"Teman - teman, dari cerita Bu Dhiani aku dapat beberapa ide konten TeckTock, bagaimana kalau kita bahas ini di rumahku?" tanya Rian. Setelah mendapatkan banyak misi, Rian sudah membuat road map dalam pikirannya.
"Kalau aku sih ok, yang lainnya gimana?" balas Guntur.
"Oke aja sih." jawab Adi.
Livia langsung bersemangat dengan hal ini. "Ayo … Sudah lama banget aku nggak ke rumahmu."
"Aku tergantung Alena, kalau Alena ikut aku juga ikut."
"Aku perlu bilang supirku dulu." jawab Alena.
Setelah itu mereka berenam keluar gerbang sekolah dan menuju ke sebuah mobil Rolls Royce Phantom. "Itu mobil mu?"
"Bukan, tapi yang sebelahnya." tunjuk Alena pada sebuah mobil berwarna hitam yang juga bermerek Rolls Royce. Berbeda dengan Rolls Royce Phantom yang ada di depannya, Rolls Royce Cullinan milik Alena berjenis SUV.
Mata Rian, Guntur, dan Adi berbinar - binar melihat mobil Alena.
"Kalau yang di depan mobilku, itu milik keluarga Bathory." lanjut Alena.
"Keluarga Bathory?"
"Kalau nggak salah namanya Elly Bathory. Dia anak satu - satunya Edward Bathory, seorang pengusaha asal Transylvania. Dia seharusnya sekarang kelas XII. Ngomong - ngomong tentang Elly, itu dia orangnya." Tunjuk Alena pada seorang gadis kecil berambut pirang dengan model twin tail. Gadis kecil tersebut mengenakan seragam SMA Avernus dan ada lencana bertuliskan XII yang menandakan ia siswi kelas XII.
Menyadari tatapan Alena, Elly langsung menyapanya dengan sopan dan etiket. "Sore Alena, bagaimana kabarmu?"
Alena pun membalaskan dengan sopan. "Sore Elly. Aku baik - baik saja, bagaimana kabarmu? Aku dengar Paman Edward akan mengakuisisi perusahaan minyak di Malaysia ya?"
Mereka pun saling berbincang selama lebih dari 10 menit sebelum akhirnya Walter, pelayan Elly mengingatkan bahwa waktu makan malam sudah dekat. Elly pun ingat bahwa hari ini ia ada janji makan malam dengan Ayah dan Ibunya.
Setelah Elly pergi, Alena mengajak teman - temannya untuk naik mobilnya ke Rumah Rian.
"Hei, apakah gadis sekecil itu benar - benar anak SMA?" celetuk Adi dalam mobil.
"Beneran, umurnya juga sudah hampir 18 tahun kok. Tapi jangan pernah singgung masalah tinggi badan di depannya ya! Dia sangat sensitif masalah itu. Orang terakhir yang menyinggung masalah tinggi badannya ditemukan mengambang di sungai." Adi langsung menutup mulutnya mendengar peringatan Alena. Seisi mobil pun tertawa melihat tingkah Adi.
Tak sampai 10 menit, mereka sampai di rumah Rian. Rumah Rian tidaklah besar, hanya seluas 100 meter persegi saja. Halaman depan Rumah Rian tampak tak terawat. Banyak daun kering dan semak belukar tumbuh. Seperti rumah yang lama tak berpenghuni.
"Ini yakin rumahmu Rian? Kita nggak salah tempat kan?" tanya Tika penuh curiga.
"Iya Rian, perasaan dulu rumahmu nggak kayak gini deh." Livia sendiri bingung dengan pemandangan di depannya.
Rian menggaruk - garuk kepalanya malu akibat pemandangan ini. "Maaf ya teman - teman, sejak tahun lalu halaman rumahku nggak pernah aku bersihkan, hehehe…"
Tika pun tak menyiakan kesempatan untuk menghina Rian. "Aku nggak nyangka ada orang yang bisa tinggal di rumah angker seperti ini. Mungkin hanya orang stres yang sanggup tinggal."
Mereka berenam akhirnya masuk ke dalam rumah. Kondisi di dalam rumah jauh lebih baik daripada kondisi di luar. Rian setiap hari selalu membersihkan isi rumah. Tapi ini tidak menutupi betapa kosongnya rumah Rian. Tidak ada sofa, meja, dan Tv di ruang keluarga. Di dapur hanya terlihat kulkas, kompor dan Rice Cooker.
"Selamat datang di rumahku! Silahkan anggap saja rumah sendiri. Aku akan menyiapkan cemilan dulu. Duduk saja di karpet itu." tunjuk Rian pada sebuah karpet coklat.
Setelah mereka duduk, Alena yang penasaran dengan kondisi rumah bertanya pada Livia. “Liv, apa memang rumah Rian dari dulu sekosong ini?”
Livia mulai mengingat - ingat memori masa lalunya. Ia dulu sering bermain ke Rumah Rian, begitu juga sebaliknya. Rian juga sering bermain ke rumah Livia. Sampai kejadian satu tahun yang lalu terjadi. “Dulu banyak kok furniture di sini. Tapi mungkin Rian sudah menjualnya untuk biaya hidup.”
“Biaya hidup? Memang kemana orang tuanya? Apakah mereka nggak memberi Rian uang?” Alena melirik ke arah foto keluarga di dinding.
Livia juga ikut melihat foto keluarga Rian. Tampak Livia juga rindu dengan Orang Tua Rian. “Setahun yang lalu, orang tua Rian tiba - tiba menghilang. Tidak ada jejak ataupun pesan tentang mengapa orang tua Rian menghilang. Apalagi, Orang tua Rian juga masih memiliki hutang, termasuk cicilan rumah ini.”
“Jadi begitu ya. Pantas saja Rian terlihat rapuh saat pertama kali bertemu. Ternyata Rian menanggung beban seberat itu di usianya yang masih muda.”
Guntur, Adi, dan Tika hanya diam mendengar percakapan Livia dan Alena. Memang hal ini bukanlah rahasia, semua teman SMP Rian mengetahui hal ini. Karena Rian adalah pribadi yang baik, tidak ada yang mengolok - olok Rian. Jika ada, Livia dan teman - teman sekelas Rian akan maju.
Tika yang baru mengerti akar permasalahannya merasa malu. Bagaimana tidak, ia dalam setiap kesempatan selalu ingin mengolok - olok Rian. Kini ia tahu, bahwa ia dan Rian memiliki satu kesamaan, yaitu orang yang mereka sayangi menghilang. Tapi beban Rian lebih berat darinya yang masih memiliki Orang Tua lengkap.
Terdiam sejenak, Alena melanjutkan ucapannya dengan berapi - api. “Keputusanku dari awal memang benar! Aku nggak akan meninggalkan Rian dan selalu ada disisinya. Setidaknya aku bisa ikut menanggung beban yang ada di punggungnya!”
“Wow, apakah ini termasuk pernyataan cinta?” canda Guntur.
“Damn, dulu Livia, sekarang Alena. Anjir banget Rian, Arghhhh. Ya Tuhan, ampunilah dosa - dosa Hamba-Mu yang jomblo ini. Hamba-Mu janji nggak akan nonton kode - kode lucknut itu lagi! Bakal saya hapus koleksi Hamba di harddisk!”
“Anjir, emang kamu punya berapa Giga?” tanya Guntur pada Adi,
“Cuma dikit kok, 10 Terra aja. Jaminan 4K semua, mau?”
Buuk Buuk
“”Aduh!””
“Jangan membicarakan hal jorok di depan cewek!” Omel Livia setelah memukul kepala Guntur dan Adi. Wajah Tika memerah mendengarnya, sedangkan Alena bingung dan penasaran dengan maksud pembicaraan mereka.
“Hei, kalian bicara apa kok seru sekali?” Rian datang dengan nampan berisi sirup dingin dan beberapa cemilan.
Belum sempat Guntur dan Adi menjelaskan, Livia langsung memotong mereka. ”Nggak apa - apa kok Rian, ahahaha … Ahahaha …” Tangan Livia mencekik tengkuk Guntur dan Adi agar tidak berbicara lebih lanjut.
Setelah itu, rapat pertama tim Pemburu Hantu di mulai. Rian mulai menjelaskan Road Map yang telah ia pikirkan. Beberapa jam berlalu dan waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. “kalian sudah ingat jobdesk masing - masing kan?” Mereka mengangguk pada Rian sebagai konfirmasi mereka.
Sambil memegang gelasnya, Rian memberi semangat pada tim. “Oke, Sabtu besok akan menjadi awal tim kita Live Broadcast TeckTock. Semoga Live kita berhasil dan sukses. Cheers~”
“Cheers~”
......................
Karena sudah malam, Alena menawarkan diri untuk mengantar mereka dengan mobilnya. Namun ketika Alena akan pergi, Rian tiba - tiba menarik tangan Alena. “Alena, bisa ngomong sebentar?”
“Oke.”
“Jum’at malam kamu nganggur nggak?”
“Nganggur sih, ada apa?”
“Aku ingin mengajakmu nonton di Tunjungan Plaza, bagaimana?”
“Oke - oke aja, tapi aku ijin Ayahku dulu ya… Nanti aku Chat hasilnya bagaimana.”
“Oke!” Jawab Rian dengan semangat. Tanpa sepengetahuan Livia dan lainnya, Rian mengajak Alena berkencan.
Setelah mereka semua pulang, Rian mulai mengemasi barangnya dan pergi meninggalkan rumahnya. “Saatnya menjalankan misi Kamar No.4”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
DINA OCTAVIA
kasian livia , jgn sia"kan perasaan livia
2022-10-27
0
Adico
Kenapa cuma melihat mobil Alena ☹☹☹
2022-09-27
1