Pagi ini, dengan berat Yongju terpaksa membuka matanya karena sang manajer yang sudah datang ke apartemennya dan memaksanya bangun. Padahal rasa mabuk kemarin malam masih membuat kepalanya terasa teramat berat. Laki-laki berkulit putih itu mencoba duduk dengan bersandar di sandaran tempat tidurnya. Ia tampak *******-***** kepalanya dan menarik-narik rambutnya sendiri, tapi hal itu tak kunjung meredakan nyeri di kepalanya. "Ini!" ujar sang manajer seraya menyerahkan obat pereda pengar dan segelas air putih padanya, tapi Yongju tidak menyambutnya. "Kenapa lagi kau semabuk ini tadi malam? Apa kau ingin mati, hah?" kata sang manajer yang tampak kesal dengan ulah artisnya itu.
Yongju yang mendengarnya, berhenti memijat kepalanya dan malah berujar dengan pelan, "Aku malah berharap aku sudah mati," lalu menghela nafas berat dan mulai tampak melamun. Sang manajer pun menatapnya dengan tatapan tidak percaya, tapi sesaat kemudian manajer itu tertawa, "kalau begitu, biar aku saja yang membunuhmu agar kau berhenti menyulitkanku!" Keheningan mencekam terjadi sesaat setelah Yongju menyahut dengan tatapan kosong, "iya, bunuh saja aku sekarang..." Manajer itu terdiam, seraya memperhatikan Yongju yang pagi ini tampak sangat berbeda menurutnya.
Manajer itu sudah hafal betul polah tingkah Yongju yang dikenal swag dan savage itu. Bahkan ia tahu kalau Yongju tidak pernah peduli dengan apa pun dan siapa pun di dunia ini bila dia tidak menginginkannya. "Ada apa dengannya? Apa dia benar-benar ingin mati? Kenapa tatapannya kosong seperti itu? Apa akhirnya dia juga depresi gara-gara haters, seperti idol-idol yang lain?" tanya sang manajer dalam hati saat melihat artisnya yang seperti kehilangan semangat hidupnya. Berkali-kali, manajer itu melambai-lambaikan tangannya di depan mata Yongju, tapi artisnya itu tidak merespon sama sekali, selain matanya yang berkedip dan tentu saja itu membuatnya mulai khawatir.
"Hei, jangan konyol! Walaupun dunia ini keras, tapi kita hidup untuk memahaminya. Kau tidak boleh menyerah seperti ini. Yakinlah, suatu hari nanti mereka akan berhenti dengan sendirinya," kata manajer itu seraya menggoyang-goyang bahu Yongju. "Tapi, kenapa dunia ini tidak pernah mencoba memahami aku? Tidak! Setengah pun tidak," sahutnya terdengar lirih tanpa menoleh sedikit pun pada manajernya itu dan malah semakin menundukkan kepalanya yang terasa berat. Jika sang manajer semakin khawatir dengan kondisi Yongju, lain halnya dengan Yongju yang kembali merebahkan dirinya sambil mengingat hal menyakitkan yang kemarin terjadi setelah ia pulang dari agensi.
***
Kemarin, setelah aku pulang bersama supirku yang menjemputku di area parkir kantor agensi, Yongju yang menemaniku, kembali ke dalam. Kami meninggalkan Junghwa yang masih bersembunyi di balik tiang bangunan karena memperhatikan kami sedari tadi. Drrt.... Drrt... Drrt... Ponsel Junghwa bergetar di dalam saku jaketnya. "Aku dan appa sudah sampai. Apa sekarang, kau bisa menjemput kami di bandara?" ucap seseorang lewat ponsel itu. "Baiklah," jawab Junghwa tidak semangat sambil melangkahkan kakinya.
"Apa setelah ini, kau juga bisa mengantar kami ke sana? Kau tahu sendiri, bukan, aku tidak punya banyak waktu di sini," kata orang itu lagi. "Iya, aku tahu, tapi asal hyung tahu, sekarang bukan hanya hyung saja yang sibuk!" sahut Junghwa kesal. Seseorang tertawa di sana mendengar perkataan Junghwa itu. "Kalau begitu, pulang sajalah dan kembali menjadi pangeran kecil eomma-mu," sahut seseorang lagi yang semakin membuat Junghwa kesal sampai mematikan sambungan teleponnya.
***
Setelah menyelesaikan pekerjaannya hari itu, Yongju berniat mengunjungi makam eomma-nya, setelah beberapa hari ini ia merasa rindu pada sang ibu, tapi sesampainya di sana, ia melihat pemandangan yang menurutnya aneh. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yongju pada Junghwa yang tengah berdiri di depan kotak abu eomma Yongju seraya melepaskan masker yang ia kenakan. "Dan siapa kalian?" lanjutnya seraya menatap dua pria yang berdiri bersama Junghwa. Ia memperhatikan kedua pria asing itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari wajah mereka, ia yakin tidak mengenal mereka sama sekali dan dari penampilan mereka, ia pula yakin, mereka bukan orang biasa. Keningnya mengerut saat melihat ketiga pria di depannya itu saling melempar pandang satu sama lain, seperti sama bingungnya dengan dirinya. "Siapa kalian?" ulangnya lagi.
"Hyung..." ucap Junghwa memberanikan diri melangkah maju mendekati Yongju, tapi langkah Junghwa terhenti saat Jeon Sungjin, pria paruh baya di sampingnya bertanya dengan ragu, "Junghwa, apakah dia..." Junghwa menoleh pada pria paruh baya yang masih tampak tampan dan gagah itu, kemudian mengangguk sambil berkata, "iya, appa. Dia orang yang aku maksud, Min Yongju." Mendengar perkataan Junghwa, anak bungsunya, kini Tuan Jeon lah yang melangkah maju mendekati Yongju yang tampak semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. "Jadi, kau Yongju?" tanya Tuan Jeon di sela-sela langkahnya.
"Benar, saya Min Yongju, tapi maaf jika saya lancang, tapi saya tidak mengenali Anda atau mungkin Anda mengenal almarhum eomma saya?" ucap Yongju dengan formal pada pria yang baru pertama kali ia temui itu. Tuan Jeon tidak menjawab dan tetap melangkah mendekati Yongju. "Siapa Anda? Apa yang Anda lakukan di makam eomma saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Yongju lagi, masih mencoba bersikap sopan. "Apa dia benar eomma-mu? Apa kau benar putra Min Mirae?" tanya Tuan Jeon setelah ia sampai tepat di hadapan Yongju. Tuan Jeon memandang lekat wajah Yongju, seolah-olah tidak ingin melewatkan apa pun dari wajah tampan itu. "Iya, dia eomma saya. Apa anda mengenal..." jawab Yongju terhenti.
Deg! Yongju terdiam saat melihat air mata yang keluar dari mata pria asing di hadapannya itu, setelah mendengar jawaban darinya. "Kau benar, Junghwa. Dia benar-benar mirip dengan appa," kata Tuan Jeon tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Yongju. Begitu pula, dua orang di belakangnya yang turut memandangi Yongju. "Hei, Junghwa, apa kau bisa menjelaskan semua ini?" tanya Yongju tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya karena mendadak merasa risih dengan tatapan ketiga pria asing di depannya itu. Sesaat Junghwa menatap pria tampan yang masih berdiri di sampingnya, seperti meminta izin pada pria itu dan seperti mengerti dengan apa yang Junghwa maksud, orang tersebut memilih menghampiri Yongju dan Tuan Jeon.
Kim Seojun, putra pertama keluarga Jeon yang memakai nama marga dari pihak ibunya itu pun mulai bicara, "Annyoeng, perkenalkan namaku Kim Seojun. Aku kakak dari Jeon Junghwa dan ini appa kami, Tuan Jeon Sungjin" katanya setelah berdiri di samping Tuan Jeon, appa-nya. "Hyung, maafkan kami. Aku tahu, kau pasti sedang bingung dengan kedatangan kami di sini, tapi..." kata Junghwa yang juga mendekatkan dirinya, tapi ucapannya tertahan saat Seojun menyela perkataannya. "Yongju-ah, aku tidak akan bicara panjang lebar. Jadi, dengarkan aku baik-baik," kata Seojun yang terkesan tegas. Yongju pun langsung menatap lawan bicaranya itu, yang jelas tampak lebih tua darinya.
"Kedatangan kami ke sini karena selama puluhan tahun ini, appa sudah lama mencari eomma-mu, walaupun faktanya sekarang appa sudah terlambat menemukannya," kata Seojun seraya mengalihkan pandangannya ke arah makam eomma Yongju. "Selain itu, ada fakta lain yang harus kau terima. Kau adalah putra kedua keluarga Jeon karena kau juga anak kandung dari appa," lanjut Seojun dengan sangat jelas, tapi seperti sambaran petir di telinga Yongju. Sepasang mata sipit Yongju membulat mendengarnya, tapi sesaat kemudian kedua tangannya mengepal kuat saat Junghwa dan Tuan Jeon membenarkan perkataan Seojun itu. "Itu benar, hyung. Kau adalah hyung keduaku. Aku adikmu, hyung," kata Junghwa seraya tersenyum polos, berharap idola yang juga hyung-nya ini mau menerima kenyataan dan keberadaannya. "Iya, Junghwa adikmu dan Seojun adalah hyung-mu. Yongju, kau putraku dan aku appa-mu," kata Tuan Jeon seraya memeluk Yongju erat dengan tangannya yang mengelus-elus lembut dan menepuk-nepuk pelan punggung putranya itu.
"Lepaskan!" ucap Yongju dengan suara bergetar menahan gejolak amarah di dalam dadanya yang tiba-tiba bergejolak setelah mendengar kenyataan yang terdengar sangat konyol baginya ini. "Sejak kecil aku tidak punya appa! Jadi, berhentilah berkata konyol seperti ini dan tolong pergi, tinggalkan makam eomma-ku sekarang juga!" lanjutnya penuh dengan penekanan dan tatapan tajamnya pada Tuan Jeon. "Hyung, dengarkan aku dulu," kata Junghwa yang berusaha menahan langkah Yongju yang berniat mendekati makam eomma-nya. Yongju menepisnya sambil berkata, "pergilah! Aku masih kesal denganmu dan jangan membuatku semakin ingin menghajarmu!"
"Yongju, appa harap, kau mau bicara dengan appa. Appa bisa jelaskan semuanya, nak. Mulai hari ini, kau bisa mengharapkan kami sebagai keluargamu juga," kata Tuan Jeon lembut. "Appa? Keluarga? Tidak perlu! Selama ini aku hidup dengan mengharapkan diriku sendiri. Aku hidup dengan pilihanku sendiri dan aku sudah memilih untuk menghapus kata "appa" dalam hidupku!" kata Yongju dengan begitu dingin, bahkan ekspresinya terkesan menakutkan. "Hyung, cobalah dulu untuk bicara dengan appa," bujuk Junghwa. "Junghwa benar, lebih baik kau dan appa bicara dulu empat mata agar semuanya lebih jelas," tambah Seojun. "Yongju, tolong dengarkan appa dulu," lanjut Tuan Jeon kembali mencoba mendekati Yongju.
"Kenapa kalian sangat bersemangat membujukku? Bukankah itu tidak berguna? Apa kalian semua bisa mengubah masa kecilku? Apa kalian tahu bagaimana hidupku selama ini, hah?!" kata Yongju yang mengeras di akhir kalimat. "Apa kalian tahu rasanya hidup tanpa seorang appa? Sejak kecil, aku diejek hanya karena tidak memiliki appa. Selalu! Aku kehilangan kebahagian masa kecilku hanya karena itu!" bentaknya yang sudah tidak bisa menahan dirinya.
"Maafkan appa, nak. Appa bersumpah, sejak malam itu, appa selalu berusaha mencari eomma-mu, tapi appa tidak pernah berhasil menemukannya. Eomma-mu menghilang seperti di telan bumi," kata Tuan Jeon berusaha meyakinkannya. "Apalagi, seandainya saja, appa tahu keberadaanmu, appa pasti akan lebih berusaha mencari kalian. Maafkan appa, nak. Maaf, jika kedatangan appa sangat terlambat. Semua ini salah appa," lanjut Tuan Jeon terisak.
"Ck, simpan saja permintaan maaf dan air mata Anda itu! Aku tidak memerlukannya, apa lagi kisah Anda itu. Ceritakan sendiri pada Tuhan jika Anda bertemu dengan-Nya nanti!" kata Yongju dengan savage-nya. "Yongju!" bentak Seojun tidak suka mendengarnya. "Seojun, tahan dirimu!" kata Tuan Jeon. "Tapi appa, dia sudah keterlaluan," kata Seojun. "Seojun, bagaimanapun dia juga adikmu," lanjut Tuan Jeon. Sambil menyaksikan percakapan kedua orang itu, dengan santainya, Yongju menyesap iced coffee americano yang sedari tadi ada di tangannya. "Benar-benar pahit!" gumamnya seraya menatap kopi yang tadi aku pesankan untuknya sebelum aku pergi.
"Seojun hyung, sudahlah. Lebih baik kita pergi, biarkan appa dan Youngju hyung bicara baik-baik berdua," sela Junghwa sambil mengajak Seojun pergi. "Apa kau yakin, anak kurang ajar sepertinya mau bicara baik-baik?" sahut Seojun seraya menunjuk Yongju. Byurrr! Yongju menyiramkan kopi di tangannya tepat ke wajah tampan Seojun yang lebih tua 1 tahun darinya itu. Tidak sampai di situ saja, Yongju lalu meraih leher Seojun sambil berkata, "dan ini cara anak kurang ajar sepertiku bicara!" Seojun mendorong Yongju sampai tangan Yongju terlepas dari lehernya. "Kalian berdua, hentikan!" bentak Tuan Jeon, "apa kalian tidak malu, ribut di depan semua makam ini!" lanjutnya seraya menatap tajam dua saudara itu.
"Junghwa, bawa hyung-mu kembali ke mobil!" perintah Tuan Jeon pada Junghwa yang langsung menurutinya dengan menarik Seojun pergi dan tinggallah Tuan Jeon dan Yongju. "Apakah kau yakin tidak mau bicara dengan appa? Jika kau tidak percaya, bagaimana jika kau membuktikannya? Kita bisa melakukan tes DNA," tawar Tuan Jeon tanpa mau kehilangan kesempatannya. "Asal kau tahu, appa bisa melihat wajah appa saat muda setelah appa melihatmu sekarang. Kau mirip dengan appa. Bukan hanya itu, appa rasa, wajah Junghwa juga sedikit banyak lebih mirip denganmu daripada dengan Seojun," lanjut Tuan Jeon berusaha mencairkan suasana, tapi usaha Tuan Jeon gagal karena Yongju kembali mematikan suasana.
"Appa-ku telah mati. Sekalipun benar kau appa-ku, bagiku Anda sudah mati!" katanya begitu datar dengan wajahnya yang dingin. Setelah mengatakan itu, Yongju meninggalkan tempat itu setelah meletakan setangkai bunga mawar merah di depan foto eomma-nya, tanpa sedikitpun menoleh lagi pada Tuan Jeon yang masih berdiri di depan makam itu. "Mati! Ya, Anda sudah mati bagiku," ucap Yongju dalam hatinya. Tangannya kembali mengepal saat teringat bagaimana dulu, saat ia masih kecil selalu menanyakan keberadaan appa-nya pada eomma-nya.
"Eomma, apa benar appa ada di surga?" tanya Yongju kecil pada wanita cantik di depannya yang tersenyum getir mendengar pertanyaan putranya itu. Mirae mengelus lembut pipi putih Yongju, lalu membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. "Kenapa appa selalu di surga? Kenapa tidak pernah datang menemuiku? Apa di surga sangat menyenangkan daripada menemaniku di sini?" tanyanya lagi dengan wajah cemberutnya yang sangat imut. Hening, tak ada jawaban dari Mirae, hanya pelukannya saja yang semakin erat.
"Eomma, jika appa di surga, apa appa seorang malaikat?" tanya Yongju lagi seraya menengadahkan wajahnya pada eomma-nya. Sang eomma tersenyum, lalu mengangguk pelan mengiyakan. "Bolehkah aku meminta sesuatu pada appa?" lanjutnya. Mirae mengangkat dagunya, seolah bertanya apa yang putranya itu inginkan. "Aku ingin meminta sesuatu, tapi ini rahasia. Eomma tidak boleh tahu," jawab Yongju kecil dengan malu-malu.
Beberapa hari kemudian, Yongju kecil kembali bertanya pada Mirae, "Eomma, kenapa appa tidak mendengarku do'aku? Aku sudah memintanya pada appa, tapi appa tidak memberikannya. Apa appa tidak menyayangiku karena aku nakal?" Lagi-lagi, Mirae hanya bisa memeluk buah hatinya itu. Mirae menggoyang-goyangkan tubuhnya yang memangku Yongju. Anaknya itu selalu menanyakan keberadaan pria yang bahkan tidak ia kenal sama sekali dan satu pun pertanyaan itu tidak bisa ia jawab.
"Appa, tolong dengarkan aku. Aku berjanji akan jadi anak yang baik dan menjaga eomma. Aku hanya meminta, tolong sembuhkan eomma. Jangan bawa eomma ke surga juga, aku mohon..." kata Yongju yang saat itu duduk di samping tempat tidur pasien yang Mirae tempati. Mirae yang sudah tidak mampu membuka matanya, masih dengan sangat jelas mendengar suara kecil di sampingnya itu, tapi ia sudah tidak mampu melakukan apapun, selain mendengar malaikat kecilnya itu terisak melepaskan kepergiaannya.
Untuk menyebut nama yang Mirae berikan untuk darah dagingnya saja, ia tidak pernah mampu, bahkan sampai di detik terakhirnya, apalagi mengatakan cerita yang sebenarnya terjadi pada Yongju dan siapa appa-nya yang sampai akhir, Mirae pun tidak pernah tahu. "Kata eomma, appa membawa eomma ke surga karena merindukan eomma, tapi apa appa tidak merindukanku? Kenapa aku ditinggal di sini sendirian? Appa, eomma, aku juga ingin ikut ke surga," isak Yongju seorang diri di kamar barunya di kediaman Lee.
Yongju terkekeh mengingat semua kenangan bodohnya itu, hingga lama-lama semua berubah menjadi tawa keras yang memenuhi ruang dalam mobilnya, seiring dengan air mata yang turun deras di kedua matanya. "Eomma..." lirihnya dengan suara bergetar seraya meremas dadanya yang terasa sesak. "Eomma membohongiku. Eomma selalu membohongiku. Selalu..." ucapnya di tengah tangisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments