POV BIRU
Sakit dikaki akibat kesandung meja tak lagi aku hiraukan. Aku berlari terbirit birit demi mengejar Cal. Setelah keluar dari halaman rumah, kulihat Calista sudah berjalan melewati beberapa rumah dan astaga, dia hampir sampai di depan warung kopi.
Kuangkat sarung yang ku pakai agar lebih leluasa berlari mengerjarnya. Beruntung jalan sedang sepi. Sengaja aku tak memanggilnya agar tak menarik perhatian orang yang ada diwarkop.
Begitu dekat, segera kutarik pergelangan tangannya agar dia berhenti melangkah.
"Biru, ada apa?" Tanyanya dengan dahi mengekerut. Aku yang masih ngos ngosan tak bisa berkata kata.
Terdengar suara berisik dari warkop.
"Ayo, ayo berangkat."
Aku makin panik mendengar ucapan mereka. Itu tandanya, mereka akan segera beranjak dari warkop. Biasanya, setelah ngopi, mereka akan berangkat bersama sama ke laut. Rata rata warga sini memang bermata pencaharian sebagai nelayan. Kulihat beberapa orang sudah mulai berdiri. Gawat, mereka akan segera keluar dari warkop.
"Ayo pulang." Ucapku sambil menarik tangan Cal. Bukannya nurut, dia malah melepaskan tanganku.
"Aku beli kopi sebentar, habis itu pulang." Dia malah berbalik dan melanjutkan langkah. Oh Tuhan, dia masih memikirkan kopi disaat genting seperti ini. Tak tahukan dia didepan sana ada segerombolan buaya yang akan melotot dan meneteskan air liur melihat penampilannya.
Buru buru kutarik Cal lagi. Kali ini sedikit kuat agar dia tak berontak.
"Biru, sakit." Rengeknya sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalanku. Tak ada waktu lagi, orang orang itu sudah mau keluar, bahkan ku lihat, ada yang sudah berjalan meninggalkan warkop.
Bingung harus berbuat apa. Segera kulepas sarungku dan kukenakan pada Cal. Tinggalah aku memakai kolor pendek diatas lutut. Dia tampak bingung saat aku memasukkan sarung melalui kepalanya.
"Biru, apa apaan sih?"
Tak kuhiraukan protesnya. Terus saja aku memasukkan sampai perut dan pahanya tertutup sempurna. Segera kuikat dibawah dadanya agar gak melorot.
"Diam." Desisku saat dia hendak mengeluarkan protes.
"Ngapain kalian?" Tanya Pak Jalu yang baru kaluar dari warung kopi dan berjalan mendekati kami.
"Jalan jalan aja Pak. Istri saya pengen nyari udara segar." Bohongku sambil menarik bahu Cal agar lebih mepet padaku.
Kulihat Calista menundukkan wajah saat beberapa orang terang terangan memperhatikan penampilannya. Biarlah, lebih baik seperti ini, biarpun sedikit memalukan, tapi setidaknya tak harus menjadi santapan mata para pria.
"Biru, istrinya dibeliin baju dong. Masa ya disuruh pakai sarung." Ledek pak Harun sambil menahan tawa. Bagitupun yang lain, mereka tampak menahan tawa melihat penampilan Cal.
Aku melirik Calista, wanita itu mengerucutkan bibirnya padaku. Sepertinya dia kesal karena merasa sudah aku permalukan.
"Heis, kalian kayak gak tahu aja. Mereka kan pegantin baru. Pakai sarung tuh, biar mudah ngelepasnya. Iya gak Ru?"
Aku tak menanggapi, hanya menunduk saja mendengar ledekan mereka. Biarlah mereka berpikir semaunya.
"Alamak, romantis sekali pengantin baru ini." Puji Pak Darman. Aku dan Cal saling menatap lalu sama sama tersenyum. Berpura pura sok romantis didepan semua orang.
"Bapak bapak, kami permisi dulu ya." Buru buru aku pamit pada mereka dan menarik tangan Cal pulang. Sesampainya dirumah, langsung kedudukkan dia di kursi ruang tamu.
"Lain kali jangan keluar rumah pakai baju seperti itu?" Ucapku tanpa basa basi.
"Emangnya kenapa dengan bajuku?" Tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Kenapa kamu bilang?"
"Iya, kenapa? Baju aku bagus kok. Tapi kamu malah bikin aku kayak badut." Ujarnya sambil memelototiku dengan kedua tangan dilipat didada.
Loh loh, kok jadi dia yang marah marah?
Sabar Biru sabar. Aku menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Aku menarik tangannya menuju kamarku lalu menghadapkannya pada cermin almari yang lumayan besar. Kubuka simpul sarungnya hingga kain itu jatuh kelantai.
"Kamu pikir lagi syuting film india, puser pakai dipamer pamerin kayak gitu." Ucapku sambil menatap perutnya dipantulan cermin. "Dan itu lagi, paha kamu. Kalau paha ayam gak papa dipamerin dietalase biar ada yang beli. Kalau paha kamu? Gimana kalau mengundang syahwatt? Gimana kalau bikin yang lihat naffsu?"
Tiba tiba dia membalikkan badan dan menatapku.
Deg deg deg
Aku mendadak kena serangan jantung saat Cal menatapku sambil menggigit bibir bawahnya. Segera saja aku mundur untuk menjaga jarak. Tapi Cal, dia malah maju sambil memainkan rambutnya. Selangkah aku mundur, selangkah juga dia maju. Membuatku tak ada pilihan selain terus mundur hingga kakiku terhantuk pinggiran ranjang.
"Ca, Ca, Cal, a., aku , aku pergi kerja dulu." Disaat seperti ini, kabur adalah pilihan paling tepat. Aku hendak pergi tapi Cal menahan bahuku agar tetap ditempat.
"Emmmm....kamu bilang tadi, pahaku bisa bikin yang lihat naffsu. Jadi....kamu...."
"Enggak!" Jawabku cepat sambil menggeleng. "Aku enggak. Mungkin saja mereka naffsu kalau lihat paha kamu. Makanya aku menutupinya dengan sarung."
"Bener kamu gak naffsu?" Dia mengerlingkan mata sambil menggulung gulung sebagian rambut depannya dijari telunjuk.
"Eng....gak." Jawabku sambil menggeleng. Tentu saja aku berbohong. Kebenarannya, milikku meronta ronta didalam sana.
"Huft, jadi cuma mereka yang naffsu, bukan kamu?" Cal membuang nafas kasar sambil menghentakkan kaki. Dia tak lagi menatap sambil menggodaku, melainkan membuang pandangan kearah lain. Aku tak tahu apa yang ada dipikirannya. Tapi satu hal yang pasti, aku ingin dia tahu apa yang aku rasakan.
"Aku tidak tahu seperti apa cara berpakaianmu dulu Cal. Tapi saat ini, kamu adalah istriku. Sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga kehormatanmu. Aku tak mau tubuhmu menjadi konsumsi publik. Maaf jika apa yang aku lakukan tadi membuatmu merasa malu. Aku hanya ingin melindungi tubuhmu dari tatapan nakal para pria yang tak layak menatapnya."
Cal kembali menatapku. Tapi kali ini, dia tak lagi cemberut, melainkan tersenyum padaku.
"Cie....gak rela nih tubuhku dilihat pria lain?"
Ledeknya.
"Bu, bukan begitu." Astaga...harus bagaimana aku menjelaskannya pada Cal.
Cup
Mataku membulat sempurna saat Cal tiba tiba mencium pipiku. Wajahku terasa panas, aku yakin jika tampilanku sudah seperti udang rebus sekarang.
"Makasih." Ucapnya sambil tersenyum padaku. "Aku senang karena kamu memikirkan kebaikanku."
Aku yang masih syok karena dicium tiba tiba, tak bisa menjawab kata katanya. Rasanya aku masih tak percaya Cal mencium pipiku. Bahkan bibirnya seperti masih menempel dipipiku.
"Selamat bekerja." Ucapnya lalu berjalan menuju pintu.
"Cal, tunggu." Panggilku saat dia hendak keluar.
"Ada apa?" Tanyanya setelah berbalik badan kearahku.
"Emm...."
"Kenapa pipinya dipegangi terus?"
Aku yang tersadar jika tanganku masih berada dipipi segera menurunkannya.
"Takut bekasnya ilang ya?" Ledeknya sambil tertawa.
Sumpah, malu banget.
"Gak usah khawatir. Ntar kalau bekasnya ilang, aku cium lagi." Lanjutnya dengan masih tertawa.
"Besok...ayo kita jalan jalan." Entah apa yang merasukiku, tiba tiba saja, aku teringin pergi berdua dengan Cal.
Kulihat binar bahagia diwajahnya. Apa ini artinya, dia mau.
"Kamu mau?" Tanyaku memastikan.
Bukannya menjawab, dia malah berjalan cepat kearahku dan....
cup
Dia mencium pipi kiriku. Setelah tadi sebelah kanan, sekarang dia mencium yang sebelah kiri. Membuatku kian panas dingin.
"Harus adil, biar gak iri." Ucapnya sambil tersenyum padaku.
Oh Tuhan...ciptaanmu sungguh luar biasa indah. Senyumnya membuat hati ini meleleh.
"Ya, aku mau." Jawabnya lalu berbalik badan dan keluar dari kamarku.
Sepeninggalan Cal, aku terduduk lemas ditepi ranjang. Aku meletakkan telapak tanganku didada. Terasa sekali debaran jantungku yang sangat cepat. Beruntung jantung ini ciptaanmu Ya Rob. Kalau tidak, mungkin sudah rusak karena dipaksa bekerja terlalu keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
untung jantung msih aman kan Biru klo sering bgtu enth lah bsa aman kah selanjutnya ?? 🤣🤣🤣
2023-09-26
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
dih skr cal jd lbih berani ya krn Biru msih jual mahal jd lah cal inisiatif dluan wkwkwk bgus cal biar Biru panas dingin gk bsa tdur dia 🤣🤣🤣
2023-09-26
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
udh gak tahan asli nya yah dh lah. hajar aja lah toh dh sah ini gk usah peduliin yg lain lg apa lg. masa lalu nya cal
2023-09-26
0