“Kenapa hari pertama masuk SMA ku harus seperti INI!? Arghhhh~” teriak Rian sambil mengacak-acak rambutnya di depan gerbang SMA Avernus.
“Hei, apa orang itu nggak apa-apa?”
“Sepertinya orang stres.”
“Ayo jangan dekat-dekat, nanti ketularan stres juga.”
Mendengar bisikan para murid lainnya, membuat Rian tersadar bahwa ia sekarang berdiri di depan gerbang sekolahnya. “~Ugh” wajah Rian pun memerah seketika.
“Emmm, kamu nggak apa-apa?”
Dari belakang Rian, berdiri seorang cewek yang juga menggunakan seragam SMA Avernus. Rambut panjangnya terlihat melambai terkena angin sepoi-sepoi membuatnya terlihat elegan. Ditambah lagi dengan wajahnya yang kebule-bulean, membuat Rian semakin terpesona.
‘Cantik sekali.’ pikir Rian.
Melihat Rian melamun, wanita tersebut mendekatkan wajahnya hingga berjarak 1 cm saja dari hidung Rian. ”Kelihatannya nggak panas.” ujar wanita berkulit kuning langsat tersebut sambil memegang dahi Rian.
“Walau nggak demam tapi wajahmu merah sekali. Mau kuantar ke UKS?”
“E-ee-ee … ng-nggak perlu, aku nggak sakit kok, nih lihat ...” tunjuk Rian sambil berpose ala binaraga, namun tidak terlihat otot sama sekali di lengannya.
“Syukurlah… Aku kira kamu sedang sakit, apa lagi tadi kamu sempat berteriak-teriak tidak jelas, lalu disusul wajahmu yang memerah. Biasanya orang demam suka mengigau.”
“Alena, ayo cepat ke kelas, jangan hiraukan cowok itu!”
Mendengar ada seseorang yang memanggilnya, Alena menoleh ke sampingnya. Di sana ada seorang cewek berseragam SMA Avernus dengan rambutnya yang dikuncir dua. Cewek itu menarik tangan Alena, memaksanya untuk segera menjauhi Rian.
“Tapi Tika–”
“Sudahlah ayo cepat!”
Alena pun menoleh pada Rian dan memberi gesture permintaan maaf sambil tangannya ditarik oleh Tika. Rian hanya bisa tersenyum kecut melihat Alena pergi, ’bahkan temannya pun menganggap ku aneh, haaahh~’. Menyadari blunder yang dia lakukan di hari pertamanya sekolah, Rian semakin depresi.
“Ri~an …” Dari belakang Rian, seorang cewek menutup kedua mata Rian.
“Hayoo~ ... tebak ini siapa?”
“Suara ini … Livia?”
“Ting Tong, betul sekali, yayy …” jawab cewek berambut sebahu tersebut sambil memeluk Rian dari belakang. Wajah orientalnya yang cantik dan kulitnya yang putih membuat cowok-cowok di sekitar gerbang sekolah iri pada Rian.
"Kamu juga sekolah di sini? Aku kira kamu masuk SMA Negeri 5, dengan nilai Ujian Nasional mu, seharusnya sudah cukup untuk masuk sana."
"Lhoo, bukannya aku sudah bilang ya, kalau aku juga masuk SMA Avernus supaya bisa bareng lagi?"
" Haaah~? Kapan?"
"Itu loh waktu jam istirahat di kelas, setelah pengumuman kalau kamu dapat beasiswa masuk ke SMA Avernus. Kalau nggak salah kamu sedang bergumam nggak jelas dan sangat mengkhawatirkan. Makanya aku nggak tega ninggalin sahabatku yang cupu ini."
"Urghhh" Rian pun samar-samar mengingat kejadian itu. Saat itu Rian sedang bingung dengan hutang peninggalan orang tuanya yang menumpuk. Bahkan saat Pak Irham, Wali Kelas 9-A sedang mengumumkan siapa saja penerima beasiswa SMA Avernus di kelas, Rian tidak mendengarkannya. Rian bahkan baru mengetahui dirinya diterima dan mendapat beasiswa setelah Pak Irham meminta dokumen persyaratan untuk masuk salah satu SMA terbaik di Surabaya itu.
“Ehmm Ehmm … Tolong jangan lupakan kita berdua ya.” Di sisi Livia, ada dua orang siswa yang tampaknya sudah berada di sana sejak awal Livia menutup mata Rian.
“Iya nih, pagi-pagi sudah mesra-mesraan aja.”
“Lho, Adi? Guntur? Kalian juga masuk Avernus? Dan juga, aku nggak lagi mesra-mesraan ini! Aku dan Livia cuma teman masa kecil aja.”
“Haah~, sabar ya Livia.” ucap Guntur sambil menepuk-nepuk punggung Livia. Siswa bertubuh gemuk itu sudah sering melihat ketidakpekaan Rian sejak SMP.
“Iya, yang sabar ya …” Adi pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Rian dan Livia.
“By the way kalian masuk kelas mana? Aku baru mendapat SMS pagi ini kalau aku masuk kelas X-6” Tanya Livia.
“Kami juga X-6” Jawab Guntur sambil merangkul Adi.
“Kalau kamu Rian?”
Rian menggaruk-garuk kepalanya sambil tersipu malu. “Ponselku sudah kujual kemarin untuk biaya makan bulan ini. Jadi aku nggak tahu aku masuk kelas mana, hehehe …”
Suasana yang tadinya gembira berubah menjadi gelap. Melihat hal itu, Livia berusaha mengalihkan pembicaraan. ”Ayo kita ke papan pengumuman itu, mungkin di sana ada pengumuman tentang pembagian kelas juga.”
Setelah melihat papan pengumuman, ternyata Rian juga masuk kelas X-6. Mereka berempat pun bergegas menuju kelas X-6 yang terletak di lantai 4. Sesampainya di sana, Rian melihat Alena duduk di samping Tika. Seketika itu juga, mood Rian berubah. Melihat perubahan mood Rian, Livia, Guntur, dan Adi menjadi bingung.
“Hei, Rian kenapa tuh?” Senggol Guntur pada Livia.
“Aku juga nggak tahu. Sudah lama juga aku nggak lihat ekspresi bahagia Rian. Sejak kedua orang tuanya menghilang, Rian selalu depresi, terkecuali saat Rian mendapatkan uang, senyumannya sedikit menakutkan saat itu.”
“Ah, betul juga. Saat menerima dana bantuan dari sekolah, senyum Rian sedikit creepy, seperti maniak.” Sambung Adi.
Tanpa mempedulikan tiga temannya yang secara terang-terangan menggosipkan Rian di depan mata kepala sendiri, Rian pun bergegas menghampiri Alena. “Hai”
Melihat yang menyapanya, “Oh, hai … kamu yang tadi sakit demam ya, bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan?”
“Terima kasih sebelumnya, tapi aku beneran nggak demam kok. Cuma–”
“Cuma Sakit Jiwa!” Potong Tika dengan ketus.
“Ehh, itu–”
“Tika, jangan begitu” Bela Alena.
Tiba-tiba saja, Livia menghampiri Tika dan mendorongnya.“Heh, apa maksudmu menyebut Rian sakit jiwa, HAAH!”
Tika yang terjatuh, balas mendorong Livia hingga jatuh. Mereka berdua pun saling adu jotos dan saling menarik rambut. Murid-murid lainnya pun langsung heboh dan berusaha melerai. Alena dan Rian masing-masing memegangi Tika dan Livia untuk menenangkan mereka berdua.
“Hei, ada apa ini kok ribut-ribut!” Seorang guru yang terlihat masih mudah masuk ke kelas. Melihat dua siswi sedang berkelahi di hari pertama sekolah, guru tersebut emosi. “Kalian berdua, ikut bapak ke ruang BK sekarang. Yang lainnya harap tenang dan tunggu bapak kembali!”
Dengan begitu, perkelahian antara Livia dan Tika berakhir. Mereka pun mengikuti Pak Guru menuju ruang BK yang ada di lantai 1.
......................
“Maaf ya atas kelakuan Tika. Tika sebenarnya tidak seperti ini. Entah kenapa sejak kakaknya menghilang, dia jadi selalu bad mood.” tunduk Alena.
“Menghilang?”
“Iya. Kakak Tika dulu adalah anggota tim Basket sekolah ini, bahkan dia masuk tim utama. Namun satu bulan yang lalu, kakaknya menghilang. Kakak Tika, Risky, diduga membunuh manajer, kapten, dan 2 anggota tim utama Basket Avernus. Sejak saat itu, Tika selalu dihina sebagai adik seorang pembunuh dan membuatnya menjadi sensitif.”
Menyadari alasan di balik sikap Tika, Rian, Guntur, dan Adi mulai sedikit bersimpati padanya. Namun, tetap saja hal itu tidak membuat mereka memaafkan perlakuannya pada Rian dan juga Livia. Setelah itu, mereka pun mulai berkenalan dan saling mengakrabkan diri. Rian pun berhasil menjelaskan pada Alena bahwa dia sedang ada masalah sehingga Rian bertingkah seperti itu pagi ini. Alena mencoba menanyakan apa masalah Rian, namun Rian hanya tersenyum diam tanpa sepatah kata pun. Guntur dan Adi yang baru tahu tentang kejadian pagi ini, hanya bisa tersenyum.
Adi dan Guntur adalah teman Rian sejak kelas 7 SMP, sehingga mereka tahu mengenai perubahan yang terjadi pada Rian sejak kedua Orang Tuanya menghilang. Rian yang awalnya adalah siswa paling cerdas, ceria dan mudah akrab dengan siapa pun, mendadak berubah menjadi pemurung, sering bergumam sendiri, bahkan kadang berteriak tidak jelas seakan sedang menyesali sesuatu. Dan ini diperparah dengan tidak fokusnya Rian dengan keadaan di sekitarnya saat sedang kumat.
Dari interaksi Rian dengan Alena, Rian berhasil bertukar nomor telepon dengan Alena. Namun sayang, Rian sudah tidak memiliki ponsel lagi. Hal ini membuatnya sedikit depresi.
Beberapa saat kemudian, Pak Guru muda dan tampan yang diketahui bernama Pak Arta, kembali ke kelas bersama Livia dan Tika. Pak Arta adalah Wali Kelas X-6 dan juga guru Bimbingan Konseling. Mereka berdua terlihat sudah saling berbaikan, namun jika teliti sedikit, terlihat ekspresi wajah Livia dan Tika seperti tidak natural, senyuman mereka terlihat palsu.
Setelah itu, Pak Arta mulai mengabsen satu persatu murid di kelas X-6, sekaligus menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Karena jadwalnya sedikit mepet akibat perkelahian Livia dan Tika, Pak Arta hanya memperbolehkan pengenalan diri secara singkat dengan maksimal 2 menit per orang. Jadwal selanjutnya setelah perkenalan adalah keliling SMA Avernus dan memperkenalkan fasilitas-fasilitas yang ada. Tidak ada perpeloncoan dalam SMA Avernus. Jadi, masa orientasi sekolah hanya dilaksanakan dalam satu hari dan keesokan harinya langsung dilanjutkan kegiatan belajar mengajar yang menandakan dimulainya semester 1.
......................
"Haaahh, lelahnya masa orientasi hari ini." Keluh Rian sambil berbaring di kasurnya.
'Bagaimana ini, aku harus cari uang dari mana lagi? Aku cuma punya waktu 3 Bulan sebelum rumah ini disita.' Memikirkan hal itu, Rian pun beranjak dari tempat tidurnya dan mulai membongkar isi rumahnya, berharap menemukan benda berharga peninggalan orang tuanya yang bisa dijual.
Tidak menemukan benda berharga lainnya, Rian mulai lelah dan duduk di kursi ruang kerja Ayahnya. Saat memandang langit-langit ruang kerja Ayahnya, Rian melihat sebuah kumpulan lubang yang membentuk pola. Rian termenung melihat lubang-lubang itu. Sosok Rian yang cerdas telah bangkit kembali dari tidurnya, bagaikan roda gerigi yang dipenuhi sarang laba-laba mulai kembali bekerja dengan cepat.
"Hmm, lubang-lubang ini jika dihubungkan… ahhh, aku tahu !" Rian pun berdiri dari kursi dan mulai bergumam. 'Atik, Menkib, Mirfak, lalu kemudian Algol. Ini rasi bintang Perseus. Tapi apa maksud dari simbol ini. Dalam rasi bintang Perseus, yang terkenal adalah Mirfak dan Algol. Mirfak merupakan bintang paling terang dan melambangkan Siku. Sedangkan Algol adalah mata ular yang melambangkan kepala Medusa.'
Rian mulai berpikir sambil berjalan mengelilingi ruang kerja. Saat Rian melihat lemari rak buku Ayahnya, ia melihat sebuah buku dengan simbol tongkat dengan dua ular yang membelit tongkat tersebut. 'Lambang kedokteran, ular… Tunggu!' kemudian Rian mengambil buku tersebut. Buku bersampul tebal tersebut ternyata bukanlah buku tentang kedokteran, melainkan buku mengenai mitologi dari salah satu dewa Yunani, Hermes.
Saat membaca buku tersebut, Rian merasakan ada sesuatu yang menonjol pada cover buku tersebut. Rian pun merobek cover buku tersebut dan menemukan sebuah kartu. Dalam kartu tersebut terpampang foto ayahnya dan data diri seperti layaknya Kartu Tanda Penduduk (KTP). Yang membedakan adalah di balik kartu tersebut, ada simbol tongkat dengan dua ular yang membelit tongkat tersebut. 'Apa ini yang Ayah coba katakan dalam simbol rasi bintang Perseus? Tapi ini saja tidak cukup, pasti ada makna tersembunyi lainnya. Ayo pikir… Pikir lagi Rian, Pikir!'
Rian memandangi sekeliling ruang kerja Ayahnya. Saat ia melihat lampu hias berbentuk persegi, mata Rian terbelak. 'Mirfak!'
Rian secara reflek menempelkan kartu tersebut pada bagian tengah lampu hias tersebut. Lampu hias tersebut berbentuk seperti bingkai lukisan dengan lampu yang berbentuk bingkai dan bagian tengah kosong.
Tiiit
Lampu hias tersebut mulai bergerak. Ternyata lampu hias tersebut merupakan pintu brankas yang ditanamkan dalam tembok. Dalam brankas tersebut, terdapat sebuah ponsel berwarna hitam dengan simbol unik dan sepucuk kertas. Rian kemudian membaca isi kertas tersebut. 'Jangan pernah nyalakan ponsel itu? Apa maksud isi pesan ini, tulisannya pun huruf kapital semua, yang artinya ini benar-benar penting. Dan aku yakin ini adalah tulisan tangan Ayahku.'
Rian memegang ponsel misterius itu. Saat melihat bagian belakang ponsel tersebut, samar-samar Rian melihat berbagai simbol aneh yang membentuk pola abstrak. Namun simbol tersebut tidak terlalu jelas, jika tidak melihat secara dekat, simbol-simbol tersebut tidak akan terlihat. Entah mengapa, saat Rian melihat simbol tersebut, dalam benak Rian muncul rasa penasaran yang kuat seakan memerintahkan Rian untuk menyalakan ponsel tersebut. Tidak kuat menahan rasa penasaran, Rian pun menyalakan ponsel tersebut.
Saat menyalakannya muncul simbol tongkat dengan dua ular yang melilitnya. 'Simbol ini lagi?'
Lalu pada layar ponsel tersebut, muncul proses pengunduhan sebuah aplikasi dan menginstalnya. Setelah proses instal selesai, tiba-tiba muncul sebuah layar transparan di depan Rian bertuliskan Sistem Uji Nyali. Layar tersebut benar-benar muncul di depan mata Rian, namun bukan pada layar ponsel, melainkan melayang di depan Rian.
Ding
[Proses pengikatan dan instalasi telah selesai. Selamat kepada Host telah menerima Sistem Uji Nyali]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
@Lala
Thor Rian nya sama Livia aja kan kasihan Livia suka sama Rian tapi Rian nya malah sama Alena
2022-12-18
1
@Kristin
semangat 💪☺️
2022-10-19
1
Shopia Asmodeus
lanjut thor 🙏💢
2022-10-08
1