POV CALISTA
Aku duduk disofa sambil menonton tv. Sementara Biru, kulihat dia bolak balik kekamar mandi? Jangan jangan dia diare? Emang jatuh bisa bikin orang diare ya?
"Kamu kenapa?" Tanyaku penasaran. Wajahnya tampak kacau, membuatku takut terjadi sesuatu padanya.
"Gak papa." Jawabnya sambil berlalu masuk kedalam kamar.
Tak lama kemudian, aku lihat dia kembali keluar dan menuju kamar mandi. Sumpah, aku penasaran banget dengan apa yang terjadi padanya.
Setelah lama tak kunjung keluar, Aku putuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi? Aku berdiri dibalik pintu kamar mandi sambil menajamkan telinga. Kenapa aku tak mendengar suara air atau kentutt atau pipiss atau lainnya? Sebenarnya ngapain sih dia dikamar mandi?
"Ahh."
Mataku membulat sempurna mendengar suara yang berasal dari dalam kamar mandi. Jangan jangan, dia sedang. Aku buru buru menutup mulutku sendiri saking terkejutnya. Mendengar suara gemericik air, aku segera kembali keruang tengah. Takutnya Biru tiba tiba keluar dan memergokiku sedang menguping.
"Habis ngapain?" Tanyaku saat dia lewat hendak menuju kamar. Pura pura tak tahu menahu apa yang baru saja dia lakukan dikamar mandi.
"Pup." Jawabnya santai. Kali ini wajahnya sudah berbeda dengan tadi, tampak rileks dan lebih fresh.
"Lama benget?"
"I, iya, soalnya perut aku mules banget." Dia tampak mulai gugup. Begitulah orang kalau berbohong, tak tenang. His, kayak ngomongin diri sendiri aja.
Aku pura pura percaya. Tapi dalam hati, sejujurnya aku kecewa pada Biru. Dia punya istri, tapi malah lebih milih solo. Mungkin dia masih pergegang teguh pada prinsipnya. Dia tak mau memberiku nafkah batin dengan alasan aku masih amnesia. Dia takut kalau aku ternyata udah punya pacar, atau tunangan, atau bahkan udah nikah. Selain itu, mungkin juga karena Biru tidak mencintaiku. Tapi aku tidak putus asa, aku akan membuat Biru jatuh cinta padaku.
"Cal, aku lapar. Kamu udah masakkan? Tadi belum kenyang cuma makan mie aja."
"Udah kok, yuk." Aku beranjak dari kursi dan melupakan kekecewaanku. Mungkin aku harus lebih legowo mengingat pernikahan ini bukanlah kemauan Biru.
Aku berjalan lebih dulu menuju dapur. Ini perdana aku masak buat Biru. Jelas saja aku sangat antusias ingin tahu pendapatnya tentang masakanku. Kalau Lisa saja lahap makannya, seharusnya Biru juga. Ish, emang Biru kucing.
Ikan udah terhidang dimeja. Aku mengambil piring dan membuka magigcom. Dan saat itulah, mataku membulat sempurna. Kenapa masih berupa beras, belum jadi nasi? Perasaan udah lama banget, udah hampir dua jam.
"Ada apa Cal?"
"Emmmm kayaknya magigcom kamu rusak deh." Jawabku sambil menoleh kearah Biru yang saat ini duduk didepan meja makan.
"Rusak! Perasaan kemarin masih baik baik saja." Sahut Biru sambil berjalan kearahku.
"Rusak Ru. Buktinya nasinya gak bisa mateng."
"Huft." Kulihat Biru membuang nafas kasar saat melihat keadaan magigcomnya.
"Benerkan, rusak?"
"Gimana mau mateng, orang belum kamu tekan ke cook." Ucapnya sambil menekan bagian depan hingga menyala di tulisan cook.
Astaga, aku baru tahu jika memasak pakai magigcom harus ditekan cook dulu. Sumpah, malu banget sampai ke ubun ubun.
"A, aku lupa. hehehe....maklum, aku kan amnesia."
"Ya udah, aku tidur lagi aja kalau gitu." Ucapnya dengan ekspresi kesal lalu pergi begitu saja.
Aku duduk dikursi makan sambil menopang dagu. Payah sekali aku ini. Bagaimana bisa aku membuat Biru jatuh cinta kalau melakukan apapun aku gak pecus. Memasak, menanak nasi, mengepel, apapun gagal aku lalukan.
Biru menyukai gadis seperti Safa. Terlihat lemah lembut dan pintar. Sedangkan aku, grusa grusu, bar bar dan sebenarnya pintar sih, tapi kalau udah menyangkut urusan rumah tangga, aku nol besar.
Disaat hatiku gundah gulana, aku memutuskan kerumah Santi. Mungkin aku memang harus belajar banyak hal padanya, terutama tentang pekerjaan seorang istri.
"Assalamualaikum, Santi, San." Teriakku sambil memasuki rumah yang pintunya terbuka separo itu.
"Santi..."
"Masuk." Aku mendengar sahutan dari dalam, tapi bukan suara Santi.
"Eh Callista, masuk nak." Ucap Bu De yang baru saja muncul dari dalam.
Aku meraih tangan Bu De dan menciumnya takzim. Dulu saat mamaku masih ada, dia selalu membiasakanku untuk salim pada orang yang lebih tua.
"Santi ada Bu De?" Tanyaku sambil celingukan. Ini pertama kalinya aku masuk kerumah Pak De Saleh yang letaknya tepat disamping rumah Biru.
"Santi keliling jualan ikan asin."
"Santi jualan Bu De?" Aku tak tahu menahu soal ini.
"Kadang ikan jualan Gani gak habis, jadi sama Bu De dan Santi di asinin. Terus Santi keliling jualan ikan asinnya. Lumayanlah, buat bantu bantu suami."
Wah, Santi hebat juga ya. Selain pinter urusan rumah tangga, dia juga pinter nyari uang. Lha aku? pinternya cuma bikin Biru kesel aja.
"Mumpung Calista disini, mending bantuin Bu De masak ikan asam manis. Mau kan?"
"Mau Bu De mau, sekalian ajarin Cal masak ya?"
"Calista gak bisa masak?"
Aku menggeleng malu. Ku Pikir Bu De akan mengomel kayak mertua mertua kejam di sinetron, tapi ternyata, perempuan paruh baya itu malah tersenyum padaku. Senyumnya tampak begitu tulus, membuatku tetiba kangen mama.
"Ya udah, yuk kedapur. Bu De ajarin masak sekalian nunggu Santi pulang."
Bu De meraih tanganku dan membawaku menuju dapur. Disana kulihat banyak sekali ikan yang mau Bu De masak.
"Kok banyak sekali Bu De?"
"Kan yang makan banyak Cal. Nanti sebagian kamu bawa pulang, buat makan sama Biru. Biasanya Bu De selalu masakin buat Biru juga. Tapi karena sekarang udah ada kamu, jadi Bu De pensiun masak buat Biru. Giliran kamu yang masakin buat dia."
"Hehehe...tapi Cal gak bisa masak Bu De."
"Bukan gak bisa, tapi belum bisa. Cal itu kelihatannya cerdas, pasti cepat belajarnya."
"Bu De bisa aja." Ucapku sambil tersipu malu. Beruntung sekali Biru mempunyai Bu De sabaik ini.
"Jadi istri itu, kalau bisa harus bisa masak. Selain biar ngirit, juga biar suami makin betah dirumah. Suami gak perlu lagikan ngedongkrong diwarung kalau tiap hari disuguhin masakan enak dirumah. Bawaannya pasti pengen pulang mulu."
Bu De dengan sabar dan telaten mengajariku masak. Dia juga menyuruhku mencatat resep berbagai masakan kesukaan Biru.
"Coba Cal cicipi, enak gak?" Bu De menyuapkan seujung sendok kuah asam manis yang baru matang.
Lagi lagi perlakuan Bu De membuatku teringat mama. Sudah lama rasanya aku tak pernah disuapi. Tanpa terasa, air mataku perlahan menetes.
"Cal kenapa?" tanya Bu De bingung.
"Gak papa Bu De." Aku segera mencicipi kuah asam manis dari sendok yang disodorkan Bu De. Gak mungkin aku bilang kangen mama. Aku kan lagi mode pura pura amnesia.
"Enak Bu De, enak banget."
"Kalau gitu, Cal makan disini ya. Bu De ambilin nasi." Tanpa menunggu jawabanku , Bu De langsung mengambilkan aku nasi beserta ikan asam manis yang baru kami masak.
"Makan yang banyak, biar sedikit berisi tubuhnya. Kamu itu kurus banget." Bu De menyerahkan piring berisi nasi padaku. Aku tak menyangka jika orang yang baru ku kenal beberapa hari, memperlakukan aku dengan sangat baik seperti ini. Jelas sekali jika mereka tulus, mereka baik padaku bukan karena hartaku, tapi murni karena mereka memang orang baik.
"Masakan Bu De enak banget." Pujiku. "Bu De gak pengen gitu buka usaha jualan makanan?"
"Ya pengenlah Cal. Pengen banget malahan. Tapi balik lagi, gak ada modalnya."
Aku meraih tangan Bu De yang ada diatas meja lalu menggenggamnya. "Suatu saat, Bu De pasti Bisa merealisasikan keinginan Bu De."
"Aminnnn."
"Wah wah wah...lagi makan enak nih." Ujar Santi yang baru datang.
"Gimana San jualannya?"
"Alhamdulilah Bu, habis."
Santi segera ikutan nimbrung makan bersama kami. Dari apa yang aku lihat, hubungan Santi dan Bu De, tak seperti ibu mertua dan menantu, tapi lebih seperti ibu dan anak. Beruntung sekali Santi punya mertua sebaik Bu De.
Selesai makan, Santi mengajakku mengobrol dikamarnya.
"San, cariin aku kerjaan dong. Aku pengen bisa kayak kamu. Bantuin suami nyari uang."
Santi menatapku dari atas ke bawah. Kenapa sih, emang ada yang aneh denganku.
"Emangnya, tampilan kayak kamu, mau jualan ikan asin keliling kayak aku?"
Ya elah, ya masa Calista anak konglomerat yang hartanya gak habis dimakan tujuh turunan jualan ikan asin keliling sih.
"Emang gak ada kerjaan lainnya San?"
Santi berpikir sejenak lalu tiba tiba
"Aha, aku tahu pekerjaan apa yang cocok buat kamu."
"Apaan San?" Aku begitu antusias. Setidaknya jika aku payah urusan pekerjaan rumah tangga, biarlah aku bantu Biru mencari uang saja.
"Jualan souvenir dipantai."
What! jualan souvenir, gak ada kerjaan lain apa?
"Temenku ada yang bisnis binis souvenir. Kita bisa keliling di pantai pas sabtu minggu. Biasanya banyak wisatawan pada hari itu."
"Keliling?"
Aku makin syok lagi.
"Iya keliling. Aku jamin deh, kalau yang jualan secantik kamu, pasti laku keras. Dandan yang cantik, terus kita sasar tuh cowok cowok yang pada main ke pantai. Dijamin pada beli."
"Yakin kamu?"
"Seratus persen. Tapi, harus dandan yang cantik biar bisa gaet konsumen."
"Itu mah gampang." Jawabku yakin. Soal gaet menggaet cowok, tentu tidak susah buatku. Kecuali satu, menggaet Biru, syusyahhh.
"Kalau gitu, anterin aku belanja ke pasar ya besok. Aku mau beli make up, sun screen, baju dan...banyak deh pokoknya."
"Emang kamu punya duit berapa mau beli sebanyak itu?"
"Sejuta."
"Sippp, besok kita shoping ke pasar."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
fitriani
bisa diamuk biru kamu cal belanja pakai uang 1juta itu....
2024-09-17
0
Desi Liana
waduh cal2
2024-08-13
0
EndRu
itu sejuta buat belanja Cal.. bukan buat beli baju dan makeup hahahaha
2023-06-03
0