Chapter 19

"Mama,...mama....mama......!"

Karina berteriak memanggil sang mama. Sarah yang begitu penasaran langsung keluar dari dalam kamar.

"Ada apa Karina? Kenapa kau berteriak seperti orang gila?"

"Di mana papa?" Tanyanya penasaran.

"Jam segini tentu saja papa mu ada di kantor. Ada apa memangnya?"

"Ma, aku sudah berhasil menghasut adiknya Dave. Ku lihat dia percaya dengan semua yang aku omongkan," ujar Karina memberitahu.

"Ah, masa?"

"Iya mah. Aku yakin jika bocah itu akan memberitahu kedua orang tuanya. Setelah itu barulah kedua orang tua Dave menyuruh Dave bercerai dari Joana sialan itu."

"Bagus, kau memang anak mama yang sangat pintar."

"Ma, aku tidak akan membiarkan Joana mendapatkan kebahagiaan barang secuil pun. Dia harus menderita!"

"Dia akan lebih menderita jika kau mau bekerja di perusahaan papa nya." Sahut Sarah.

"Aku seorang dengan pendidikan tinggi, bagaimana bisa aku bekerja di perusahaan kecil seperti itu?"

"Tapi Kar,.....!!"

"Mama, tenang saja. Selama papa di bawah genggaman kita, dia tidak akan bisa melakukan protes."

Karina dan Sarah sangat senang hari ini, ternyata bagi mereka tidak begitu sulit untuk menghancurkan rumah tangga Joana.

Sementara itu, Davina yang tidak mau mempercayai satu pihak langsung datang ke rumah kakaknya untuk meminta penjelasan.

Dave dan Joana yang baru saja bangun bahkan mereka baru selesai makan siang sedikit kaget atas kedatangan Davina.

"Suka sekali mengganggu ku, ada apa?" Tanya Dave kesal.

"Kak, orang yang bernama Karina dan dia mengaku sebagai kakak dari istri mu datang menemui ku," ujar Davina memberitahu.

"Wah, gerak cepat juga mereka!" Seru Joana membuat Davina heran. "Pasti dia mengatakan aku seorang pembunuh, bla bla dan bla....!" Ujar Joana yang sudah bisa menebak.

"Nah, betul sekali. Kak, apa semua itu benar?" Tanya Davina penasaran.

"Aku tidak memaksa mu untuk percaya dengan diriku. Mungkin Karina ada benarnya juga!"

"Dia pembohong!" Sahut Dave yang tidak terima. Dave dan Joana kemudian menceritakan apa yang sudah terjadi sebenarnya.

Davina geram saat mendengar cerita tersebut.

"Jadi, apa maksud dia menemui ku?"

"Apa lagi kalau bukan mendekati mu dan menghasut mu. Ladeni saja, mari kita lihat sejauh mana dia bermain." Kata Dave yang sepertinya mendapatkan mainan baru.

"Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Joana curiga.

"Apa lagi kalau bukan mempermainkannya. Rugi kalau di lepaskan begitu saja!" Jawab Davina sedikit membuat Joana terkejut.

"Kami harus pergi....!" Ujar Dave.

"Mau kemana? Ikut......!!"

Dave memutar bola matanya malas.

"Aku ingin menemani istri ku berbelanja, kenapa kau harus ikut?"

"Ajak saja!" Ujar Joana. "Lebih baik aku pergi dengan Davina dari pada pergi dengan mu!"

"Sayang,....!" Dave melirik tajam. "Bisa-bisanya kau berkata seperti itu."

"Kau sendiri pernah bilang jika pergi bersama perempuan itu ribet dan membuang waktu. Heran sama kamu!"

"Sudah ku bilang, demi istri tercinta apa saja akan aku lakukan!"

"Ah, terserah. Davina, ayo kita pergi. Kakak mu memberikan ini...!" Ujar Joana seraya menunjukan kartu berwarna hitam keemasan.

"Wuah,.....beruntung sekali aku datang kemari. Mari menguras uang tuan Dave," ucap Davina senang.

"Kau tidak di undang. Sana pulang, minta sama Darius!" Usir Dave.

"Apa sih? Tidak sopan begitu pada orang tua!" Tegur Joana pada suaminya.

"Kakak, aku ikut....!" Rengek Davina.

Benar-benar sial, mau tidak mau Dave mengajak adiknya ini. Niat hati mau memuaskan istri dengan pergi berbelanja tapi malah di ekori oleh Davina.

Mereka pun akhirnya pergi bertiga, dengan adanya Davina membuat Dave tersingkir bahkan pria ini tidak bisa duduk di samping istrinya.

"Davina....!" Panggil Dave.

"Iya kak, ada apa?" Tanya Davina.

"Masalah yang kau bilang tadi tolong jangan ceritakan pada mami dan papi sebelum kakak menyelesaikannya nanti."

"Oh, baiklah kak!"

Mobil kembali hening, perjalanan menuju pusat perbelanjaan memakan waktu sekitar setengah jam.

"Oh ya kak, bagaimana tadi malam. Apa kakak jadi mengadon keponakan untuk ku?" Tanya Davina begitu polosnya.

Mendengar pertanyaan dari adiknya, Dave mendadak panik begitu juga dengan Joana.

"Tidak bisakah kita bahas lain waktu?" Ujar Dave.

Joana mendengus kesal, bisa-bisanya Dave mengatakan hal seperti itu pada adiknya.

Tak berapa lama mereka tiba di pusat perbelanjaan yang nampak ramai siang ini.

Dave menggenggam tangan istrinya, membuat Davina begitu iri.

"Jadi ingin punya pacar," ucap Davina langsung menghentikan langkah Dave.

"Ada apa?" Tanya Joana.

"Sebelum kau wisuda, awas saja jika ketahuan pacaran. Akan kakak penggal kepala pacar mu!" Ancam Dave.

"Kau ini kenapa sih?" Tanya Joana kesal. "Adik mu sudah dewasa, dia juga bisa kali menentukan hal baik dan buruk."

"Iya nih, kak Dave selalu melarang ku dekat dengan laki-laki. Dia ingin aku mengikuti jejaknya yang tiga puluh tahun menjomblo itu."

"Pergi belanja atau pulang!" Ancam Dave.

Tidak mau acara belanjanya gagal, Davina langsung menutup mulutnya rapat.

"Em, sayang. Pergilah bersama Davina dulu. Beli saja apa yang kau mau, aku harus pergi sebentar."

"Mau pergi kemana?" Tanya Joana penasaran.

"Em, ke toilet. Ya ke toilet!" Bohong Dave.

"Oh iya. Jangan lama-lama!"

"Aku tidak akan lama-lama sayang. Suamimu ini tidak bisa hidup tanpa mu!" Ucap Dave serasa membuat Davina ingin muntah mendengarnya.

Dave pun pergi, sedangkan Davina langsung menarik sang kakak ipar memasuki salah satu outlet yang menjual sepatu di sana.

Setelah membeli sepatu mereka berpindah ke pakaian. Lagi dan lagi tanpa sengaja Joana dan Davina bertemu dengan Sarah dan Karina.

Sebenarnya Karina merasa aneh kenapa Davina yang sudah ia hasut tapi sekarang malah pergi berbelanja dengan Joana.

"Kak, tolong bayarkan punya ku ya. Bukankah kak Dave tadi memberi kakak sebuah kartu black gold?"

Terdengar begitu nyaring suara Davina hingga membuat Sarah dan Karina mendengar. Bergegas Sarah menarik Karina untuk mendekati Joana.

"Jo, kami hanya membeli satu potong pakaian. Sebagai seorang anak, kau pasti mau membayarkan kami, iyakan?"

Sarah tiba-tiba saja sok kenal sok baik.

"Memangnya kalian siapa?" Tanya Joana yang pura-pura tidak kenal.

"Loh kak, bukannya ini keluarga mu?" Ujar Davina seperti memainkan perannya.

"Apa pantas mereka meminta di bayarkan pada orang yang sudah di anggap sebagai pembunuh ini?" Singgung Joana.

"Sayang,....!" Panggil Dave dengan suara dingin.

"Oh, hai Dave....!" Sapa Sarah.

"Ada apa?" Tanya Dave tidak menghiraukan.

"Dave, kau tahu sendiri jika kami adalah keluarga Joana. Tapi kenapa dia bersikap seolah tidak mengenali kami?"

"Hanya karena uang semua orang bisa mengaku sebagai saudara!" Singgung Joana lagi.

"Kak, mereka meminta di bayarkan belanjaanya!" Ucap Davina terus terang hingga membuat Karina membuang muka karena malu. Mereka pikir hanya Joana dan Davina yang pergi berbelanja tapi ternyata ada Dave juga.

"Dave, wajar dong jika seorang ibu meminta seperti itu apa anaknya," ucap Sarah yang tak bermalu.

"Semua uang ku ada di tangan istriku.Jadi, dia berhak mengaturnya atau memberi keluarganya. Aku tidak melarang, tanyakan saja pada Joana!" Sahut Dave.

"Dan aku tidak akan membayarkan belanjaan kalian!" Ucap Joana dengan tegas.

Sarah dan Karina hanya bisa tersenyum untuk membuang rasa malu mereka. Mau tidak mau Sarah mengajak Karina pergi dari sana.

"Joana benar-benar keterlaluan, dia sudah mempermalukan kita." Ucap Sarah kesal.

"Aku malu banget," sahut Karina.

"Katamu kau sudah menghasut Karina, tapi kenapa mereka pergi berbelanja hah?"

"Aku juga tidak tahu ma!" Seru Karina heran.

"Karina, jika kau tidak bisa mendekati adiknya. Kau harus bisa mendekati ibunya," ucap Sara.

"Aduh, kenapa tidak mama saja yang mendekati?"

"Kau harus mencaritahu tentang ibunya!" Ujar Sarah menekan anaknya.

Sarah dan Karina memutuskan untuk pulang, rasanya malu juga atas penghinaan Joana tadi.

Setibanya di rumah, Sarah langsung mencari suaminya dan menceritakan apa yang sudah terjadi. Di tambah lagi ibu dan anak ini melebih-lebihkan ucapan.

"Dasar anak tidak sopan!" Tuan Altan kesal. "Merasa tinggi hingga dia lupa caranya menunduk."

"Pa, aku benar-benar malu. Joana juga mengumpat ku di hadapan orang ramai," ucap Karina dengan tuduhannya.

Tuan Altan marah, ia sudah muak atas kelakuan anaknya sendiri. Tuan Altan sangat gampang termakan oleh omongan Sarah dan Karina.

Terpopuler

Comments

Vera Diani

Vera Diani

Bapakny Joana otaknya udh di cuci dengan sabun colek dan Bayclin sma si Sarah dan Karina tu..,,jd we rada2 lemot tu otak bapakna 🤪😂

2022-10-04

3

Paijo 2018

Paijo 2018

pak Altan iki koyoke og kakean rinso + bayclean yo pas d 'umbah' utek e mbek anak bojone

2022-09-29

0

☠ᵏᵋᶜᶟ尺მȶɦἶ_𝐙⃝🦜

☠ᵏᵋᶜᶟ尺მȶɦἶ_𝐙⃝🦜

bapakbe eddun, iso²ne anak kandung yg dibuang, mreneo pak, otak e tak cuci pke Rinso Ben kinclong🤣🤣🤣

2022-09-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!