Setelah Biru pergi kelaut, aku segera berselancar didunia maya. Beruntung Biru punya akun IG, jadi aku tak perlu masuk keakun milikku. Karena jika ada yang tahu aku sedang online, akan jadi masalah besar.
Aku masuk ke akun milik Biru. Satu hal yang aku syukuri, akunku tidak kugembok, jadi aku bisa melihat dari akun milik Biru.
Wow, luar biasanya. Postingan terakhirku saat selfie di kapal pesiar, banjir komentar dan like. Setelah aku baca, rata rata mengucapkan turut berduka cita. Apa ini maksudnya aku sudah dinyatakan meninggal? Tapi bukankah ini baru hari ke empat sejak peristiwa itu? Bukankah jika aku memang tenggelam dan belum ditemukan mayatnya, harusya masih dalam tahap pencarian?
Aku beralih keakun milik tante Sofi. Mulutku menganga melihat fotonya didekat sebuah makam. Nisan dimakam itu bertuliskan Callista putri abdullah binti Yusuf abdullah. Apa maksudnya ini? itu makan siapa, kenapa namaku yang tertulis disana?
Permainan apa yang sedang mereka lakukan. Jika memang ada makam, itu artinya ada jasad yang terkubur didalamnya. Bukan hanya satu foto yang dipost tante Sofi, ada beberapa foto lainnya juga dipemakaman. Yang aku tak habis pikir, acara pemakaman itu tampak normal, terlihat banyak sekali yang datang. Bahkan kebanyaan orang orang yang aku kenal.
Jadi, apa yang aku pikirkan benar. Mereka sengaja meninggalkanku hari itu. Mereka sengaja tak menolongku. Jadi kasih sayang mereka selama ini hanyalah palsu, mereka hanya mengincar hartaku saja. Air mataku mengalir, sakit sekali rasanya dikhianati orang terdekat. Orang yang selama ini aku anggap sebagai keluarga bahkan pengganti orang tuaku, ternyata tak lebih dari sekedar sampah masyarakat. Mereka hanya benalu, parasit.
Setelah puas melihat ig, aku membuka emailku dan mengirim pesan pasa Rama. Sahabatku sejak kecil yang aku rasa paling bisa dipercaya. Tadi aku melihat foto Rama yang hadir dipemakaman. Semoga saja dia tidak menganggapku hantu.
Satu menit, sepulut menit, hingga hitungan jam, tak ada balasan dari Rama. Jangan jangan dia mengabaikan email dariku karena dia pikir aku hantu.
"Cal, Cal, bangun Cal." Aku merasakan ada yang menepuk nepuk lenganku. Saat aku membuka mata, ternyata itu Biru.
"Kamu sudah pulang Ru? Jam berapa sekarang?" Tanyaku sambil membersihkan sekitaran mulut dan sudut mata, takut ada kotoran yang akan membuat Biru ilfeel. Ternyata semalam aku ketiduran di sofa setelah lama menunggu balasan email dari Rama.
"Ini udah jam 9 pagi."
"What!" Pekikku sambil melotot. Astaga, istri macam apa aku ini. Siang bolong baru bangun. Dibangunin suami yang pulang kerja pula. Ish, memalukan sekali Cal.
"Kenapa tidak tidur dikamar?"
Aku mengabaikan pertanyaannya karena ada masalah yang menurutku lebih penting.
"Maaf, aku belum masak."
Biru menghela nafas. Sepertinya dia kesal padaku. Dia pasti lapar saat ini.
"Aku belikan makanan ya?" Tawarku. Karena kalau memasak dulu, pasti terlalu lama. Tapi bukan itu inti masalahnya. Masalah utamanya, aku gak bisa masak.
"Disini yang jual makanan adanya dipasar aja. Masakin aku mie instan aja kalau gitu. Aku mandi dulu."
Aku segera menuju dapur dan mencari keberadaan mie instan. Berhubung dapurnya sangat mini, jadi tak sulit menemukan benda itu. Dulu saat di Jepang, aku pernah bikin mie instan, jadi kali ini, aku tak menemukan kesulitan dalam memasaknya.
Meong meong
Aku mulai darting kalau denger suara Lisa. Kucing itu mondar mandir didapur dan berkali kali seliweran didekat kakiku. Pengen rasanya aku injak ekornya, tapi kutahan karena tak mau kualat kayak hari itu.
Diwastafel, kulihat ada bungkusan yang sepertinya berisi ikan segar. Aku tak mau membongkar isinya, takut mual kayak kemarin.
Setelah dua porsi mie rebus siap, aku segera menghidangkannya diatas meja. Lisa terus saja mengikuti langkahku sambil ngeong ngeong. Sepertinya dia kelaparan. Bodo amat, emang gue pikirin.
Sembari menunggu Biru mandi, aku membuatkannya teh. Ya masa iya, suami pulang kerja dikasih air putih doang.
Saat pintu kamar mandi dibuka, kulihat malaikat tampanku keluar sambil menggosok gosok rambutnya dengan handuk. Dengan celana kolor dan kaos oblong warna maroon, dia terlihat begitu tampan. Sejak dulu, aku memang menyukai melihat pria dengan rambut basah, menurutku tampak fresh dan sekse.
"Mau langsung makan?" Tanyaku sambil meletakkan segelas teh teh hangat diatas meja.
"Iya, udah laper banget." Jawabnya sambil memegang perut. Ya Allah, kalau gini, makin ngerasa bersalah aku. Harusnya aku bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk suamiku, bukannya molor sampai jam 9. Tapi meskipun aku bangun pagi, mau nyiapin apa? kan aku gak bisa masak. Duh...jadi bingungkan.
"Cal, kamu bisa masak nasikan?" Tanya Biru sambil mengaduk mie nya.
Mau bilang gak bisa, jelas gengsi, jadi kujawab aja....
"Bisa. Kan tinggal nyolokin aja."
"Bagus deh. Habis ini kamu masak nasi ya. Aku tadi bawa ikan, bisa digoreng. Pakai bumbu instan di toko aja kalau gak bisa bikin bumbu." Ujarnya sambil menuang teh ke lepek lalu menyeruputnya.
Aku angguki aja semua perintahnya. Gimanapun, sekarang dia suamiku. Jadi demi bisa masuk surga, aku harus patuh padanya.
Eh tunggu tunggu, kenapa ekspresinya aneh setelah minum teh bikinanku. Perasaanku jadi tidak enak.
"Kamu kasih apa teh nya?" tanyanya.
"Kasih air panas." jawabku spontan.
"Bukan itu. Maksudku, kenapa tehnya asin?"
Mati aku! bego banget sih Cal. Masa ya gak tahu bedanya gula dan garam? Ish ini pasti gara gara Lisa. Dari tadi mengeong sampai konsentrasiku hilang.
"Hehehe....aku bikinin yang baru ya." Aku hendak meraih cangkir didepannya tapi ditahannya.
"Gak perlu. Aku minum air putih aja." Jawabnya sambil mulai menyantap mie bikinanku. Untung mie instan bumbunya udah dibuatin pabrik, kalau aku yang bikin, pasti rasanya absurd, sebelas dua belas sama teh tadi.
"Lisa kayaknya udah lapar, jadi habis ini tolong segera gorengkan ikan untuknya. Kamu gak keberatankan?"
"Hehehe....ya enggaklah." Jawabku sambil senyum. Tapi dalam hati, aku sungguh mengutuk keberadaan Lisa. Selain menyebalkan, ternyata dia juga merepotkan. Andai aja Lisa itu ayam, udah pasti aku masak jadi ayam goreng.
"Nanti aku ajari caranya membersihkan ikan. Kalau gak kuat baunya, kamu bisa pakai masker. Disini, kita hampir setiap hari makan ikan, jadi kamu harus belajar untuk mengolahnya."
Aku manggut manggut saja karena mulutku penuh dengan mie. Sebagai wanita yang berketad menjadi istri sholehah, aku rela belajar apapun. Bahkan belajar menggoda suami agar dapat nafkah batin. Astaghfirullah, otakku mulai lagi kearah sana.
Setelah selesai sarapan, Biru mengajariku cara membersihkan ikan. Sayangnya, berada disebelah Biru yang amat wangi karena aroma sabun mandi, membuatku kurang fokus. Tanganku rasanya gatal ingin memeluknya. Apalagi kalau melihat bibirnya saat bicara, gemes banget pengen nyium.
"Udah bisakan?"
"Hah!" Aku seketika gelagapan karena pertanyaannya. Daritadi, bukannya fokus pada ajarannya, aku malah sibuk menghalu yang plus plus.
"Semoga aja bisa." Jawabku.
"Pasti bisa, gampang kok. Kamu lanjutin ya, habis itu goreng. Aku ngantuk banget. Aku tidur dulu ya."
"Mau aku temenin?"
Buru buru aku membekap mulutku. Bisa bisanya keceplosan kayak gitu.
"Becanda." Aku segera meralatnya.
"Ya udah aku tidur dulu ya." Dia menyentuh puncak kepalaku lalu pergi. Kenapa sih hobi banget nyentuh puncak kepala, kenapa gak nyentuh yang lainnya? Padahal yang lainnya juga pengen disentuh.
"Cal." Tiba tiba Biru berbalik dan memanggilku. Jantungku kok jadi deg degan ya. Jangan jangan, dia beneran mau minta ditemenin tidur.
"Habis masak, tolong bersihkan rumah ya. Nyapu sama ngepel aja."
Pengen nangis dengernya. Kirain mau diajakin sunah rosul, eh tahunya disuruh nyapu ma ngepel.
"Kenapa?" Tanyanya saat aku tak segera mengiyakan. "Kamu keberatan yang ngerjainnya?"
"Eng, enggak kok." Aku pura pura senyum. "Jangankan cuma ngerjain itu. Dikerjain kamu, aku juga gak keberatan kok."
Biru seketika membulatkan mata mendengarnya.
"Hehehe..becanda." lanjutku sambil tertawa ringan. Kulihat Biru menggaruk garuk tengkuknya lalu berbalik dan masuk kamar.
"Huft." Aku mendesaah pelan. Ternyata banyak juga pekerjaan yang harus dikerjakan seorang istri. Tapi masalahnya, kapan giliran aku yang dikerjain? Perasaan dulu otakku gak ngeres gini deh. Ini fix, aku pasti terbentur karang saat tenggelam.
Sepertinya mulai sekarang aku harus terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Susi Akbarini
😀😀😀😀❤❤❤❤❤
bagus2 karya ka yutantia...
makasiii....
2024-01-21
1
Mayyuzira
🤣🤣🤣🤣🤣
2023-11-08
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
kebanyakan nonton sinetron nih pasti ngehalu aja kmu cal skr jd istri solehah dlu biar di sayng sm suami 😅😅😅
2023-09-26
0