JALAN JALAN

POV BIRU

Tok tok tok

Aku mengetuk kamar Calista karena dia tak kunjung keluar. Apa sudah kodratnya jika wanita itu selalu lama saat berdandan. Padahal kami bukannya mau pergi ke kota atau kondangan, hanya mau kepantai yang jaraknya tak begitu jauh. Itupun hanya dengan motor matic sejuta umat milikku. Tapi kenapa dandannya lama sekali.

"Cal, udah siap belum?" Seruku dari balik pintu.

"Iya Biru, sebentar lagi." Sahutnya dari dalam.

Semoga saja apa yang dia ucapkan benar, yaitu sebentar lagi. Takutnya sebentar yang dia maksud adalah satu jam. Agar menunggu tak terasa membosankan, aku menyalakan tv untuk membunuh rasa jenuh.

Ceklek

Mendengar pintu dibuka, atensiku segera teralih kesana. Seperti adegan slow mo, aku melihat Cal keluar dari kamar dengan dandanan ala bidadari. Midi dress warna putih dengan tali kecil yang diikatkan dileher membuat tampilannya bak peri. Belum lagi rambut yang dicepol, membuat leher jenjang serta punggungnya terekspos sempurna. Sungguh keindahan yang tak terbantahkan.

"Biru!." Aku kaget mendengar teriakannya. Sepertinya dia sudah memanggilku berkali kali.

"Malah bengong. Katanya mau pergi, ayo." Ucapnya sambil menarik lenganku.

"De, dengan pakaian seperti ini?" Tanyaku.

"Iya. Memangnya ada yang salah dengan bajuku?" Tanyanya sambil menyerongkan badan kekakan dan kiri. "Perutnya gak kelihatan. Pahanya juga?"

Huft, aku membuang nafas kasar. Paha dan perut emang gak kelihatan, tapi punggung, bahu dan dada. Rasanya aku tak rela keindahan didepan mata ini kubagi dengan yang lain. Tapi ngomong ngomong, kok Cal punya banyak baju baru ya? Dia gak menghabiskan uang dariku untuk beli bajukan?

"Cal, sejak kemarin aku perhatikan, kamu selalu pakai baju baru. Kamu gak menghabiskan uang dariku untuk beli bajukan?"

Kulihat wajahnya seketika pias. Jangan jangan dugaanku benar.

"Eng, enggak kok. Aku emang beli baju, tapi uangnya masih ada. Masih cukup untuk makan sampai 10 hari kedepan. hehehe." Jawabnya sambil tersenyum absurd. Semoga saja apa yang dia katakan benar.

"Ayo buruan. Kata kamu kita mau lihat sunset. Entar gak keburu kalau gak segera berangkat." Rengeknya sambil menarik lenganku.

Jujur rasanya berat untuk berangkat mengingat pakaian yang Cal pakai terlalu terbuka. Gak mungkinkan kalau sekarang aku pakaiin dia sarung kayak kemarin.

"Cal, kita kan mau naik motor, apa gak sebaiknya kamu pakai jaket aja?" Setidaknya, dengan jaket penampilanya akan lebih tertutup.

"Aku gak punya jaket."

"Ya udah pakai jaketku aja." Aku segera melepas jaket jinsku dan memberikannya pada Calista. Setelah dia memakai jaket, kami segera keluar dan mengunci pintu. Kuturunkan motor maticku yang ada diteras menuju halaman.

Deg deg deg

Aku kembali kena serangan jantung saat Cal naik keatas motor. Dia duduk menyamping dengan posisi yang begitu mepet denganku. Belum lagi kedua tangannya yang melingkar diperutnya, rasanya aku sampai kesulitan bernafas saking groginya.

"Dih, bengong lagi. Ayo."

"I, iya." Aku segara menstater motor dan mulai melajukannya pelan menuju pantai.

"Biru, kamu udah sering ya bonceng cewek gini?" Serunya didekat telingaku. Kami memang tak memakai helm karena jaraknya tak terlalu jauh dan hanya melewati jalanan kampung.

"Enggak." Jawabku dengan tatapan fokus kedepan.

"Tapi pernahkan?"

"Iya."

"Kalau Safa? kamu pernah bonceng dia?"

Sepertinya dia tahu kalau Safa itu mantan pacarku. Mungkin Santi yang udah menceritakannya.

"Iya, pernah."

Setelah mendengar jawabanku, dia seketika diam. Tak hanya diam, dia bahkan melepaskan tangannya yang melingkar diperutku. Apakah dia cemburu? Sayangnya aku tak bisa melihat ekspresinya dari kaca spion karena dia menunduk.

Aku tak tahu seperti apa perasaan Cal padaku. Meski dia memintaku menikahinya, tapi aku tak yakin dia mencintaiku. Dengan kecantikan yang dia miliki, aku yakin dia bisa mendapatkan laki laki yang lebih baik dariku.

"Kok gak pegangan lagi? entar kalau jatuh gimana?" Tanyaku sambil menoleh sebentar kearahnya.

"Biarin." Sewotnya. "Siapa tahu setelah jatuh, ingatanku kembali."

Kenapa rasanya aku tak rela ingatannya kembali. Apa itu artinya, aku takut dia kembali ke dunianya? Astaga....perasaan apa ini?

Melihat aja jalan yang berlubang, dengan sengaja aku melewatinya dengan kecepatan yang tidak dikurangi.

"Awww.." Tariak Cal sambil reflek berpegangan erat dipinggangku. Aku tertawa geli dalam hati. Sepertinya, caraku ampuh juga untuk membuatnya kembali berpegangan.

"Makanya pegangan. Kalau jatuh terus ingatanmu kembali sih, bagus. Tapi gimana kalau jatuh tapi tetap amnesia. Dan malah wajah kamu yang luka luka karena mencium aspal? Mau cantiknya ilang?" cibirku.

"Emang aku cantik ya Ru?" Tanyanya penuh semangat. Sepertinya dia sudah kembali ke mode ceria.

"Cantik. Kan perempuan. Hahaha." Sengaja aku meledeknya agar dia gak kegeran. Padahal aslinya, dia emang cantik banget.

"Yee...kamu mah gitu." Kesalnya sambil memukul punggungku. Kulihat dari kaca spion, bibirnya mengerucut. Tapi entah kenapa, justru terlihat makin cantik dan menggemaskan.

"Harusnya kamu juga pakai jaket sama kayak gini."

"Kenapa?"

"Biar kita kayak Dilan dan Milea."

"Kamu ingat Dilan dan Milea?" Aku agak terkejut juga. Menurutku, dia sudah ingat banyak hal. Bahkan kemarin sepertinya dia pandai memakai ponsel. Buktinya kuotaku hampir habis dipakainya. Apa mungkin, sebentar lagi dia akan ingat semua masa lalunya?

"Emmmm....lihat iklan di tv. Tapi lupa, pernah nonton apa enggak. Kayaknya ceritanya bagus. Kamu pernah nonton?"

Ternyata dia tidak ingat. Hanya pernah lihat diiklan. Kenapa rasanya aku senang mendengar dia belum ingat banyak hal.

"Pernah."

"Bagus gak ceritanya?"

"Lumayan."

"Emmm...gimana kalau kapan kapan, kita nonton di hp bareng bareng?"

"Boleh juga."

"Cal, kamu cantik." Ucapku sambil menatapnya dari kaca spion. "Tapi aku belum mencintaimu. Nggak tahu kalau pas sunset nanti. Tunggu aja."

Kulihat dia menatapku melalui spion dengan terbengong bengong. Jangan jangan dia baper?

"Baper ya????" cibirku sambil tertawa ringan. "Itu gombalannya Dilan. hehehe, aku cuma copas."

"Ish, kirain itu bener bener kata kata kamu buat aku." Kesalnya sambil lagi lagi memukul punggungku.

Tak terasa, sampai juga kami dipantai. Padahal aku masih ingin lebih lama menikmati momen jadi Dilan, wkwkwk.

"Kenapa dibuka?" Aku panik saat Cal hendak melepaskan jaketnya.

"Kan udah sampai. Bukannnya pakai jaket pas naik motor aja ya?"

"Gak, gak usah dibuka. Kamu lebih cantik pakai jaket gini." Pujiku sambil cepat cepat membenarkan posisi jaketnya. Bukannya langsung percaya, dia malah memperhatikan penampilannya di kaca spion.

"Jelek, aku gak suka." Ucapnya sambil melepas jaket.

Wow..punggung mulusnya seketika membuatku menelan ludah. Ini tidak bisa dibiarkan. Tak rela aku membaginya dengan yang lain. Tiba tiba aku punya ide.

"Kamu lebih cantik kalau rambutnya digerai." Tanpa ijin, aku langsung membuka cepolan rambutnya. Dan seketika, rambut panjang itu tergerai indah dan menutupi punggungnya.

"Ayo." Aku segera menarik tangannya menuju pantai agar dia tak protes. Dihari biasa seperti ini, pantai tak terlalu ramai. Tapi seperti inilah yang aku suka. Terasa lebih sunyi dan dapat banget feelnya saat menikmati laut. Lahir dan dibesarkan dipesisir pantai, membuatku sangat menyukai lautan. Apalagi sejak menjadi nelayan, setengah hariku, aku habiskan ditengah lautan untuk mengais rejeki.

Melihat penjual topi, aku seketika membayangkan Cal memakainya. Dia pasti lebih cantik lagi dengan topi pantai. Segera aku ajak Cal mendekati penjual tersebut.

Kulihat binar dimata Cal, sepertinya dia juga menyukai topi topi cantik itu. Setelah melihat lihat sebentar, dia mengambil sebuah topi rajut yang lumayan lebar dengan hiasan bunga.

"Cantik gak?" tanyanya saat mencoba topi itu.

"Perfect." Sahutku sambil mengacungkan jempol.

"Pacarnya cantik sekali mas." Ucap ibu penjual topi.

"Bukan pacar saya bu."

"Oh maaf, saudara ya?"

"Istri saya." Jawabku sambil menatap Cal. Dan saat itu juga, kulihat wajahnya bersemu merah. Apakah dia senang? Entahlah.

"Saya ambil yang dipakai istri saya Bu." Ujarku sambil mengeluarkan dompet dan langsung membayarnya. Setelah itu, kami berlanjut mendekat kearah pantai.

"Sampai sini aja Ru." Dia menahan tanganku agar tak terlalu dekat dengan bibir pantai.

"Masih takut?" Tanyaku dan langsung dijawab anggukan olehnya. Sebenarnya aku lebih suka menikmati sunset dekat dengan bibir pantai. Duduk dihamparan pasir putih dengan kaki yang sesekali tersapu ombak. Tapi aku tak bisa memaksa Cal. Aku takut dia kembali pingsan seperti waktu itu.

"Baiklah, kita cari tempat duduk yang nyaman kalau gitu." Aku memperhatikan sekeliling. Setelah menemukan tempat yang sepertinya nyaman, aku segera menarik Cal kesana.

Disinilah kami, duduk dibawah pohoh kelapa sambil menunggu sunset.

Dulu, aku sering menikmati sunset bersama Safa. Banyak sekali kenangan kami disini. Rasanya sangat bahagia bisa menikmati keindahan alam bersama wanita yang kita cintai. Dan saat, ini, yang aku rasakan sama. Aku bahagia duduk disamping Cal sambil menunggu sunset. Apa itu artinya, aku sudah mulai mencintai Cal? Jika benar, bagaimana bisa secepat ini.

Terpopuler

Comments

♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)

♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)

bisa bnget lah pesona cal kan tiada duanya ru jd terhipnotis jg sm kecantikan nya cal dia putri Sultan jelas dia cantik lah krn perawatan mahal jg

2023-09-26

0

EndRu

EndRu

menunggu adegan selanjutnya di bawah pohon kelapa di tepi pantai... uwiiih

2023-06-03

0

JandaQueen

JandaQueen

ish...sdh mulai ketularan gesrek ni biru... lama2 tar malah dia yg bucin... 😄

2023-02-26

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!