MASA DEPAN VS MASA LALU

POV CALISTA

Aku tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Santi. Untung gak ada lalat, kalau ada, pasti udah masuk ke mulutnya yang menganga kayak pintu goa.

"I, ini beneran kamu kan El?" Santi memutar badanku kekiri dan kanan saking tak percayanya. Tadi saat aku masih dalam proses make up, dia terpaksa pulang. Anaknya yang benama Galang menangis tak mau makan jika tak disuapi olehnya.

"El, ajari aku make up. Aku pengen cantik kayak kamu." Rengeknya sambil terus memperhatikan wajahku yang memang cantiknya kebangetan. Wkwkwk, muji diri sendiri dosa gak sih???

"Kurusin dulu tuh badan sama perawatan wajah. Habis itu, ditunjang sama make up."

"Setelah aku pikir pikir ya El. Sepertinya kamu itu tukang rias deh dulunya. Maksudku sebelum amnesia." Ujarnya menggebu gebu. Kayak menemukan sesuatu fakta besar. Padahal, beuh salah besar yang iya.

"Pinter make up belum tentu MUA San." Sangkalku sambil menyanggul rambutku ala ala pramugari. Disalon ini adanya sanggul jadul yang biasa dipakai emak emak. Jadi mending aku sanggul sendiri dan kasih sedikit aksesoris.

"Apa itu MUA?"

"Tukang rias."

"Bener deh El. Percaya sama aku. Kamu pasti tukang rias dulunya."

Aku hanya geleng geleng. Dasar Santi sok tahu.

"Eh El, aku tiba tiba punya ide."

Sekilas, aku seperti melihat bohlam kuning berpijar didekat otak Santi.

"Apaan?"

"Gimana kalau kita buka bisnis salon."

Aduh..makin aneh aja idenya si Santi. Aku memang suka dandan, tapi gak minat jadi MUA.

"Udah ah, yuk bantuin aku ganti baju. Aku gak mau pengantin priaku terlalu lama menunggu." Aku segera menarik Santi menuju almari kaca tempat menyimpan kebaya.

"Tapi kamu setujukan El sama ideku?"

Astaga, masih ngeyel juga nih bocah.

"Enggak!." Jawabku yang seketika membuat semangatnya hilang tak berbekas.

Setelah mengambil sebuah kebaya putih yang udah disiapkan ibuk ibuk tukang rias, aku dan Santi segera masuk kedalam kamar yang disiapkan untuk ganti baju.

"Busyet El...bisa pas gini kebayanya kamu pakai. Kapan ya, aku punya bodi kayak kamu?"

"Tahun depan." Jawabku cepat.

"Gak bisa bulan depan gitu?"

Ya elah, malah nawar si Santi. Dia pikir beli bbm bisa nawar. Eh...bbm juga gak boleh nawar ya? Mana naik lagi sekarang.

"Bisa."

"Yang bener El?" Wajah Santi kian berseri seri.

"Iya, asal kamu gak makan selama sebulan."

"Metong dong." Pekiknya.

"Tuh tauk. Semua gak ada yang instan San. Kalau kamu mendadak kurus dalam hitungan hari , takutnya Gani malah gak ngenalin kamu."

"Yeee...kamu pikir mas Gani hilang ingatan kayak kamu." Sewotnya.

"Hahaha..."

"Udah ah, yuk keluar. Katanya gak mau bikin Biru nunggu lama." Santi menarik lenganku keluar dari kamar. Ini yang mau nikah aku apa Santi, kenapa dia yang kayak kebelet.

Aku dan Santi sama sama terkejut saat melihat seseorang tengah berdiri didepan meja rias. Bukan ibuk tukang rias ataupun hantu, melainkan Safa. Untuk apa wanita itu kesini? Jangan jangan wanita itu minta dirias juga. Mau kawin sama mas Parman kali. Hahaha...

Santi menyenggol lenganku saat aku kelepasan tertawa. Astaga Cal, terlalu banyak ngehalu jadi kayak orang gila kan. Kamu harus jaga imej didepan Safa.

"Mau menikah juga kesini?" Tanyaku. Lagi lagi Santi menyenggol lenganku. Dan kali ini, ditambah dengan pelototan tajam.

"Ups, salah ya." Lanjutku sambil menutup mulut.

"Aku mau bicara sama kamu." Ujar Safa.

"Silakan. Tapi kalau bisa cepet. Biru sudah menungguku untuk mengikrarkan janji suci pernikahan sehidup semati." Sengaja aku lebay lebay kan agar dia makin ngenes. Astaga Cal, jahat sekali kamu. Dia pasti nangis darah saat ini. Mantan pacarnya akan segera menikah denganmu.

"Bisa bicara empat mata?"

"His." Desis Santi yang tampak keberatan. "Emang ada masalah kalau enam mata. Dimana mana itu, makin banyak makin baik." Ujar Santi.

"Betul." Sahutku.

"Please."

"Huft." Santi yang tampak kesal menghentakkan kakinya lalu segera keluar dari salon.

"Langsung aja. Aku gak suka yang berbelit belit." Ujarku sinis. Entah kenapa setelah kejadian kemarin dan semua cerita Santi, aku jadi gak suka banget sama Safa.

"Aku kenal Biru dengan baik. Gak mungkin kalau dia mau berbuat mesum padamu. Kecuali kamu yang menggoda duluan."

Njiirrrr pedas juga mulut nih cewek. Kirain gue apaan godain cowok duluan.

"Terus..." Aku melipat kedua tangan didada sambil memasang wajah serelax mungkin.

"Batalkan pernikahan kalian. Karena Biru tak harus tanggung jawab apapun padamu."

Aku seketika tergelak. Dia budek apa tuli. Kemarin sudah jelas Biru bilang tetap mau menikahiku meski dia tak melakukan apa apa. Lalu kenapa sekarang malah Safa yang keberatan. Dasar perempuan gak jelas.

"Terus kalau aku batalin, Biru mau kamu ambil?"

"Bu, bukan begitu. Aku hanya tak mau jika seseorang yang tidak berbuat apa apa harus tanggung jawab." Dia salah tingkah saat tahu jika aku paham apa maksud dan tujuannya.

"Udahlah Safa. Relain Biru buat aku."

"Relain?" Ujarnya sambil tersenyum. "Emang menurut kamu, Biru menikahimu karena cinta?"

Cih, pakai bawa bawa nama cinta nih cewek. Tapi kalau ngomongin cinta, aku mulai keder. Karena apa, karena Biru tidak mencintaiku. Hwaa....mau nangiskan jadinya.

"Asal kamu tahu, wanita yang dicintai Biru itu aku." Ujarnya dengan tingkat kepedean diatas rata rata. Makin gedek aku ma dia. Cewek kayak dia harus langsung dibikin kena mental biar rasa percaya dirinya gak over dosis.

"Ya, itu benar. Kamu wanita yang dicintai Biru. Tapi sayangnya, aku wanita yang dia pilih untuk menjadi istrinya."

Aku lihat tangannya mengepal. Dan wajah innocentnya itu seketika berubah kayak tokoh antogonis di sinetron. Cih, ketahuan sekali kalau selama ini dia hanya bersembunyi dibalik wajah inncocentnya. Dasar cewek munafik.

"Ikut aku." Ujarku sambil menarik tangannya kedepan cermin meja rias.

Aku mengambil lipstik dan menuliskan kata masa depan dicermin yang ada dihadapanku. Sedang dipantulan bayangan Safa, aku tuliskan masa lalu. Kemudian aku mundur dan berdiri sejajar dengannya.

"Aku yakin jika calon perawat pasti pintar membaca." Ledekku sambil menyeringai. Terlihat dipantulan cermin, wajah Safa mengeras menahan emosi.

"Apa yang tertulis dicermin itu, tepat dipantulan diri kita, seperti itulah posisi kita. Aku, masa depan. Dan kamu." aku menunjuk pantulan dirinya dicermin. "MASA LALU." tekanku.

"Kamu tidak akan pernah bahagia menikah dengan Biru. Karena cintanya hanya untukku."

"HELLO." Seruku sambil menatap matanya. "Mungkin saat ini cinta Biru masih untukmu. Tapi lihatlah aku." Aku menunjuk diriku sendiri. "Yakin kalau Biru tak akan jatuh dalam pesonaku?"

Aku cewek dengan tingkat kepercayaan diri tinggi Safa. Kamu salah cari lawan.

Safa memejamkan mata dengan kedua tangan mengepal kuat. Aku yakin jika dia mati matian menahan emosi saat ini. Aku sudah tak ada waktu lagi melayaninya. Lebih baik aku segera pergi karena Biru sudah menungguku. Tanpa pamit aku meninggalkannya dan berjalan menuju pintu keluar.

"Hei amnesia." Teriakan Safa menghentikan tanganku yang hendak meraih gagang pintu.

"Dari sekian banyak orang dikampung ini, kenapa harus Biru. Kenapa kamu gak menikah saja dengan mbah suko yang kaya raya atau Parman?" Seru Safa. Sepertinya dia putus asa karena tak bisa mengintimidasiku.

Aku menghela nafas lalu membuka pintu. Menunduk sebentar untuk mengambil sandal yang berjejer didepan pintu. Aku mengambil sebuah sandal jepit lusuh yang talinya hampir putus serta sebuah sandal bagus yang mungkin punya Safa.

"Jika disuruh memilih diantara dua sandal ini, mana yang akan kamu pilih?" Tanyaku sambil menunjukkan kedua sandal itu.

Kulihat Safa hanya diam saja.

"Sekarang, sudah pahamkan kenapa aku memilih Biru?" Aku tersenyum seelegan mungkin lalu memakai sandal dan pergi.

"Santi ayo." Ajakku pada Santi yang menunggu dikursi teras.

"El, tunggu sebentar." Santi menyusul langkahku lalu menarik lenganku agar berhenti.

"Apaan sih San? Aku buru buru nih, Biru udah menungguku." Sengaja aku keraskan suara agar Safa makin panas.

"Itu.."

"Apaan sih?" Kesalku yang tak paham apa yang dia maksud.

"Itu." Santi menunjuk dagu kearah kakiku.

"Kenapa, roknya ngegantung dikit, gak papa, gak masalah." Aku segera menarik lengan Santi pergi dari sana.

"Bukan itu yang aku maksud." Santi menarik kasar lengannya hingga membuatku geram.

"Apaan sih?" Geramku sambil memelototinya

"Sandal, sandal kamu."

"Sandal aku kenapa?" seruku sambil menunduk kebawah.

Jederrrr

Aku seperti tersambar petir saat sadar jika aku memakai sandal yang keliru. Sebelah kanan memang punyaku, tapi sebelah kiri. Astaga...memalukan sekali, ini sandal yang aku pegang tadi. Kalau aku tak salah, ini punya Safa.

Aku membalikkan badan kearah belakang dimana Safa masih berdiri didepan pintu. Wajahku terasa panas, pasti merah saking malunya.

Aku berjalan cepat sambil menunduk kearah pintu. Dengan mengabaikan malu yang udah sampai ubun ubun, aku segera menukar sandal yang kupakai.

"Sepertinya kau sangat terobsesi dengan semua yang menjadi milikku. Tak hanya mengambil Biru dariku, sandalkupun mau kamu embat."

Baru saja aku hendak membuka mulut, Santi sudah menarik lenganku.

"Abaikan, tidak penting. Saat ini yang paling penting adalah segera pulang dan MENIKAH DENGAN BIRU."

Bener juga apa yang dibilang Santi. Akupun segera mengikuti langkah Santi menuju rumah Biru.

Terpopuler

Comments

aphrodite

aphrodite

ho'oh laku pasti

2025-02-04

0

fitriani

fitriani

wkwkwkwkwk safa salah cari lawan... calista gak bisa kamu intimidasi safa.... mending skr plg dah safa🤪🤪🤪🤪

2024-09-17

0

Ety Nadhif

Ety Nadhif

terus nanti pas nikah pakai nama elsa

2024-05-21

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!