"Wuah, banyak sekali makanannya. Mau ada tamu?" Tanya Joana dengan senyum lebarnya saat melihat banyak makanan yang terhidang di atas meja makan.
Tiba-tiba saja senyum Joana memudar saat ia teringat Dave yang sangat pelit padanya.
"Kenapa wajah mu tiba-tiba kusut?" Tanya Dave dengan kening berkerut.
"Tidak kenapa-kenapa," jawab Joana dengan senyum terpaksanya. "Oh ya, aku akan pergi sebentar."
"Mau kemana?" Tanya Dave.
"Aku lapar, aku ingin membeli makanan. Mungkin aku agak lama karena aku akan pergi menukar uang dulu." Jawab Joana.
"Duduk dan makanlah!" Titah Dave.
"Mimpi apa kau semalam? Hingga kau menawari aku makan seperti ini?" Tanya Joana tidak percaya.
"Jika kau mati, aku juga yang susah. Masa iya baru nikah sudah harus jadi duda."
"Bisa bercanda juga ternyata!" Seru Joana.
"Katanya lapar, cepat duduk dan makanlah!"
"Oh, baiklah. Terimakasih tuan Dave," ucap Joana senang.
Joana langsung duduk dan mengambil makanan yang ia suka. Gadis ini tidak serakus yang di pikirkan Dave, Joana hanya makan sedikit bahkan makanan di atas meja masih banyak yang tersisa.
"Kenapa tidak kau habiskan makanan ini?" Tanya Dave.
"Makanlah jika kau lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Rakus itu teman setan!" Ucap Joana membuat Dave tertawa.
"Seasik apa dirimu?" Tanya Dave penasaran.
"Aku jenis manusia yang cepat melupakan kesedihan. Maksudnya tidak harus dipikirkan berlarut-larut."
"Apa kau punya teman?" Tanya Joana penasaran.
"Ada, hanya beberapa salah satunya yang kau temui di club malam waktu itu."
"Hai,...bukankah dia asisten pribadi mu?"
"Ya, dia sudah aku anggap sebagai saudara!"
"Sepelit apa dirimu?" Tanya Joana lagi membuat wajah Dave berubah dingin. "Hangatkan lagi wajahmu, aku hanya bercanda!" Ucap Joana.
"Aku tidak pelit. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita."
"Oh, begitu ternyata!"
Joana beranjak dari duduknya, Dave yang penasaran langsung bertanya pada istrinya.
"Mau kemana, kau?"
"Tidak kemana-mana, hanya ingin duduk-duduk di depan." Jawab Joana.
Sejenak Dave berpikir, rasanya bosan juga berada di Villa tanpa pergi ke luar.
"Ayo ikut aku," ajak Dave.
"Kemana?" Tanya Joana singkat.
"Jangan banyak tanya, ikut saja!"
Dave meminjamkan salah satu mantelnya pada Joana. Mereka berdua kemudian pergi, Joana sangat senang bisa di ajak Dave berkeliling seperti ini.
"Ini butik perempuan, mau apa kau masuk kedalam?" Tanya Joana penasaran.
"Aku bosan melihatmu yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans setiap hari. Pilih beberapa, aku akan membayar untukmu."
"Wah, seriusan?" Tanya Joana tidak percaya.
"Aku tidak ingin di sebut pelit oleh dirimu!"
"Lagian kau ini kerja setiap hari siang malam mencarikan untuk siapa? Minimal carilah pasangan yang bisa menghamburkan uangmu."
"Aku tidak butuh pasangan," sahut Dave.
"Sombong sekali...!" Seru Joana. "Pergilah ke makam mu sendiri."
"Kau mendoakan aku mati?" Protes Dave.
"Bukan mendoakan, jika kau mati sia-sia dalam keadaan masih perjaka. Siapa yang akan meneruskan garis keturunan dari keluarga mu?"
"Masih ada Davina, kenapa kau harus sibuk-sibuk memikirkan garis keturunan dari keluargaku?"
"Anak-anak dari Davina akan menjadi garis keturunan dari suaminya. Bukan dari keluarga mu! Belajar lagi sana."
Dave terdiam, sebenarnya apa yang di katakan oleh Joana ada benarnya juga.
"Aku sudah selesai memilih, tolong bayar!" Ujar Joana.
"Pakaian apa yang kau pilih ini? Kita berada ditempat ini selama satu bulan. Ambil mantel yang banyak dan pakaian tebal lainnya!" Titah Dave.
"Nanti kau akan menganggap semua ini hutang. Aku tidak mau!" Tolak Joana.
"Aku suami mu sekarang, seharusnya aku wajib menafkahimu meskipun kamu hanya istri sewaanku."
"Oh, baiklah kalau begitu. Aku tidak akan sungkan sekarang!"
Joana memilih pakaian kembali sedangkan Dave hanya mengekor dari belakang. Untuk pertama kalinya pria ini menemani seorang wanita belanja.
Selesai memilih dan membayar, Dave dan Joana langsung keluar dari butik tersebut.
Dave melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Sudah siang, kita makan siang dulu." Ujar Dave.
"Makanan di Villa masih ada. Kenapa kita harus membeli makanan lagi jika yang di Villa masih bisa kita hangatkan dan makan lagi?"
"Hai, itu makanan tadi pagi. Sudah tidak ada nutrisinya jika di hangatkan."
"Biasanya aku akan menghangatkan makanan sampai berhari-hari. Mencari uang itu susah, jadi aku tidak mau membuang makanan."
"Tapi aku tidak bisa makan dengan makanan seperti itu apa lagi hanya satu menu dalam sehari." Sahut Dave yang benar-benar tidak mengerti dengan kehidupan Joana.
"Oh, tidak apa-apa. Jika kau ingin makan mari aku temani. Aku akan makan nanti setelah kita pulang."
"Seberapa susah dirimu?" Tanya Dave.
"Aku pernah tidak makan apa pun selama dua hari. Hanya ada air putih sebagai pengganjal perut. Sekalinya makan, aku memungut dari tempat sampah." Jawab Joana dengan jujur membuat hati Dave sakit saat mendengarnya.
"Kenapa keluargamu begitu tega membiarkan kau kelaparan seperti itu?"
"Aku tidak punya keluarga," jawab Joana. "Sudahlah. Jangan di bahas lagi
Katanya lapar, mari aku temani makan."
"Tidak jadi, sepertinya makanan tadi pagi masih ada yang belum di sentuh. Kita makan itu saja!"
Entah kenapa Dave yang keras kepala ini berubah pikiran setelah mendengar cerita dari Joana.
Mereka memutuskan untuk pulang ke Villa. Setibanya di Villa ternyata makanan yang tadi pagi sudah kembali hangat bahkan Villa juga bersih dan tapi.
"Apa di Villa ini ada hantunya?" Tanya Joana tiba-tiba merinding.
"Tidak ada. Kenapa memangnya?"
"Villa sudah rapi, makanan tadi pagi sudah hangat lagi. Siapa yang mengerjakan ini semua?" Tanya Joana heran.
"Jangan di pikirkan. Cepat makan, aku sudah lapar!"
Dave dan Joana langsung makan.
"Emmm,...rasanya tidak begitu buruk!" Batin Dave saat makan makanan tadi pagi.
"Kalau kau tidak suka makanan ini, jangan dipaksa," ucap Joana.
"Tidak, rasanya masih sama enaknya seperti tadi pagi." Sahut Dave. "Oh ya, malam ini aku akan mengajak mu makan malam disebuah restoran. Aku sudah menyiapkan gaun untuk mu."
"Makan malam saja harus pakai gaun, dalam rangka apa?" Tanya Joana lagi.
"Papi dan mami minta bukti jika bulan madu kita ini berjalan sesuai rencana mereka."
"Oh, baiklah!" Jawab Joana penurut.
Makan siang selesai, Joana membereskan piring-piring kotor di atas meja.
"Biarkan saja di dapur, nanti juga bersih sendiri." Ujar Dave membuat Joana semakin heran.
"Menakutkan!" Seru Joana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Dyah Oktina
ada jinny ya dave.. 🤭😁😁
2025-01-15
0
Akasha
mulai baik ya dave
2023-01-20
0
shebina putri
nnaaahhhhh gitu dhong Dev.... berbuat baiklah...niscaya kamu akan mendapatkan yg lebih berharga dan indah😁😁😁😁
2023-01-12
0