POV CALLISTA
Aku menunduk sambil ******* ***** jemariku. Dimomen seperti ini, jelas aku teringat papa dan mama. Cal kangen mamah sama papah. Andai saja yang menjabat tangan Biru adalah papa, pasti rasanya lebih berbeda.
Aku dan Biru, kami sama sama yatim piatu. Tapi Biru lebih beruntung karena ada Pak De Saleh dan keluarganya yang menyayanginya. Sedangkan aku, tante Sofi dan om Kamal, sepertinya rasa sayang mereka selama ini hanyalah topeng. Ada maksud dan tujuan dibalik itu semua. Jika saja tak ada warisan, mereka pasti tak akan mau merawatku.
Pah, Mah, hari ini Cal menikah. Meski pria yang duduk disebelah Cal bukanlah orang yang berpendidikan tinggi dan kaya raya, tapi Cal yakin, Biru adalah pria yang bertanggung jawab.
"SAAHHHH."
Aku seketika benafas lega mendengarnya. Alunan suara itu terdengar bagai nyanyian merdu yang seketika membuat hatiku damai. Akhirnya, aku sah menjadi istri Biru. Apakah aku mencintai Biru, pria yang baru kukenal kemarin? Atau aku hanya mengaguminya, karena dia adalah sosok hebat yang telah menolongku? Entahlah, aku juga masih tak paham dengan perasaanku padanya. Tapi satu hal yang pasti, aku bahagia saat ini.
Setelah doa bersama, pak ustad menyuruhku mencium tangan Biru.
Busyet tangab Biru dingin dan basah. Ini pasti efek karena dia terlalu tegang.
Dan sekarang, momen yang paling aku tunggu. Aku segera memejamkan mata karena biasanya setelah ini pengantin pria akan mencium kening pengantin wanita.
Satu detik, dua detik, lama sekali sih. Emang sejauh apa jarak keningku dari bibir Biru, kenapa rasanya tak sampai sampai.
Aku segera membuka mata saat kusadari sesuatu mendarat dipuncak kepalaku. What, dia hanya menyentuh pucuk kepalaku dengan mulut komat komat. Sepertinya dia sedang membaca doa sembari menyentuh kepalaku. Oh my God, sepertinya aku terlalu berharap.
Setelah semua prosesi akad selesai, para tamu dijamu dengan makan seadanya. Seadanya karena tak ada persiapan mengingat waktunya yang sangat mepet.
"Cie, cie..udah sah nih." Santi menyenggol lenganku saat aku hendak kebelakang untuk mengambil minum.
"Nanti kalau malam pertama, jeritnya yang keras, biar aku kedengeran." Godanya.
Malam pertama? aku menghela nafas. Entah ada atau tidak yang namanya malam pertama. Biru sudah bilang kalau menikahiku hanya untuk formalitas. Aku rasa dia tak akan menyentuhku malam ini.
"Set dah, kenapa wajah malah ditekuk gitu? Gak kepengen malam pertama?" Ledek Santi.
"Auk ah." Jawabku malas sambil meneguk air yang baru aku ambil didapur.
"Kenapa sih? perasaan tadi semangat banget mau nikah. Kenapa sekarang mukanya malah ditekuk? Jangan jangan." Santi tiba tiba melotot.
Kalau sudah masang ekspresi gini, aku yakin di pasti mikir yang aneh aneh.
"Kamu galau karena takut udah gak perawan ya? Secarakan kamu amnesia, gak ingat masa lalu." Bisiknya.
"Enak aja. Aku masih segelan. Perawan ting ting." Seruku yang tak terima dengan tebakan ngawurnya. Enak aja aku dibilang udah jebol.
"Jangan yakin dulu. Kamu itu amnesia. Kamu cuma ingat belum menikahkan? Tapi kamu gak ingat lainnya. Jangan jangan udah sering main sama cowok kamu?"
Minta digetok kepala nih anak. Dasar Santi, kalau bicara gak pernah ada basa basi atau disaring dulu.
"Sebagai bukti kalau aku masih perawan ting ting, besok aku kasih lihat sprei yang ada darah perawannya. Puas kamu?" Seruku sambil memelototinya. Dan dia malah ketawa ketiwi sambil mengacungkan jempol.
"Jadi kalau bukan karena itu, kamu galau kenapa? Takut gak pandai diranjang ya? Takut Biru gak bisa puass?" Ledeknya sambil nyenggol nyenggol bahuku.
Idih, Calista dianggap remeh. Meski aku tak berpengalaman karena tak pernah melakukannya sekalipun, tapi aku sering mendengar cerita pengalaman teman teman laknatku waktu kuliah. Belum lagi mereka yang sering mengirimiku link vidio panas. Membuat aku yang memiliki rasa penasaran tinggi, tergoda untuk melihatnya.
"Jangan panggil aku Calista jika tak bisa memuasskan suamiku. Kujamin Biru akan ketagihan dan minta sampai sepuluh ronde. Kalau perlu, malam ini kami berdua tak akan tidur sama sekali." Ujarnya penuh percaya diri dan semangat empat lima.
"Hem hem."
Mendengar suara deheman dari belakang, buru buru aku dan Santi membalikkan badan.
What! Biru. Sejak kapan dia ada disana? Apakah dia mendengar banyolanku tentang malam pertama tadi? Bodoh Cal, punya mulut los dol banget, gak lihat lihat situasi dulu kalau mau ngomong.
Disaat aku malu sampai ke ubun ubun, si Santi malah tertawa cekikikan. Karena geram dia bahagia diatas penderitaanku, segera saja aku injak kakinya sekuat mungkin.
"Aduh...sakit begooo." Ujar Santi sambil meringis dan memelototiku.
"Aku membawakanku makan. Kamu pasti lapar kan?" Ujar Biru dengan dua piring nasi ditangannya. "Ayo makan." Ajaknya sembari berjalan menuju meja makan yang ada didapur. Aku mengekorinya dibelakang, tapi si Santi ngapain ikut juga. Bikin kesel aja. Gak tau apa kalau aku mau berduaan aja. Vibe pengantin barunya biar makin terasa.
Belum sempat aku menegurnya, Santi mengambil satu piring yang diletakkan Biru diatas meja.
"Pengantin baru makannya sepiring berdua saja. Biar ini buat aku sama Mas Gani. Mas....makan yuk." Dia main ngibrit saat aku dan Biru masih tercengang.
Tak kusangka temanku Santi sebaik ini. Pandai juga dia menciptakan momen romantis antara aku dan Biru.
Sekarang tinggal aku dan Biru dengan sepiring nasi diatas meja. Enaknya, aku yang nyuapin Biru, apa Biru yang nyuapin aku ya???
"Makan saja ini, biar aku ambil lagi. Didepan masih banyak."
Glodak.
Mulutku seketika menganga alias melongo. Jadi gak ada acara suap suapan nih? Aku seketika menjatuhkan bokongku dengan kasar di kursi. Kutatap seporsi nasi dengan lauk ikan yang sepertinya digulai. Aku menyangga kepalanya dengan sebelah tangan sambil mengaduk aduk makanan didepanku. Gini amat sih nasibku. Jangan jangan ini karma. Karma buatku yang dulu sering nolak cowok. Jadi begini rasanya ditolak.
"Kok gak dimakan?" Pertanyaa Biru mengagetkanku. Ternyata dia sudah kembali dari depan sambil membawa sepiring nasi.
"Mana kuat entar malam sepuluh ronde kalau gak makan?"
Mataku seketika membulat sempurna. Koran,mana koran. Ingin sekali aku menutupi wajahku saking malunya. Saat ini, pipiku pasti udah kayak kepiting rebus.
"Becanda." Lanjutnya. "Aku tahu kamu ngomong gitu cuma untuk membalas omongan Santi."
Aku langsung nyengir. Bagus deh kalau Biru mikirnya gitu. Tapi kalau Biru mau, aku tak keberatan kok meski sepuluh ronde, hehehe. Aduh Cal....mikir apa sih...
Selanjutnya kami makan dalam diam. Hanya sesekali aja aku curi curi pandang kearahnya. Hari ini Biru begitu tampan dengan kemeja putih. Meski kulitnya eksotis, entah kenapa kemeja putih tetap terlihat bagus dikenakannya.
"Tulangnya jangan dibuang disampah. Sisihin di baskom belakang rumah buat makan Lisa."
Ya Tuhan, disaat aku sibuk mencuri pandang ke arahnya dan membayangkan adegan plus plus, ternyata yang ada di otak Biru ada adalah Lisa. Tak rela rasanya diduakan dengan Lisa.
"Astaga....! Aku dan Biru sama sama terkejut mendengar suara melengkingnya Santi. Wanita itu bediri didekat meja sambil geleng geleng.
"Sia sia aku ngambil makanan kalian jika ujung ujungnya makan sendiri sendiri." Omelnya sambil berkacak pinggang.
"Gak kenyang kalau sepiring berdua." Jawab Biru santai sambil menghabiskan nasi yang tinggal beberapa suap.
"Oh iya." Santi tiba tiba menepuk dahinya sendiri. "Kan mau sepuluh ronde." Godanya sambil tersenyum padaku dan menginjak kakiku.
"Awww..." Jeritku. Kurang ajar, balas dendam ceritanya nih anak.
"Eh...jangan jerit jerit. Disimpan buat nanti malam. Sepuluh ronde bisa sampai habis loh suaranya."
Sialan si Santi, bikin malu aku aja. Aku melirik Biru, wajahnya tampak merah. Pasti dia malu karena digodain Santi.
"Sepuluh ronde? siapa yang mau sepuluh ronde?" Tiba tiba Gani yang baru datang menyahut.
"Merekalah Mas, masak kita. Biasalah pengantin baru. Masih kemaruk istilahnya." Jawab Santi.
Kenapa pasangan ini bisa klop gini ya?
"Pas banget kalau gitu." Gani mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung kemeja batiknya.
"Kado dari aku dan Santi."
Aku melotot melihat apa yang diberikan Gani. Dia memberikan bungkusan kecil warna hitam pada Biru. Meskipun aku tak pernah membeli ataupun menggunakannya. Tapi aku tahu fungsi benda dengan nama Tisu Mag*g itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
fitriani
y ampun gani kadonya ada2 aja🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-17
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
ada aja deh gani sm santi ksih kado bgituan biar tahan lama kali ya🤣🤣🤣
2023-09-26
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
kasian sekali kamu cal ayo semngat buat Biru jatuh cinta sm kmu cal smpe bucin 😁
2023-09-26
1