Mata Rian terbelalak melihat orang yang membuka pintu kamar no.6. Kepingan demi kepingan misteri Rumah Kos ini akhirnya lengkap. Orang tersebut pun terkejut melihat Rian memainkan ponsel Windi.
“Eh Rian, kamu di sini?”
“Kamu sendiri kenapa di sini?” Rian balas bertanya padanya tanpa menjawab pertanyaannya.
“Eh? Ah … Aku sedang mencari keberadaan pacarku, makanya aku menyeli–”
“Cukup, kamu nggak perlu berpura - pura lagi. Aku nggak menyangka kalau kamulah pelaku utamanya, mas Billy!”
Mendengar ucapan Rian, Billy yang tadinya gugup dan berpura - pura bodoh, berubah menjadi dingin. “Hooo~ … Aku tidak menyangka kalau kamu menyadarinya. Apakah karena aku masuk kamar ini sehingga kamu menduga kalau aku pelakunya?”
“Tentu saja tidak. Tapi keberadaan mas Billy di sinilah kunci yang menghubungkan semua kepingan misteri di sini.”
“Bisa ceritakan padaku tentang alasan lainnya? Ini bisa menjadi bahan evaluasi untuk rencana pembunuhan berikutnya.”
Glupp
Rian menelan ludahnya melihat betapa santainya Billy setelah kedoknya terbongkar. Tidak ada kepanikan di mata Billy, yang ada hanyalah sikap dinginnya*. ‘Tenang Rian, tenang! Kamu sudah biasa menghadapi Hantu yang penampilannya lebih menakutkan, jadi tak perlu takut menghadapi sesama manusia! Aku yakin aku bisa menghadapinya. Aku bisa membuatnya lengah dan melumpuhkannya menggunakan palu yang ada dalam Kantong Dimensi. Sementara waktu, aku akan mengulur waktu sampai Polisi datang.’*
“Pertama, mas Billy berkata bahwa pacar mas hilang sejak 3 hari yang lalu di sini. Namun aku tidak menemukan bukti bahwa Windi pernah menginap di sini. Kamar yang aku tempati juga terlihat berdebu seakan belum pernah ada yang menginap dalam jangka waktu satu bulan. Kamar lainnya juga sudah terisi. Interaksi antar penghuni kamar terlalu akrab seperti sudah kenal lama. Jadi tidak mungkin ada penghuni baru yang baru menginap selama 3 hari tapi sudah akrab.”
“Kedua, barang Windi yang disimpan di gudang ini cuma sedikit, hanya sebanyak jumlah barang yang muat dalam tas jinjing wanita. Itu memperkuat bahwa Windi tidak tinggal di sini, namun kamu menculiknya dari tempat lain.”
“Ketiga, SMS pada ponsel Windi ke mas Billy baru di mulai kemarin malam jam 12. Sebelumnya, aku tidak melihat riwayat SMS kalian berdua. Kalau semisal di hapus, itu sungguh aneh. Karena aku melihat pesan lainnya lengkap. Itu artinya kalian tidak saling kenal sebelumnya. Dan mas Billy sendirilah yang mengirim SMS menggunakan ponsel Windi..”
“Dan yang terakhir adalah keberadaan mas Billy di sini sekarang. Awalnya aku mengira Bapak Kos tersebut adalah dalang dari semua pembunuhan ini. Namun aku kurang memahami apa motif Bapak Kos. Sedangkan jika mas Billy pelaku utamanya, maka semua kepingan misteri akan terhubung.”
“Mungkin mas Billy bersandiwara sebagai pacar Windi agar orang yang menginap tidak curiga denganmu, dan juga menambah cerita mistis di Rumah Kos ini. Orang yang menginap sebelum ku pasti juga mengalami hal yang sama. Kamu akan tiba - tiba muncul dan bertengkar dengan Bapak Kos dan berpura - pura sebagai pacar ataupun saudara korban sebelumnya. Apalagi kemunculan mas Billy terlalu kebetulan, makanya aku agak curiga dari awal.”
“Untuk boneka - boneka ini, mungkin ini adalah milik korban pertama mas Billy, benar kan? Setelah merasakan rasanya membunuh pertama kali, mas Billy ketagihan. Itulah motifmu. Aku hanya bingung bagaimana mas Billy bisa bekerja sama dengan Bapak Kos dan penghuni kos lainnya. Apa karena mas Billy memberikan uang yang dimiliki korbanmu pada mereka? Atau ada alasan lainnya? Dan aku juga penasaran hubungan mas Billy dengan korban pembakaran hidup - hidup satu tahun yang lalu. Apakah itu korban pertamamu?”
Plok Plok Plok Plok Plok
“Hebat … Hebat sekali! Kamu telah berhasil menebak berdasarkan petunjuk - petunjuk kecil tersebut. Aku bahkan tak pernah terpikir kalau sandiwara yang selalu aku lakukan bersama Pak Bagus ketika ada orang baru yang akan menginap malah menjadi awal kecurigaanmu. Terima kasih atas kritik membangun ini. Sekarang, silahkan beristirahat dengan tenang …” Billy mengeluarkan pisau dapur yang ia sembunyikan di belakang kaosnya. Ia pun menyerang Rian.
Rian menghindar sabetan Billy dan langsung memukul kepala Billy dengan Palu yang dikeluarkan dari Kantong dimensi. Billy reflek menghindar, kemudian ia menendang tangan Rian yang memegang palu hingga palunya terjatuh.
Rian mengambil pisau dari Kantong dimensi, namun Billy menyerang dengan cepat.
"Arghhh" Rian mengerang kesakitan. Tangan kanannya tersabet pisau.
"Baru begitu saja sudah berteriak kesakitan. Aku lupa kalau kau baru berusia 15 tahun. Penjelasan panjang lebar mu tadi seperti orang dewasa, namun mentalmu masih seperti anak kecil!" ejek Billy sambil menjilat pisau yang berlumuran darah.
Rian menggenggam erat pisau di tangan kanannya yang terluka. Kemudian ia melempar pisau tersebut ke kepala Billy.
"Jika hawa membunuhmu begitu tebal begini, akan mudah melihat arah seranganmu!" Billy menghindari lemparan pisau Rian dengan mudah.
"Kau punya mata yang bagus. Namun kamu masih belum matang. Dan juga kemampuan khusus mu itu sangat menarik. Entah berapa banyak sisa hidup yang kau tukarkan."
Rian tidak memiliki senjata lagi, hanya ada obeng di Kantong dimensi. Ruang kamar yang sempit dan banyak barang Rian susah untuk menghindari serangan Billy. Billy tampak sudah terbiasa menyerang dalam jarak dekat.
'Bagaimana ini … Bagaimana ini!!! Kenapa Polisi belum datang - datang juga!!!' Rian panik karena ia merasa tersudut.
Melihat Rian yang mulai panik, Billy langsung menyerang dengan mengincar mata Rian. Saat pisau Billy hanya berjarak beberapa sentimeter dari mata Rian, mendadak gerakan Billy melambat. Gerakan Billy seperti slow motion. Dengan mudah, Rian menghindar tusukan Billy. Ketika Rian sudah menghindar, gerakan Billy kembali normal.
'Apa yang terjadi? Kenapa tadi gerakan Billy seperti slow motion begitu!' pikir Rian.
Billy masih terus menyerang membabi buta. Namun setiap pisau Billy berjarak sekitar 5-10 sentimeter dari tubuhnya, mendadak gerakan Billy jadi slow motion. Bahkan bukan saja gerakan Billy, tetesan keringat dan benda lainnya yang jatuh bergerak sangat lambat. Setelah beberapa kali, tubuh Rian terasa lelah dan sakit. Tak mau berlama - lama, saat perlambatan terjadi lagi, Rian langsung mengambil Obeng dari Kantong dimensi dan menusukkannya ke mata Billy.
"AAARGHH! Brengsek kau! Beraninya kau menusuk mataku! Akan kupastikan aku membunuhmu! Lalu kemudian keluargamu, pacarmu, teman - temanmu, semuanya akan kubunuh!" Billy berteriak sambil memegangi mata kanannya. Ia mencabut paksa obeng Rian sampai - sampai bola matanya ikut tercabut. Darah terus bercucuran dari mata kanan Billy yang hilang.
Rasa lelah Rian seketika itu hilang dan tergantikan oleh amarah. Rian mulai mengingat ketika orang tuanya hilang dan tidak ada kabar berhari - hari. Sanak saudara Rian tidak ada yang mau mengurusi Rian, terlebih ketika tahu orang tua Rian meninggalkan Hutang. Hanya teman - teman Rian lah yang setia menemaninya dalam keterpurukan. Guntur si anak kaya yang tampan, Adi si jomblo ngenes, dan juga Livia yang telah ada disisinya sejak Taman Kanak - Kanak. Mereka semua selalu mendukung Rian. Membayangkan mereka di bunuh dan di kubur dalam tembok, amarah Rian semakin tak terbendung. Rian kemudian perlahan mematikan Live Broadcast nya, kemudian ia mengambil palu yang sekarang ada di sebelah kakinya.
Billy yang juga emosi karena kehilangan matanya langsung menyerang Rian sekuat tenaga. Namun semua itu terlihat lambat di mata Rian. Dengan mudahnya, Rian mengayunkan palunya dan mengenai hidung Billy.
Kraak
"Argh"
Billy langsung terjatuh ke belakang. Wajah Billy Rusak dan penuh darah. Tak henti di situ, Rian menginjak pangkal paha Billy dengan keras.
Kraak
"Arghh" Billy mengerang dengan keras. Rian kemudian menduduki perut Billy yang terlentang di lantai. Rian memukul - mukulkan palunya ke bahu kiri Billy sampai retak. Setelah puas, Rian mulai mematahkan jari - jari di kedua tangan Billy. Billy terus mengerang kesakitan dan meminta ampun, namun Rian tidak menghiraukannya. Rian seakan berubah menjadi orang yang berbeda. Ia lebih terlihat seperti seorang pembunuh berantai sadis dan tanpa ampun daripada Billy.
Tak selang beberapa lama, Polisi datang menggerebek Rumah Kos itu. Polisi yang melihat Rian menyiksa Billy dan juga membawa palu penuh darah langsung menodongkan pistolnya. "Polisi! Diam di tempat dan jangan bergerak!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Adico
lanjut
2022-09-27
1