POV CALLISTA
Darahku mendidih seketika mendengar ucapannya. Siapa dia yang berhak menilai aku pantas atau tidak untuk Biru. Tapi karena masih lemas dan sedikit gemetaran, aku diam saja. Tapi bukan berarti aku lemah atau takut melawannya. Tunggu saja Safa, pembalasan lebih kejam.
Tak lama kemudian, Biru datang membawa dua botol air mineral dan dua bukus roti. Dia memberikannya padaku dan juga Safa. Bikin kesel aja, kenapa juga dia mesti dibelikan juga.
"Minumlah dulu, setelah itu makan rotinya biar kamu kuat." Ujarnya sambil menyodorkan air mineral yang sudah dibuka tutupnya. Aku mengangguk dan segera meminum air itu hingga separuh botol.
"Harusnya kamu gak perlu repot repot membelikanku juga." Ucap Safa yang juga ikutan minum.
Cih, bilang aja kesenangan, pakai basa basi gak usah repot repot. Melawan wanita bermuka dua seperti dia, mesti dengan otak. Aku harus bermain cantik kalau menghadapinya.
"Gak repot kok." Jawab Biru sambil tersenyum pada Safa. Aduh aduh, sekarang gak hanya mendidih lagi darahku, mungkin sudah gosong saking panasnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Ajak Safa.
"Aduh...kepalaku pusing. Pulang yuk?" Buru buru aku berakting pusing sambil melingkarkan tangan dilengan Biru. Tak lupa juga aku menyandarkan kepalaku dibahunya. Tak rela saja rasanya dia mengambil Biru dariku.
Biru tampak risih, dan seperti mau melepaskan tanganku, tapi aku tak kurang akal, makin kupererat dekapanku pada lengan Biru.
Safa tampak kesal melihatku. Tapi baguslah, setidaknya aku bisa membalas kekesalanku karena ucapannya tadi.
"Sebentar saja Biru. Besok aku sudah harus kembali ke kota."
"Biru....ayo pulang." Rengekku manja sebelum Biru mengiyakan ajakan Safa.
Biru garuk garuk kepalanya, sepertinya dia sedang dalam dilema.
"Please...!" Safa mulai memohon.
"Biru." Kutatap Biru dengan ekspresi memohon juga. Kujamin dia sedang bingung sekarang. "Kepalaku pusing sekali." lanjutku sambil memegang kepala.
"Sebentar saja Cal."
Aku menghela nafas. Kalau sudah Biru yang minta, tak mungkin aku bilang tidak.
"Baiklah." Sahutku malas.
"Kamu istirahat saja dulu." Biru kembali menyandarkan kepalaku dibahunya. Aku tak bisa menolak, hanya bisa nurut sambil memejamkan mata dan menikmati nyamannya bahu Biru.
"Fa, bisakan kita ngobrolnya disini saja. Aku gak bisa ninggalin Cal sendirian. Dia sedang tidak baik baik saja."
Aku membuka mata sedikit untuk melihat ekspresi Safa. Jelas sekali raut keberatan diwajahnya. Tapi meskipun begitu, dia tetap mengangguk. Penasaran sekali aku dengan apa yang ingin dia bicarakan.
"Kalian bicara saja. Aku tak akan ikut campur." Ucapku pura pura bijak dengan mata terpejam dan posisi yang tak berubah, masih dibahu Biru.
"Aku hanya mau membicarakan soal kuliah kamu. Apa kamu gak ingin lanjut kuliah lagi?" Tanya Safa.
"Beasiswaku sudah dicabut saat aku mengajukan cuti terlalu lama Fa."
"Kamu bisa mencari beasiswa dari tempat lain lagi?"
"Mana ada yang mau memberiku beasiswa lagi mengingat aku udah pernah menyia nyiakan kesempatan itu."
"Kamu tahu CALS? Salah satu perusahaan besar yang ada dikota."
CALS, itukan perusahaan papa? Aku makin penasaran dengan apa yang ingin Safa bahas selanjutnya.
"Aku kenal baik dengan anak pemiliknya."
What! Bukankah itu aku? Tapi aku merasa tak mengenal Safa sebelum bertemu didesa ini. Ternyata selain bermuka dua, wanita itu juga pandai membual. Bisa bisanya dia bilang kenal baik denganku. Cih, pengen muntah mendengarnya.
Eh tunggu, tunggu. Jangan jangan yang dia maksud Kania. Apa benar dia kenal baik dengan Kania? Aku tahu jika sepupuku itu sering bilang pada teman temannya jika dia anak pemilik CALS.
"Aku bisa memintanya untuk mengusahakan beasiswa untukmu. Aku yakin ini tak akan sulit."
Karena aku sedang bersandar dibahu Biru, aku jadi tak bisa melihat seperti apa ekspresi Biru.
"Kamu sangat pintar Ru. Sayang jika kuliahmu tidak dilanjutkan. Masa depanmu bisa lebih menjanjikan daripada menjadi seorang nelayan."
Heleh, ngomong aja biar bapak kamu merestui hubungan kaliankan? Sok sok an pakai alibi masa depan Biru. Tapi, kalau sampai Biru mau, nasibku bagaimana.
"Tapi sekarang aku udah menikah Fa. Aku punya tanggung jawab pada Calista. Mungkin sepertinya aku memang ditakdirkan menjadi nelayan."
Ingin sekali aku mengangkat kepala dan menatap Biru. Tapi aku tahan karena aku sedang berakting lemas, bukan seratus persen akting sih, aku memang lemas saat ini.
Aku terharu mendengar ucapannya yang memikirkan nasibku. Terimakasih Tuhan, karena telah memberikanku jodoh seperti Biru, pria yang bertanggung jawab meski menikahiku hanya formalitas saja. Aku ingin pernikahanku dengan Biru selamanya, bukan selama 5 bulan saja.
"Calista, jadi namanya Calista." Ucap Safa. "Bukankah dia sudah bisa mengingat namanya. Aku rasa, sebentar lagi dia akan ingat semuanya."
"Semoga saja." Sahut Biru.
"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan Ru. Lebih baik, pikirkan saja dulu. Setiap akhir pekan, aku pulang kampung. Semoga saja, minggu depan keputusanku sudah berubah. Aku sangat berharap kamu bisa kuliah lagi Ru."
...****************...
Sepanjang hari, aku jadi tak tenang. Tentu saja aku kepikiran dengan obrolan Biru dan Safa tadi. Bagaimana jika Biru sampai berubah pikiran? Apakah dia akan memilih kuliah dan meninggalkanku? Kalau saja dia tahu aku tidak amnesia, sudah pasti dia akan pergi meninggalkanku.
"Kamu kenapa Cal?" Tanya Biru sambil berjalan menghampiriku yang sedang duduk di depan TV.
"Apa kamu ingin kuliah lagi?" Aku bukan tipe orang yang suka berbasa basi.
"Jadi kamu bengong daritadi karena mikirin itu?"
"Kamu akan ke kota dan ninggalin aku Ru?"
"Aku tak mungkin meninggalkanmu begitu saja Cal. Meski pernikahan kita hanya formalitas, aku akan tetap bertanggung jawab padamu."
"Terimakasih." Sahutku sambil reflek memeluknya. Mendadak tubuh Biru seperti kaku, dia pasti kaget karena tiba tiba aku peluk.
"Cal, a, aku mau ngasih kamu sesuatu." Tuh kan, ngomongnya aja udah mulai gagap. Pasti dia tegang saat ini kerena dipeluk wanita cantik, hehehe. Btw, itunya ikutan tegang gak ya?
"Apa?" Tanyaku sambil melepaskan pelukanku.
Biru merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sesuatu yang tak lain tak bukan adalah uang.
"Ini, untuk kebutuhan sehari hari." Ujarnya sambil menyodorkan beberapa uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu. Setelah ku hitung, jumlahnya ada 1 juta.
"Tolong sedikit berhemat. Usahakan uang itu cukup untuk dua minggu."
What! Mataku seperti mau keluar dari tempatnya. Satu juta untuk dua minggu? Apa tak salah. Biasanya uang segini habis untuk sekali keluar saja, bahkan kadang kurang. Terus, untuk beli skin care dan baju? Ini mustahil.
"Bisa kan?"
"Hah, bi sa." Rasanya bibirlu kelu saat mengucapkannya.
"Oh iya, bentar lagi aku mau berangkat melaut. Janga lupa kunci pintunya." Ujarnya sambil beranjak dari sofa.
"Biru." Panggilku sebelum dia melangkah pergi.
"Bisakah aku meminjam ponselmu untuk malam ini?"
Biru mengerutkan keningnya. Semoga saja dia tidak keberatan. Aku harus menghubungi seseorang. Satu satunya orang yang bisa aku percaya.
"Kamu bisa menggunakan smart phone?"
"Sepertinya bisa. Mungkin aku bisa bermain game di hp mu biar malam ini tidak bosan."
"Baiklah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Amalia Khaer
kamu kepikiran Biru berubah pikiran. dan aq takutnya si Safa cerita ttg gadis amnesia bernama Calista ke Kania
2023-10-27
2
Mey-mey89
lanjut.
2023-05-15
0
sowlekahh
kak othor tanya ya.. kenapa ganti nama dari pensil biru ke yutianti 10..?!?
penasaran eke tuech.. awalnya baca novel ditalak sblm 24 jam
2023-02-25
1