"Pokoknya Cal gak mau Tan. Cal gak mau nikah sama aki aki itu." Seruku karena habis kesabaran. Bisa bisanya tante Sofi dan Om Kamal memaksaku menikah dengan Pak Joko, tua bangka kaya raya yang usianya sekitar 70th.
Jadi ini maksud mereka memanggilku pulang? Aku yang sedang sibuk kuliah di Jepang dipaksa pulang dengan alasan gak jelas. Tiba tiba diajak jalan jalan naik kapal pesiar dan ini akhirnya. Aku dijebak, aku malah dipaksa menikah dengan bandot tua bau tanah.
"Tutup mulutmu Cal. Jangan sampai dia dengar dan tersinggung dengan ucapanmu. Perusahaan hampir bangkrut, hanya Pak Joko yang bisa menolong kita. Jadi jangan pikirkan apapun lagi. Menikahlah dengan Pak Joko sekarang juga."
Rasanya aku mau gila. Mereka bilang perusahaan orang tuaku hampir bangkrut. Rasanya mustahil mengingat betapa kokohnya pondasi perusahaan yang dibangun alm papaku. Tak hanya itu, aset papa sangatlah banyak, tanah, vila dan lainnya, rasanya tak akan habis dimakan tujuh turunan. Tak ada angin tak ada hujan, kenapa tiba tiba bangkrut?
Bodohnya aku yang tak pernah ikut campur dengan urusan perusahaan. Aku hanya sibuk kuliah dan menikmati masa muda di Jepang. Perusahaan, rumah dan lainnya, semua dibawah kuasa Om Kamal dan tante Sofi sebagai waliku. Harta warisan akan benar benar jatuh ke tanganku setelah aku berusia 21 tahun sesuai di surat wasiat.
"Ayo cepat, pak penghulu sudah menungu untuk menikahkan kalian. Kamu tinggal ganti baju sama make up sedikit." Ujar tante Sofi.
Gila! Mereka ternyata sudah merencanakan semua ini dengan matang. Sampai sampai sudah ada penghulu dan MUA di kapal pesiar ini.
Bagaimanapun juga, aku gak mau menikah dengan aki aki yang tit*t nya mungkin sudah enggan untuk bangun. Bisa bisa karena ngenes aku yang mati duluan daripada dia.
"Gak, aku gak mau. Kenapa bukan Kania saja yang menikah dengan pak tua itu?" Protesku pada mereka. Kania adalah anak tante Sofi dan Om Kamal.
"Kenapa Kania? Perusahaan itu atas nama kamu. Nanti juga akan jadi milik kamu. Kalau ada apa apa, ya kamu yang harus menyelamatkannya. Kania tak ada urusan disini." Bantah tante Sofi.
Cih, dia bilang Kania gak ada urusan. Kania makan, sekolah dan jajan pakai uang alm papa aku. Mereka semua juga tinggal dirumah aku. Kalau enak, semua orang menikmati. Kalau susah, kenapa aku yang jadi tumbal? Geram sekali rasanya aku pada mereka.
"Cepat Cal, jangan sampai Pak Joko marah karena terlalu lama menunggu." Tante Sofi menarik paksa tanganku masuk kedalam kamar untuk ganti baju.
"Enggak mau." Aku menarik kasar tanganku dari cekalan tante Sofi lalu berjalan cepat keluar dan berdiri dipinggiran kapal. Tanpa pikir panjang, aku menaikkan kakiku ke pagar pembatas bagian tengah. Dan tanganku berpegangan pada bagian teratas pagar pembatas.
"Kalau tante dan Om maksa, aku akan bunuh diri." Aku pura pura mengancam mereka. Ya kali aku mau bunuh diri beneran. Hidupku terlalu indah untuk diakhiri dengan cara konyol seperti ini.
"Turun Cal, jangan nekat kamu. Kita berada ditengah lautan sekarang." Seru Om Kamal dengan wajah panik. Dalam hati aku tersenyum senang. Aku yakin mereka tak akan memaksaku lagi kalau sudah begini. Bagaimanapun, mereka yang merawatku sejak umur 13 tahun saat kedua orang tuaku meninggal. Mereka menyayangiku seperti mereka menyayangi kedua anaknya. Jadi mereka pasti luluh jika sudah diancam seperti ini.
"Calista, turun sayang." Pinta tante Sofi sambil berjalan mendekatiku. "Kita bicarakan ini baik baik."
"Enggak, Cal gak mau turun sebelum kalian setuju membatalkan pernikahan ini."
"Jangan seperti itu Cal. Tolong jangan buat tante dan Om dalam posisi sulit."
Aku memutar kedua bola mataku malas. Perasaan mereka yang meletakkanku di posisi sulit. Kenapa jadi memutar balik fakta seperti ini.
"Pokoknya Cal gak mau nikah sama aki aki itu." Kekehku.
Aku melihat wajah geram mereka berdua. Ternyata susah juga membujuk mereka. Disaat aku sedang memikirkan cara lain untuk membatalkan pernikahan, tiba tiba kapal seperti berbelok cepat dan sedikit oleng hingga aku kehilangan keseimbangan dan.
BYURR
Aku benar benar tercebur kelaut. Untunglah aku jago berenang jadi tidak terlalu panik.
"Tolong Om, tante." Teriakku sambil melambaikan tangan agar mereka menjatuhkan pelampung. Aku melihat mereka menatapku dari atas. Tapi bukannya cepat cepat memberikan pertolongan, mereka malah diam saja dan tampak tersenyum. Beberapa saat kemudian, aku merasakan kejanggalan. Kapal itu melesat cepat meninggalkan aku. Sudah tentu aku tak bisa berenang untuk mengejar kapal itu.
Oh my God, apa apaan ini. Mereka meninggalkanku. Mereka sama sekali tak berusaha menolongku. Padahal sangat mudah untuk menolongku kembali naik keatas.
"Kamu ingat sesuatu?" pertanyaan bu bidan menyadarkanku dari lamunan. "Apa benar kamu tak ingat apa apa?"
"Aku....."
Enggak, aku gak boleh langsung pulang. Aku harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. Apa benar perusahaan papa bangkrut? Dan yang lebih utama, aku ingin tahu sifat asli mereka, keluarga bibiku. Akankah mereka tulus menyayangiku selama ini, ataukah mereka hanya mengincar hartaku? Karena aku melihat jelas seringainya saat aku terjebur ke laut.
"Ini dimana?" Aku malah balik bertanya.
"Ini didesa alam permai."
"Dimana itu?" Kenapa terdengar aneh. Rasanya tak pernah aku mendengar nama itu.
"Dipesisir pantai...."
Dia menyebutkan nama pantai yang tidak begitu familiar. Yang pasti, ini jauh dari kota, karena seingatku, kami pelesiran didaerah yang lumayan jauh dari kota kami tinggal.
"Kamu ingat sesuatu? nama kamu misalnya?"
Aku menggeleng pelan. Entah ini benar atau salah, aku pura pura amnesia agar bisa bertahan ditempat ini. Setidaknya, sampai usiaku 21 tahun dan bisa mengambil alih semua harta kedua orang tuaku. Bukankah itu tak lama lagi, 5 bulan lagi, usiaku genap 21 tahun. Dan saat itulah, aku akan kembali dan mengambil hakku.
"Tuh....benerkan dia amnesia." si dekil tampak begitu bersemangat karena merasa dugaannya sangat tepat. Padahal dia salah total.
"Bu bidan , bu bidan." Tiba tiba terdengar teriakan dari luar. Dan beberapa saat kemudian, seseorag berseragam seperti perawat memasuki ruangan tempat kami berada.
"Ada orang mau melahirkan. Sepertinya sebentar lagi karena dia sudah teriak teriak kesakitan." Ujarnya dengan nafas ngos ngosan.
"Baiklah saya akan segera kesana."
Setelah bu bidan itu pergi, tinggallah aku dengan kedua pria yang wajahnya sangat berbanding terbalik itu.
"Kamu beneran tak ingat apa apa?" tanya si tampan.
"Enggak." Jawabku sambil menggeleng. Tentu saja itu mode pura pura. Beruntung saat SMA aku ikut ektra teater, jadi akting sudah menjadi hak biasa bagiku.
"Waduh...gawat ini Ru. Sekarang kita harus bagaimana? kemana kita harus mengantarnya pulang?" Si dekil mulai cemas.
Si tampan yang dipanggil Ru itu mengedikkan bahunya. Sepertinya dia juga bingung harus berbuat apa.
"Apa kita antar ke kantor polisi saja biar mereka yang ngurusi."
"Jangan." Teriakku cepat. Bisa gawat kalau aku diantar ke kantor polisi. Gimana kalau mereka menyebarkan fotoku untuk mencari keluargaku? tidak, ini tidak boleh terjadi.
"Kenapa?" Tanya si tampan.
"Aku..aku...aku takut." Aku membuat ekspresi semenyedihkan mungkin agar mereka iba.
"Takut? sama polisi kok takut." Sahut si dekil.
"Masalahnya..." Aku jadi bingung mencari alasan.
"Masalahnya apa?"
"Aku takut ada yang jahat sama aku. Bisa saja aku tenggelam dilaut karena ada yang berniat membunuhku. Aku tak mau mereka tahu aku masih hidup. Aku takut mereka akan kembali berusaha membunuhku. Bisakah aku disini saja sampai ingatanku pulih?"
Kulihat mereka berdua saling pandang. Sepertinya mereka juga bingung harus berbuat apa. Tapi menampung gadis cantik sepertiku jelas bukan hal yang merugikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Modish Line
😂😂😂😂😂😂😂
2024-10-18
0
RossyNara
nah loh ketar ketir mau di bawa ke kantor polisi.
2024-04-04
0
Mey-mey89
semangat thorrr
2023-05-15
0