“Kenapa hari ini kamu terus menerus merepotkan Bapak? Haah~ ,,,” Pak Arta hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi Rian yang sedang ditahan di kantor petugas keamanan Rumah Sakit Avernus.
“Maafkan saya Pak, Maafkan saya Pak, Maafkan saya Pak …” ucap Rian sambil terus menunduk - nunduk. Rian tidak punya pilihan lagi selain menghubungi Pak Arta. Rian hidup sebatang kara sejak kedua orang tuanya menghilang. Otomatis Rian tidak memiliki orang dewasa yang dapat menjadi tempatnya bergantung. Saat masuk SMA pun, Wali Kelasnya lah yang membantu Rian dalam mengurus proses administrasinya.
“Dan juga, kenapa ada banyak garam di tubuhmu ?” Pak Arta memandang Rian dengan tatapan aneh. Dari ujung rambut sampai kaki Rian, penuh dengan garam.
“Emmm, ini …” Rian pun sedikit mengingat - ingat apa yang terjadi dua jam sebelumnya.
Setelah Keempat petugas keamanan membawa Rian ke kantornya, Hantu Dokter masih berusaha memakan jiwa Rian. Rian kemudian ingat acara Tv Pemburu Hantu dulu menggunakan garam untuk mengusir makhluk gaib. Berbekal hipotesis bahwa Hantu tidak menyukai garam, Rian merengek - rengek kepada petugas keamanan untuk membawakannya garam. Ia pun memohon - mohon di kaki salah satu petugas keamanan sampai celananya melorot dan memperlihatkan boxer bergambar Hello Kitty. Dikarenakan umur Rian yang masih minor, petugas keamanan tersebut tidak berani memukul Rian, walau dia sebenarnya dendam karena dipermalukan Rian. Petugas Hello Kitty tersebut akhirnya menyerah dan menuruti permintaan Rian. Begitu ia mendapatkan satu toples garam, langsung saja satu toples tersebut Rian tabur pada seluruh tubuhnya. Keempat petugas keamanan itu pun sampai menganggap Rian gila.
“Bapak - bapak sekalian, mohon maaf bisa beri kami kesempatan untuk berbicara secara privat?" tanya Pak Arta pada keempat Petugas Keamanan. Mereka pun setuju dan menunggu di luar ruangan.
"Oke, sekarang kamu tidak perlu berlagak bodoh di depan Bapak."
"Sepertinya aku nggak bisa berpura - pura di depan Bapak." balas Rian dengan serius.
"Saat Bapak pertama kali melihatmu di sini, Bapak sadar ada yang berubah pada dirimu. Tatapan matamu lebih fokus dan jelas, tidak seperti biasanya. Dulu kamu selalu tidak fokus akan segala hal. Kamu seakan masih belum bangun dan masih berada dalam dunia mimpi. Sekarang ceritakan pada Bapak, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apa Bapak percaya dengan Hantu?"
Rian kemudian mulai menceritakan bahwa ia tiba - tiba bisa melihat hantu setelah bangun. Ia juga menceritakan tentang Hantu Dokter yang berusaha memakan jiwanya. Tentu saja Rian merahasiakan keberadaan sistem.
Sambil bercerita, beberapa kali Rian melirik ke belakang Pak Arta. Terlihat dari jendela kaca, Hantu Dokter itu masih menunggu di depan ruang kantor petugas keamanan.
"Apa Hantu Dokter itu ada di belakang Bapak?"
"Iya, dia masih menunggu di depan ruangan."
"Apa kamu yakin garam bisa melindungi mu?"
"Aku belum tahu pak, semua ini masih sebatas hipotesis. Tapi jika hipotesis ku salah, aku masih punya hipotesis lainnya."
"Hahahaha … kamu benar - benar anak yang menarik. Walau dalam keadaan genting, kamu masih berpikir jernih dan memikirkan strategi. Mungkin, inilah dirimu yang asli sebelum Orang Tua mu menghilang."
"Jadi, Bapak percaya ceritaku?"
"Tentu saja Bapak percaya. Meski Bapak belum sepenuhnya yakin tentang adanya entitas yang bernama Hantu, tapi aku sangat yakin dengan adanya Kemampuan Khusus. Apakah ketika kamu melihat Hantu, kamu merasa semakin tua?"
"Maksudnya Pak?"
"Pertukaran sepadan, atau para pemilik kekuatan khusus menyebutnya Cost. Jika orang berkemampuan khusus menggunakan kekuatannya, ia harus menukarnya dengan umurnya sendiri. Semakin sering menggunakan kekuatannya, semakin cepat dia menua. Dan juga semakin cepat dia mati."
Rian terkejut mendengar penjelasan Pak Arta. "Ini artinya ada banyak pemilik kekuatan khusus di luar sana? Bagaimana Bapak tahu semua ini? Aku saja nggak pernah dengar mengenai orang - orang yang berkemampuan khusus dan mengira semua itu hanya ada di film - film saja. Bahkan Bapak sampai tahu fakta mengerikan tentang kekuatan khusus!"
"Bapak tahu karena keluarga Bapak sedikit spesial …" Pak Arta terdiam tidak melanjutkan ucapannya. Ia terlihat tidak ingin membahas keluarganya. Kemudian Pak Arta keluar dan terlihat berbicara dengan keempat petugas keamanan.
"Sistem, apakah Mata Batin juga memerlukan cost dalam penggunaannya?"
[Jangan khawatir Host, Kemampuan Khusus berjenis Pasif tidak memerlukan Cost]
Rian bernafas lega mendengar penjelasan sistem. Bagaimana tidak, dengan sifat Mata Batin yang selalu aktif, maka Rian akan cepat menua dan mati jika benar - benar memerlukan Cost.
Beberapa saat kemudian, Pak Arta masuk dan bersama keempat petugas keamanan.
"Sekarang kamu boleh kembali pulang. Ingat, jangan berbuat keributan lagi di Rumah Sakit." ucap petugas Hello Kitty.
"Tapi saya masih harus menginap di sini Pak, saya kan pasien Rumah Sakit ini."
""Kenapa kamu nggak bilang dari tadi!!!"" teriak keempat petugas keamanan tersebut. Rian masih menggunakan seragam sekolahnya, wajar saja petugas keamanan tidak tahu kalau ia pasien disini.
“Lho, emang kenapa kalau aku pasien?” tanya rian kebingungan.
Pak Arta menepuk jidatnya mendengar pertanyaan Rian. “Bapak tidak tahu kamu ini cerdas atau bodoh. Sepertinya kamu lemah terhadap hal - hal sepele dan seputar kehidupan sosial. Kalau kamu memberitahu para petugas keamanan di sini bahwa kamu pasien, kamu tidak akan ditahan di sini. Kamu akan dikembalikan ke kamarmu dan paling jelek kamu bakal mendengar omelan dari Kepala Suster di sini. Bahkan Bapak sendiri tidak perlu kesini!” jelas dengan nada kesal.
Pada akhirnya, petugas Hello Kitty mengantar Rian ke kamar 404. Saat baru keluar dari ruang kantor petugas keamanan, Hantu Dokter tersebut langsung menyerang. Saat Lidahnya mengenai bahu Rian, terjadi percikan listrik yang mengagetkan orang - orang di sampingnya. Beberapa lampu sampai mati karena efeknya. Rian tetap bersikap tenang, walau aslinya detak jantungnya berdebar dengan kencang. Apa yang dilakukan Rian adalah pertaruhan. Jika hipotesisnya benar, maka Rian menang, Lalu bagaimana jika salah ? Rian sudah menyiapkan langkah selanjutnya, yaitu lari menuju Mushola Rumah Sakit. Ini juga salah satu hipotesis berdasarkan misi tantangan cermin.
Melihat percikan dari bahu Rian, Pak Arta bergumam, ‘Jadi hantu itu benar - benar ada, hmm … Ini menarik sekali. Sepertinya hari - hariku tidak akan membosankan lagi …’ sambil menahan tawa penuh gairah..
......................
“Kayaknya rumah ini kosong, Hah ... Hah ….” ucap Risky yang kelelahan. Sudah satu bulan Risky jadi buronan Polisi atas pembunuhan yang tidak ia lakukan. Ia sekarang tampak lebih kurus dibanding satu bulan yang lalu. Entah ini takdir atau suatu kebetulan, sekarang Risky berada di rumah Rian yang saat itu sedang di Rumah Sakit.
Kondisi rumah gelap gulita. Dengan hati - hati, Risky membobol jendela rumah Rian. Ia pun memeriksa isi rumah untuk memastikan ada tidaknya penghuni rumah. Saat Risky membuka pintu kamar mandi, ia melihat sebuah pintu merah darah menempel di atas wastafel. Pintu merah tersebut terbuka perlahan. Jari - jemari dengan kuku yang panjang terlihat dari balik pintu. Sosok hitam berambut acak - acakan dengan wajah rusak dan mata kanannya yang menonjol keluar perlahan keluar dari balik pintu.
Melihat makhluk menyeramkan itu, Risky jatuh terduduk ketakutan. Celana Risky pun mulai basah dan mengeluarkan bau tidak sedap. “Ja-ja-jangan makan aku, rasaku tidak enak, aku mohon~ …”
Sosok tersebut hanya menyeringai mendengar permohonan Risky. Wajahnya yang rusak penuh darah membuat tubuh Risky kaku. Mendadak, sosok tersebut menyambar Risky dan masuk ke tubuhnya.
“ARGHHHH” teriak Risky kesakitan. Tubuh Risky kejang - kejang. Ia berusaha mengendalikan tubuhnya, namun mulutnya bergerak sendiri. “Terimalah aku! Jangan tolak kesadaranku! Lalu aku akan membalaskan dendammu. Bagaimana ?”
“A-apa ... kau ... serius?”
“Hahahaha … Tentu saja aku serius. Biarkan aku mengendalikan tubuhmu, kamu bisa menontonku membalaskan dendammu dari dalam.”
“Aku terima tawaranmu. Apa pun akan ku lakukan demi membalas orang yang menjebakku! Bahkan jika harus menjual jiwaku pada Iblis!”
“Hahahahahaha… Jawaban yang bagus. Namun aku bukanlah Iblis, melainkan Setan, Hahahahahaha… Sekarang, kontrak telah terjalin. Mundur dan tonton lah dari belakang layar.” Seketika itu, mereka pun bertukar kesadaran.
“Berdasarkan kontrak, aku harus membunuh Yohan dan para Polisi yang mengejar Kontraktorku. Lalu setelahnya, aku bisa memberi pelajaran hidup tak terlupakan pada orang itu. Tunggu aku, Rian Morfran!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Elok Fauziah
HAH apa bedanya??
2024-05-11
0
Elok Fauziah
Hahaha, tengah serius malah ngakak
2024-05-11
0
Adico
jangan begitu pak arta kasihan Rian😩😩😩
2022-09-26
3