Tak ada pilihan lain. Aku harus pura pura amnesia demi bisa bertahan ditempat ini. Selanjutnya, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang terbukti keluarga tante Sofi main curang dan mengincar hartaku, akan kupastikan mereka membayar mahal apa yang mereka perbuat.
Aku melihat si tampan dan si dekil saling tatap. Mereka sepertinya bingung harus berbuat apa.
"Apa dia tinggal_"
"Enggak, dia gak boleh tinggal dirumah pak De." si Dekil memotong ucapan si tampan, seolah olah dia tahu apa yang pria itu pikirkan.
"Kamu tahu sendiri Bu De mu itu cemburuan. Bisa bisa Pak De dicurigai macam macam kalau bawa perempuan pulang. Belum lagi si Gani. Sepupumu itu mata keranjang. Bisa perang dunia setiap hari si Gani sama Santi nanti. Kasihan Galang kalau kedua orang tuanya cek cok mulu tiap hari."
Si tampan tampak menghela nafas lalu menatap kearahku. Kesempatan itu jelas tak kusia siakan. Dengan ekspresi puppy eyes, aku mencoba mengiba.
"Tapi gimana kalau warga tanya Pak De? Aku tinggal bersama perempuan tak dikenal. Itu jelas akan jadi masalah besar."
"Biar nanti pak de yang bantu ngomong jika warga tanya. Lebih baik, kita bawa pulang dulu dia. Jangan lama lama disini, nanti bayarnya mahal. Emang kamu punya duit?"
Aku mengatupkan tangan kearah sitampan. Memohon melalui tatapan mata agar dia membawaku pulang bersamanya.
"Baiklah."
Yes, akhirnya aku bisa bernafas lega. Akhirnya si tampan mau juga menampungku meski wajahnya tampak terpaksa. Dan beruntungnya, aku tak harus tinggal dengan si dekil. Tapi gimana kalau si tampan ternyata sudah menikah dan bininya galak? Semoga saja dia belum menikah.
...****************...
Aku memasuki rumah yang sangat amat sederhana sekali. Kenapa aku menyebutnya seperti itu? Karena luasnya kira kira sama dengan ruang tamu dirumahku. Tapi yang aku suka dari rumah ini, meskipun kecil tapi bersih dan rapi.
"Kok sepi?" Tanyaku sambil memperhatikan interior rumah yang setiap mata memandang tak kutemukan barang mewah satupun.
"Iyalah sepi. Kalau mau ramai, sana ke tempat pelelangan ikan."
Aku mengernyit mendengar jawabannya. Apa maksudnya, dia ngusir aku?
"Becanda, hehehe."
Aku seketika nyengir. Tak kusangka jika pria tampan yang tampak dingin itu ternyata bisa juga becanda.
"Aku tinggal berdua saja." Jawabnya sambil masuk kedalam sebuah ruangan.
Harapanku seketika pupus saat dia bilang tinggal berdua. Pasti itu istrinya. Pandai juga istrinya merawat rumah. Rapi dan bersih.
"Lisa.....Lisa sayang..."
Makin hancur lebur aja hati ini mendengar dia memanggil istrinya sayang. Seperti apa sih si Lisa itu. Apakah dia cantik? Kira kira cantik mana sama aku? Dan kira kira, bagaimana tanggapannya nanti saat tahu suaminya pulang bawa wanita tak dikenal.
"Kayaknya dia lagi keluar." Dia menjawab sendiri pertanyaannya.
"Oh...." Aku hanya ber oh ria dan pura pura bersikap biasa. Padahal kecewa sekali hati ini mengetahui fakta jika dia sudah menikah.
Aku mengamati dinding yang berisi banyak foto. Tapi tak satupun aku melihat foto si Lisa. Yang ada hanya foto dia dan kedua orang paruh baya yang mungkin orang tuanya.
"Nama kamu siapa?" Tanyaku sambil melihat foto dia yang sedang memegang medali yang betuliskan juara olimpiade matematika. Pintar juga, batinku dalam hati.
"Biru. Sagara Biru."
"Nama yang bagus," pujiku. Sesuai dengan orangnya yang good looking. Tentu saja aku hanya memuji dalam hati.
"Alm bapakku bilang, dia bingung cari nama waktu aku lahir. Karena dia tiap hari di laut, tiba tiba saja terpikirkan nama itu."
"Oh...jadi bapak kamu pelaut?"
"Nelayan."
"Oh.....untung kamu dikasih nama Biru bukan pattrik."
"Kenapa patrik?"
"Patrik kan bintang laut. Kali aja bapakmu suka bintang laut terus terinspirasi memberimu nama itu, hehehe." Jawabku sambil tertawa ringan.
"Ish...bisa aja kamu." Ujarnya sambil tersenyum. Masyaallah, lama lama beneran deabetes aku kalau disenyumin dia mulu. Andai aja kamu belum nikah maseh...udah aku ajak ke KUA.
"Aku bingung harus panggil kamu apa." Kata Biru sambil menyodorkan segelas air yang baru saja dia ambil dari dapur. Tahu saja dia kalau aku lagi haus. Sungguh pemuda yang limited edition. Tampan, gagah, baik, dan perhatian. Sayangnya, dia udah nikah. Apa aku harus menjadi pelakor?
Gila gila gila...aku segera membuang jauh pikiran itu. Aku wanita bermartabat, mana mungkin menjadi pelakor. Cih, najis, kayak dunia ini kehabisan stok laki aja. Tapi dia terlalu tampan, gimana ini.....
Berdoa saja kali ya. Semoja saja dia cepat cepat menduda. Heis, jelek sekali doaku. Ada istilah, doa yang buruk akan kembali pada yang mendoakan. Tapi kali ini, aku tak takut mendoakannya segera menjadi duda. Karena doa itu tak mungkin berbalik padaku. Aku wanita, mana mungkin jadi duda, wkwkwk.
"Panggil aja Ca_" Ish, hampir aja aku keceplosan sebut namaku. "Panggil aja terserah."
"Apa ya enaknya?" Biru bersandar di dinding sambil garuk garuk kepala. Ya elah, kalau orang good looking, mau garuk kepala, garuk badan, garuk apapun, tetep aja enak dilihat. Coba kalau orang jelek garuk garuk kepala, auto dibulli kutuan.
Aku juga tak ada ide sama sekali. Tapi begitu mata ini tak sengaja menatap almari plastik bergambar frozen, aku langsung kepikiran sebuah nama.
"Elsa, panggil aja Elsa."
"Elsa?" Biru mengerutkan keningnya.
"Iya, Elsa. Kayak itu." Aku menunjuk almari bertuliskan elsa frozen. "Elsa kan warna gaunnya biru, biar sama kayak nama kamu." Ujarku bersemangat. Tapi entah kenapa, Biru kembali mengerutkan kening sambil menatapku curiga.
"Darimana kamu tahu kalau yang baju biru itu namanya Elsa? Digambar itu kan ada dua tokoh kartun?"
Sial...benar juga apa yang dia katakan. Disana ada Elsa dan Ana. Jadi bagaimana aku tahu kalau elsa itu yang biru. Pura pura amnesia ternyata gak gampang.
"Dan tadi, kamu juga ingat patrik. Patrik itu temannya spongebob kan? Tapi, kenapa kamu gak ingat nama sendiri."
Mati aku....Bodoh sekali kamu Cal.
"Emmm....karena bajunya kayak es gitu. Jadi aku yakin kalau dia yang namanya elsa frozen."
"Betul juga." Sahut Biru sambil manggut manggut.
Syukurlah dia percaya.
"Oh iya, badanku lengket. Bisa aku numpang mandi?" Aku berusaha mengalihkan topik agar dia tak lagi membahas aku yang ingat patrik dan spongebob.
"Tentu saja."
"Sekalian pinjami aku baju."
"Akan aku ambilkan."
Meong.....Meong..
Suara kucing menghentikan langkah Biru yang hendak mengambilkanku baju. Seekor kucing gembul dengan bulu berwarna putih. Dari penampakannya, seperti kucing lokal.
Biru berbalik lalu melangkah mendekati kucing yang berjalan kearahnya itu. Dia kemudian berjongkok dan mengangkat kucing itu kedalam gendongannya. Kucing itu tampak nyaman sekali dalam gendongan Biru. Sama sekali tak berontak. Sepertinya mereka sudah lama bersama. Aah...jadi pengen dipeluk juga akuh.
"Hallo sayang..." Ucap Biru sambil mengelus bulu kucing itu.
Melihat kucing menggemaskan itu, akupun berinisiatif ikut mengelusnya.
Meonggg
"Aawww." Teriakku reflek saat kucing sialan itu tiba tiba melompat dari gendongan Biru dan mencakarku. Meski reflekku sangat bagus. Kucing sialan itu berhasil mencakar lenganku hingga sedikit mengeluarkan darah. Untung saja kucing, kalau orang, udah ku tuntut kamu.
"Kamu gak papa?" Biru tampak ikutan kaget. Dia lalu sigap menarik lenganku dan melihat lukanya.
"Maaf." Dia tampak merasa bersalah akibat ulah kucing sialannya itu. "Biasanya Lisa gak pernah gitu. Mungkin karena gak pernah lihat kamu aja, jadinya dia merasa terancam."
"Li...Sa!" Aku tak salah dengarkan? Biru menyebut Lisa tadi. Jangan jangan....Lisa? Nama kucing itu Lisa.
"Kucing tadi namanya Lisa."
Gludak
Jadi Lisa itu kucing, bukan istrinya Biru? Astaga... bodoh sekali aku ini karena telah menduga duga sembarangan.
"Kamu.....tinggal berdua dengan kucing itu saja?"
"Iya. Sejak kedua orang tuaku meninggal. Aku hanya tinggal berdua dengan Lisa."
"Kamu belum menikah?"
"Belum."
Saking girangnya, hampir saja aku teriak yess sekencang kencangnya. Itu artinya, peluangku untuk mendapatkannya masih terbuka lebar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Mamah Nisa
lucu sekali....sayang banget ya baru mampir...harus maraton nih bacanya.....
2024-12-09
0
Dewa Rana
🤣🤣🤣
2024-10-07
0
fitriani
ini bnr2 cerita menghibur... selalu terhura bacanya🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-16
0