gila! Keren-keren banget badan mereka, aku pasti bisa punya badan kayak mereka, hehe..” Gara senyum-senyum sendiri membayangkan badannya berotot.
“Aishh..” Saking tidak fokusnya karena sedang berkhayal Gara sampai menumpahkan air mineral di badannya hingga membasahi kaos putih polos yang dia pakai.
“Gara?” Stanlay sudah datang, dia berdiri tepat di depan Gara.
“Oh.. udah datangnya. Maaf aku belum sempat ganti baju, emm.. tunggu dulu di luar aku ganti baju sebentar.” Gara berdiri dia berniat menuju ruang ganti baju.
“Emm.. enggak usah, kayak gini aja, sexy.” Stanlay mendekat ke Gara lalu berbisik seductive.
Gara mundur dua langkah, bedannya terasa merinding. ‘Damn! Agresif banget nih laki!’ Batin Gara.
“Emm.. oke kalau gitu kita ngobrol di luar.” Gara berjalan mendahului Stanlay. “Tunggu dong, jalannya jangan buru-buru.” Stanlay membuntut.
Gara mempercepat langkahnya menuju sofa santai di ruang tamu tempat gym.
“Jadi gimana? Berubah pikiran?” Gara langsung ke inti pembicaraan, dia tidak ingin bertele-tele, Stanlay seperti ulat bulu mnurutnya, MENGGELIKAN! GATAL!
“Hem.. tapi ada satu syarat.” Stanlay duduk bersebelahan dengan Gara di sofa hitam panjang.
“OKE! Apapun syaratnya aku bakal penuhi.” Gara merasa bangga bisa berhasil negosisasi dengan Stanlay.
“Nanti sore temani aku ke acara arisan ya Gara? Aku baru enggak ada gandengan nih buat datang arisan?” Stanlay menggeser duduknya hingga berjarak dua puluh centi meter saja dari Gara.
‘Mampus! Salah ngomong aku! Arisan? Jangan-jangan arisan berondong? Mati deh! Haduh..’ Gara memijat-mijat sudut keningnya, dia merasa dijebak oleh Stanlay.
“Gimana Gara? Setuju? Kalau setuju, besok pagi aku langsung mulai pindahan dan mungkin tiga hari lagi apartmen itu bisa kamu tempati. Gimana?” Stanlay merayu Gara.
Gara makin risih, suara Stanlay, gerak-geriknya saat bicara, semua membuat Gara geli.
“Hahh.. oke! Tapi kamu harus tahu Stanlay, aku laki-laki tulen, aku cuman ikut aja ke arisan itu, dan enggak bakal lakuin APAPUN! Oke?” Gara merasa harus menekankan informasi penting itu agar Stanlay tidak berbuat lebih jauh.
“Hahahahahaha..” Stanlay tertawa bertahak-bahak. “Gara.. gara.. lucu banget sih kamu. ‘Enggak bakal lakuin APAPUN?’” Stanlay meniru ucapan Gara.
“Iya! Itu syaratnya!” Gara menegaskan lagi ke Stanlay.
“Ckckck.. polos banget sih kamu. Oke datang ke café aku jam tga sore, pakai baju rapih, dandan yang keren dan jangan lupa pakai parfum ya.” Stanlay bangkit dari sofa, Gara hanya meliriknya.
Stanlay tiba-tiba menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Gara, sontak Gara bergeser dari tempat duduknya. “MAU APA KAMU?” Mata Gara melotot saking kagetnya.
“Dada sama perut kamu masih belum ada bentuknya, semangat bentuk badan ya Gara.” Bisik Stanlay tepat di sebelah telinga Gara.
“Hasshhh!!!” Gara menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya. Ternyata sejak tadi Stanlay memperhatikan dada dan perut Gara dari balik kaos putih Gara yang basah.
“Bye Gara, jangan lupa nanti jam tiga sore.” Stanlay berjalan menuju pintu keluar.
“Haaaaaaah.” Gara mengacak-acak rambutnya, dia kesal sendiri.
...----------------...
14:50
Gara memarkirkan motornya di depan café milin Stanlay. “Hahhh.. kalau enggak demi uang sama Kalani amit-amit deh kenal sama orang macam Stanlay.” Gara membuka helmnya lalu masuk ke café.
“Wow! Liat siapa yang datang.” Stanlay menyambut Gara, tapi yang disambut hanya diam.
“Heumm..” Stanlay berjalan mengitari Gara sambil menilai penampilannya.
“Rambut oke, celana oke, heumm. Tapi jaket busuk ini lepas deh.” Stanlay mencubit kecil jaket kulit yang Gara pakai.
“Bisa langsung jalan aja nggak?” Gara tidak menggubris perintah Stanlay.
“Uww.. udah enggak sabar ya?” Stanlay malah menggoda Gara.
“Hah.. udahlah aku pulang aja.”
“Berarti apartmennya enggak jadi dong?”
Gara yang sudah berjalan beberapa langkah terpaksa menghentikan langkahnya.
“Pasti brondongnya tuh.” Gara mendengar seorang pelanggan café berbisik pada temannya, Gara memperhatikan sekitar, ternyata hampir semua pengunjung café memperhatilannya.
‘Damn! Jebakan nih namanya.’ Gara mengumpat dalam hati.
“Udah ayo buruan.” Ajak Gara.
“Lepas dulu dong jaketnya.” Stanlay tidak mau kalah.
“Hah..” Dengan kesal Gara akhirnya melepaskan jaketnya.
“Nah.. gitu kan lebih kelihatan keren. Yuk.” Stanlay akhirnya berjalan keluar café, Gara sangat kesal dan malu, ingin rasanya dia menghilang saat ini.
Stanlay melemparkan kunci mobil ke Gara. “Kamu yang bawa.”
Gara melemparkan kembali kunci mobil itu ke Stanlay. “Aku enggak bisa bawa mobil.” Gara lalu masuk ke kursi penumpang belakang.
“Heh! Siapa suruh kamu duduk situ, maju!”
Gara pindah duduk di sebelah Stanlay.
Sepanjang jalan Stanlay bernyanyi dengan nada suara yang tidak begitu merdu. “Bisa diam enggak? Mual nih.” Gara semakin kesal.
“Sensitif banget sih kayak tespack.” Semakin terlihat kesal semakin Stanlay suka menggoda Gara.
Setelah dua puluh menit akhirnya mereka sampai di sebuah hotel bintang lima, mereka menuju restorant tempat arisan di adakan.
“Hai… semua.” Stanlay menyapa teman-teman sosialitanya. “Uww.. Stanlay nemu yang segar-segar nih.” Seorang wanita dengan pakaian sexy melirik ke Gara.
“Ah.. enggak, cuman selingan aja.” Jawab Stanlay.
“Ganteng kok Stan, kurang dipoles dikit aja udah cucok.” Seorang lagi mengedipkan sebelah matanya ke Gara.
‘Astaga! Apaan sih ini?’ Batin Gara.
Stanlay bersama kedua temannya menjauh dari Gara. Gara salah tingkah, dia bingung apa yang harus dilakukan.
“Hah.. tunggu luar aja deh.”
“Gara?” Seseorang memanggil Gara.
“Kalani??”
“Kirain salah orang, ternyata benar. Kamu kenal Stanlay?”
“Emm.. ya gitu deh Kal, tapi enggak kayak yang kamu bayangin kok. Beneran! Ya.. emm.. aku cuman kenal dia karena ada sesuatu. Emm.. “ Gara gelagapan menjelaskan keadaannya ke Kalani, dia tidak ingin Kalani berpikir aneh-aneh tentangnya dan Stanlay tapi disisi lain dia juga tidak bisa menceritakan soal apartmen.
Kalani tertawa melihat tingkah Gara. “Iya Gara aku percaya, hehehe.”
“Walau aku enggak pernah punya pacar dan suka sama orang lain selain kamu tapi aku yakin masih suka cewek kok Kal.”
“Heum?” Kalani berhenti tertawa mendengar kata-kata Gara. Ekspresi wajah Gara berubah jadi serius saat mengatakan sesuatu yang membuat hati Kalani jadi sedikit berdebar.
“Emm.. ya gitulah Kal pokoknya aku sama Stanlay enggak ada apa-apa.” Gara sekali lagi menegaskan ke Kalani.
Kalani terlihat canggung untuk memulai percakapan lagi, akhirnya Gara pergi keluar restauran.
Gara menunggu Stanlay di lobi hotel, arisan itu berlangsung hampir tiga jam, Gara sampai mengantuk menunggunya.
“Woy!” Stanlay menggoyang-goyangkan badan Gara.
Gara terbangun, dia ketiduran. “Oh.. udah selesai?”
“Udah.” Stanlay duduk dihadapan Gara.
“Oke kalau gitu tanda tangan kontrak disini.” Gara menyodorkan surat perjanjian mengenai sewa apartmen.
“Harus banget pakai begini?” Stanlay tidak membaca isi kontrak itu dia langsung menandatanganinya. “Mana kunci apartmennya?” Minta Stanlay.
Gara menyerahkan kunci apartmen yang telah dijanjikan Mr. Golden Spoon. “Waktu kamu pindahan cuman dua hari, habis itu serahin kuncinya ke aku. Aku bakal ambil di cafe mu, hari kamis jam sepuluh pagi.” Gara berdiri.
“Sini aku anterin.” Ajak Stanlay.
“Enggak, makasih. Aku mau pergi dulu, nitip motor dulu ya di café, besok aku ambil.” Gara pergi meninggalkan Stanlay. Dia benar-benar sudah muak dengan Stanlay.
Gara memilih naik ojek, malam ini dia mau menginap di panti asuhan saja.
*Bersambung..
Maaf ya Gara, hahaha..
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih..
😍*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
Ricky cahyono
selera authornya pelangi 😂
2023-02-21
0
Didik Setyawan
gk seru,gk da sesi prcntaanx...
2023-02-02
0
Arjuna Nyasar
capcus Nex, khakha.. mimpi gara
2022-10-04
0