Plakk! Satu tamparan mendarat di pipi Daehyun setelah kepulangannya yang disambut tatapan murka ibunya. "Anak kurang ajar! Apa yang sudah kau lakukan pada Hana, hah?" bentak Nyonya Kim pada putra kesayangannya itu. Gulp! Daehyun menelan kasar air liurnya karena sedikit pun tidak terpikirkan olehnya, reaksi marah dari wanita terkasih di depannya ini. "Jawab, Kim Daehyun!" bentak Nyonya Kim sekali lagi saat sang putra hanya bungkam dengan kepala tertunduk. "Sayang, tenanglah! Dengarkan dulu apa yang ingin Daehyun katakan," ucap Tuan Kim seraya memeluk sang istri. "Daehyung, sekarang juga jelaskan apa yang terjadi pada appa!" lanjut Tuan Kim seraya melayangkan tatapan tajam pada putra tunggalnya itu. "Maaf..." hanya satu kata itu yang Daehyun berani katakan pada satu-satunya orang yang ia takuti di dunia ini. Itu pun, Daehyun katakan dengan pelan dan masih dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap langsung sang ayah. "Maaf? Apa maksud dari kata maaf yang kau katakan itu?" tanya Tuan Kim semakin menajamkan tatapannya. "Bagus! Hanya itu yang bisa kau katakan, hah!" bentak ibunya lagi semakin emosi dan melepaskan diri dari pelukan Tuan Kim.
Bugh! Bugh! Berkali-kali, Nyonya Kim memukuli punggung Daehyun dengan keras sambil berkata, "Jadi benar kau sudah melecehkan Hana? Bagaimana bisa kau melakukannya, hah! Appa dan eomma tidak pernah mengajarkanmu seperti ini! Apa kau hanya bisa membuat malu eomma?" dan akhirnya menangis. "Eomma..." lirih Daehyun seraya memeluk ibunya itu, "maafkan, Daehyun dan berhentilah menangis..." lanjutnya seraya mengecup pipi sang ibu. Nyonya Kim menghempaskan tangan Daehyun, "Jangan minta maaf pada eomma! Eomma tidak butuh anak brengsek sepertimu! Kalau kau masih menganggap aku eomma-mu, pergi minta maaf pada keluarga Lee sekarang juga!"
"Eomma!" rengek Daehyun dengan wajah memelas, "Bagus, Daehyun! Matilah kau hari ini! Kalau di sini aku harus berhadapan dengan singa, bisa jadi di sana kandang harimau! Apa yang harus aku katakan nanti!" pikir Daehyun yang baru saja menyadari kebodohannya. Daehyun melirik Tuan Kim yang masih berdiri dengan tatapan membunuhnya. "Kenapa? Kau tidak berani mengakui kesalahanmu di depan keluarga Lee? Kim Daehyun, jangan mempermalukan nama keluarga Kim lebih dari ini!" kata Tuan Kim dingin penuh penekanan. "Yang kau butuhkan hanya menjelaskan apa yang sudah berani kau lakukan dan meminta maaf pada mereka! Kau sendiri yang tahu apa yang harus kau katakan!" lanjut Tuan Kim yang dijawab Daehyun dengan lemas, "Baiklah, appa. Aku tahu..."
"Apa kau tahu, kenapa selama ini eomma tidak memberitahumu siapa tunanganmu? Itu karena eomma tidak ingin kau mendekatinya dan mengganggunya seperti ini. Apa kau pikir, eomma tidak tahu seberapa brengsek kau di luar sana?" kata Nyonya Kim yang masih tersedu. Daehyun tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi melihat wanita yang sudah melahirkannya sampai berkata seperti itu. Tapi Daehyun juga tidak bisa memungkiri, sekarang sudah terlambat untuknya merubah perilakunya itu.
***
"Eomma kecewa pada diri eomma sendiri. Eomma menerima lamaran keluarga Kim karena bibi Eunha adalah sahabat eomma, tapi ternyata malah ini yang terjadi. Tolong, maafkan eomma," ucap eomma menyesal setelah aku mengizinkannya masuk ke kamarku. Aku masih tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya karena tidak ingin membuat eomma terkejut, tapi ternyata malah penuturan eomma lah yang membuatku terkejut, sampai aku melangkah mundur dengan hatinya yang terasa remuk. "Daehyun tunanganku?" ucapku pelan sesaat setelah ibuku menceritakan kebenarannya padaku. "Hana? Kau baik-baik saja? Kenapa kau hanya diam? Kau masih tidak mau menceritakannya pada eomma?" tanya eomma. Lagi-lagi, aku terdiam dengan segala pikiran yang berkecamuk antara hubunganku dengan Namgil, perasaanku dan Yongju, pelecehan yang kemarin aku alami, lalu sekarang kenyataan bahwa ternyata pelakunya adalah orang yang harus aku nikahi nanti!
Tok... Tok... Tok... seorang pelayan mengetuk pintu kamarku dan mengatakan bahwa di bawah Daehyun dan kedua orang tuanya sedang bertamu dan ingin menemui kedua orang tuaku. Deg! Mendengar namanya saja, tubuhku sudah merespon dengan bergidik. "Hana, tunggulah di sini. Biar appa dan eomma yang bicara dengan keluarga Kim," ucap eomma seraya meninggalkanku seorang diri di kamar. Hampir satu jam sejak kepergian eomma dari kamarku, aku menatap jarum jam dinding yang terasa sangat lambat berputar. "Apa yang mereka bicarakan?" pikirku yang penasaran bercampur takut seraya menggigit kukuku dengan gelisah.
Tok... Tok... Tok... Pintu kamarku kembali diketuk dari luar. "Masuklah, tidak dikunci," sahutku seraya menatap keluar jendela untuk melihat apakah tamu tak diundang itu sudah pulang atau belum. Aku berkata seperti itu karena mengira ibuku lah yang kembali masuk ke kamarku. Cekrek! Bunyi pintu yang tertutup kembali membuatku memalingkan wajah untuk melihat siapa yang masuk dan Deg! Aku mematung saat melihat Daehyun lah yang tengah berjalan ke arahku. "Apa hanya ini yang bisa kau lakukan?" tanya Daehyun yang semakin mendekat. "Mengurung diri di kamar tanpa berani mengatakan apa-apa?" lanjutnya sesampainya ia tepat di depanku dengan smirk liciknya itu.
"Mau apa kau datang ke sini?" tanyaku seraya memalingkan wajahku takut. "Tentu saja, aku datang ke sini untuk meminta maaf pada calon mertuaku karena sudah kurang ajar pada calon istriku," jawabnya santai, lalu duduk di tempat tidurku. Aku menoleh padanya, "Jadi, sejak awal kau sudah tahu tentang pertunangan ini?" tanyaku tidak percaya. "Kenapa? Kau tidak tahu? Ah, tentu saja. Kalau kau tahu, kau tidak mungkin memilih sepupuku itu. Bukankah aku lebih tampan dari pacarmu itu?" jawabnya.
Aku mencibirnya, tapi aku kembali bertanya, "Apa kau mengatakan semuanya pada orang tuaku?" dengan jantungku yang mulai memacu. "Menurutmu?" tanya Daehyun balik seraya menaik-turunkan kedua alisnya di depanku. "Apa maksudmu? Jawab, Daehyun! Apa kau sudah menceritakan semuanya?" tanyaku seraya berjalan mendekat ke arahnya, tanpa terpikirkan bagiku kalau Daehyun akan menarik tanganku hingga aku terjatuh ke dalam pangkuannya. Cup! Daehyun mengecup singkat pipiku, lalu berkata, "terima kasih karena kau sudah melakukannya dengan baik, jadi aku bisa menceritakannya sendiri pada orang tua kita kalau aku sudah melihat bagian atas tubuhmu."
Nafasku terasa tertahan saat dengan gampangnya Daehyun mengatakan itu, terlebih saat ia menambahkan, "dan aku punya alasan untuk bertanggung jawab padamu! Jadi, jangan pernah bermimpi kau bisa lepas dariku!" Aku mendorong dadanya agar dia melepaskanku. Bugh! Bukannya melepaskanku, Daehyun malah menjatuhkanku ke atas tempat tidur dan berakhir di bawah kungkungan si brengsek ini lagi. "Sebagai anak yang berbakti, menurutlah! Ini permintaan kedua orang tua kita dan bersiaplah karena aku akan mengajarimu bagaimana menjadi wanitaku. Kau harus lebih hebat lagi, chagiya!" ucapnya seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Lebih baik mati daripada jadi wanitamu!" sahutku geram menatap nyalang padanya. Daehyun tersenyum evil membalasnya. "Kalau begitu, kau harus menang dariku! Kau yakin bisa menolakku?" ucapnya seraya tangannya mulai menggerayangi tubuhku lagi. "Kau!" ucapku dengan nafas memburu serta tatapanku semakin tajam padanya. Daehyun beranjak dari atas tubuhku yang sudah gemetar, sambil tertawa setelah ia mengecup keningku dan berbisik, "bahkan reaksi tubuhmu lebih jujur dari mulutmu!" Bugh! Bugh! Aku melempari Daehyun yang berjalan ke arah pintu kamarku, dengan semua bantal yang bisa tanganku raih, tapi si brengsek itu malah semakin tidak tahu malu menggodaku. "Jangan marah! Aku hanya turun ke bawah untuk menemui calon mertuaku. Kalau terlalu lama di sini, bahaya! Bisa-bisa aku harus menikahimu besok dan memanggilmu... istriku!" ucap Daehyun seraya memberikanku wink dan flying kiss-nya.
***
Sedangkan di tempat lain, Junghwa tampak sedang berbicara di telepon dengan seseorang "coba tebak apa yang berhasil aku temukan lagi! Ternyata, hyung adalah keponakan dari paman Lee dan wanita itu adalah kakak dari bibi Lee!" Kemudian percakapan itu berlanjut, "Uhgood! Well then, what do I get this time for my efforts?" tanyanya seraya tersenyum sambil menahan ponselnya agar tetap berada di depan telinganya. "Kau mau tahu, apa yang akan kau dapatkan?" kata Yongju yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Junghwa.
Yongju berdiri sambil berkacak pinggang dengan wajah tak ramahnya. Junghwa yang langsung berbalik saat mendengar suara Yongku, langsung mematikan sambungan teleponnya dengan gelagapan. "Kekalahan itu adalah sesuatu yang menyakitkan, juga memalukan, kau tahu!" ucap Yongju seraya mendekati Junghwa dengan perlahan. "Hah? Maksud hyung apa? Aku tidak mengerti," sahut Junghwa dengan wajah bingungnya. Greb! "Tentu saja kau tidak mengerti karena kau tidak ada di sana! Apa kau sengaja ingin membuatku malu dengan berbohong siapa pelakunya, hah?" lanjut Yongju seraya merangkul leher Junghwa dengan kuat.
"Maaf, hyung! Bukan begitu! Dengarkan aku dulu!" kata Junghwa dengan susah payah. Yongju yang melihat juniornya itu kesulitan bernafas pun, akhirnya melepaskan Junghwa yang langsung meraba lehernya yang terasa sakit. "Maaf, seharusnya aku menunjuk pelakunya. Aku kira yang hyung maksud pacar noona itu adalah pemuda itu. Tapi ternyata aku salah dan saat aku menyusul ke sana, hyung sudah tidak ada," kata Junghwa. "Maafkan aku, hyung," ucapnya yang tidak henti-hentinya terus meminta maaf pada Yongju sambil menggenggam tangan Yongju seperti anak kecil yang sudah berbuat kesalahan. "Aish, jinjja! Baiklah, lupakan saja dan lepaskan tanganmu!" kata Yongju seraya mendorong Junghwa agar melepaskan tangannya. "Menyebalkan! ****, aku masih belum selesai dengan bajingan itu!" gerutu Yongju yang langsung meninggalkan Junghwa di depan kantor agensi mereka.
***
Namgil menimang-nimang ponselnya di tangannya. "Aku ingin menghubungimu, tapi aku tidak tahu apa kau mau menerima panggilanku..." pikirnya seraya menatap nomor ponselku di layarnya. Pemuda itu menghela nafasnya panjang setelah memutuskan, "Ya, aku harus mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu, aku harus minta maaf padamu. Kita hanya perlu bertemu. Baiklah, aku akan menunggumu di sekolah saja."
***
Daehyun dan kedua orangtuanya menghabiskan waktu di rumahku sampai makan malam. Selama makan malam, aku hanya diam memperhatikan interaksi mereka berlima yang sudah seperti keluarga. Aku benar-benar kehilangan selera makanku saat melihat Daehyun yang dengan mudahnya mengakrabkan diri pada kedua orang tuaku. Bahkan sesekali mereka tampak tertawa bahagia bersama. "Apa-apaan dia! Appa dan eomma juga, bukankah kemarin mereka marah padanya, tapi kenapa sekarang malah tertawa bersama!" pikirku dengan wajah cemberut, bahkan sambil menahan tangis.
Entah kenapa, aku merasa sangat kesal sekaligus merasa kesepian di antara tawa mereka berlima yang memenuhi ruang makan ini. Saking memburuknya mood-ku, aku sampai menusuk-nusuk garpuku ke makanan yang ada di piringku. Tanganku terhenti saat aku melihat sebuah tisu terulur di depanku, lalu aku menatap ke arah tisu itu berasal. Daehyun yang duduk tepat di depanku, menyodorkan tisu dengan tangannya sambil menunjuk ke arah ujung matanya sendiri dengan satu tangannya yang lain. Semua orang yang ada di meja makan pun menoleh ke arah mataku dan anehnya, tanpa bisa aku tahan sama sekali, sebulir air mata akhirnya terjatuh di ujung mataku.
Brak! Aku berlari ke kamarku dan meninggalkan mereka. "Hana! Hana!" panggil eomma, tapi aku tidak peduli. "Maafkan anak itu. Aku akan menyusulnya. Silahkan, kalian lanjutkan saja makannya," lanjut eomma seraya bangun dari duduknya. "Bibi, biar aku saja yang menyusulnya. Pasti Hana masih marah padaku," sela Daehyun yang langsung menyusulku sebelum ada yang menahannya. Eomma pun kembali duduk dengan pasrah dan melanjutkan makan malam mereka.
Bukan hanya hujan di luar sana yang turun dengan derasnya, tapi di kamarku, hujan air mata juga tengah membasahi bantalku. Aku menangis sambil memeluk bantalku dengan tengkurap di atas tempat tidurku. Aku yang berlari dari ruang makan, langsung menghambur masuk ke kamarku dan menghempaskan diriku di tempat tidur, tanpa peduli dengan pintu kamar yang masih terbuka, tanpa mengira Daehyun akan menyusulku. Aku menangis sesenggukan dengan wajah terbenam di bantal. Sedangkan Daehyun hanya berdiri diam memandangku dengan pikiran, "Kenapa aku tidak suka melihatnya menangis? Kenapa aku benci mendengar suara tangisnya ini?"
Kemudian, Daehyun melangkah perlahan mendekatiku dan mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur, membuatku tersentak menyadarinya, terlebih saat dengan lembutnya, ia mengelus kepalaku. Aku menepis tangannya dari kepalaku. "Keluar!" ucapku seraya menunjuk pintu kamarku yang sudah Daehyun tutup dengan sangat pelan sampai aku tidak mendengarkannya. "Keluar!" kataku lagi seraya mendorongnya menjauh. Daehyun tidak bergeming saat aku mendorongnya dan malah memutar duduknya menjadi menghadap ke arahku. Jika biasanya, Daehyun memperlihatkan ekspresi evil-nya itu, tapi kali ini, ia menatapku dengan tatapan yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, si brengsek itu menatapku dengan tatapan selembut ini. Dua bola mata berwarna hitam miliknya yang indah itu seolah-olah menarikku tenggelam ke dalamnya. Aku akui, aku kembali tersihir olehnya sampai tanpa aku sadari, entah sejak kapan Daehyun menempelkan bibir tipisnya itu dan meninggalkan rasa manisnya di bibirku yang membeku. Daehyun menarik wajah tampannya dan kembali menatapku lembut. Aku terpaku membalas tatapannya, lalu sesaat kemudian aku menutup mulutku dengan tanganku saat menyadari beberapa hal yang terjadi padaku sejak kemarin, sambil bertanya pada diriku sendiri, "ada apa denganku?"
Jantungku akan tiba-tiba berdebar kuat saat mata Daehyun menatapku. Tubuhku akan gemetar saat berdekatan dengannya. Nafasku akan tertahan saat tangannya menyentuh kulitku dan mataku selalu menutup saat bibirnya menyentuh bibirku. Aku memejamkan mataku sambil menggelengkan kepalaku dengan kuat, menolak jawaban yang sempat terlintas di kepalaku. Daehyun yang heran melihatku, menangkup kedua pipiku agar aku berhenti menggeleng. "Ada apa denganmu?" tanya Daehyun. "Kau benar. Aku juga bertanya seperti itu. Ada apa denganku?" ucapku dalam hati. "Sepertinya, aku sudah gila!" gumamku dengan pelan seraya kembali menatap wajah Daehyun. "Iya, pasti aku sudah gila!" gumamku lagi. Tukk! Daehyun menyentil dahiku sampai aku meringis kesakitan. "Dasar gila!" bentakku kesal pada Daehyun sambil mengelus dahiku. "Siapa? Kau atau aku?" sahut Daehyun dengan menyebalkan.
"Keluar sana!" teriakku kembali mendorongnya. Tidak berhasil membuat Daehyun menjauh dengan mendorongnya, aku turun dari tempat tidurku dan mulai menariknya keluar dari kamarku. Ia terkekeh melihat tingkahku yang menurutnya menggemaskan dan dengan pasrah, membiarkan aku menariknya. Aku yang tidak menerima perlawanan pun dengan mudah menyeret tubuh tingginya. Namun, belum sempat aku menggapai gagang pintu, ia membalas menarikku dengan kuat sampai aku menubruk dadanya. Tidak ingin membiarkan kesempatan yang ada, ia memelukku dengan gemas.
Aku kembali mendorongnya menjauh dan langsung memutar arah untuk mendorong punggungnya. "Pergi!" kataku saat berhasil mendorong Daehyun sampai keluar pintu kamarku. Namun, sebelum aku menutup pintu kamarku rapat-rapat, ia menahannya dengan tangannya. "Apa lagi?" bentakku kesal, tapi ia malah memperlihatkan senyum kotaknya, sambil membuka kembali pintu kamarku. Cup! Lagi-lagi ia mendaratkan kecupannya di pipiku. "Baiklah, aku pergi. Istirahatlah dan berhentilah menangis, arraseo!" titahnya seraya mengacak-acak pucuk kepalaku dan membuatku semakin kesal. "Maaf karena aku sudah menyakitimu, tapi aku akan menekankan sekali lagi, aku tak akan menyerah padamu dan aku tidak akan melepaskanmu karena bagiku kau sungguh sempurna untuk menjadi istriku," kata Daehyun lembut, tapi juga angkuh sebelum ia benar-benar pergi dari hadapanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments