NIKAHI AKU

POV BIRU

Mataku terbelalak mendengar ucapan Elsa. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, bukan permainan anak kecil yang sesuka hati dimainkan. Emangnya kita mau main rumah rumahan, anak anakan. Bisa bisanya wanita yang baru aku kenal pagi ini, yang masih belum ada 24 jam, tiba tiba memintaku menikahinya.

"Please....nikahi aku." Ucapnya sambil mengatupkan kedua telapak tangan. Raut wajahnya seperti sedang memohon, membuatku tak tega menolak. Tapi kembali lagi, ini bukan permainan atau drama tv, ini nyata. Mana mungkin kami menikah tanpa mengenal satu sama lain dan tanpa cinta. Kami berada diluar balai desa saat ini, berembuk sebentar untuk mencari solusi.

"Pernikahan itu sesuatu yang sangat serius El. Mana mungkin dua orang yang baru kenal beberapa jam menikah? Kita tak saling tahu seperti apa masing masing. Dan satu lagi, tidak ada cinta diantara kita." Sebenarnya, bukan hanya itu saja pertimbanganku. Melainkan ada seseorang didalam hatiku. Seseorang yang beberapa bulan ini terpaksa aku jauhi karena suatu sebab.

"Aku mohon tolong aku Biru. Mengenai cinta, aku yakin akan datang seiring berjalannya waktu. Banyak loh, orang yang dijodohkan tanpa cinta, lama lama jadi cinta. Dan lihat aku." Dia menarik kedua bahuku agar menghadap padanya. "Aku cantik dan seksih." Ujarnya sambil mengedipkan mata lalu menyerongkan badannya kekanan dan kekiri untuk menunjukkan bentuk badannya yang sempurna.

Ku akui, Elsa memang cantik. Sangat cantik bahkan. Postus tubuhnya bisa dibilang sangat sempurna alias body goals. Kulitnya juga putih dan sangat mulus. Sepertinya dia selalu melakukan perawatan.

"Bagaimana jika cinta itu tak kunjung datang?"

Dia memutar kedua bola matanya malas sambil membuang nafas kasar. "Jangan panggil aku Elsa jika aku tak bisa membuatmu jatuh cinta dalam waktu sebulan." Ujarnya sambil melotot. Entah kenapa, bukannya takut, aku malah ketawa melihatnya seperti itu. Ekspresi sok kepedeannya itu sungguh lucu. Melihat tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi, aku yakin dia dari keluarga berada dan berpendidikan tinggi.

"Dih malah ketawa." Sewotnya sambil menyilangkan kedua tangan didada.

"Ayolah Biru." Rengeknya sambil menghentak hentakkan kakinya ditanah.

"Bagaimana jika kau tak berhasil membuatku jatuh cinta?" Tiba tiba terlintas sebuah niatan menantangnya.

"Aku rela diceraikan."

Aku sedikit kaget mendengar jawabannya.

"Lima bulan, beri aku waktu lima bulan untuk menjadi istrimu. Jika memang dalam waktu itu kita tidak saling mencintai, kita berpisah."

Astaga, kenapa terdengar seperti sebuah perjanjian konyol. Pernikahan itu suci, mana boleh didalamnya dibumbui dengan perjanjian seperti ini.

"Kamu tega membiarkanku menikah dengan kakek kakek itu. Atau si kerempeng tongos?" Tanyanya dengan mata yang mulai mengembun. Mampus, kalau sudah seperti ini, mana tega aku menolak. Aku paling benci melihat wanita menangis.

"Harapanku cuma kamu Biru." Katanya sambil memegang kedua tanganku. Sejujurnya aku kasihan juga kalau dia harus menikah dengan mbah Suko atau Parman. Wanita secantik dia mendapatkan suami seperti mereka jelas tak sepadan. Aku bicara seperti itu bukan karena aku merasa cocok untuk Elsa. Tapi mereka memang tidak cocok.

Aku menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Mengambil keputusan dalam waktu sesingkat singkatnya seperti ini jelas tidak mudah. Tapi membiarkan Elsa menikah dengan mbah suko atau mas parman, jelas aku tak tega.

"Ba_" Baru saja bibir ini hendak menyetujui ajakannya menikah, aku melihat Safa menatap kearah kami. Ya, Safa, wanita yang aku cintai sejak remaja hingga detik ini. Sejak kapan dia ada disini. Dari tadi aku tak melihat keberadaannya.

"Ba apa Biru. Kamu mau kan?" Elsa menggoyang goyangkan lengaku sambil merengek. Dan bisa kulihat, Safa memalingkan wajahnya.

"Maaf, aku gak bisa El." Akhirnya kata penolakam itu keluar dari mulutku. Padahal beberapa detik yang lalu hampir saja aku bilang iya. Buru buru aku melepaskan tangan Elsa. Aku tak mau membuat Safa makin salah paha. Biarpun aku dan Safa sudah tidak ada ikatan apapun, tapi aku masih mencintainya. Semoga saja dia tidak salah paham dengan penggerebekanku dengan Elsa.

"Baiklah." Ujar Elsa sambil menunduk. Astga, raut wajahnya membuatku merasa bersalah.

"Tapi jangan marah jika mereka yang memaksa kita menikah."

"Maksud kamu?" Aku tak paham apa maksudnya.

"Aku akan bilang pada semua orang jika kita tadi memang berbuat mesum. Aku yakin mereka akan memaksamu menikahiku."

Aku seketika melongo mendengar ucapannya. Darimana gadis ini tiba tiba punya pikiran seperti itu. Bisa bisanya dia mengancamku.

"Mau kemana?" Aku mencekal tangannya saat dia hendak kembali masuk ke balai desa. Bisa gawat kalau benar benar dia ngomong seperti itu. Sekarang, kenapa aku yang malah berasa diposisi sulit. Pintar sekali Elsa membalikkan kesusahannya menjadi kesusahanku.

"Aku mau bilang pada mereka."

"Jangan gila." Bentakku sambil menarik tangannya agar tak masuk dulu ke balai desa.

"Aku terpaksa Biru." Geramnya sambil memelototiku. Sepertinya gadis ini hobi sekali melotot.

"Huft, baiklah. Aku akan menikahimu. Tapi hanya untuk formalitas tak seperti pernikahan sebenarnya." Entah apa yang merasukiku, aku malah memberinya penawaran seperti itu. Padahal sudah jelas ini tidak benar. Pernikahan itu ibadah, bukan permainan.

Greb

Aku terkejut saat dia tiba tiba memelukku. Mendadak aku merasa tak bisa bernafas.

"Aku setuju." Ucapnya senang sambil melepaskan pelukannya.

Huh huh huh

Aku segera menghirup udara sebanyak banyaknya. Astaga, seperti apa kehidupan rumah tanggaku nanti. Gadis ini kelakuannya tak bisa ditebak, bahkan sering berperilaku yang membuatku geleng geleng.

Setelah itu kami berdua masuk kedalam balai desa. Disana mataku langsung bersitatap dengan Safa. Aku bisa melihat kekecewaan dimatanya. Mungkinkah dia juga menganggapku berbuat mesum seperti orang orang disini?

"Lama sekali ngobrolnya." Keluh mbah Suko yang sepertinya berharap sekali untuk bisa menikahi Elsa. Maklumlah, dia udah lama menduda. Lihat wanita secantik Elsa jelas dia langsung pengen kawin supaya bisa mengasah senjata tumpulnya.

"Nona, menikah dengan saya saja ya." Mas Parman tidak ketinggalan. Perjaka tua itu jelas udah kebelet banget kawin.

Aku melirik Elsa, gadis itu sepertinya tak peduli sama sekali dengan ucapan mbah suko maupun parman. Dia malah terlihat senyum senyum, apa sebahagia itu dia mau menikah denganku.

Engak, enggak mungkin. Aku gak boleh GR. Mungkin dia seperti ini karena hilang ingatan. Saat ingatnnya kembali nanti, bisa saja dia malah langsung meninggalkanku. Karena aku yakin, wanita secantik dia pasti jadi incaran banyak pria. Dan siapalah aku yang hanya nelayan ini.

"Tapi menurut saya, Biru yang seharusnya menikahinya. Dia harus tanggung jawab dengan perbuatannya." Ucap Pak Lurah dengan tatapan mengintimidasi.

"Tapi kami tidak berbuat apa apa pak." Sangkalku untuk yang kesekian kalinya. Kalaupun aku harus menikahi Elsa, setidaknya aku tak mau namaku buruk.

"Ya udah, kalau emang kalian gak berbuat apa apa, biar mbah aja yang nikahin mbak amnesia."

"Enak aja. Saya yang lebih berhak menikahinya. Ngalah sama yang muda. Mbah udah pernah nikah dua kali. Lha saya, sekali aja belum. Gantian dong jangan serakah." Protes Mas Parman.

"Siapa suruh situ gak kawin kawin. Jangan jangan senjatanya udah karatan karena gak pernah diasah." cobir mbah suko.

"Enak aja, punya mbah tu yang udah kadaluarsa. Udah gak bisa dipakai."

"Heh, enak aja kalau ngomong."

Suasana balai desa kian riuh rendah akibat perdebatan kedua orang itu yang tiada habisnya. Aku melirik Elsa, disaat bersamaan, dia juga melirikku. Meskipun tanpa suara, aku bisa membaca gerak bibirnya yang mangatakan cepat bilang.

"Tenang tenang. Disini yang kena gerebek mereka, kenapa malah kalian yang rebutan nikah?" Pak Lurah menginterupsi.

"Pak Lurah gimana sih. Biru kan udah bilang kalau mereka gak ngapa ngapain. Berarti kasus mereka udah ditutup. Sekarang kita hanya perlu mencari solusi tempat tinggal untuk nona amnesia." Jawab mas Parman.

"Benar benar." Untuk pertama kalinya, mbah suka sependapat dengan mas Parman.

"Biru, benar kalian tidak melakukan apa apa?" Untuk kesekian kalinya,Pak Lurah menanyakan hal yang sama. Dan untuk kesekian kalinya juga, aku akan memberi jawaban yang sama.

"Tidak. Kami tidak melakukan apa apa. Tapi saya bersedia menikahinya." Jawabku sambil menatap Safa yang berdiri menghadap kearahku. Seketika itu juga, dia menunduk. Jika penglihatanku tidak salah, dia seperti sedang menyeka air mata.

"Eh Biru. Kalau gak ngapa ngapin, gak perlu tanggung jawab. Biar saya saja yang nikahin." Ujar mbah suko.

"Sudah sudah. Saya sudah putuskan jika Biru yang akan menikahi nona ini."

Keputusan Pak Lurah lantas membuat mbah suko dan Mas Parman protes. Aku tak peduli sama sekali dengan protes mereka. Yang aku perhatikan saat ini justru mimik muka Pak Lurah yang tampak bahagia. Sebegitu legakah dirinya mendengar aku akan menikah? Ya, itu sangat jelas tergambar diwajahnya. Karena saat aku menikah, tak akan ada yang pria miskin yang berharap menjadi menantunya.

"Tunggu!" Ucapan Safa menginterupsi semua orang yang ada di balai desa. Kenapa jantungku terasa berdebar menunggunya untuk mengatakan sepataha kata. Apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan.

"Ada apa Safa?" Tanya Pak Lurah.

"Wanita ini hilang ingatan. Jadi kita tidak tahu statusnya secara jelas. Bagaimana jika ternyata dia sudah menikah." Ucapan Safa langsung mendapat banyak tanggapan. Semuanya membenarkan apa yang dia katakan. Sebenarnya hal itu sudah ada dikepalaku. Tapi entah kenapa, firasatku mengatakan jika Elsa belum menikah. Dia terlihat masih sangat muda. Mungkinkah dia sudah menikah?

Terpopuler

Comments

fitriani

fitriani

safa sebenarnya cemburu....

2024-09-16

0

Amalia Khaer

Amalia Khaer

iyaa lama menduda. TPI stidaknya tahu diri juga sih. SDH sepuh TPI ngebet bnget SMA ABG. heran deh.

2023-10-27

1

♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)

♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)

waduh gimna ini apakah Elsa bsa menyangkal nya dn gimna membuktikan nya klo Elsa blom nikah

2023-09-26

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!