"Oh, ini adik Dave. Seharusnya aku bisa mendekati bocah ini," ucap Karina yang sejak tadi sibuk mencari tahu tentang keluarga Dave melalui media sosial.
"Sedang apa kau, Karina?" Tanya Sarah yang sejak tadi memanggil anaknya tapi Karina tidak kunjung keluar dari kamarnya.
"Ma, tolong bantu aku berpikir."
"Berpikir untuk apa?" Tanya Sarah heran.
"Aku ingin mendekati bocah ini," ujar Karina seraya menunjukan foto Davina.
"Siapa dia? Kenapa kau ingin mendekati dia?" Sarah penasaran.
"Dia adik satu-satunya Dave, itu artinya bocah ini memiliki kuasa paling tinggi di rumah. Aku ingin mendekati Davina untuk menghasut mereka tentang Joana. Mama pasti mengerti maksud ku, bukan?"
"Kalau begitu mama dukung kamu!"
"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Karina yang tidak memiliki ide.
"Apa kau sudah mendapatkan alamat rumah keluarga Dave?" Tanya Sarah.
"Belum, entah kenapa itu sangat susah!"
"Coba cari tahu dulu di mana bocah ini biasa pergi."
Huft,.....
Karina kembali mencari tahu tentang Davina lewat media sosial. Ternyata tidak mudah untuk mengetahui kemana orang kaya suka berpergian.
"Tapi dia kuliah di sini," ujar Karina menunjukkan ponselnya.
Sarah tersenyum lebar, "kalau begitu kau harus mencaritahu dari sana!"
Karina langsung paham apa yang di maksud mamanya, perempuan ini begitu bersemangat untuk menghancurkan Joana terutama rumah tangganya.
Sedangkan orang yang sedang mereka bicarakan saat ini sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakaknya. Davina merasa kesepian di rumah, papinya sibuk mengurus bisnis sedangkan maminya sering berpergian ikut sang papi mengiris bisnis terkadang juga pergi arisan bersama teman-temannya.
"Jangan pulang malam-malam," pesan tuan Darius pada anak gadisnya.
"Siap papi sayang," jawab Davina.
Gadis ini bergegas pergi, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang kakak ipar. Perjalan dari rumah utama ke rumah Dave membutuhkan waktu dua puluh menit.
Setibanya di sana, ternyata Dave dan Joana sedang makan malam berdua. Melihat kedatangan sang adik, wajah Dave berubah di tekuk.
"Sepertinya kakak ku ini tidak suka atas Kedatangan adik kesayangannya ini. Kenapa?" Tanya Davina kesal.
"Kau datang di waktu yang tidak tepat!" Jawab Dave kesal.
"Kamu ini kenapa sih? Di kunjungi adiknya sendiri kok gak senang. Heran deh!" Joana menggelengkan kepalanya.
Huft.....
Dave mendengus kesal.
"Ayo ikut kakak sebentar!" Dave langsung menarik tangan adiknya masuk ke ruang kerja.
"Kakak, kenapa sih?" Davina kesal.
"Ada baik kau pulang saja. Jangan malam ini datang kesini, besok malam atau kapan lah. Terserah kau asal jangan malam ini."
"Kenapa sih kak?" Tanya Davina heran.
"Duh, gimana ya menjelaskannya. Kakak bingung!"
"Bilang aja, apa susahnya sih?"
"Kamu mau keponakan kan?" Tanya Dave.
"Ya mau dong, kenapa sih?"
"Nah, malam ini kakak mau proses. Ada baiknya kamu pulang!"
"Seriusan kak?"
"Hem, serius. Cepat pulang sana!"
Mau tidak mau Davina kembali pulang. Melihat sang adik ipar pulang dengan senyum lebar membuat Joana heran dan penasaran apa yang sudah di bicarakan suaminya bersama adik iparnya ini.
"Kakak ipar, aku pulang dulu. Jangan lupa buat keponakan yang lucu untuk ku," ucap Davina berpamitan.
"Oh, iya....!" Jawab Joana yang kebingungan.
Tak berapa lama Dave menyusul keluar.
"Kenapa Davina pulang?" Tanya Joana heran.
"Dia hanya mampir untuk menyampaikan pesan papi," bohong Dave.
"Ah, masa sih? Mencurigakan!"
"Sama suami sendiri tidak boleh curiga."
Joana mengerutkan keningnya rapat saat ia melihat ke arah bawah suaminya. Ada yang menggelembung di bawah sana tapi bukan balon.
"Sayang,....!" Panggil Dave seperti orang bernafsu.
"Mencurigakan!" Seru Joana.
"Sayang, ayo ke kamar!" Ajak Dave ternyata obat kuat yang baru saja ia minum beberapa menit yang lalu sudah bereaksi.
"Jangan bilang.....!" Joana tidak melanjutkan ucapannya.
"Sayang, ayo.....!!" Rengek Dave.
Tidak mau menunggu lama, Dave langsung menggendong Joana pergi ke kamar.
"Cepat buka pintu kamarnya!" Titah Dave.
Dengan cepat Joana membuka pintu. Dave dan Joana masuk ke dalam kamar, hanya dengan satu tendangan Dave berhasil menutup pintu kamarnya.
Dave langsung menurunkan istrinya ke atas ranjang. Dengan liar pria ini menindih istri lalu memagut bibir Joana dengan rakus.
Tidak lupa Dave menghisap salah satu buah dada milik istrinya sedangkan salah satu tangannya meremas.
Ouh..........
Joana melenguh, Dave begitu pandai membuat Joana melayang.
"Aku akan membuatmu puas malam ini, sayang." Bisik Dave.
Dave lalu menuntun tangan istrinya untuk memegang burungnya. Batang panjang dan keras, begitu keras bahkan rasanya beda dari biasanya.
Dave mencium di atas perut istrinya, begitu menggelitik hingga membuat Joana semakin tidak karuan di buatnya.
Ouh......
Sekali lagi Joana mendes*h, hasrat telah memanas, Joana siap di makan oleh suaminya.
"Kau sudah sangat basah sayang," bisik Dave.
"Cepatlah masukan!" Jawab Joana.
Tak mau membuat sang istri menunggu lama, Dave langsung memasukan burungnya.
Jleb,.....
Cula panjang keras milik Dave telah berhasil menyeruduk lubang rahim istrinya yang butuh kehangatan. Joana memegang pinggul suaminya, mengikuti gerakan naik turun seperti memompa hingga membuat Joana tanpa sadar terus mendesah.
Ouh....aaaaah......
Plok.....plok....plok.....
Dave semakin liar melihat ekspresi istrinya yang begitu kenikmatan.
Salah satu tangan Joana sibuk meremas rambut suaminya, menjambak bahkan Dave tidak peduli akan hal itu.
"Ouh,.....aaaah......suamiku....!" Lirih Joana yang memejamkan mata menahan nikmatnya burung sang suami mengobok-obok lubangnya.
Tubuh Joana semakin liar, kedua kakinya merapat menegang. Dave paham jika istrinya sebentar lagi akan melakukan ******* pertamanya.
Plok...plok....plok.....
Dave semakin mempercepat gerakannya, pria ini juga langsung menghisap salah satu buah dada istrinya.
Aaaaaaaah.........ouuuh........
Joana semakin menjambak rambut suaminya, manahan nikmatnya ******* yang sangat luar biasa. Setelah beberapa saat tubuh Joana melemas, Dave tersenyum melihatnya.
"Bagaimana?" Tanya Dave tanpa mencabut burungnya.
Joana memalingkan wajahnya malu.
"Jangan melihat ku seperti itu," ucap Joana benar-benar malu.
"Kau akan puas malam ini sayang," bisik Dave yang kembali mencangkul ladang milik istrinya.
"Kenapa kau belum keluar juga?" Tanya Joana heran karena biasanya mereka akan melakukan ******* bersama-sama.
"Sudah ku bilang, malam ini aku hanya ingin melihat kau puas!" Jawab Dave sambil menggenjot istrinya. "Diam dan nikmati lah!"
Dave membungkam mulut istrinya dengan ciuman, tentu saja hal itu untuk menghindari Joana yang suka melakukan protes.
Sementara itu, Davina yang baru saja pulang membuat kedua orang tuanya heran. Mereka memanggil Davina, mengajak gadis itu untuk duduk bersama di ruang keluarga.
"Ada apa pi, mi?" Tanya Davina.
"Katanya kamu pergi ke rumah kakakmu. Kenapa sudah pulang?" Tanya nyonya Andina.
"Kak Dave menyuruh ku untuk pulang," jawab Davina membuat kedua orang tuanya heran.
"Kenapa?" Tanya tuan Darius. "Kalian bertengkar?"
"Tidak, kata kakak, dia dan kakak ipar mau memproses keponakan untukku. Makanya aku harus pulang!"
Tuan Darius dan Nyonya Andina saling toleh lalu menghembuskan nafas pelan.
"Sana masuk kamar, tidak usah di lanjutkan." Ujar nyonya Andina.
Davina mengangkat kedua bahunya lalu gadis ini memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua.
"Bisa-bisanya Dave mengajari adiknya yang bukan-bukan. Awas saja dia....!" Tuan Darius geram.
"Anakmu itu, wajarlah. Papinya waktu muda seperti itu juga," sahut nyonya Andina.
"Mami,.....!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Pricilia Latupeirissa
hahaha kuda2an sampe besok pagii
2023-07-08
0
Henny Haerani
burungnya tak punya sayap, tp bisa bikin terbang melayang. ups 🙊🙈
2023-01-20
0
shebina putri
ujung-ujung nya pasti karena papi nya😁😁😁
2023-01-12
1