"Ada apa El?"
Teriak Biru dari dalam kamar mandi. Sepertinya dia terkejut mendengar suara piring jatuh. Bukan hanya satu buah piring, tapi sekitar 4, jadi suaranya terdengar keras.
Apa ini hukuman untukku karena telah mendzolimi kucing? Astaga, kenapa aku selalu sial kalau udah berurusan dengan Lisa. Apa seperti ini yang namanya kualat?
Sekarang, disaat pantatku sakit karena mencium lantai yang keras, Si Lisa malah mengejekku dengan menikmati ikan goreng tepat di depanku. Aku yakin, dalam hati dia pasti tertawa bahagia melihat aku menderita. Dasar kucing pembawa sial.
"Kamu gak apa-apa?"
Aku mendongak saat mendengar suara Biru, ternyata dia sudah berdiri didepanku. Dan yang membuat hatiku makin tak karuan dan jantungku berdegup kencang, kulihat Biru hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang. Mungkin saking buru buru dan panik karena suara tadi, dia keluar kamar mandi hanya memakai handuk saja.
"Aduh..."
Aku meringis saat bokong dan punggungku terasa sakit saat mau berdiri.
"Bisa berdiri?"
Aku segera menggelang karena memang sakit sekali.
Eh eh.....mau ngapain Biru mendekat? Jantungku rasanya mau meledak saat melihat dada telanjangnya yang basah dan beberapa butiran air masih menetes dari sana. Dan, oh tidak, Biru tiba tiba mengangkat tubuhku, memposisikan tangannya di lutut dan punggungku. Karena takut jatuh, segera aku posisikan tanganku melingkar di lehernya.
Wow, dia memang pria sejati, tak tampak sedikitkun dia keberatan saat mengangkat tubuhku.
Aku berusaha untuk tenang. Semoga saja Biru tak menyadari degup jantungku yang tak karuan. Aku bisa mencium bau sabun dari tubuh Biru. Meskipun sabun murahan, tapi bisa membuatku terhipnotis seketika.
Biru membopong tubuhku menuju kamar. Baru sampai pintu, kami dikejutkan dengan suara berisik dari luar.
"Biru...Biru.."
Aku mengenali suara ini, ini suara di dekil. Anak dan bapak ternyata sama saja, keluhku. Datang saat tidak tepat, padahal situasi sedang sangat romantis.
"Kalian mau ngapain?"
Seru seseorang dan itu bukan di dekil. Ternyata si dekil tak hanya datang sendiri, dia datang dengan beberapa orang.
"Ja, jangan salah paham." Biru yang panik langsung menurunkanku. Aku berusaha berdiri meski bokong dan punggungku masih sakit.
"Hei Saleh, kamu bilang mereka tak mungkin ngapa ngapain. Kamu sangat percaya dengan keponakanmu itu. Nyatanya, lihat sendiri kelakuannya. Baru juga sehari wanita asing itu tinggal disini, mereka sudah mau berbuat mesum."
What! berbuat mesum katanya, minta dicabein mulut tuh orang.
"Kami gak ngapa-ngapain, saya hanya menolong dia yang jatuh di dapur. Kalau tidak percaya, bapak bapak bisa lihat kondisi dapur saya. Banyak piring pecah disana," Biru mencoba menjelaskan.
"Halah Biru, gak usah cari alasan. Kamu itu lama tinggal di kota, jadi pergaulanmu pasti sedikit banyak udah terpengaruh sama orang kota." Ucap seorang bapak perpakaian kemeja pantai yang warnanya udah pudar.
"Tapi yang dikatakan Biru benar, dia hanya nolong saya," aku berusaha membela Biru. Ya kali diam aja dituduh yang enggak enggak.
"Diam kamu gadis amnesia," bentak bapak tadi.
Ish, sialan, galak juga ternyata. Aku lihat si dekil hanya menunduk, sepertinya dia sangat malu.
"Dan lihat penampilan tak senonoh kamu Biru. Sudah ketangkap basah masih mau ngelak."
Kulihat Biru langsung memperhatikan apa yang dia kenakan. Sepertinya dia baru sadar jika hanya memakai handuk. Entah nasib kami yang buruk, atau apa, situasi dan kondisi benar benar menyudutkan kami.
"Bapak-bapak, kita biarkan Biru berpakaian dulu, setelah itu kita selesaikan masalah ini," ucap seorang bapak yang memakai kopiah hitam. Dilihat dari caranya berpakaian dan gaya bicara, sepertinya dia salah satu orang berpengaruh disini. "Biru, kami tunggu kehadiran kamu dan nona ini di balai desa," lanjutnya sambil menatapku dan Biru bergantian.
Setelah itu, mereka semua pergi. Sekarang hanya tinggal aku, Biru dan si dekil yang aku baru tahu jika namanya Saleh.
"Pak De kecewa sama kamu, Ru. Ternyata kamu dan Gani sebelas duabelas. Bikin malu pak de aja," omel Pak De Saleh.
"Astaga, jadi Pak de juga mikir kayak orang orang tadi. Biru gak ngapa-ngapain," sangkal Biru.
"Dan ngapain sih Pak de pakai ngajak mereka kesini?"
"Ada warga yang melihat kamu bawa masuk perempuan. Pas mereka nanya ke Pak De, ya pak de jelasin jika kita menemukan nona ini terdampar di pantai dan mengalami amnesia. Pak De mati-matian meyakinkan mereka jika kalian gak bakalan ngapa-ngapain, karena Pak De percaya sama kamu. Eh, pas mereka pak de ajak kesini untuk buktiin jika kalian gak macem-macem, malah kayak gini." Pak De Saleh menghembuskan nafas berat sambil geleng-geleng.
...****************...
Disinilah kami sekarang. Disebuah balai desa yang lokasinya tak jauh dari rumah Biru dan tempatnya tak begitu luas. Ternyata yang datang lebih ramai dari dugaanku. Tak hanya bapak bapak tadi yang ada disini, tapi juga ibu ibu dan masih banyak lagi. Posisiku dan Biru mirip tersangka yang sedang disidang.
Aku jadi gemetaran. Apalagi saat ku lihat wajah Biru yang juga tampak tegang. Kami berdua duduk didepan pak pak Lurah dan dikelilingi banyak orang. Memalukan sekali, udah seperti pasangan kumpul kebo yang kena gerebek. Padahal kami gak ngapa ngapain.
"Usir saja wanita itu dari sini Pak Lurah." Teriakan seorang ibu ibu membuatku terhenyak. Siapa dia, enak aja main bilang usir. Emang kampung ini punya nenek moyang dia?
"Benar Pak Lurah, usir dia dari kampung ini. Perempuan gak bener kayak gitu bisa bikin kampung sial." Seorang lagi ibu ibu menyahut.
"Jangan gitu Bu. Nona ini amnesia. Kalau diusir, dia mau kemana?" Bela seorang bapak bapak eh salah, kakek kakek yang seluruh rambutnya kulihat sudah memutih.
"Usir aja." Teriakan itu kian menggema membuat aku jadi takut. Bagaimana kalau aku benar benar diusir darisini?
"Tenang semuanya,tenang. Kita bicarakan ini secara kekeluargaan." Pak lurah mencoba menenangkan warga yang kelihatannya emosi.
"Kami tidak melakukan apa apa Pak." Ucap Biru.
"Maaf nak Biru, tapi saya tidak bisa percaya begitu saja. Sudah sering pasangan mesum yang tertangkap bicara seperti ini. Seperti istilah, mana ada maling yang ngaku."
"Gimana mau ngaku, orang kita bukan maling." Ucapku reflek yang seketika mendapatkan senggolan lengan dari Biru. Aku kemudian nyengir. Aku bukanlah tipe orang yang akan diam saat diperlakukan tidak adil. Jadi mana bisa aku diam saja saat difitnah seperti ini.
"Hei, kamu itu amnesia. Mana tahu kamu itu maling apa bukan. Siapa tahu kamu itu maling yang lari dari kejaran polisi lalu tenggelam di laut."
"Ku_" Biru menahan lenganku sambil menggeleng saat aku hendak membalas ucapan ibu ibu tak tahu diri itu. Enak aja dia bilang aku maling.
"Ibu ibu, tolong jangan suka suudzon. Nanti jatuhnya fitnah." Ujar Pak Lurah.
"Nona, apa benar kamu tak ingat sama sekali siapa kamu. Nama , tempat tinggal, atau yang lainnya?"
Aku menjawab pertanyaan Pak Lurah itu dengan gelengan. Kulihat, pak lurah menggaruk garuk kepala, sepertinya dia ikut bingung.
"Bawa saja dia ke kantor polisi atau dinas sosial."
"Enggak, aku gak mau." Aku segera menyela ucapan orang itu. Aku gak boleh sampai ketahuan masih hidup. Aku harus menyelidiki dulu tentang keluarga Om kemal.
"Tapi kamu juga gak bisa tinggal dirumah Biru. Kalian belum menikah, mana boleh tinggal berdua serumah." Ucap Pak RT yang tampak sangat keberatan.
"Benar, dia gak boleh tinggal dirumah Biru." Sahut seorang bapak berbaju batik.
"Terus, dia mau tinggal dimana?" Tanya Pak de saleh.
"Biar saya nikahin dia aja. Lalu tinggal dirumah saya."
jederr
Aku bagai tersambar petir mendengar ucapan kakek kakek berbaju koko pink. Tak mungkin setelah lepas dari si tua bangka Joko, aku malah mendarat pada kakek tua kumel itu.
"Iya, iya, ide bagus itu."
Sial, ibu ibu malah mendukung kakek tua itu.
"Kalau gak mau sama mbah Suko, sama saya juga gak papa." Ujar pria lain bergigi tongos yang sedikit lebih muda. "Gini gini, saya masih perjaka tulen."
Mati aku.....kalau begini ceritanya habislah aku. Apa lebih baik aku pergi saja dari kampung ini? Tapi aku mau kemana? Ke Jepang rasanya tak mungkin, semua rekeningku pasti sudah dibekukan. Mau kekota menemuai teman temanku, bagaimana kalau ketahuan Om Kamal dan tante Sofi. Belum lagi si Kania yang temannya dimana mana itu. Mampoossslah akuuu...
Biru, ya, Biru. Hanya dia yang bisa menolongku saat ini. Aku bisa selamat jika Biru mau menikahiku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
ayo putar otak Cal jgn smpe di nikahin sm kakek2 sma Biru aja itupun klo mau ya 🤣🤣
2023-09-26
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
bsa jd sperti itu Cal jlan nya 🤣
2023-09-26
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
ngarep banget ya Cal 🤣🤣🤣
2023-09-26
0