POV CALISTA
Hari ini aku dan Santi pergi kepasar. Bukan pasar yang dulu aku datangi saat beli daster, melainkan pasar besar didekat area wisata.
Aku baru tahu kalau selain pantai yang biasa dipakai nelayan untuk menyandarkan perahu, ada bagian pantai lain yang khusus dikelola untuk wisata. Pantai inilah yang rencananya menjadi tempat jualan aku dan Santi.
Mungkin karena ini pasar wisata, barang barang yang dijualpun beragam dan lumayan bagus bagus. Tapi tentu saja yang dijual semuanya khas pantai.
Aku yang dari dulu terkenal sebagai ratu shopping, tentu saja kalap saat disini.
"Bagus gak San?" Aku menempelkan gaun khas pantai berwarna putih dengan tali spagheti yang diikat dibagian leher.
"Emang kamu pd pakai kayak gini Cal. Bukannya ini nanti, kalau dipakai akan kelihatan punggungnya ya?"
"Justru itu yang aku suka San. Biar kelihatan seksih." Sejak dulu aku memang hobi berpakaian seksih.
"Tapi nanti b* nya kelihatan."
Dih, norak banget sih Santi, kan bisa pakai b* silicon yang cap nya saja. Aku memutar kedua bola mataku malas. Sepertinya untuk urusan fashion, Santi nol besar, jadi aku gak bisa minta pendapatnya. Langsung saja aku beli baju itu.
Selain itu, aku juga membeli hot pant, crop top, daleman dan beberapa dress yang bernuansa pantai. Harga disini jauh lebih murah dari di mall apalagi diluar negeri. Uang sejuta yang biasanya hanya bisa untuk beli satu baju, disini bisa dapat banyak. Bahkan kemarin dipasar dekat TPI, aku beli daster seharga seratus ribu tiga biji. Fix, itu baju termurah sepanjang sejarah yang pernah aku beli.
Karena dana yang menipis, terpaksa aku membeli make up murahan. Dan terakhir, beli sun screen. Itu yang paling wajib agar kulitku tak terpapar sinar matahari langsung.
"Enak ya Cal jadi kamu. Sekali shopping aja dikasih uang sejuta sama Biru. Lha aku, boro boro Cal, kalau mau beli baju atau bedak, harus jualan ikan asin dulu. Soalnya uang dari mas Gani hanya cukup untuk makan dan keperluan Galang. Mungkin nasib orang cantik emang lebih baik ya Cal. Bisa dapat uang belanja lebih banyak, beda ma yang tampang pas pasan kayak aku."
"Kata siapa? Biru itu cuma ngasih aku uang belanja sejuta buat dua minggu."
"Sejuta buat dua minggu?" Tanyanya dengan dahi mengkerut.
"Iya."
"Terus yang kamu buat shoping tadi? bukan uang yang itu kan?"
"Ya uang itu." Jawabku santai.
"Innalillahi." Teriak Santi sampai beberapa orang menatap kami. Mulutnya Santi emang gak bisa dikendalikan. Ngomong aja kencengnya kayak toa masjid, apalagi pas teriak kayak tadi, busyeettt bisa kedengeran sampai satu pasar.
"Apaan sih San. Gak ada yang meninggal kok innalillahi?" Omelku sambil menatap kiri kanan.
"Apanya yang meninggal mbak?" Tanya ibu ibu yang berada tak jauh dari kami.
"Ku, kucing Bu." Jawabku malu malu.
"Astaga, kirain siapa. Teriaknya sampai kenceng gitu."
Orang itu kemudian pergi. Begitu pula dengan orang orang yang menatap kami. Semua pada kembali ke aktifitasnya saat tahu yang mati adalah kucing.
"Ish, kamu itu malu malu in tau gak." Omelku sambil memelototi Santi.
Santi tiba tiba menarikku kedepan toko yang kebetulan sedang tutup.
"Tinggal berapa uang kamu sekarang?" Santi masih saja membahas masalah uang. Kepo banget sih anak ini. Tapi tak mau berdebat, aku merogoh kantung dasterku dan mengeluarkan sisa uang yang kupunya. Fyi aku ke pasar hanya pakai daster karena tak punya pakaian lain lagi.
"36.500." Ucapku setelah menghitungnya.
"Mampooos." Seru Santi sambil menepuk dahinya sendiri. "Kalau semua uangnya udah kamu habisin, lalu kamu pikir uang 36.500 cukup buat makan dua minggu Cal?"
"Cukup." Jawabku yakin. "Ini udah 2 hari, jadi jatah dari Biru tinggal untuk 12 hari lagi."
"Ya Allah Ya Rob. Diputar sampai 360 derajatpun, uang segitu gak akan cukup untuk makan 12 hari oon." Ujarnya sambil mendorong dahiku dengan jari telunjuknya.
"Cukup San. Sehari aku cuma perlu belanja 2 ribu. Jadi 12 hari hanya butuh 24 ribu. Aku gak oon kali kalau cuma itung itungan anak TK kayak gitu."
Gak terima aku dikatain oon. Enak aja, aku ini bentar lagi sarjana. Ya masa dikatain oon sama yang lulusan SMP. Jangankan cuma ngitung 12 kali 2, 12 kali 12 aku juga hafal diluar kepala.
"Sehari 2 ribu?" Santi melotot tak percaya. "Boleh aku contoh masakan kamu? Aku juga mau Cal, sehari hanya belanja 2 ribu."
"Gampang, tinggal beli bumbu ikan goreng diwarung seharga 2 ribu. Terus goreng ikan yang dibawa Biru dari laut. Bereskan, dua ribu udah bisa makan seharian."
Lagi lagi Santi menepuk jidatnya mendengar penjelasanku. Emangnya apa yang salah, toh dua hari ini aku sudah mempraktekkannya.
"Astaga Cal." Santi geleng geleng lalu membuang nafas kasar. "Kamu pernah mikir yang lebih rumit dikit gak Cal. Apa mungkin karena amnesia, pikiran kamu jadi simpel."
"Kamu aja yang terlalu rumit, bukan aku yang simpel," protesku.
"Gini ya Cal aku jelasin." Santi menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sebenarnya dia mau jelasin apa sih? kok kayaknya berattttt.....banget gitu.
"Kamu tahu gak, kalau goreng ikan itu butuh minyak?"
Aku mengangguk.
"Gak hanya minyak, tapi kompornya juga butuh LPG. Selain makan ikan, kita juga butuh nasi, butuh sambal atau minimal cabe. Kamu mikir gak, kalau minyak habis, LPG habis, ditambah beras habis. Kamu punya uang buat beli?"
"Oh my God." Pekikku sambil melotot. Kenapa aku gak kepikiran sampai disana. Beras, ya, aku langsung keinget beras. Tadi pagi pas mau menanak nasi, aku lihat berasnya tinggal dikit. Palingan cuma cukup buat masak 2 hari kedepan. Lalu setelahnya, aku dan Biru makan apa?
Aku menggigit ujung kuku jariku sambil mondar mandir. Seumur hidup, baru kali ini aku kebingungan uang untuk makan. Biru gak boleh tahu soal ini. Dia pasti marah besar kalau sampai tahu.
"San, pokoknya besok kita harus mulai jualan. Aku gak mau Biru tahu kalau uangnya udah aku habisin."
"Besok baru kamis Cal, pantai gak ramai. Ramainya sabtu minggu."
"Aku gak peduli. Pokoknya besok aku mau kita mulai jualan, titik."
Santi menghela nafas pasrah lalu mengangguk.
...****************...
POV BIRU
Aku menelan ludah dengan susah payah melihat pemandangan didapurku. Dapur yang dulunya selalu B aja, hari ini jadi LB, alias luar biasa. Gimana gak luar biasa, out fit yang dikenakan Cal sungguh menggoda iman.
Calista memakai hot pants yang panjangnya hari beberapa centi. Jelas saja paha putih nan mulus bak pualam terpampang nyata didepan mataku yang suci ini. Belum lagi dengan atasan crop top yang menampakkan perut langsingnya. Apa dia pikir sedang syuting film india sehingga pusarnya dipamerkan seperti itu?
"Biru!" Tariaknya yang membuatku tersadar dari lamunan.
"Ditanyain malah bengong aja. Nasinya udah cukup apa belum ini?"
Astaga, jadi dari tadi dia ngambilin aku nasi.
"I, iya, segitu cukup." Lidahku mulai kelu gara gara pemandangan luar biasa ini.
Calista yang tadinya berdiri didepan magigcom, berjalan kearahku sambil membawa dua piring nasi. Dan saat itu juga, jantungku berdegup kencang. Semoga saja, imanku masih kuat untuk bisa mempertahankan keperjakaanku.
glek
Lagi lagi aku menelan ludah saat Cal berdiri disampingku. Begitu dekat, begitu jelas pemandangan indah itu didepan mata. Perut langsing dan paha mulus itu seakan akan melambai minta aku sentuh.
Tahan Biru, tahan...kamu harus kuat. Cal memang istrimu, tapi dia amnesia. Jangan jangan dia sudah memiliki seseorang yang dia cintai. Dan mungkin saja pria itu sedang menanti Cal saat ini. Kamu gak boleh mengambil keuntungan dari seseorang yang tak berdaya Biru.
"Kamu gak papakan kalau tiap hari menunya ikan goreng?" Tanya Calista sambil menarik kursi lalu duduk disebelahku.
Seperti magnet, paha mulus dan perut rata itu terus saja memaksaku untuk menatapnya. Tak boleh seperti ini terus. Aku gak akan bisa makan dengan tenang jika terus dihadapkan dengan pemandangan luar biasa ini.
"Cal, bisa tolong buatin aku kopi?" Aku harus membuatnya sidikit menjauh agar kerja jantungku tak terlalu keras.
Cal yang baru saja hendak mengambil ikan jadi mengurungkan niatnya.
"Ya udah aku bikinin." Dia beranjak lalu menuju tempat membuat kopi. Aku bernafas lega. Rasanya aku bisa kembali mendapatkan oksigen sekarang.
"Yahhh kopinya habis." Ucapnya sambil menoleh kearahku. "Aku beliin bentar ya."
Perlahan nafasku mulai teratur setelah dia hilang dari pandanganku. Jantungku juga mulai normal kembali. Aku segera memusatkan perhatian pada piring didepanku. Harus buru buru habis sebelum Cal datang.
Cal datang?
Astaga, aku langsung menjatuhkan ikan yang aku pegang saat menyadari jika Calista pergi ke toko untuk beli kopi. Dengan pakaian luar biasa seperti itu, dia pasti tak akan dilihat oleh para pria, tapi dipelototin. Apalagi jika ingat didekat toko itu ada warung kopi tempat nongkrong para pria. Buru buru aku mengerjar Calista. Semoga saja dia masih didepan rumah.
Brakk
Saking terburu burunya, kakiku sampai tersandung kaki meja. Sakit sih, tapi aku abaikan demi mengejar Cal. Aku berlari menuju pintu dan segera aku buka cepat. Gawat, ku lihat Cal sudah tidak ada dihalaman. Tak lagi kuhiraukan pintu yang tak sempat ku tutup, segera aku berlari mengejar Calista.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
astaga sking gk fokus nya gara2 liatin calista jd salfok smpe gak sadar cal sdh hilng dr pandang an hadehh smoga jantung mu msih aman ya Biru tingkah nya cal emng gk bsa di tebak 😂😂😂
2023-09-26
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
kan krn kalap belanja jd uang nya tinggal dkit mana cukup buat blnja 2 minggu lg bisa2 Biru bklan marah krn kmu boros cal 🤣🤣🤣
2023-09-26
0
♥(✿ฺ´∀`✿ฺ)Ukhti fillah (。♥‿♥。)
dipikir yg butuh cm bumbu nya aj yg lain jg perlu di beli kali cal hadeh jgn smakin kehidupan mu yg dlu sm skr cal jd hrus hemat kn di suruh irit sm Biru lupa ya?
2023-09-26
0