Joana tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Jangankan pergi mandi, untuk sekedar duduk pun Joana tidak bisa melakukannya. Kedua kakinya terasa kaku, pinggangnya juga nyeri apa lagi daging sintalnya terasa bengkak dan perih.
"Bangun,....!" Joana mencubit lengan suaminya hingga membuat Dave terkejut.
"Kenapa mencubitku?" Tanya Dave yang baru saja bangun.
"Tubuhku rasanya remuk. Tanggung jawab!"
"Kita bahas nanti, ada baiknya kita lanjut tidur!" Ujar Dave.
"Aku ingin berendam air hangat, tolong bantu aku yang tidak bisa bangun ini."
"Sakit ya?" Tanya Dave.
"Semua ini gara-gara kau!" Seru Joana yang kembali mencubit lengan suaminya.
"Semua salahku. Kau juga tadi malam sembilan kali kejang-kejang kenikmatan. Giliran sakitnya aja kau menyalahkan aku," sahut Dave.
"Bukan salahku, salahmu. Kau minum obat kuat, menyebalkan!"
"Em, sayang. Tadi malam baru sembilan kali. Bagaimana jika sekarang aku genapkan sepuluh?"
"Oh, tolonglah jangan. Tubuh ku sudah remuk rasanya!"
"Sekali saja, yang penting genap sepuluh!"
"Aku rasa kau kelamaan menjomblo, sekalinya punya istri di goyang terus. Pinggang ku sakit," rengek Joana.
"Sekali saja!" Dave merayu.
"Suamiku sayang, aku berendam. Roti lapis ku terasa bengkak dan perih, ayolah!"
Mau tidak mau Dave menurut, pria ini turun dari ranjang. Dave memegang pinggangnya bahkan pria ini berjalan sedikit menyeret kakinya.
Dave menyiapkan air hangat untuk mandi istrinya setelah siap Dave kembali menghampiri Joana.
"Sudah siap, Sayang. Cepatlah!" Ujar Dave.
"Gendong!" Rengek Joana.
Dengan sisa tenaganya Dave menggendong Joana sampai ke dalam kamar mandi.
"Tidak mandi sekalian?" Tanya Joana.
"Jika dia bangun, kau mau bertanggung jawab?" Dave bertanya balik.
"Sabun ada!" Sahut Joana.
"Ada istri kenapa harus menggunakan sabun?"
"Sekali lagi aku tahu kau minum obat kuat atau apa pun jenisnya, akan ku tendang kau!" Ancam Joana.
Dave mengangkat kedua bahunya, pria ini memutuskan untuk langsung mandi. Di bawah guyuran air, Joana memandang tak berkedip saat melihat suaminya yang begitu tampan ini.
"Kita sarapan di kamar aja ya," ujar Joana. "Aku malu turun ke bawah!"
Dave menoleh ke arah Joana, memperhatikan tanda merah hasil karyanya.
"Oh, aku akan meminta mereka membawakan makanan untuk kita nanti."
"Apa kau akan pergi ke kantor?" Tanya Joana.
"Sepertinya tidak!"
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin fokus membuat anak dengan mu, sayang!" Jawab Dave.
"Si penjilat ini....!" Cibir Joana.
"Sayang, hentikan. Jangan mengejek ku terus!"
"Aku tidak mau menikah apa lagi memiliki anak. Perempuan itu ribet dan selalu menyusahkan," ucap Joana yang meniru perkataan Dave.
"Sayang, jika kau tidak diam akan ku bekap mulutmu dengan ini," ancam Dave seraya menunjukkan burungnya yang panjang dan besar.
Seketika Joana membuang pandangannya, ia memang sudah melihat benda itu berulang kali bahkan di buat melayang. Tapi, Joana masih malu jika harus melihatnya secara langsung.
Selesai mandi pasangan suami istri ini langsung sarapan di balkon kamar. Tubuh Joana sedikit segar dan membaik akibat hantaman pedang tumpul suaminya.
"Aku ingin bekerja," ucap Joana langsung mendapatkan lirikan tajam dari Dave.
"Apa uang uang ku beri kurang?" Tanya Dave kesal.
"Aku bosan di rumah, selain makan tidur di goyang suamiku. Tidak ada pekerjaan lain, sungguh membosankan!"
"Kalau begitu besok kau ikut aku saja ke kantor!" Ajak Dave.
"Di dalam perjanjian Kita, bukanya aku tidak boleh menginjakkan kaki di perusahaanmu?"
"Joana.......!"
Dave menatap wajah Joana dingin.
"Aku hanya bercanda!" Sahut Joana.
"Selesai sarapan kita istirahat sebentar. Nanti sore kita akan pergi berbelanja."
"Belanja apa?" Tanya Joana penasaran.
"Aku bosan melihat pakaian mu yang itu-itu saja."
"Bukannya kau paling malas mengantar perempuan belanja?"
"Kalau mengantar istri, apa salahnya?"
"Jika kau benar mencintaiku, apa boleh aku menguras uang mu?" Goda joana.
"Jangankan menguras uang, bukankah kau sudah menguras ku setiap malam?"
"Selalu saja bahasannya ke sana. Dasar otak mesum!"
"Aku hanya mesum padamu, sayang!"
"Suamiku.....!!"
"Cepat selesaikan makanya, aku masih mengantuk.Kita tidur lagi setelah ini."
"Enak banget jadi orang kaya, habis makan tidur!"
Dave hanya tersenyum, pria ini bergegas menyelesaikan sarapannya. Selesai sarapan Dave dan Joana duduk-duduk sebentar untuk sekedar menurunkan makanan.
"Sayang,....!" Dave memanggil lembut istrinya yang sedang terbaring manja di pangkuannya.
"Hem, iya. Ada apa?"
"Kapan ya anak kita akan hadir di sini?" Tanya Dave sembari mengusap perut istrinya yang datar.
"Coba kau minta maaf dulu pada Tuhan. Bukankah kau berkata tidak ingin memiliki anak?"
"Oh, astaga. Berdosa aku!" Sahut Dave.
"Makanya, kau harus minta maaf. Suamiku,....!"
"Hem, ada apa?"
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Joana.
"Tentu saja, kenapa kau selalu bertanya seperti itu?"
"Kalau kau cinta padaku, tolong babat habis dan bersihkan jambang mu ini. Aku suka merinding jika terkena jambang mu!" Ujar Joana gemas sendiri.
"Nanti sore aku akan membersihkannya. Untuk istriku, apa sih yang enggak?"
Dave mengajak Joana pindah ke atas ranjang, tubuh yang lelah dan mata yang masih mengantuk membuat suami istri ini langsung terlelap tidur.
Sementara itu, Karina saat ini telah berhasil mengikuti Davina dari kampus ke cafe yang berada tak jauh dari kampus.
"Hai,.....!" Sapa Karina.
Davina menoleh, memandangi Karina yang tidak ia kenal.
"Hai juga. Maaf, siapa ya?" Tanya Davina yang tidak mengenal Karina.
Karina mengulurkan tangannya, dengan ramah Davina membalas uluran tangan Karina.
"Aku Karina, kakak Joana. Kau pasti Davina, adik Dave. Iyakan?"
"Oh, iya. Aku Davina. Tapi, dari mana kau mengenali ku?" Tanya Davina heran.
"Ya ampun, kalian itu orang terkenal siapa pun pasti akan mengetahui keluarga kali. Oh ya, apa aku boleh duduk?"
"Oh, silahkan!" Ujar Davina mempersilakan.
"Beberapa waktu yang lalu kakak mu mengundang keluarga ku untuk makan malam bersama. Tapi,....!"
"Tapi apa?" Tanya Davina penasaran.
"Tapi Joana tidak mau mengakui kami sebagai keluarga."
"Ah, masa sih kak Joana seperti itu?" Tanya Davina tidak percaya.
"Hanya kakak mu yang menyambut kami, kakak mu orang yang baik."
"Kakak ku memang orang yang baik dan menyebalkan!" Sahut Davina.
"Joana itu sudah enam tahun tidak pulang ke rumah," ujar Karina memberitahu.
"Kenapa?" Tanya Davina penasaran.
"Em, aku tidak enak hati jika harus memberitahu mu. Secara dia kakak iparmu."
"Katakan saja, meskipun dia kakak iparku, jika dia salah harus di beri hukuman."
Senyum Karina langsung mekar mendengar ucapan Davina. Tentu saja hal ini menjadi kesempatan Karina untuk berpura-pura sedih.
"Kak, kenapa sedih?" Tanya Davina heran.
"Sebenarnya Joana sudah membunuh calon adik kami," jawab Karina membuat Davina terkejut.
"Jadi, kakak ipar ku itu seorang pembunuh?"
"Jangan katakan ini pada siapa pun termasuk kakakmu. Cukup kau saja yang tahu." Ujar Karina. Wanita ini mulai mengatakan hal buruk tentang Joana pada Davina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
May Keisya
enak dong😂...itu impian byk wanita termasuk yg baca n nulisnya🤣
2025-04-03
0
Pricilia Latupeirissa
wah wah setanya mulai berulah
2023-07-08
0
Henny Haerani
mulai deh menebar racun mu karina
2023-01-20
0