"Oh, Hai Joana....!" Sapa Karina, wanita ini langsung beranjak dari kursinya lalu memeluk Joana seolah mereka adalah saudara tiri yang baik.
Joana tak membalas pelukan Karina, justru ia mendorong tubuh saudara tirinya.
Karina yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa diam saja karena ia harus menjaga sikap di hadapan Dave.
"Mama sangat merindukanmu, Joana. Kami sudah berusaha mencari mu, kenapa kau begitu marah dan tidak mau pulang?"
Sarah begitu pandai memutar balikan fakta.
Joana tidak menjawab, ia hanya diam saja dengan wajah dingin menahan amarah.
"Papa juga sangat merindukanmu, Joana." Ucap Tuan Altan.
Dave, pria ini sengaja mengundang keluarga Joana untuk makan malam disalah satu restoran mewah yang berada di salah satu hotel milik Dave.
"Hai, selamat malam!" Sapa Dave yang baru membuka suara.
Karina tersenyum ke arah Dave, wanita ini bersikap anggun dengan tutur bahasa yang lembut untuk menarik perhatian pria tampan dan kaya di hadapannya ini.
"Sayang, ayo duduk!" Titah Dave pada istrinya.
"Kau saja yang duduk, aku tidak berselera!" Sahut Joana kemudian ia pergi dari sana.
Tidak ada yang mencegahnya, justru keluarganya sendiri malah senang saat melihat Joana pergi.
Dave berusaha mengejar, tapi Joana seketika menghilang. Dave memutuskan untuk kembali ke dalam, mau tidak mau pria ini duduk untuk makan malam bersama tanpa Joana yang entah pergi kemana.
Sebenarnya Dave gelisah, khawatir memikirkan istrinya tapi ia tidak bisa meninggalkan undangan yang sudah dia buat sendiri.
"Oh, lihatlah. Kita seperti satu keluarga yang bahagia," ucap Sarah tak tahu malu.
"Mama benar!" Sahut Karina dengan wajah malu-malu.
"Dave, lihatlah dirimu. Sepertinya kau jauh lebih cocok bersanding dengan Karina dari pada dengan Joana yang tidak memiliki sopan santun itu." Ujar tuan Altan
"Ada baiknya kita membahas yang lain!" Sahut Dave.
Karina terus memandang ke arah Dave, wanita ini sebisa mungkin menarik perhatian Dave.
"Oh ya Dave. Aku sekarang bekerja di perusahaan milk coconut Jika kau bersedia, aku akan pindah ke perusahaan mu."
"Tempat kau bekerja adalah perusahaan kelapa susu sedangkan perusahaan ku bergerak di bidang properti dan busana juga masih ada beberapa lagi. Sepertinya kau tidak cocok bekerja di perusahaanku."
"Karina sangat cocok dan pantas bekerja di perusahaan mu. Dia S2 management, Karina bisa melakukan pekerjaan apa pun. Beda dengan Joana yang hanya lulusan sekolah menengah pertama." Ucap Sarah yang begitu membanggakan anaknya.
"Ya, Karian sangat pintar. Joana sekolah menengah atas saja dia tidak lulus, anaknya pemalas. Sukanya hanya bermain dan menghabiskan uang!" Imbuh tuan Altan yang tega menjelekan anaknya sendiri.
"Masa sih?" Tanya Dave memancing.
Sebenarnya Dave sudah muak berada di antara mereka. Hanya saja Dave ingin mengetahui lebih jauh seberapa benci mereka pada Joana.
Makan malam selesai, Dave memutuskan untuk kembali ke kamar hotel. Dengan perasaan takut Dave membuka pintu kamar, ia sudah bisa menebak jika Joana pasti akan marah besar padanya.
"Sayang,....!" Panggil Dave namun Joana hanya duduk diam saja menghadap televisi.
"Jangan melewati batasan mu, Dave." Ucap Joana dengan suara dinginnya.
"Aku hanya ingin mempertemukan kau dan dan keluargamu. Seharusnya kalian bisa memperbaiki hubungan!"
"Perkataan bodoh apa yang kau lontarkan ini?"
"Jangan marah, aku sengaja mengundang mereka hanya untuk mencaritahu sejauh mana mereka bersikap padamu."
"Aku tidak peduli. Ada baiknya kita melanjutkan kontrak saja, suami istri bohongan tanpa ikut campur pribadi masing-masing."
"Sayang,.....!" Dave menghampiri istrinya, berusaha meraih tangan Joana tapi dengan cepat di tepis. "Semua aku lakukan ada tujuannya. Aku hanya ingin membersihkan nama baik mu."
"Aku tidak butuh pembersihan. Yang membenciku biarlah membenci. Oh, apa kau mulai tertarik pada Karina?" Tanya Joana dengan tawa sinisnya.
"Kau cemburu?" Dave bertanya balik.
"Jika aku bertanya maka jawablah!"
"Aku hanya ingin membersihkan nama mu. Apa salah jika seorang suami melakukan hal seperti itu untuk membela istrinya?"
"Kau hanya orang baru dalam hidupku, Dave. Kau tidak pernah tahu bagaimana sakitnya di campakkan, di buang bahkan di anggap sebagai pembunuh. Kau tidak pernah tahu jalan hidup ku, jangan jadi pahlawan."
"Wajar aku jadi pahlawan untuk istriku, apa itu salah?"
"Enam tahun aku tidak pernah melihat mereka. Dengan gampangnya kau mengatakan seperti itu. Dave, mari bercerai dan aku akan mengembalikan semua uangmu!"
Joana yang marah langsung mengambil tasnya lalu memutuskan untuk pergi. Dave berusaha mengejar istrinya, maksud dan tujuan Dave baik ia tidak memberitahu Joana sebelumnya.
"Sayang, tunggu!"
Dave mencoba menghentikan langkah istrinya.
"Apa lagi Dave?" Tanya Joana masih dengan wajah amarahnya.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menganggap perjanjian itu? Kau istriku, sampai kapan pun kau istriku. You are my wife. Apa kau mengerti?"
Dave memegang kedua pundak Joana.
"Perjanjian tetap perjanjian dan aku sudah di bayar untuk itu," ucap Joana dengan tegas.
"Istri keras kepala!" Sahut Dave yang tiba-tiba menggendong Joana membawanya kembali ke kamar hotel.
Tentu saja Joana tidak terima, perempuan ini mencoba berontak dengan memukul-mukul tubuh Dave. Pukulan Joana bagai gigitan semut bagi Dave.
"Turunkan aku,....!" Pinta Joana.
Dave hanya diam saja, pria ini membuka pintu kamar lalu menurunkan istrinya di atas ranjang. Apa pun masalahnya, ranjang solusinya. Dave merobek semua pakaian Joana, mencumbu liar di tubuh istrinya.
"Dave, lepaskan aku!" Joana masih berontak.
"Tanamkan dalam hati dan pikiran mu, aku suamimu. Kau istriku dan kita akan hidup berdua selamanya," ucap Dave sambil melepas pakaiannya.
Liar Dave mencumbu, meremas bahkan menghisap di atas buah dada istrinya.
Jleb.....
Tanpa basa basi lagi Dave langsung menyodorkan cula nya ke dalam lubang rahim istrinya. Seketika Joana menghentikan gerakannya, ia hanya bisa menangis di saat Dave menggagahi dirinya.
Dave mulai menggoyangkan pinggulnya, pria ini tidak peduli dengan air mata istrinya. Sesekali Dave mengusap air mata yang membasahi pipi, mengecup bibir yang hendak mengeluarkan kata protes.
Selesai pada puncaknya, Joana hanya bisa terbaring dengan air mata yang masih mengalir tanpa mengeluarkan suara. Dave semakin merasa bersalah, belum pernah ia melihat Joana semarah ini padanya.
Dave menggenggam tangan istrinya, mengusap wajah yang basah di sana.
"Sayang, aku minta maaf. Sungguh, aku mengaku salah. Seharusnya aku bilang dulu pada mu." Ucap Dave berusaha membujuk Joana.
"Aku ingin tidur, jangan ganggu aku." Sahut Joana dengan suara pelan.
"Sayang, ku mohon maafkan aku. Aku tidak akan mengulangi hal seperti itu lagi."
"Aku lelah, ku mohon!" Lirih Joana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Pricilia Latupeirissa
salah jalan tuan yg terhormat
2023-07-08
0
shebina putri
orang-orang tidak punya Malu👊👊👊
2023-01-12
0
Angel Ssieyhunjoong
che joana, ktanya mau bls dendam to ko mla baper. an gt... ya hrs kuat donk.
2022-12-04
0