Chapter 03

"Selamat sampai tujuan, cepat pulang dan jangan lupa bawa calon keponakan." Ucap Davina seraya melambaikan tangan.

Wajah Dave seketika masam saat mendengar ucapan adiknya di tengah ramainya bandara.

Dave dan Joana akan melakukan penerbangan dengan jet pribadi menuju negara A untuk berbulan madu.

"Adik mu itu lucu juga. Tapi kenapa dia memiliki seorang kakak yang seperti mu?"

"Bicara yang jelas, seperti apa yang kau maksud?"

"Galak, tidak mau mengalah dengan perempuan!"

"Perempuan itu adalah makhluk yang menyusahkan apa lagi bayi-bayi. Sungguh menggelikan!"

"Jadi, kau tidak mau memiliki anak?" Hanya Joana penasaran.

"Perempuan itu ribet dan menyusahkan, di tambah lagi rewelnya anak. Sungguh itu semua membuat ku pusing!"

"Jika kau tidak memiliki anak, di masa tua jika kelak kau mati, siapa yang akan mengantar peti mati mu sampai ke dalam liang lahat?"

Dave geram sekali mendengar ucapan Joana. Bisa-bisanya gadis ini bicara hingga membuat Dave mati ucap.

"Apa kau pernah keluar negeri sebelumnya?" Tanya Dave mengalihkan pembicaraan.

"Tidak pernah, ini adalah pertama kakinya aku pergi ke luar negeri." Jawab Joana jujur.

"Gadis nakal seperti mu pasti sudah di icipi oleh banyak laki-laki. Benarkan?"

Bug,......

Joana menonjok lengan Dave.

"Jaga bicara mu!" Seru Joana tidak terima. "Aku memang bekerja di tempat hiburan malam tapi aku tidak pernah menjual diri ku!"

"Aku tidak percaya!" Ujar Dave.

"Terserah kau mau percaya atau tidak. Itu urusan mu, bangunkan aku jika kita sudah sampai." Kata Joana seraya menarik selimutnya memutuskan untuk tidur.

Delapan jam penerbangan menuju negara A membuat Joana merasa lelah. Ini adalah pertama kalinya ia naik pesawat dengan jam penerbangan yang cukup lama.

Setibanya di negara A, Dave dan Joana langsung pergi menuju villa, tempat di mana mereka akan tinggal selama satu bulan. Hadiah bulan madu dari kedua orang tua Dave.

"Bulan madu katanya, sungguh membuang waktu ku saja!" Kata Dave yang baru saja mendaratkan pantatnya di sofa.

"Bisa ku bilang jika kau adalah anak durhaka." Sahut Joana.

"Tarikan ucapan mu cepat!" Titah Dave tidak terima.

"Aku tidak mau menarik ucapan ku. Semua yang aku katakan adalah kebenaran. Bisa-bisanya kau membuat keluarga mu menaruh harapan pada seorang Dave."

"Hai, tahu apa kau tentang keluarga ku?"

"Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi, aku yakin jika orang tua mu begitu mengharapkan seorang cucu dari kita. Sungguh aku menyesal telah menerima tawaran mu!"

Joana masuk ke dalam kamar, cukup menyebalkan karena di villa sebesar ini hanya ada satu kamar.

"Kau,....!" Tunjuk Dave.

"Ya, aku tahu. Aku akan tidur di sofa jadi jangan kau katakan lagi." Sahut Joana yang sudah paham.

"Oh, bagus lah jika kau paham!"

Joana tidak peduli, gadis ini kembali melanjutkan tidurnya. Cuaca cukup dingin karena sekarang musim dingin.

Perut lapar membangunkan Joana dari tidurnya di tambah lagi aroma makanan menyeruak menembus dinding hidungnya. Joana membuka mata, gadis ini melihat Dave yang sedang menikmati makan malam seorang diri di dekat jendela.

"Wah, manusia satu ini cuma memikirkan isi perutnya aja. Kenapa tidak membangunkan ku hah?" protes Joana.

"Jika kau lapar, cari makan sendiri sana!" Ujar Dave yang masih menikmati makanannya.

"Bisa-bisanya, dasar pelit!"

Dave tidak peduli, tentu saja hal ini membuat Joana semakin kesal. Gadis ini pergi ke kamar mandi sekedar mencuci muka dan menggosok giginya.

"Aku lapar," ucap Joana mengadu.

"Pergi dan carilah makan sendiri," sahut Dave.

"Pria yang sangat kejam!" Seru Joana. "Beri aku uang!" Pintanya.

Dave mendengus kesal, pria ini merogoh saku celananya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.

"Jangan pergi jauh-jauh, jika kau hilang aku yang susah!"

"Bawel!"

Joana pergi begitu saja, meskipun ia tidak mengenal tempat ini, Joana tidak peduli.

"Villa semewah ini tidak menyediakan stok makanan. Dasar pelit!"

Villa yang berada di pinggir pantai, saat Joana keluar gadis ini bingung mau pergi ke arah mana. Ia tak melihat cafe atau restoran di sana.

"Ah, sialan!" Umpat Joana. "Kemana aku harus pergi...!"

Huft,.....

Joana mendengus kesal, gadis ini kembali ke kamar.

"Kenapa kau kembali?" Tanya Dave.

"Aku tidak tahu harus pergi kemana di tambah lagi udara cukup dingin. Pakaian ku semuanya tipis!"

Sejak di usir oleh ayahnya, Joana pergi tidak membawa pakaian. Gadis ini berjuang sendirian di jalan. Kerja kesana kemari hanya untuk makan dan menyewa tempat tinggal.

Dave mengangkat kedua bahunya, pria ini tidak peduli pada Joana meskipun gadis ini kelaparan.

Joana kembali duduk di sofa lalu merebahkan diri sambil memainkan ponselnya. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Joana terlelap begitu saja tanpa makan malam bahkan hanya selimut tipis yang menutupi tubuhnya.

Malam semakin larut, Dave yang hendak naik ke atas ranjang tanpa sengaja melihat Joana yang tidur sambil memeluk kedua kakinya menahan dingin.

"Jika dia tidur di situ pasti akan mati kedinginan. Tapi, tidak mungkin aku tidur di tempat yang sama dengan gadis menyebalkan ini."

Dave serba salah, untuk beberapa saat ia nenimbang diri untuk memindahkan Joana ke atas ranjang. Pada akhirnya, Dave memindahkan Joana ke ranjang atas dasar kasihan.

Sebelum tidur pria ini sibuk membuat batas antara dirinya dengan Joana.

"Jika bukan karena ancaman orang tua ku, tidak mungkin aku menikah dan memelihara gadis menyebalkan ini." Batin Dave.

Malam telah berganti pagi, Joana yang baru saja membuka mata terkejut saat dirinya sudah berpindah tempat ke atas ranjang. Lebih kaget lagi saat ia melihat Dave tidur dengan begitu lelap di sampingnya.

"Dasar bajingan!" Umpat Joana seraya memukul Dave dengan guling. Dave yang kaget langsung bangun dan turun dari atas ranjang.

"Perempuan gila!" Umpat Dave. "Kenapa kau berteriak dan memukul ku hah?"

"Kau,...!" Joana menunjuk wajah Dave. "Pasti kau yang sudah memindahkan aku kan?"

"Jika kau tidur di sofa dengan selimut yang tipis, kau akan mati kedinginan!"

"Bagus kalau aku mati, aku bisa bertemu dengan ibu ku!" Sahut Joana membuat Dave terdiam. "Semua orang sangat menginginkan kematian ku. Jadi, aku tidak takut jika harus mati kedinginan!" Ucapnya kemudian gadis ini turun dari atas ranjang lalu berjalan keluar meninggalkan kamar.

Dave hanya diam, ada sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan pada Joana saat pria ini mendengar ucapan Joana tadi.

Dave keluar, menyusul Joana yang ternyata sedang berdiri di pinggir kolam renang.

"Masuklah!" Titah Dave. "Udara sangat dingin, kau bisa sakit!"

"Kata mati mu kenapa kau ganti jadi kata sakit?" Protes Joana.

"Aku serius!" Ujar Dave. "Pakaian yang kau kenakan terlalu tipis."

"Sudah ku bilang aku tidak punya pakaian tebal. Mau bagaimana lagi? Ah, berisik!" Joana berlalu begitu saja. Gadis ini kembali masuk ke dalam, pergi menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan.

Huft,.....

"Liburan macam apa ini? Tidak ada makanan. Aku sangat lapar!"

Joana memutuskan untuk kembali ke kamar. Gadis ini hanya mengambil tasnya kemudian pergi untuk mencari makanan. Tanpa mengenakan pakaian tebal, Joana nekat pergi ke luar.

Terpopuler

Comments

Khairul Azam

Khairul Azam

perempuan menyebalkan tp dia gak sadar klo dia lahir dan dibesarkan dr seoramg wanita

2025-01-06

0

Khairul Azam

Khairul Azam

lagian ya bawa orang tp gak dikasih makan, kurasa yg bikin cerita agak rada"

2025-01-06

0

Ddek Aish

Ddek Aish

dasar laki-laki pelit

2025-01-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!