"Apa kalian yakin tidak ikut Bapak kembali ke sekolah?" Tanya guru muda berkacamata tersebut.
"Nggak pak, saya mau menjaga Rian di sini." jawab Livia dengan ekspresi serius. Terlihat masih ada bekas air mata di wajahnya.
"Saya juga mau ikutan jaga di sini, boleh ya om?" pinta Alena dengan manja.
"Om??"
"Aku belum cerita ya kalau Pak Arta adalah paman kandungku?"
"Apa!?"
"Ehm… Alena, tolong jangan sembarangan cerita kalau kita masih bersaudara. Nanti bisa timbul gosip tak sedap di kalangan murid-murid Avernus. Dan jangan panggil aku om selama di lingkungan sekolah. Livia juga begitu, tolong rahasiakan hal ini."
"Oke om~"
"Siap Pak, mulut saya tertutup rapat."
"Kalau begitu Bapak kembali ke sekolah dulu. Bapak akan buatkan surat izin tidak masuk sekolah untuk kalian. Kabari Bapak jika Rian sudah bangun." Dengan begitu, Pak Arta meninggalkan Livia dan Alena di Kamar 404 Rumah Sakit Universitas Avernus. Dalam kamar 404, sekarang hanya ada Livia, Alena, dan Rian yang masih terbaring belum sadarkan diri. Suasana menjadi sedikit canggung.
Menurut Dokter yang menangani Rian, tidak ada keanehan dalam tubuh Rian. Dokter men-diagnosa bahwa Rian hanya kelelahan. Untuk mata Rian yang mengeluarkan darah, Dokter masih belum mengetahui penyebabnya. Karena berdasarkan pemeriksaan, seharusnya mata Rian baik - baik saja. Maka dari itu Dokter berencana akan melakukan tes mata lagi setelah Rian sadar.
Untuk memecah kecanggungan, Alena berinisiatif untuk berbicara. "Umm, Livia … Aku boleh tanya sesuatu nggak?"
"Apa?" Jawab Livia dengan ketus. Ia sedang tidak mood untuk mengobrol karena masih mengkhawatirkan kondisi Rian. Selain itu ia juga masih tidak melupakan interaksi Alena dengan Rian tadi.
"Mmm, apakah kamu berpacaran dengan Rian?"
"Ke-kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?"
"Karena aku melihat kamu dekat sekali dengan Rian. Mulai dari membela Rian atas perkataan Tika, sampai menangis ketika Rian kesakitan. Jadi kalau kalian memang berpacaran, itu bukanlah hal yang aneh."
Mendengar penjelasan Alena, Livia menjadi sedikit depresi. "Sayangnya kami nggak berpacaran."
"Tapi kamu mencintainya kan?"
"Aku sangat mencintainya, tapi Rian hanya menganggapku sebagai teman masa kecil dan sahabat dekatnya saja. Aku ingin sekali menyatakan perasaanku pada Rian, namun aku takut Rian menolakku. Aku nggak mau hubunganku dengannya jadi canggung. Aku nggak mau dia menjauhiku. Maka dari itu aku hanya bisa memendam perasaanku dan terus berusaha membuat Rian agar jatuh cinta padaku." jelas Livia sambil memandangi wajah Rian yang masih belum sadarkan diri.
Mendengar perasaan Livia, Alena yang berada di sisi kanan tempat tidur Rian berjalan menghampiri Livia yang berada di seberangnya. Kemudian ia menggenggam kedua tangan Livia. "Kalau begitu aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati." ucap Alena sambil tersenyum.
Livia tercengang melihat senyum manis Alena. Seandainya Livia itu cowok, pasti ia akan jatuh cinta pada pandangan pertama. 'Pantas saja Rian tergoda olehnya, senyumannya saja bikin aku yang cewek tulen meleleh.'
"Ta-tapi bukannya kamu juga menyukai Rian?"
"Sepertinya kamu salah paham. Aku nggak ada perasaan romantis kok pada Rian. Apalagi aku baru mengenalnya kemarin, nggak mungkin aku bisa jatuh cinta sama cowok yang baru aku kenal selama dua hari. Memang sih Rian tampan, tapi nggak setampan Ayahku, hehehehe"
"Kalau begitu, kenapa kamu terlihat sangat dekat dengan Rian walau baru kenal?"
"Mungkiiinnn … Karena simpati?" jawab Alena sambil meletakkan jarinya pada ujung bibir.
"Kok kayak nggak yakin gitu?"
Kemudian Alena mulai menceritakan kisah Ayahnya. Dua tahun yang lalu, Ibu Alena menjadi korban tabrak lari. Ibu Alena meninggal saat dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Saat itu, Ayah Alena sedang berada di Denpasar Bali untuk menghadiri Konferensi Internasional Dokter Ahli Jiwa.
Menyesal karena tidak bisa menemani Istrinya hingga nafas terakhir, Ayah Alena menjadi depresi. Ia pun berusaha keras menemukan pelaku tabrak lari Istrinya. Dan ternyata pelakunya adalah salah satu anak pejabat.
Ayah Alena menuntut anak pejabat tersebut. Selama proses peradilan berjalan, Ayah Alena sudah sering mendapat ancaman, bahkan Ayah Alena pernah sampai dikeroyok oleh orang-orang tak dikenal.
CCTV yang ada di lokasi tabrak lari dinyatakan rusak, sehingga tidak ada bukti kuat untuk menjeratnya. Terlebih lagi, kondisi jalan cukup gelap sehingga para saksi tidak melihat dengan jelas mobil yang menabrak istrinya. Akhirnya pelaku lolos karena kurangnya bukti.
Kondisi Ayah Alena hari demi hari semakin memburuk sejak kekalahannya di pengadilan. Ayah Alena lebih sering murung, menyendiri, dan bergumam tidak jelas. Terkadang Ayah Alena juga berteriak seakan menyesali apa yang telah diperbuat. Rumah sakit tempatnya bekerja pun memberikan Ayah Alena libur untuk memulihkan kondisi mentalnya.
Alena yang saat itu masih berusia 13 tahun tidak tega melihat kondisi Ayahnya. Ia pun mengajak Ayahnya ke berbagai tempat wisata dengan harapan Ayahnya bisa melupakan kesedihannya atas sepeninggalan Ibu Alena. Namun hal tersebut sia - sia. Sampai akhirnya satu tahun yang lalu, kondisi Ayah Alena secara ajaib mulai membaik. Alena pun senang dengan kondisi Ayahnya yang mulai membaik. Saat ini, Ayah Alena sudah benar - benar sembuh dan sudah bekerja di Rumah Sakit miliknya sendiri.
"Tunggu tunggu tunggu … Keluargamu punya rumah sakit sendiri? potong Livia.
"Iya, baru enam bulan yang lalu kok diresmikannya. Kalau nggak salah namanya Rumah Sakit Jiwa Hati Sehat."
Livia pun terkejut mendengar penjelasan Alena. "Wow, hhorang kaya … beneran nggak nyangka lho …" Kemudian Livia teringat sesuatu ketika mendengar nama Rumah Sakit tersebut. "Sebentar, kalau nggak salah Rumah Sakit Hati Sehat itu nama Rumah Sakit yang nyembuhin Riyana kan?"
"Riyana siapa?"
"Itu tuh, penyiar radio terkenal yang biasanya berpasangan sama Ardi. Masak kamu nggak pernah denger?"
"Mohon maaf aku nggak pernah dengerin siaran radio lokal, biasanya aku dengerin Apple Music. Aku sudah langganan Setahun soalnya."
"Ughh." Jantung Livia serasa ditusuk sebilah pisau. Walau biaya bulanan berlangganan Apple Music tidak mahal, namun bagi Livia yang hanya hidup berdua dengan sang nenek, ia tidak bisa sembarangan dalam menghamburkan uang.
"Oke-oke, mari kita kembali ke pembicaraan awal. Jadi kamu merasa kondisi Rian saat ini mirip dengan kondisi Ayahmu dulu ketika Ibumu meninggal, makanya kamu bersimpati padanya?"
"Iya. Aku merasakan hal itu ketika kemarin, Rian tiba-tiba berteriak dan bergumam tidak jelas di depan gerbang sekolah. Awalnya aku mengira Rian terkena demam dan mengigau. Namun saat aku mengeceknya, suhu tubuh Rian normal."
"Tunggu, bagaimana cara kamu mengecek suhu tubuh Rian? Kamu bawa Thermometer?"
"Aku menempelkan dahiku ke dahi Rian untuk mengecek suhunya. Ayahku biasa lakukan hal ini dulu ketika aku demam."
'Sial ...' Livia sangat ingin mengumpat dan memukul Livia ketika membayangkan adegan tersebut. Namun ia hanya bisa mengumpat dalam hati melihat kepolosan Alena. Livia pun berusaha melupakan hal ini dan melanjutkan percakapan. "Ayo lanjut lanjut lanjut lanjut …"
"Oke … Jadi setelah mengetahui bahwa Rian nggak demam, aku merasakan gejala depresi yang mirip dengan Ayahku. Aku pun mencoba memastikan kembali apakah Rian sakit atau nggak saat di kelas. Dan dari situ aku yakin kondisi mental Rian sedang bermasalah. Aku nggak tahu masalah apa yang membebani Rian, namun aku nggak ingin Rian jadi seperti Ayahku. Aku merasa gejala depresi yang dialami Rian masihlah tahap awal. Sehingga aku ingin sekali menghiburnya dan mencegahnya untuk jatuh lebih dalam lagi. Namun, semua itu berubah ketika aku menonton video Rian di TeckTock. Aku melihat Rian begitu berusaha keras menyelesaikan tantangan walau dengan berbagai gangguan gaib dan kondisinya yang melemah. Melihat Rian seperti itu, seperti aku melihat Ayahku yang berusaha mati-matian menjerat pelaku tabrak lari Ibuku." Alena terdiam sejenak seakan sedang merangkai kata - kata yang akan diucapkan selanjutnya.
"Dari situ … Aku tersadar … Aku nggak mau Rian kenapa-kenapa. Aku merasa aku harus melindungi Rian dari hal-hal yang membahayakannya. Itulah yang aku rasakan. Maka dari itu aku menawarkan diri untuk ikut Rian dalam membuat konten TeckTock. Agar aku bisa mengawasi dan menjaganya." lanjut Alena sambil memandang wajah Rian dengan lembut seolah sedang melihat orang yang dia sayangi.
"Grrrrrr …" Untuk kedua kalinya, Livia ingin sekali mengumpat dan memukul wajah polos Livia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
𝙍𝙮𝙪𝙪 𝘼𝙯𝙖𝙩𝙝𝙤𝙩𝙝
Hey kalian lupa?Livia... Dia... Short Hair
2023-01-03
2
Adico
livia 😏😏😏
2022-09-26
2
Rizky Herlambang
ihhh, Livia kok cute banget😍
jadi pengen aku bungkus😊
2022-09-13
2